
“Kemarin kenapa? Sampai ada kejadian minta gendong⏤”
“He? Dari mana? Tidak ada tuh,” mulutku terbuka layaknya tidak tahu apa yang dimaksud.
Padahal sengaja tidak kubahas. Bahkan aku memberikan sinyal mengerikan untuk Harun yang sempat ingin cerewet tentang hal ini di depan Firna. Lalu bagaimana dia bisa mengetahuinya di akhir hari sekolah yang panjang ini?
“Aku dengar dari twin,” Firna mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah....
Kedua adam kembar tidak tahu dimana mereka harus berhenti jahil ya? Masa kejadian malam minggu kemarin di foto? Aku berharap aku memiliki sepasang boneka dan paku saat ini~
“Manisnya kamu minta gendong begitu~ Hihihi~” ketawa ya, anda ya.
“Apanya~? Kemarin tidak terjadi apapun~” aku tersenyum dingin pada sahabat bukan karib ini, “Iya kan~?”
“Iya-iya,” bibir kesalnya itu setidaknya paham.
Pintarnya~ Mari kita sudahi permasalahan ini dan pulang. Kabur dari medan perang yang menyamarkan dirinya sebagai sebutan sekolah. Dikau pun tahu. Semakin mendekati tengah semester, kurikulum yang mengimbangi juga semakin tak tahu diri.
Paham suara hatiku, Firna menyalakan kendaraannya dan bersiap pergi denganku di belakangnya. Roda itu sampai di luar gerbang.
“Oo!”
Hmm, ada apa?
“Dompetku ketinggalan!”
“Kok?!”
Ia menegakkan besi penyangga kendaraan dan memiringkannya di samping jalan, “Ayo ambil dulu.”
Malas sekali aku ke sana.
Eh!
“Kak Ilham!”
Pria itu. Dia baru keluar dari mobilnya dan merespon panggilanku. Sebagai perkumpulan para anak-anak tetangga, pria ini mendekat.
“Kenapa?” ia berhenti di depan kendaraan Firna.
“Temani aku, kak.” aku melambai kecil ke Firna, “Dah~”
“Tidak mau temani aku?”
“No, bye,” udah, cepat pergi.
Kesalnya Firna ia bawa pergi. Walau Ilham masih bingung.
“Kakak urus apa lagi di sini?” kuturuni kendaraan Firna dan mengambil posisi berdiri di samping kendaraan. Membuatku lebih dekat dengan jalan.
“Ini,” ia mengeluarkan suatu lembaran dari tasnya.
Kuterima dan kubaca, “Dies natalis?”
“Aku mau tempel itu. Kali saja ada yang mau ikut. Kami undang artis loh. Rasyi juga ayo ikutan.”
Dies natalis. Sudah lama aku tidak mendengar kata itu. Lidah anak-anak sekolah, sangat asing. Namun anak kuliahan menggunakannya sebagai sebutan hari jadi kampus. Tentu aku mengetahuinya karena Sekar lulusan akuntansi.
“Kampusnya Fares kapan?”
Hmm? Kenapa dia tanya padaku? “Entah.”
“Fares tidak bilang?”
Bahuku terangkat, “Kak Fares tidak bahas itu ke aku,” sejauh ia berkuliah, aku tidak pernah dengar kabar ultah kampus Fares.
“Anak itu. Masa sibuk sampai begitu ke Rasyi. Padahal kan...,” ucapannya terpotong?
“Ya?”
“Tidak papa.”
Apaan sih? Kan kepo.
“Tidak bisa diprotes sih. Daripada aku, dia memang totalitas kalau pimpin⏤Rasyi!”
__ADS_1
He?
Tubuhku yang terasa bergerak sendiri, selama lima detik otakku yang berhenti berputar. Gravitasi seakan berkehendak lain saat tarikan itu membawaku ke depan moncong kendaraan. Meski naluri bertahan sampai memutar badanku, aku berakhir jatuh terduduk di tanah basah.
Entah karena mengikuti tarikan bumi dariku, penarik tanganku sampai ikut terjatuh di lututnya.
Kak Ilham sudah ada di depanku berlutut sambil menahan kedua tanganku.
“Sek!! Kalian!” teriakan kasar kak Ilham semakin menambah poin terkejutku.
Itu tadi, suara kendaraan bermotor yang lewat?
“You OK?”
Sadar, Rasyi! Itu sudah berlalu, “I, iya⏤auw!” kakiku?
“Apa yang sakit?!” kak Ilham menarik lebih tinggi tanganku seakan ingin mengecek dimana sakitku.
“Kaki...,” sepertinya terkilir deh. Sakit.
“Rasyi!”
Eh? Eeeeh?!!!
“Saga!”
Kenapa buldoser itu menyerang kak Ilham?! Brutal seperti saat pembasmian lele⏤tunggu! Ilham!
“Ga! Hei!” sosok yang sudah terbaring di tanah itu menahan sakit.
Aku harus berdiri! Ilham sedang dipukuli Saga yang membabi buta!
“Saga! Berhenti!” aku berhasil menggerakkan tanganku sampai meraih seragam lelaki yang main hakim sendiri itu.
Main hakim apa? Dia salah target!
“Lepas!” tarikan bajuku sepertinya berhasil menahan tubuhnya membungkuk ke arah Ilham, “Terlalu baik jangan ke penjahat!!”
“Penjahat apanya?” kutarik lebih keras baju itu sehingga ia hampir terpental, “Yang kamu pukuli itu kak Ilham!!”
“Kelahi?”
“Si kembar ya?”
Mulai ribut! Uruslah bisnis kalian sendiri!
Bila kalian memilih menjadi batu hiasan yang terlalu terkesima dengan taman yang ditinggali, saya mohon pulanglah ke pabrik asal kalian. Akan lebih nyaman dipandang bila kalian jadi paman pengurus taman!
“Rasyiqa?” seseorang yang mengenalku?
“Kak Ilham?!”
“Kenapa kak?”
“Sagara berhenti.”
Layaknya mereka. Beberapa orang berusaha menghentikan gerakan Saga yang ingin melanjutkan acara melayangkan pukulan kebanggan. Meski kekuatan Saga yang marah tanpa alasan tidak habis ditahan oleh tiga orang lelaki.
“Rasyiqa, UKS yuk.”
Aku harus menenangkan makhluk pemarah ini sebelum semakin parah.
“Bantu aku berdiri ke sana,” aku berusaha meminta tolong dengan siapapun itu, “Aa!! Auw!” kakiku tambah terkilir meski berdiri pun sudah dibantu.
“Sorry sorry,” orang ini terlihat cemas.
“Ras?!” Vian! Akhirnya datang juga.
Aku meraih lengan lelaki itu, “Vian, berhentiin Saga. Please. Dia pukulin alumni.”
“Wha? Kok?!”
“Cepat! Itu kewalahan tahan Saga!”
Vian tampak kebingungan. Namun ia pasti memahami situasi. Langkahnya langsung cepat menghampiri kembarannya.
__ADS_1
Disaster! Aku bahkan belum tahu keadaan kak Ilham. Padahal aku baru saja hampir tertabrak kendaraan dan jatuh terkilir. Sekarang aku harus menangani keadaan di luar skenario ini? Bukan jatuh tertimpah tangga, tapi terjun payung terjebak parasut!
“Saga!”
“Sagara!”
“Waduh!”
Really??!! Keramaian ini membuatku terberatkan.
“Sag! Rasyi luka tuh!!” Vian sekuat tenaga untuk menghentikannya.
Ia semakin marah, “Pasti gara-gara dia!”
Apaan sih?! Bentuk khawatir versinya kah?!
Khawatir buat apa?! Aku lebih khawatir dengan korban salah alarm dari kemarahan singa liar ini!
Tidak bisa. Gumpalan kemarahan milikku kepada sosok terlalu bebas ini, tak bisa dihentikan lagi. Sungguh marah aku dibuatnya!
“Rasyiqa,” siapapun yang membantuku ini, aku memberikannya tanda agar membimbingku mendekati Saga.
Aku menemukan sebuah cela!
PRAK!
Tak seperti kasus sebelumnya yang sengaja untuk menyadarkannya. Saat ini, aku menggerakkan telapak tanganku menggerpak keras karena amarah.
“Gila ya?! Aauw!” tidak bisa! Kakiku tidak tahan berdiri lagi.
Murka tidak jelasnya Saga berhasil kualihkan dengan pandangan cemas padaku. Ia sampai terduduk, “Kakimu. Obati dulu.”
“Berisik!” aku mendorong Saga, “Kak! Kak Ilham gimana?”
“Tidak papa... tidak papa,” syukurlah. Paling tidak kak Ilham kuat untuk duduk.
“Kamu buat ulah apa lagi, Sag?” Vian masih tidak mau melepas lengan Saga.
“Dia! Nahan Rasyi sampai jatuh. Rasyi sakit begitu, mana bisa tidak dipukul?!”
“Gak gitu, Sagara. Kak Ilham malah bantuin Rasyiqa! Tadi ada motor, hampir nabrak!”
“Makanya jangan main pukul ajah.”
Lihat itu. Saat ada saksi mata yang menjelaskan, apa yang akan dilakukannya?! Muka dengan rasa bersalah tidak akan mengubah kepribadiannya yang kasar.
“Udah, udah. Tidak papa,” kak Ilham menegakkan dirinya berdiri meski wajahnya sungguh penuh dengan pukulan, “Kakimu gimana? Ke UKS deh.”
“Kakak yang ke UKS,” aku sungguh tidak nyaman menghadapi kak Ilham yang terkena pukulan.
“Kami antar dua-duanya. Ayo.”
Saga masih ingin meraihku, “Ra, Rasyi⏤”
“Apa?!” dia masih saja mau membuka mulutnya? “Mau pukul orang lagi?!”
“Aku kan tidak tahu!”
“Terus mau semua orang dicoba pukul, begitu?!” aku sungguh-sungguh kesal.
“Gimana lagi dong. Aku tidak pernah lihat dia!”
“Ya iya lah tidak pernah! Kak Ilham itu alumni! Wakil ketua OSIS seangkatan sama kak Fares!!” aku berteriak meski masih terduduk, “Dan kamu sudah pukuli dia tanpa sebab! Terima kasih deh! Lanjutin!”
Alat bicara itu membisu. Sungguh tidak berguna.
“Mending kaki kamu diobati dulu,” kak Ilham dan berbagai macam orang tampak siap untuk pergi.
“Huuuh, iya...,” aku dituntun beberapa orang untuk berdiri dan pergi.
Harus meredakan amarahku dulu. Kakiku sangat sakit, aku ingin sekali melakukan sesuatu padanya. Semakin aku takut bila ia bengkak.
“Loh, kenapa nih?” Firna yang baru datang menyambutku yang sudah memasuki gerbang.
Tak tahu lah! Apa lagi?! Ya tentang Saga yang tidak berotak!
__ADS_1