
Pandangannya yang lurus. Garis pundak yang tegas. Lebarnya punggung yang ada di depanku. Ia melangkah mendahuluiku dengan pelan.
Melarutkan anganku yang menggema di sudut pikiranku. Selagi melangkah, aku dibingungkan dengan apa yang ada di pikiran pria yang menarik hatiku jauh ke bawah.
Dia tidak marah, tapi dia juga tidak senang. Apa aku melakukan hal lain lagi?
Hal yang bisa aku lakukan..., “Kak Fares?”
“Ya?”
“Rasyi minta maaf.”
Eh? Kak Fares berhenti?
Dia memandang ke arahku sampai harus berbalik badan, “Kenapa Rasyi minta maaf?”
“Kakak... marah kan?”
Walau aku tidak tahu kenapa. Maksudku, kak Fares selalu terlihat seperti marah meskipun tidak. Sama seperti sekarang. Aku jadi bingung harus seperti apa.
“Kakak tidak marah,” Fares menepuk kepalaku, “Kenapa kakak marah?”
“Soalnya, kakak langsung bawa Rasyi pulang...,” seakan aku tidak seharusnya ada di sini dan jangan sampai ada di sini.
“Itu⏤”
Fares?
Kenapa dia terlihat terkejut? Bukan, sekarang dia seperti bingung. Serius memikirkan sesuatu?
“Kak?”
“Tidak, itu, kakak kan sudah bilang. Lukanya kakak masih⏤”
Suara ponsel? Itu bukan ringtone panggilan Fares yang biasanya. Pesan online atau semacamnya?
Kak Fares tampak mengeluarkan ponselnya, “Tunggu sebentar,” dia mengecek sesuatu di ponselnya.
Ada apa ya? Ia tampak menyayangkan sesuatu.
“Itu kenapa?” kepo lagi dan lagi.
“Cuma pemberitahuan deadline,” dia masukkan lagi ponselnya, “Dimajukan. Yuk pulang.”
“Memang kakak sudah selesai?”
“Belum sih. Kakak bisa aja kok selesaikan sebelum deadline.”
“Kapan deadline-nya?”
“Memang kenapa?”
“Memang Rasyi tidak boleh tahu?”
Fares membuka matanya terkejut. Namun terlanjur tertawa, “Heheh, cara ngomongnya Rasyi sudah kayak paman Rizki.”
Oh? Sungguh~? “Akan saya hargai bila anda menghemat waktu dengan tidak mengalihkan topik pembicaraan.”
Ia masih tertawa, “Sore ini.”
“And, sudah mau selesai?”
“Lumayan jauh sih.”
Oh! “Kalau begitu, selesain dulu di sini. Di sini ada cafe yang enak buat work. Rasyi bisa nunggu kok.”
__ADS_1
“Lihat siapa yang mengalihkan pembicaraan sekarang,” Fares masih tersenyum, “Kita pulang, Ras.”
“Dari sini ke rumah jauh!”
“Pak Darma sudah nunggu loh.”
“For your information, rumah anaknya pak Darma dekat sini juga.”
“Rasyi....”
Selalu diakhiri dengan menegurku dengan lembut seperti itu. Namun kan, aku sedang berusaha dengan keras kepalanya. Aku harus memaksa... tidak. Kuusahakan sedikit saja lagi.
Terpikirkan banyaknya alasan yang bisa jadi memicu kak Fares untuk dengan lembutnya mengusirku.
Salah satunya..., “ini masalah Rasyi tidak boleh ke luar rumah, ya?”
“Apa? Tidak. Kalau Rasyi mau jalan-jalan, kakak tidak mungkin larang.”
Kemungkinan alasan selanjutnya..., “Ada yang tidak beres sampai Rasyi harus sembunyi lagi?”
“Rasyi mikir apa sih? Tidak ada. Semuanya beres.”
“Ini karena Rasyi tadi buntutin Vian? Rasyi minta maaf.”
“Rasyi harusnya minta maaf ke Vian. Tidak perlu ke kakak.”
“So, tidak ada yang larang Rasyi jalan-jalan ke mall?”
Fares tersenyum bingung, “Tidak ada.”
Tidak ada yang menghentikan aku dong sekarang! “Kalau begitu Rasyi mau jalan-jalan sekarang~!”
“Rasyi....”
Duh, “Please... Rasyi diam aja di depan kakak. Tidak lakukan apa-apa. Kecuali makan camilan.”
Ayo kita jujur saja, “Aku suka jalan-jalan bareng kakak.”
Matanya lurus menatapku.
“Tapi... Rasyi sudah banyak menyusahkan kakak. Rasyi pikirnya kalau kak Fares antar Rasyi, tugas kakak malah keganggu sama Rasyi.”
Bagaimana ya? Kedengarannya seperti... aku mencari alasan?
Sudahlah, “Rasyi tidak paksa lagi deh. Rasyi cuma mau jalan-jalan bareng kakak. Kalau tetap tidak boleh, Rasyi dengarin kok.”
Pembelajaran sudah disembahkan dengan cara yang kejam. Ada saatnya aku harus menarik masuk kenbali keras kepalaku. Jangan sampai menyakiti Fares lagi.
Kurasa waktunya untuk pulang layaknya perempuan penurut.
“Ya, ya sudah,” tangan Fares menahanku? “Tapi lama loh.”
Sungguh? Sungguh Fares mau?!
Genggaman tangan itu aku pastikan tidak lepas dengan kedua tanganku. Menelusuri setiap ingatan pengalamanku di mall selama ini. Tempat yang kalanya cocok untuk kerja kuliah Fares.
Oh. Aku tahu!
“Ke sana gimana kak? Di sana bisa ambil meja yang di balkon. Jam segini pasti enak anginnya. Mau?”
Fares tersenyum, “Iya, mau.”
Berjalan duluan aku sambil menahan genggaman tanganku. Seluruh lengannya sudah melekat dengan pelukan kedua tanganku. Diselangi oleh senandung senangku, aku mengarahkan langkah kami ke satu cafe yang sering aku dan papa mampir.
“Mudah-mudahan masih ada,” aku sudah memasuki cafe bersama Fares dan berniat mengambil duduk dulu, “Ada!”
__ADS_1
Spot favoritku. Dia memang bukan yang paling dekat dengan pagar balkon. Melainkan di sudut jendela kaca dan pagar pemisah tapak penjual. Karena di ujung itu, kursinya adalah sofa dua orang di satu sisinya. Jadi Fares bisa lebih nyaman duduk di sana.
Kulepaskan tangan kak Fares dan membiarkan dia mengambil duduk yang ia suka.
“Rasyi pesan makanan dulu. Kakak duduk duluan saja di situ.”
Aku pergi dengan gembiranya. Memenuhi satu slot dalam antrian. Dengan sesekali memperhatikan jendela kaca yang langsung mengarah ke pria ini.
Hal seperti ini bisa dikatakan kemajuan kan? Walau dengan tidak sopannya memamerkan rasa keras kepala, aku berhasil membujuknya dengan apa yang kami berdua setujui.
Tidak terasa mata yang masih fokus di kaca jendela itu, sudah menangkap aku di awal antrian.
Enggan menghabiskan waktu, aku memilih untuk meminta menu rekomendasi. Pastinya dengan kopi dan pendampingnya untuk kak Fares dan deadline tugas yang mengejar.
Kembali aku ke meja dengan struk yang panjang. Mendapati Fares sudah sibuk dengan laptopnya.
Ini mungkin akan lama. Seperti menunggu jemputan taksi. Namun kali ini taksinya memang di depanku. Dan melihat matanya fokus seperti itu membuatku berdebar.
Tidak aku mengangka jatuh cinta semanis ini di lubuk hati terdalam.
Hihihi.
“Kakak sudah bilang pak Darma minta jemput dua jam lagi. Tidak papa kan?”
Hmm? “Kan memang Rasyi yang minta,” aku tersenyum sendiri, “Udah. Fokus aja nugas~”
Aku akui, duduk diam seperti ini bukan gayaku. Namun aku tidak mau bahkan bicara satu kata pun. Fares adalah mahasiswa yang unggul. Bagaimana jadinya kalau ada nilai yang kosong karena telat semenit.
“Silahkan pesanannya,” waa~! Ice cream-ku datang!
“Terima kasih~”
Ice cream di mangkuk besar dengan segala macam model tambahan yang melengkapi. Wafer, potongan roti tawar, bahkan buah.
Oh iya. Kupastikan kopi dan pie buah yang tampak enak sudah bertengger tak jauh dari gampaiannya.
Aku rasa aku akan menikmati saja ke mana arah ice cream ini membawa apresiasiku. Masuk kalian ke mulutku dan lumerlah kalian untuk menghibur hatiku yang mulai bosan!
Kyaaa~! Enaknya~ Sekalipun tidak pernah mengecewakan!
Namun aku tidak bisa tidak menatap pria ini. Titik matanya yang membiarkan wajahnya redup tanpa ekspresi. Menempatkan aku ke lamunan yang manis hanya dengan mengaguminya. Dilema dengan jarak pandang yang hanya meja.
Gelitik manis makanan penutup ini semakin manis. Yang mengejutkan tambahan itu tidak membuatku enek.
Sepertinya aku menemukan hal yang bisa menghabiskan waktu~
“Rasyi, kalau kakak dilihati terus, kakak bakal keganggu,” ia sempat tersenyum meski matanya masih ada di layar.
Kurasa hal itu tidak jadi bisa menghabiskan waktu.
“Maaf.”
Aku beralih pandang ke arah luar balkon.
“Rasyi sebentar lagi ada penutupan anniv kan?”
Hmm? “Iya, bulan depan,” aku tidak mengira kak Fares mau bicara di tengah pekerjaannya. Oh! “Kak Fares mau datang? Papa juga diundang soalnya donatur loh~”
Ia memandangku. Hanya dengan gerakan kedua bola matanya tanpa menggerakkan kepalanya. Namun ia tersenyum.
“Kakak diundang nih?”
Aku juga tersenyum, “Siapa yang mau ngusir kakak walaupun kakak tidak diundang~ Hihihi!”
Ia tertawa kecil, “Nanti kakak sempatin.”
__ADS_1
“Janji ya~”
Sepertinya aku akan menunggu hari-h dan berharap agar cepat datang~