Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#37 Penarik Ragu Hati


__ADS_3

“Iya, Rasyiqa. Cepat lari,” dia mendekatkan wajahnya, “Biar kakek yang urus anak jahat ini.”


Jangan….


Dia melepaskan aku. Kembali mendekati Jagad yang bahkan tak kuat untuk duduk. Tetap memperlihatkan bila ia masih kuat, menahan sikunya ke tanah. Namun, si busuk itu tidak berakhlak menahan Jagad dengan kakinya.


Jangan!


“Aargh! Eegh! Puh! Gah!!”


Hentikan! Aku mohon hentikan!! Jangan pukuli Jagad seperti itu! Kumohon!


Menutup wajahku dengan kedua tanganku. Ketakutan. Tidak mampu melihat Jagad yang terus disiksa. Suara pukulan dan jeritan Jagad yang tak berhenti.


Kejamnya suara itu akhirnya menenang. Jemari dengan sela-selanya menjadi tempat intipku.


Jagad?


Wajah Jagad lebih parah dari sebelumnya. Ia tampak tergeletak lemah. Layaknya tidak ada lagi sisa tenaga, matanya itu sudah sangat menipis. Senyum tak karuan menghadap padaku membuatku malah semakin takut.


Jagad? Kenapa kamu menutup matamu?


“Hah…,” pria ini tidak tahu peduli dan menegakkan tubuhnya.


Dia mengelus sesuatu sambil mendekatkan dirinya. Terjongkok ia di depanku memperlihatkan benda L hitam yang aku tahu itu mematikan.


“Keluar ke arah sana,” jari telunjuknya menunjuk ke arah kananku, “Kakek titip salam buat papamu ya?”


Nafasku yang tak teratur merajalela dari depan pernafasanku sampai ujung akar di paru-paruku. Otak tersendat-sendat, tapi satu hal yang harus aku setujui. Guna apa aku bertahan disini?


Aku harus pergi. Aku harus mencari bantuan untuk Jagad dan Ira. Aku harus pergi! Bergerak Rasyi!


Tangan tak mampu menapak, setidaknya dia mampu menjauhkan diriku dari pria itu. Senyumnya yang masih saja memperhatikanku bagai sedang mengejar. Mendesak tanganku untuk mendirikan tubuhku di atas kakiku.


Berdiri Rasyi! Berdiri, pergi. Aku harus pergi!


Melangkah selagi bisa. Tak kuasa melihat ke belakang. Dataran tanah yang tak selalu rata, menelan langkah yang tak seimbang. Berpegangan pada satu per satu kekawanan hijau yang menjingga karena hari.


Perlahan tapi pasti, aku meninggalkan Jagad dengan pria kejam itu⏤


DOR!


“Rasyi.”


Aa! Aku... di meja makan?


Benar... saat ini waktu makan malamku. Halusinasi tak terkendali itu hanya di dalam pikiranku. Mustahil aku sungguh menjadi pemeran di dalam kejadian itu lagi.


Jagad yang pergi, teror itu, sudah terjadi empat tahun yang lalu.


“Kenapa, hmm?” papa?


Usahaku menggelengkan kepala hanya membuahkan gerakan kecil, “Tidak....”


Itu pasti hanya ingatan yang lewat. Bukan sekali dua kali aku bahkan terbaring dengan bunga tidur seperti tadi. Layaknya kebiasaan. Harusnya aku tidak terguncang sebesar sekarang.


Aku menyadari papa duduk di kursi meja makan samping kiriku, “Ada apa di sekolah?”


Rizki pasti menangkap guncangan tubuhku, “Tidak. Cuma... ingat film horor... punya teman.”


Siku kirinya menempel di meja makan, memiringkan pandangannya lebih ke arahku.


Alasan dangkal itu tidak akan dianggap benar olehnya.


“Ini musim lomba, berarti Harun? Kesepian?”

__ADS_1


Hmm? Kok papa bisa tahu kalau Harun dan aku jarang berkumpul karena lomba? Padahal aku tidak ada cerita. Papa pada dasarnya tidak pernah tertarik dengan cerita seperti ini.


“Bukan itu, hmm?” ia layaknya berpikir, “Si kembar?”


Kenapa tebakannya jadi ke arah sana? Aku kan baik-baik saja. Memang terjadi debat antara aku dan Saga, tapi itu bukan hal besar selain salah paham yang berkelanjutan.


Selebihnya, sekolah yang biasa. Hanya saja sore menjelang malam ini terasa melelahkan. Tidak ada tenaga bahkan untuk bersuara. Maskulin di sampingku pun tahu kalau lelah, aku jadi mudah teringat hal buruk di masa lalu.


Kenangan gersang si sosok yang menghadiahkan aku gelang di tanganku, juga termasuk.


Namun, papa pasti khawatir kalau aku mengaitkan lagi penderitaan itu.


“Saga bicara kasar soal Jagad?”


Hmm?


“Dia tidak kenal Jagad. Tidak sengaja, benar?”


Mulutku tidak bisa berkata apapun dari analisis papa yang berada di luar akal sehat. Lemah telapakanku memberikan tepukan sebanyak tiga kali.


Tidak salah bila Saga yang mengingatkan aku akan kematian Jagad. Bukan hal yang benar pula disebabkan olehnya. Ini murni karena aku lelah.


“Masalah Jagad kan sudah selesai. Apa lagi yang Rasyi pikiri?”


... entah.


Keheningan itu terganti dengan papa yang mengubah posisinya. Memiringkan seutuhnya duduk ke arahku dan memusatkan tangannya layaknya pilar untuk wajah. Termiring kepala sambil menumpuk kakinya.


Suara tenang nan sejuk itu terdengar, “Rasyi masih pikir? Papa itu dinosaurus, penjaga gunung es?”


Aku tercengang. Hal ini sungguh tidak terduga dan tak tergambarkan mengapa untuk dibahas.


“Berarti, kalau Rasyi...,” dia memikirkan apa lagi? “Kelinci? Bukan... kelinci penipu.”


“Lemah.”


Oo. Baiklah. Itu cukup membuang waktu.


“Tapi kelinci bisa menang lawan serigala.”


... lalu?


Ia melanjutkan paragrafnya, “Kadang bodoh, kadang tidak tahu takut. Kadang terlalu mau tahu, kadang takut tahu. Keras kepalanya bikin dia susah ditebak.”


Bukannya itu hanya menggambarkan tentang aku dari sudut pandangnya? Apa yang ia inginkan dengan mengaitkan diriku dengan kelinci?


Sungguh aku tidak bisa menggali akar pemikiran orang di sampingku ini.


“Dan yang penting, dia punya alasan,” aku masih mendengarkan kalimat Rizki yang acak, “Bisa untuk keluarga, untuk teman, atau untuk dia sendiri yang mau disayang,” pria ini menunjukku dengan tangan bebasnya, “Kalau si penipu, gimana?”


Apa itu maksudnya... aku tidak punya alasan?


Ketakutan, kemarahan, sedih dan tak suka. Semua yang aku lakukan. Papa mengira itu tidak punya alasan?


Tentu saja aku punya! Itu....


Papa? Dia berdiri? Mau ke mana?!


“Kalau Rasyi punya alasan...!” aku berhasil menghentikan pria ini, “Lalu?”


Ia menatapku dengan mata sendu kecoklatannya, “Kelinci suka wortel kan?”


Wow, apa hubungannya itu?!


“Rasyi lihat pakai ini,” keningku, ia menunjuk sampai mengetuknya, “Rasyi bodoh atau cuma lupa?”

__ADS_1


Lupa?


“Kupas, kunyah, cerna. Banyak cabang yang perlu dilihat.”


Aku memutar mataku, “Apa bedanya sama berpikir?” kembali lagi ke awal rasa pusingnya, bukan?


Ia menekuk tubuhnya, membungkuk ke arahku, “Apa samanya, kalau Rasyi saja tidak berpikir?”


He?


Papa menunjuk depanku beberapa sentimeter di bawah tenggorokanku, “Mata yang ini bukan untuk berpikir. Tapi biar ingat batas. Jangan asal dikuasai sama mata ini.”


Kuyakini bila yang papa maksud dengan itu adalah jangan terbawa dengan perasaanku saja. Aku harus berpikir jernih dengan otakku.


“Jadi,” ia kembali menegakkan tubuhnya dan melipat kedua tangannya, “Alasannya? Solusinya?”


‘Kenapa aku seperti ini,’ maksud dia seperti itu?


Karena aku marah Saga sesukanya pakai pukulan. Karena aku takut sejak teringat kejadian Jagad.


Lalu kenapa aku bisa begitu? Apa alasannya?


Jangan bilang selama ini aku terjebak di hal lama? Padahal aku sudah menemukan solusinya bersama papa di tahun yang sama.


Kalau begitu aku hanya dimainkan hatiku sendiri dong? Sampai melupakannya.


Wajah dariku menengadah ke papa, “Terima....”


Senyum cerah. Tidak mungkin keluar dari wajah itu. Namun matanya yang coklat itu seakan bisa berubah warna dan mencerah, menandakan suasananya yang positif di balik senyum tipisnya.


Digosoknya wajahku dengan tangan besar itu, “Habiskan makannya.”


Huuh... rasanya lebih ringan.


Loh?


“Papa mau ke mana?” dalam arti sesungguhnya. Baru kusadari ia sibuk dengan tas kopernya, “Kerja lagi?”


“Iya.”


“Kok mendadak?” biasanya dia menceritakannya dulu setidak-tidaknya tiga hari sebelum berangkat.


“Memang mendadak.”


Yah, mau bagaimana lagi. Papa memang dokter jenius, “Seminggu lagi?”


Kenapa terdiam? “Lebih. Papa tidak tahu sampai kapan.”


Oo. Itu akan memberatkan.


“Mau menginap lagi di Hendra?” dia menatap wajahku.


Aku menggeleng, “Tidak. Rasyi di sini saja.”


“Maaf, padahal Rasyi lagi trouble,” Papa sepertinya mendekatiku lagi. Tepuk kepalaku, “Kacauin aja tidak apa.”


Heh?


“Papa yang selesaikan semua.”


Tak terjawabkan.


Kami tidak begitu rajinnya bertukar perasaan. Apalagi papa memang berhati beku. Namun satu hal yang terlihat di mata cantik itu, sayangnya padaku terlalu manis untuk digigit.


Gelitik geli senang di hatiku, senyum tak bisa luntur, “Iya~”

__ADS_1


__ADS_2