Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#147 Yang Ada di Samping


__ADS_3

“Papa!”


Aku tidak peduli lagi dengan pintu rumah sakit. Yang aku inginkan hanya melihat dengan mataku sendiri bagaimana keadaan pria itu. Menenangkan jantungku yang sedari tadi tidak bisa diam.


“Berisik.”


Papa..., papa sudah duduk. Kurang dari setengah jam lalu, paman bilang keadaannya kritis dan perlu menyelesaikan operasi. Namun dia baik-baik saja.


“Sudah, sayang. Papa sudah tidak kenapa-napa,” Sari datang mendekatiku.


Iya, papa tidak kenapa-napa⏤


“Rasyi!” sepasang tangan menahan tubuhku dari jatuh.


“Ya ampun, sayang!” Sari ikut terduduk menanggapi aku yang tidak kuat lagi berdiri, “Bawa ke sofa, ayo, Fares.”


Aku merasakan tarikan tangan dari Fares yang mengangkatku dari lantai. Ia memastikan aku duduk di sofa yang disusun di ruang rawat inap ini.


“Minum dulu ya?” Sari mengulurkan minuman untukku.


Bisa terdengar Hendra menggeram kesal, “Anakmu sampai mau pingsan begitu.”


“Di sini korban tabrakan, bukannya kecelakaan tunggal,” papa tampak sangat sehat untuk menjawab.


Elusan di kepalaku, “Paman tidak papa. Kelihatan kan?”


Aku mengangguk.


“Paman,” Daffa kelihatan sedih sambil duduk di ujung ranjang, “Paman, makan!”


Tampak papa menerima suapan Daffa akan stick keju itu. Ira juga sudah dekat dengan keduanya.


Bisa ya aku memikirkan hal lain padahal jelas papa baru kecelakaan. Melihat mereka saja, semua pikiranku berbelok tujuan.


Sesaat mengarahkan pandanganku, seakan aku ada di luar buku cerita. Dan ketiganya berada di ceritanya sendiri. Pemikiranku yang semakin tidak menentu membuatku semakin jauh.


Aku lelah. Halusinasi dan dihantui oleh pikiran akan dikeluarkan dari buku cerita. Padahal aku dan papa sudah menyebutkan itu tidak akan terjadi.


Namun... aku lelah... semua itu tidak bisa hilang dari kepalaku.


Tidak mau berpikir, aku memilih untuk menutup mata dan bersandar di pundak Fares.


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


PRANG!


Aaa... kepalaku pusing. Seharusnya aku lebih hati-hati. Kalau seperti ini kan aku akan semakin menambah pekerjaan. Orang yang akan mengepel tumpahan minuman ini pastinya aku.


“Ras, kenapa?”


“Ambil pel dong!”


“Wah, basah. Awas.”


Tampaknya satu dari teman sekelasku sudah membawa kain pel dan pegangannya. Aku harus kembali ke kesadaranku.


“Sini, biar aku saja,” aku mengulurkan tanganku.


Kuterima pel itu dan membersihkan apa yang seharusnya aku bersihkan. Untung saja itu hanya air putih dari botol minumku. Dan untunglah dia jatuh hanya di lantai kelas yang pastinya ubin bersih.


Ke depan, ke belakang. Melakukan hal yang sama sampai semua basah itu menghilang.


Terus... dan teruskan....


“Ras!”


“Hmm?” aku tersadar akan panggilan itu.

__ADS_1


“Kamu ke UKS gih.”


Sesaat aku terdiam, “Aku tidak apa kok. Kenapa ke UKS?”


“Gak papa mananya? Dipanggil-in dari tadi gak nyahut-nyahut.”


Aku memperbaiki posisi pegangan pel di tanganku, “Panggil kenapa memang?”


“Mau sampai kapan ngepelnyaaaaa?”


“Aku kan bersihin ini. Sabar,” aku masih sibuk dengan pel.


“Udah selesai itu.”


Kenapa lagi sih dia ini?!


Mataku menusuk langsung ke orang ini, “Desak saja terus!”


“Ye, napa coba? Dibilangin lantainya udah kering. Tambah basah malah gara-gara dipel-in terus!”


“Bisa diam sekarang?!”


“Dasar Karen!”


Aku menatapnya lagi kesal, “Dibilang, diam!!”


“Ras.”


“Apa?!” aku memandang orang yang menepuk pundakku satu ini.


Firna ini merebut pelan pel yang aku bawa, “Udah ya? Biar aku yang lanjutin.”


Hela nafasku berat, “Memang kenapa kalau aku yang ngerjain?! Kenapa? Aku sudah tidak berguna, jadi aku harus pergi, begitu?!”


“Dibilangin udah selesai! Ini lagi pada mau nonton! Minggir!”


Nonton? Aku tersadar aku sedang berdiri tepat di tengah papan tulis. Kelas yang penuh. Sepertinya sudah menantikan siapnya proyektor agar bisa menunjukkan cerita yang berupa gambar bergerak itu.


Firna menghindarkan pel dari tanganku, “Yuk, duduk.”


Aku tidak ingin bicara. Hanya ingin diam di tempat dengan tanpa berpikir sama sekali.


Ha ha ha, seperti tidur?


Kalau saja guru-guru ini membiarkan kami pulang di tengah jadwal rapat guru mereka. Aku bisa saja langsung tidur tanpa terbawa emosi yang meluap seperti sekarang.


Pada akhirnya aku hanya duduk di kursiku sendiri. Tidak memperdulikan mereka yang susah-susah meminjam proyektor untuk menonton bersama.


Rasanya... muak. Duduk diam seperti ini ternyata membuat otakku ke mana-mana. Gelap ruangan yang dikhususkan mereka yang ingin menonton. Aku ingin tidur saja. Tidak peduli dan film yang mulai berjalan.


“Rasyi.”


“Apa lagi, bisa diam tidak?!”


Aaa... aku membentak Firna lagi..... Kelas, semuanya, menatap ke arah sini. Berbisik di tengah film berlangsung. Menarik pita suaraku agar tetap diam.


Hari ini aku sungguh tidak stabil. Tidak, bahkan aku tidak bisa menahan emosiku sejak aku melihat.... papa dengan....


“Kamu gini gara-gara paman? Paman kenapa?”


Dia bilang apa?!


Langsung aku berdiri dari duduk, “Jangan sok tahu! Berhenti mengurusi urusanku!!”


“Rasyi....”


“Aku....,” aku lelah.

__ADS_1


Berjalan pergi aku dari barisan meja dan kursi milikku. Aku ingin keluar saja⏤


[“Aku tidak punya ayah! Ibu sudah mati. Kamu gak usah balik-balik ke sini!!”]


Siapa?


[“Pergi!”]


Ha ha ha, anak di film itu mudah sekali membuang ayahnya. Dia tidak tahu bagaimana kalau kau dibuang oleh orang yang paling kamu percaya dan menjadi satu-satunya naunganmu!


Aku benci film itu!


Kubuka pintu lebar-lebar dan langsung berjalan cepat dengan sandalku. Menelusuri koridor terbuka yang biasa ada di depan kelas-kelas sekolah. Dengan emosi yang masih belum tenang⏤


“Auw!” aku menabrak seseorang.


Orang-orang ini kenapa selalu menggangguku sih?!


Meneruskan saja lariku kencang. Tempat yang aku akan jelajahi ditentukan sendiri oleh kakiku. Melayang angan-angan dengan masalah lain.


Sampai akhirnya kakiku berhenti.


Angin kencang dihambat gedung utama sekolah bersamaan dengan barisan pohon di dataran tangga  yang seperti terasering. Keramaian yang... asing.


Dadaku, sesak. Ha ha ha, aku masih saja tidak pernah terbiasa dengan keramaian ini. Memikirkannya saja membuatku beranggapan... aku bukan apa-apa tanpa orang lain. Sudah seperti benda mati.


Tarik nafas.... Rasyi, tarik nafas.


Semakin sesak. Aku....


“Rasyi!” aku bisa merasakan seseorang menahan wajahku, “Nafas. Rasyi, nafas!”


Aku merasakan suara itu bergetar ketakutan. Rasanya tangan-tangan gagah itu memelukku hangat. Namun aku ingin mendongak untuk melihat siapa itu, meski aku sudah punya dugaan besar.


“Sudah lebih tenang?” tampak sedih wajah Fares menanggapi tatapanku, “Duduk di sini.”


Panjangnya tangga yang mengikuti seluruh lebar sekolah. Dari ujung ke ujung, bisa digunakan untuk duduk. Bahkan kamu yang berdiri sembarangan di tangga bisa duduk di sana.


Fares lebih memilih duduk di anak tangga yang menjadi tumpuan kakiku walau dia harus memutar badannya untuk menatapku. Masih menggenggam tangan kananku. Tatapannya yang lekat di mataku.


Aku harus bersikap layaknya biasa, “Kakak kapan ke sini?”


Ia tersenyum, “Tadi kan kita tabrakan di depan kelas Rasyi.”


Oh? Jadi yang aku tabrak itu Fares....


Hening itu Fares putus, “Rasyi... tolong dengar-in kakak. Rasyi harus bicarain ini langsung ke paman. Apa yang Rasyi tidak suka, apa yang Rasyi mau.”


Tatapan beralih ke arah lagi, “Rasyi tidak mau.”


Datang terus menerus hembusan angin yang tidak pernah membosankan. Kami berdua memilih untuk diam sementara Fares menghela nafas sesaat.


Tangannya semakin erat menggenggam,  “Kakak, dulu, selalu nolak perasaan kakak ke Rasyi. Akhirnya kakak tidak tenang sendiri,” kali ini kedua tangannya mengelus kedua tanganku, “Rasanya tidak enak kan? Percaya sama kakak, jujur itu harus.”


“Rasyi takut....”


Fares memindah duduknya dan duduk di kananku. Ia mengelus kepalaku, “Takut apa? Rasyi tidak percaya kakak bakal terus sama Rasyi?”


Aku memandangnya. Tersenyum sesaat.


Layaknya tersadar. Baru saja aku terus berpikir tentang aku dan papa. Padahal Fares-lah yang selalu di sampingku, sejak apa yang aku lihat di rumah dulu.


Kugenggam tangannya lebih erat. Bisakah aku menggambarkannya dalam kata-kata saat aku berhadapan dengan papa? 


“Habis papa keluar rumah sakit....”


Ia tersenyum, “Tidak apa, kakak temani.”

__ADS_1


__ADS_2