
“A ha, ha ha, ha ha, Harun bicara apa sih?” aku hanya bisa tertawa kaku.
Otak, badan dan segala sistem yang bekerja untukku tidak bisa bekerja dengan baik.
Wajah Harun masih tidak bisa santai. Padahal aku yakin dia hanya bercanda.
Teori semacam apa yang bisa meyakinkan Harun akan hal yang ia sebutkan itu? Bagaimana bisa dia berpikir kalau aku suka kak Fares?!
Pria idamanku adalah yang tampan dan baik hati. Jarang ada pria seperti itu, lalu kenapa nama yang paling dekat denganku jadi disebutkan oleh Harun?!
Pembicaraan ini semakin tidak terarah. Aku sudah memberikan waktu untuknya agar bisa memperbaiki apa yang sudah terlanjur hancur. Bukannya bercanda seperti ini!
Berdiri aku dari kursi taman, “Kalau Harun hanya mau bercanda, kurasa pembicaraan kita selesai!”
Cepat katakan sesuatu! Gerakan mulutmu dan bilang maaf karena sudah bercanda! Lakukan sekarang! Jangan diam saja!
“Ya, kamu benar,” matanya yang lurus setelah berdiri mengikuti arah tatapanku, “Kita tidak bisa saling bicara lagi.”
Heh?
Arah pandang mata itu dilempar menjauhiku, “Mulai kali ini kita harus jadi orang asing.”
Tunggu! “Apa maksudnya itu?! Kamu serius mau perbaiki keadaan kita atau tidak sih?!” apa dia sebesar itu tidak sudi berteman denganku? “Aku cuma tidak suka kamu bercanda di saat begini.”
“Aku sangat serius kali ini!”
Suara amarahnya menggema walau di ruang terbuka. Hening menenangkan nafasnya yang sempat menderu.
Ia bicara lagi, “Kamu cuma tidak sadar. Setiap kali kamu dengan Fares... pandangan kamu tidak bisa ke mana-mana.”
“Cukup, Harun. Tidak peduli siapa yang aku suka. Kita harus selesaikan masalah kita.”
“Rasyi!” tatapan itu, tidak memperlihatkan kelembutan sama sekali, “Kamu tidak punya alasan buat milih dua orang. Aku atau Fares, cuma satu!”
Memilih?
“Pilih siapa?”
Harus memilih? Aku... memalingkan pandanganku darinya....
“Fine. Kalau itu Fares, jangan kasih aku sedikit pun. Buang aku,” wajahnya membeku.
Maksudnya apa, membuang dia? Aku memang memilih untuk tidak berusaha lagi, tapi membuatnya seakan orang asing...? Tidak sampai seperti itu juga kan?!
Terbuka mulutku, “Berhenti berpikiran dunia bisa hancur kalau tidak ikuti pilihan itu. Apa salahnya kita jadi teman?”
“Jangan egois!!” teriakan itu terdengar lagi, “Kamu segalanya buat aku! Yang kamu lakukan sama saja menginjak-injak aku!”
Bukan itu maksudku... aku hanya....
“Kamu juga tidak benar-benar mau jadi temanku, kan? Simpati kamu besar saja. Buktinya, kamu tidak menentang kalau kamu suka Fares. Buat apa lagi aku di sini?”
“Harun!” aku hanya bisa berteriak saat ia melangkah pergi.
Namun aku menyadari sesuatu. Kakiku tidak ingin mengejarnya. Seakan aku sudah mengecapnya sebagai orang yang menakutkan.
Apa memang sudah seperti ini akhirnya?
Iiih! Si Harun sih bercanda! Kenapa dia malah membicarakan kalau aku suka Fares?! Tidak bisa melepaskan pandanganku dari Fares? Kalau dia tepat di depanku kan, memang tidak bisa!!
__ADS_1
“Rasyi!”
Tu, tubuhku kaku. Menolak untuk menggerakkan ototnya setelah sadar itu suara siapa.
“Kenapa? Harun ke mana?” Fares sudah berdiri di depanku, “Tadi, dia marah ya?”
Mataku melihat ke arah mana?! Bukannya melihat wajah lawan bicara, kenapa aku jadi melihat sepatuku sendiri?!
Sadar, Rasyi! Fares lagi bertanya! Jawab tuh! Jawab!!
Ke mana Harun?! Ke mana Harun sewajarnya pergi di saat seperti ini?
“Udah.... toilet, tidak tahan...,” eemmm..., tadi aku bilang apa?
Fares bersuara, “Oh, Harun ke toilet?”
“Bu, bukan. Rasyi... toilet. Itu!”
Fares terdiam sejenak, “Harun, atau Rasyi yang mau ke toilet?”
Aaaa! Mulutku membicarakan apa sih?!!
“Rasyi kenapa?”
“Kak Fares ke toilet!”
...
Aaaaaaaa!! Ingin sekali aku mengubur kepalaku ke bawah bangunan mall!! Kenapa aku malah salah tingkah sampai seperti itunya!
Walau aku tidak melihat wajahnya, aku bisa tahu ia tertawa dari suaranya, “Kakak di sini.”
“Iya, iya. Maaf,” tolong kak, jangan merespons kegilaanku. Itu malah membuatku bertambah gila!
“Rasyi,” untunglah suara melegakan yang lain muncul.
“Papa~!” aku tidak bisa menahan rasa malu ini lagi!
“Jadi?” papa, sepertinya juga ingin tahu apa yang terjadi.
Tolong jangan tanyakan pada otakku yang kehabisan tenaga kehidupan ini. Bahkan aku tidak bisa merasakan ke mana perginya kehidupanku, ditutupi rasa malu di seluruh sudut wajahku.
Hmm?
“Berantem lagi sama Harun?”
Eh! Eh!!! “Toilet!!”
Langsung aku menghindari Fares yang terasa dekat. Bersembunyi tidak karuan di belakang papa. Memproses rasa malu yang semakin terasa hanya dengan menyadari aku baru saja berteriak kata itu di tengah tempat publik.
Malu sekali!!
“Apa tadi?” papa terdengar tenang.
Aaaaaaaaaa!!!
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
Cepat dan tidak mau melihat apapun. Sungguh aku berlari seperti itu saja tanpa mau tahu apa yang aku lewatkan.
__ADS_1
“Astaga, non!”
Bahkan bibi pun aku tabrak. Namun aku tetap menginjak gas menuju kamar.
Malu ini tidak mau hilang!!
Dengan celana jeans dan smocked top bunga-bunga yang aku kenakan, kubiarkan menemaniku telungkup di ranjang. Menyembunyikan wajahku di bantal bersama ingatan yang akan menghantuiku ini.
“Rasyi,” aaaa! Papa!
Tidakkah anda melihat kalau saya sedang tidak mau menghadapi dunia?!
“Harun ngomong apa?”
Jangan suruh aku membahas itu lagi!
“Dia berhasil bikin Rasyi salting, di depan Fares.”
Jangan dibahas lagi!!
Hening menutupi sekitar kami. Dan aku tetap tidak mau menjawab.
Ini sungguh membuatku semakin tegang. Siapa yang tahu rangkaian kalimat apa yang akan keluar dari mulut papa, setelah aku tidak menjawabnya sama sekali bahkan di perjalanan pulang tadi.
“Ganti baju, istirahat. Bangun kalau sudah sore.”
Eh?
Aku mengangkat tubuhku sendiri agar bisa melihat sosok yang sempat mencium keningku itu. Dia sungguh ingin membiarkanku seperti itu saja?
Ia terdiam di depan pintu yang ternyata masih terbuka.
“Kalau cuma bingung, tidak dapat apa-apa. Pelan carinya. Bisa saja jawabannya cuma kelewatan.”
Papa meninggalkan nasihatnya dan pergi sambil menutup pintu.
Cari jawaban, pelan-pelan? Terlewat?
Kubenarkan posisi dudukku. Sampai akhirnya kedua kakiku teruntai di ujung ranjang yang masih tinggi bagiku. Menenggelamkan pikiran sendiri akan apa yang disampaikan papa.
“Apa yang aku cari?”
Pertama-tama, aku harus menguraikan lagi apa dan mencari apa yang jadi masalah.
Harun mulai bertingkah aneh dan kasar. Dengan debat yang panjang, hasilnya malahan dia ingin memutuskan semua hubungannya denganku. Yang ia inginkan hanya menjadi setengah jiwaku. Bukan teman, bukan seseorang yang sekedar saling kenal.
Itu semua karena ia berpikir aku menyukai kak Far⏤
“Itu! Itu masalahnya!!”
Bagaimana bisa dia berpikir aku menyukai kakakku sendiri?!
Ya, secara biologis aku memang bukan adik Fares. Kami hanya dekat satu sama lain bahkan sejak aku lahir. Tentu aku menganggapnya kakakku.
Tidak pernah aku berpikir ke arah lain!
Selalu memandang Fares dan tidak bisa melepaskan pandanganku padanya? Dari mana?! Dari Hongkong?! Aku dan Fares itu adik kakak yang tidak punya perasaan yang seperti itu!!
Lalu... kenapa, di kepalaku jadi hanya ada muka dan suara Fares? Kenapa aku jadi mengingat saat-saatku dengan Fares? Wajahku kenapa jadi panas?!
__ADS_1
A, a a a a a, apa aku... sungguh menyukai Fares?!!