
“Ras.”
“Hmm?”
“Kapan kak Fares ke sini?” si Saga ini terlihat tegang sekali.
Anak ini kenapa lagi? Di mana salahnya dari dua anak sekolahan yang makan sepotong cake di hari libur? Kami hanya menikmati waktu.
Oh, paham. Pasti karena banyak orang-orang menggosip di belakang kami kan? Ya, orang-orang yang tidak ada kerjaan itu memang terkadang bisa sangat mengganggu.
Hal ini biasanya terjadi setiap kali berkunjung dengan papa. Apa yang mereka bicarakan kali ini?
“Model ya?”
“Cantik banget.”
“Gak pernah lihat. Artis cilik kah?”
“Tapi kayaknya pernah kenal di mana gitu?”
“Di mana?”
“Rumah sakit gak sih?”
“Anj...! Kenapa malah jadi ingat rumah sakit?!”
Ramai juga. Kali ini ada yang mungkin kenal, tapi tidak. Mendengar ada yang bahkan mengingat kalau aku mirip dengan papa yang memang dokter terkenal. Hebat juga mereka.
“Kamu diomongin tuh...,” Saga sepertinya tidak biasa.
“Bukan hal baru, aam,” aku menyuap satu sendok manisnya cake itu.
“Maaf, kakak lama,” suara Fares. Dia sudah berdiri di samping meja kami, “Tidak lambat kan?”
Aku langsung memberikan satu potong di depan mulutnya, “Aaa~”
Muka Fares bisa merah seperti itu ternyata~ Namun, dia tidak segan menyambut suapanku. Sungguh membuat hati jadi cerah seperti lampu.
“Ehem, maaf. Ada obat nyamuk!” Saga dengan percaya dirinya membuyarkan momen manis kami.
“Maaf,” Fares langsung menjauh.
Kalau seperti ini, lebih baik aku mulai rencananya. Aku tidak tahu seberapa besar kemungkinan akan berhasil, tapi aku sudah cukup memikirkannya. Yang paling penting, mereka berdua saling bertemu.
“Oh!” aku memulai akting yang kubanggakan, “Aku lupa. Aku harus beli sketchbook!”
“Itu yang kamu lupain dari tadi?” Saga menyahut.
“Iya, aku harus beli sekarang,” aku berdiri membawa tote bag-ku, “Kakak bisa temani kan?”
“Bisa.”
“Aku duluan deh,” Saga pasti langsung mau pulang.
“Tunggu!”
“Apa?”
“Kamu tunggu di sini dulu sebentar!” aku seakan merengek agar meyakinkannya.
“Apa lagi?”
“Aku sudah terlanjur pesan kue seloyang. Nanti kalau pesanannya datang gimana?”
“Ya tinggal bilang ke counter-nya buat keep dulu.”
A ha ha, tentu dia akan berpikir demikian. Kurasa tidak ada pilihan selain menyogok orang tanpa hati ini.
__ADS_1
“Nanti aku mampir belikan game baru. Mau yang mana?” aku mengeluarkan ponselku dan langsung bersiap mencari game apa yang dimaksud.
“Transfer aja, ada yang mau aku beli di PC.”
Sungguh, Firna! Kamu sukanya orang ini dari sisi mana?!! Jika saja aku tidak sekaya sekarang, aku pasti sudah mengamuk dan berdoa setiap saat agar dia dijatuhi hujan batu.
“Mau kakak saja?” Fares menepuk kepalaku.
“Tidak, aku masih bisa menyumbang buat orang sok miskin kok,” aku berusaha untuk mengirimkan uang digital itu, “Deal ya, tungguin cake-ku!”
“Iya iya~” dia menemukan ponselnya dengan notifikasi di sela senyumnya.
Capai. Dia bertingkah seperti tidak punya uang. Padahal ayahnya juga orang yang berlebihan uang.
Aku dan Fares pergi saja. Namun aku harus memastikan satunya sudah ada di tempat.
“Rasyi mau beli sketchbook apa lagi? Kemarin sudah pesan, kan? Yang Harun pesan kemarin,” kak Fares dengan lembutnya mengambil alih tote bag hitam polos yang aku kenakan.
Hmm... mungkin aku bisa jujur ke Fares.
“Rasyi tidak mau beli apa-apa kok. Mau pergi saja dulu,” aku kembali mengecek ponselku.
“Loh? Kenapa?”
“Itu....”
Oh, kami sudah sampai di titik temu. Gampang aku menemukan pemeran yang aku cari sedang menunggu.
Kubiarkan satu jariku menempel di matte lipstick merah terangku, “From now, kakak diam-diam saja ya~”
Fares tampak bingung, tapi aku tidak punya waktu untuk bercerita. Harus aku panggil segera orang berpakaian simpel kaos dan jeans itu.
Kulambaikan tinggi tanganku, “Firna!”
Perempuan itu berhasil menyadari letak aku berdiri. Ia mendekat dengan cepat. Aku juga tidak banyak basa-basi dan mengeluarkan barang yang ada di tote bag-ku meski masih dipegang oleh Fares.
“Kenapa sih panggil-panggil aku ke sini?” Firna sudah ada di depanku.
“Loh? Huh?!”
“Kok bisa salah?” Fares ikut bingung.
“Tidak tahu. Kami ketemu dia tadi di cafe,” kuulurkan bingkisan tadi, “Aku lihat ini tadi, jadi aku beliin aja dulu. Mikirnya sih bikin alasan buat kamu lebih berani di depan Saga. Sana kasih.”
“Huh?!”
“Kenapa lagi, udah sana. Saga tuh lagi salah paham kalau kamu ulang tahun hari ini. Mau dia malu seumur hidup?”
“Tapi kan,” dia masih menerima bingkisan itu.
Tapi, tapi kan, tapi~!
Aku berputar ke belakang Firna, “Di Coffee Bean di dekat photobooth. Cepat sana, keburu pulang loh,” aku langsung mendorongnya, “Sana, sana!”
Firna sepertinya juga tidak tega membiarkan Saga malu sendiri. Yah, apapun alasannya, mereka bisa bertemu dan saling tukar kado. Semuanya kembali lagi ke mereka sendiri.
“Sekarang, mau gimana?” Fares sepertinya menuruti perkataanku untuk diam.
Aku mengikat rambutku rendah di bawah topiku dengan karet yang sengaja ada di pergelangan kiriku. Mengedipkan satu mata ke arah pria ini.
“Saatnya kepo~”
“Rasyi....”
“Rasyi khawatir mereka malah adu mulut. Kakak tidak khawatir? Kalau tidak apa-apa, kita langsung tinggal. Janji~” langsung aku raih tangannya, “Ayo!”
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
__ADS_1
Walaupun aku tidak sungguh khawatir kalau mereka berdebat. Hanya....
“Mereka kenapa?”
“Kayaknya si pacar lupa ulang tahunnya deh.”
“Terus?”
“Gak tahu. Gak kedengaran lagi.”
Aku hanya tidak menyangka mereka sungguh akan adu mulut.
Kacau.
Jarak kami dengan cafe saja belum begitu dekat. Bahkan mereka tidak terdengar. Namun, kami tahu betul, Firna dan Saga sedang berdebat hebat. Menarik orang luar untuk melihat.
Kalau seperti ini terus, sebentar lagi pasti mereka akan diusir.
Yang benar saja!
Orang-orang ini, semuanya, kenapa membuatku susah sih?! Teman-temanku... papa... semuanya... membuatku susah.
“Tidak berhasil ya?” Fares dan aku berdiri dekat pilar mall di luar cafe. Menatap dari balik dinding kaca cafe.
Aku menghela nafas, “Rasyi ke sana dulu!”
“Eh, bentar,” kak Fares menahan lengan atasku?
“Kenapa sih?”
Ia tersenyum manis, “Percaya sama kakak ya?”
Percaya? “Hmm?”
Ia menggerakkan genggamannya ke arah telapak tanganku, “Rasyi tetap di sini. Ya?”
Aku terdiam sesaat, “Iya....”
Hmm? Dia berjalan pergi sendiri selagi memberikan tote bag milikku. Apa maksudnya?
Maksud apapun itu, aku tidak berniat untuk mengikutinya.
Bisa terlihat kak Fares sudah di antara mereka. Membicarakan sesuatu, yang aku bisa yakin membuat mereka mulai tenang.
Fares tentu bisa menenangkan setiap orang. Tetapi masalah menyelesaikan perasaan mereka yang tidak mau jujur....
“Tidak apa, kah?” ini masih saja mengkhawatirkan.
Lucu. Padahal kemarin, bukan, hari ini pun aku kesal pada orang-orang. Ingin tidak peduli lagi dengan orang-orang. Namun aku masih tidak bisa tenang kalau semuanya hancur seperti ini.
Fares menyuruhku diam. Jadi aku akan diam dulu untuk saat ini.
Bersandar aku pada pilar. Melepas ikatan rambutku dan menjauhkan setiap helainya dari dalam baju crop top putihku. Pundakku yang terbuka di kaos inner hitamku, kembali ditutupi rambutku sendiri. Menyilang kaki di sela aku berdiri, mengapit ujung jeans-ku satu sama lain.
“Huuh..., duh!” kenapa mataku tidak bisa tenang.
Bila orang lain bilang, ini berarti ada yang memikirkan aku. Kenapa ya?
Hmm? Ponsel? Ada panggilan tiba-tiba.
Ini kan dari Hendra. Kenapa? Fares mematikan ponselnya, kah?
Aku angkat saja, “Halo paman? Kenapa?”
[“Rasyi, kamu cepat ke rumah sakit!”]
Heh? “Kenapa?”
__ADS_1
[“Papamu kecelakaan!”]
Eh?