
“Jauhin dia sekarang juga!” aku merasakan meja kayu sekolah berguncang hebat saat kutampar dengan kedua tangan.
Wajahnya sudah seperti melihat musuh sendiri, “Apaan sih? Jangan bilang kamu kemakan sama trik mereka?”
Aku sudah menumpuk pesan di aplikasi komunikasi sejuta umat sampai hampir mencapai seratus. Dan isinya hanya 'Ping Ping Ping Ping Ping'*. Video yang aku dapat dari Vian juga ikut kukirim. Firna malah berlaga kalau itu bukan kenyataan.
Jelas-jelas itu video menggambarkan keadaan sesuai dengan yang kulihat saat menemukan Firna. Tidak mungkin mereka bisa merekayasa atau mengedit hal yang terlihat sangat natural!!
Ini namanya bukan cinta buta, tapi cinta bodoh!!
“Firna, buka pikiranmu sebentar. Kamu sudah tahu dia berpacaran dengan Caca, tapi kenapa dia malah dekati kamu? Pikirkan alasannya yang masuk akal!”
“Kamu tuh pakai pikir,” Firna menunjuk Rasyi, “Masa mau percaya saja sama si kembar! Kamu kan paling tahu kalau mereka itu sukanya jail!”
“Bukan itu masalahnya sekarang, Firna! Gebetan kamu itu penipu.”
Ia tiba-tiba berdiri, “Dia bukan gebetanku, dia pacarku!”
Hee?
Pacar?! Mereka jadian?!! Sejak kapan?! Jangan bilang pertemuan kemarin malam. Apa-apaan sih cowok itu?!!
Firna-ku yang cantik, kenapa? “Putus sekarang juga!”
“Kamu kok malah tidak dukung sih?! Apa?! Kamu juga suka sama dia?!”
Apa yang dia bilang?! Tak bisa kupercaya mulut itu mampu mengatakannya tanpa rasa mual.
Lebih baik aku menyukai vampir dan meninggal dengan damai setelah menyerahkan semua darahku! Daripada jadi putri duyung cantik yang pasangannya ikan lele!!
“Mana mungkin aku suka sama orang yang kelakuannya begitu?! Aku juga tidak mau kamu sama dia! Dia itu tidak benar!”
“Terserah!” Firna mendekatiku dengan wajah penuh kemurkaan, “Aku tidak butuh omongan teman yang tidak senang kalau aku senang! Jangan ganggu kami!!”
Dia pergi? Dia pergi?! “Firna!”
Apa... sungguh? Kami bertengkar karena cowok bersungut tukang tipu itu?
Kesalahan apa lagi yang aku perbuat sampai se-kacau dan se-kusut ini?
“Rasyi?” setidaknya wajah Harun bisa menenangkanku, “Ribut apa tadi?”
“Tidak mau dengar-dengaran,” kepalaku pusing.
Cewek satu ini tidak mau mendengarkan karena lensa matanya sudah diganti dengan bentuk hati ke ikan lele.
Aku tidak mau dia sampai dipermainkan dan patah hati. Patah hati karena dipermainkan pasti lebih menjatuhkan. Yaaa aku tidak pernah merasakannya sih⏤tapi itu bukan hal baik!! Mana mungkin aku membiarkan ikan lele itu menang balapan?!
Yakin hanya Firna yang bisa tuli?! ‘Jangan ganggu’?! Aku akan mengacaukan semuanya sampai tidak tersisa!!
Menuju ruang kelas Saga dan Vian!!
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
“Jadi seperti itu keadaannya...,” aku meletakkan siku di atas meja dan menyatukan jari-jemariku.
Layaknya rapat negara, aku mengumpulkan dua sosok ini untuk bertukar pikiran. Perkara kali ini adalah Firna.
“Firna ini! Tidak mungkin dong kalian bohong padahal jelas-jelas kelihatan siapa yang bohong!!” aku kesal sekali!
__ADS_1
Aku sudah ada di kelas Saga dan Vian. Bodo amat dengan Saga yang sudah aku usir dari duduknya dan menyuruhnya pindah ke bangku depan. Tak peduli dengan sibuk Vian memainkan pulpennya selagi duduk di bangku sampingku.
Kala ini kami harus menunjukkan ide cemerlang untuk mengalahkan kebodohan Firna!
“Emang kamu percaya?” hmm? “Kak Firna tidak percaya. Kenapa kamu percaya? Kami bisa saja kok mengarang video begituan.”
Aku terdiam menghadapi tanggapan Saga yang tampak serius.
Memangnya aku tidak serius?!
Langsung aku rebut pulpen yang diputar-putar Vian seperti lampu ambulan. Berdiri dan mengulurkan pulpen itu, dan mengetuknya keras di kepala Saga.
“Apaan sih?!”
“Kamu tuh yang apaan?! Kenyataannya kan memang mulut ikan lele itu bau penipu!” aku semakin kesal dengan tingkah Saga, “Daripada mikir aneh-aneh, lebih baik kita hentikan berenangnya si ikan itu!”
Kalau bukan sekarang, hubungan mereka akan lebih dekat dan Firna akan semakin sakit hati. Namun kenapa kedua lelaki ini tidak bisa memahami seberapa gawat keadaannya?!
Ujung pulpen itu mengarah ke Saga, “Bayangkan Vian dekat sama cewek, tapi kamu tahu cewek itu punya lima pacar?”
Mereka terdiam dan saling memandang satu sama lain.
“Ya, jangan dibiarkan sih,” Vian akhirnya menangkap situasi.
“Tapi, begini,” Saga mengambil alih tatapan kami, “Kesepakatan sebelumnya sudah selesai. Malah lebih baik. Kenapa kamu malah rakus?”
“Dua toples cookies.”
“Oke! Apa rencananya?!” Saga, anda lah yang rakus di sini.
Vian tertawa, “Dasar murah.”
Tatapan kesal Saga yang masih duduk di baris di depan berlawan hadap dengan kursinya. Kedua kembar ini tentu tak lepas dari saling ejek.
“Ya biarin saja dulu mereka pacaran. Nanti kan kak Firna sadar sendiri,” apa dia si Sagara ini bilang?! “Auw!”
Lenganku kembali kutarik setelah memukulnya dengan pulpen lagi, “Aku itu minta solusi yang tidak sakit! Daripada begitu, musnahkan saja si lele!”
“Oh, bisa~” Saga tersenyum seram.
Tunggu, tadi aku bilang apa? Rangkaian kata kejam apa yang kusebutkan di depan buldoser ini? Memusnahkan? Kalau ini Saga....
“Jangan kamu,” aku harus menenangkan diriku kalau mau berpikir jernih.
“Gimana sih?!” Saga pastinya tak senang.
“Mana mau Rasyi suruh kamu buat kerusuhan.”
Hmm? Oh!
“Harun? Kok di sini?” apa dia mengikutiku?
Dengan senyum manis itu, ia menarik kursi di samping Saga. Ia membawanya sampai menutupi jalur meja dan mendudukinya di samping kiriku.
“Kalau ada masalah, kenapa tidak bilang ke aku duluan?” Harun memandang sedih diriku, “Aku kan juga mana mau Firna pacaran sama cowok nakal.”
Huuu, aku ingin menangis, “Harun~ Harus gimana nih~?”
“Gimana kalau ngomong pelan-pelan. Pasti dia mau dengar kok.”
__ADS_1
Apa Harun menutup matanya saat aku berkelahi dengan Firna tadi? Tidak mungkin itu terjadi.
Kita bertiga dengan para tetangga lain sudah bermain bersama sejak sangat kecil. Seharusnya dia tahu Firna itu seperti apa. Cewek ini adalah anak yang sewaktu kecil merayakan Halloween di paruh awal tahun!
“Dia tidak mungkin mau dengar,” aku lembutkan ucapanku.
Vian menggaruk sisi kanan keningnya, “Rasyi coba pacaran deh sama kak Nafis.”
He?
“Kamu bodoh ya?!” Harun sampai marah.
“Aku mikirnya kalau kak Firna tahu kak Nafis terima Rasyi, kak Firna pasti percaya dia penipu. Tapi kan itu tergantung Rasyi-nya mau atau tidak,” Vian tak mengeluarkan senyum sama sekali.
“Daripada marah-marah, mending ikutan mikir,” kenapa Saga malah melanjutkan?
“Guys, aku paham. Jangan lanjutkan lagi,” aku merentangkan tanganku sebelum ketiga lelaki ini meledak.
Namun, benar kata Vian. Kalau Firna tidak percaya, aku harus bisa menunjukkannya di depan matanya langsung. Kembali lagi, untuk melakukannya aku harus pacaran dengan ikan lele!
Tidak sudi! Pacar pertamaku itu haruslah Harun!
Akan tetapi, kalau aku tidak berkorban, mana mungkin aku bisa menyelamatkan Firna tanpa luka?
Firna sakit hati... atau pacaran dengan ikan lele?
Sakit hati... ikan lele....
“Tidak ada cara lain ya?” aku masih saja ragu.
“Ada,” sungguh, Saga~? “Ajak gelut.”
TIDAK BOLEH!!
Aaaargh!! Sudahlah!! “Aku akan pacaran dengannya!”
“Weee! Hebat!” Vian, jangan tepuk tangan!
“Rasyi...,” Harun tampak tidak setuju.
“Cuma pura-pura kok. Ya?” aku ingin meyakinkannya lebih.
Benar. Ini cuma pura-pura. Cari kelemahannya dari dalam dan bakar ikan itu! Aktingku kan bagus. Tidak mungkin ada masalah.
Semua akan baik-baik saja!
.
.
.
”Aku gak mau pacaran.”
...
Aku di...
Ditolak....
__ADS_1
_____________________________________________
*Bagi yang belum paham. Maksudnya [ping] ini, yang kita pakai di BBM atau WA dll ya. Artinya itu pesan tes yang tujuannya mengecek apakah lawan bicara kita sedang online (aktif) atau tidak.