Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#116 Tegang dan Lega di Satu Waktu


__ADS_3

Hujan?


“Astaga!” Firna langsung memegangi kedua pundakku.


“Kamu sakit apa?!” Vian berdiri tiba-tiba marah.


Dan aku... bingung. Bagaimana ceritanya bisa ada anak-anak perempuan berdiri di belakangku? Sambil memegang gelas plastik kosong.


Cairan hijau ini, jus? Baunya, kentalnya, avocado? Di rambut dan pundakku.


Me, mereka ngapain sih?!


“Diam kamu!” satu perempuan yang memegang gelas kosong itu menegur tegas.


Anak ini, kakak kelas ya? Rasanya aku pernah melihatnya....


“Yang sakit itu temanmu. Makanya aku siram biar bangun!”


Hubungannya ke mana, dari sakit ke bangun? Kamu mungkin yang setengah tidur sampai salah siram.


“Mana urusan kami sama kalian?!” Vian mencoba mengambil posisi berdiri di antara kami.


“Tugasnya kami kami, buat tegur yang songong,” perempuan paling tinggi di belakang mulai membalas.


Wow. Anak-anak kurang ajar. Perlu aku jitak?


Memilih aku untuk berdiri, “Oke. Bisa jelaskan, apa salah dari adik kelas ini. Kakak-kakak?”


“Heh. Buat apa kami yang bilang?”


Nih cewek-cewek maunya apa sih?!


“Gak masuk akal...,” Vian menarik lengan atasku, “Ayo Ras,” ia melangkah duluan.


Sampai akhirnya mereka, membuang sampah gelas itu. Di mukaku?


Yang benar saja! Anak-anak ini, sungguh! Titisan orang neraka atau bagaimana?!


“Apaan nih?!” suara Saga, “Ras?!”


Dia tampak panik. Tentu saja, Saga akan langsung terkejut melihatku penuh cairan hijau yang bisa disalahpahami ini. Bonus kumpulan cewek yang tidak jelas.


“Mereka minta dikasih sakit, Sag,” Vian?


“Oh,” Saga berdiri di depanku, “Cewek. Kakel. Masih bisa dihajar⏤”


Saga di... ditampar?


“Kami juga. Ospek adik kelas udah biasa.”


Dan sekarang mereka pamer jabatan? Gila!


Ups, “Sag!” aku langsung menahan amarah lelaki ini.


“Udah lepasin,” Vian malah berusaha melepaskan genggamanku pada Saga.


“Bukannya aku tidak mau Saga hajar mereka. Tapi aku mikirin Saga kalau diskors!” aku masih menahannya.


Saga masih berteriak, “Bodo amat! Sini! Biar masuk RS sekalian!”


Aku harus bagaimana kalau seperti ini? Sekolah sangat ketat dengan perkelahian.


Walau si kembar sering berkelahi, bukan berarti mereka boleh melanjutkannya. Bayangkan berapa banyak peringatan yang sudah ditumpuk. Lebih buruknya lagi, mungkin perkelahian kali ini akan jadi terakhir untuk mereka.

__ADS_1


Ditambah lagi dengan anak-anak OSIS. Mereka punya jalur cepat untuk melaporkan ini ke BK.


“Heh! Tenang dulu, Sag!”


“Kenapa jadi berantem dah?!”


“Ada napa sih?!”


Banyak orang yang berkumpul dan berusaha menenangkan Saga. Kedua orang ini terlihat ingin sekali beraksi dengan tinjuan. Akan lebih baik mereka ditahan banyak orang seperti ini. Tidak bisa kubiarkan mereka dikeluarkan.


“Lepasin, kalian!” Saga masih berteriak.


Vian, yang lebih tenang, masih menahan amarahnya, “Kalian mau belain congornya mereka? Mereka?!”


Aku menghela nafas, “Vin, Sag, tetap di sana! Jangan mikir untuk kelahi!”


Lalu sekarang....


“Kak, bisa kita diskusikan baik-baik?” aku tidak peduli lagi dengan badanku yang penuh jus.


Harus aku luruskan ini.


“Aa!” suaraku tidak terduga keluar,  “Uhuk, huk!”


Dan mereka seenaknya melemparkan minuman baru ke arahku?!


“Apaan sih?!” Firna menahan tangannya di depanku layaknya ingin memelukku, “Kalau ada salah, itu bilang!”


Tunggu... wajah perempuan ini, aku ingat sekarang.


Kupandang dia dengan tubuh tegakku, “Kakak salah satu orang yang suka Harun kan?”


Orang-orang terdiam. Sehening ini walau aku sudah sadar dengan banyaknya kerumunan orang di sekitar kami. Entah kenapa mereka tidak bertindak. Kurasa, seperti aku, mereka ingin tahu apa yang jadi motif kekacauan ini.


“Memang,” satu perempuan dari ketiganya melipat tangannya di depan, “Ngerti kan salahnya di mana?”


“Ini masalah aku yang sempat kelahi sama Harun?” pasti itu yang salah. Sama seperti yang dipikirkan Gista, tapi..., “Kalian tahu dari mana?”


Bahkan kelas tidak aku ceritakan apapun yang terjadi pada kami. Mereka hanya sadar jarak kami sudah jauh tanpa kami sadari. Lalu apa yang kakak-kakak OSIS ini lakukan sampai mereka bisa tahu?


“Gak penting. Yang penting kamu harus minta ampun sudah bikin dia sengsara.”


Ampun? Harun sengsara?


Memang benar kalau hatiku, yang sering dibilang terlalu baik, bisa pula berpikir demikian. Namun kalau dilihat dari mataku dan teman-temanku, yang sengsara adalah aku.


Aku akan kesampingkan itu dan bertanya lagi, “Apa yang aku lakukan? Kami hanya teman, yang kebetulan saling suka. Dan sebelum dia menembakku, aku disadarkan kalau itu bukan suka yang dimaksud. Aku punya hak untuk menola⏤aa!”


Sialan! Mereka mau melempari makanan mereka sendiri sampai kapan?! Roti sekarang, heh?! Kalian itu dibeli pakai apa?! Daun?!!


“Berhenti main kasar! Kalian untung kami cuma mau ngomong di sini!!” Firna memilih berdiri di depanku.


Salah satunya lebih marah lagi, “Mau talk? Well, we’ll talk! Harun suka sama kamu. Kami selalu ngalah biar Harun senang. Kami sudah lepasin! Kamu nolak kebaikan Harun! Usir Harun juga dari sekolah! Otak ke mana, otak?!”


Anak-anak ini tidak tahu apa-apa.


“Kamu kira kamu siapa? Sok bisa nolak Harun. Senang banget mainin hati!”


Berteriak seperti itu tanpa tahu apa-apa.


“Kalian yang kurang ajar! Dasar mak lampir!” Saga kembali marah walau ditahan banyak orang.


“Hei, otak pendek diam! Diam!”

__ADS_1


Vian tampak semakin marah, “Ngaca, we, Ngaca!!”


Keadaannya semakin ramai. Bahkan anak-anak ada yang berinisiatif untuk meminta bubar kami. Saga dan Vian dibawa semakin jauh walau dengan teriakkan itu. Dan mereka berusaha membuatku bergerak dari posisiku.


Namun kami pada dasarnya masih saling ribut.


Pusing... padahal aku sudah minum obat karena kemarin hampir sakit. Rasa pusingnya kembali....


Namun aku harus menyelesaikan ini.


“Ada apa nih?”


Heh? Ketenangan ini?


Sebuah tangan menerpa wajahku, “Rasyi kenapa?”


Rasanya, aku ingin menangis. Sosok Fares di sisi kiriku sungguh membuat semuanya lebih nyaman. Tak peduli lagi dengan gerombolan orang maupun bajuku yang basah.


“Firna, ini kenapa?” suara tenang Fares berlanjut.


“Ini kak, mereka, nyalahin Rasyi soal pertukaran pelajarnya Harun. Yang numpahin minum ke Rasyi dua kali juga mereka.”


“Ha, bener-bener ya,” perempuan itu marah, “Kak, mereka yang tidak tahu diri. Makanya aku kasih disiplin!”


Firna tampak marah, “Kalian yang datang-datang cari ribut⏤”


“Diam.”


Keheningan sungguh dibawakan oleh satu kata saja dari Fares. Layaknya semua menangkap kemarahan Fares.


Pria ini memulai dengan suara lantangnya, “Aku, yang nyuruh Harun ke luar negeri! Mau protes apa?!”


Mereka tidak bicara sama sekali.


“Aku paham kalian tidak saling setuju. Tapi, gini? Cara kerja OSIS?” Fares kembali menegaskan suaranya, “Kayaknya aku yang salah lulusin kalian di keanggotaan. Apa perlu dikasih ospek sekali lagi?”


“Tidak kak. Maaf.”


“Maaf kak.”


“Pergi ke ruang OSIS. Panggil juga ketua kalian sekarang,” Fares kembali bicara.


“Tapi kak⏤”


“Kalian dengar, tidak?” Fares memotong dengar keras bersamaan tatapan tajamnya.


Sampai akhirnya mereka pergi tanpa mengatakan apapun lagi.


Fares mendapati si kembar yang masih mengelak marah, “Vian, Saga, kelahi cuma bikin kalian yang kena. Balik ke gedung olahraga!”


Suara Fares sungguh menggema di pinggir lapangan. Meski banyak orang, tapi mereka tidak berani bersuara atau bergerak.


Membuat Fares berteriak lagi, “Semuanya yang di sini, salah! Balik ke kelas!”


Orang-orang takut untuk tidak menjalankan apa yang disuruh Fares. Lapangan sampai harus dikosongkan tanpa pengecualian.


Namun aku masih berdiri di sana, dengan pipi yang terasa dingin.


Fares memandangku dengan tatapan kosong, tapi tangannya lembut mengusap air mataku.


“Fir, tolong temani Rasyi. Kakak urus yang lain dulu,” dia menyerahkan ke Firna sekantung, obat?


Itu obat yang kuminum saat tertular Daffa kemarin kan?

__ADS_1


“Iya kak,” Firna menerimanya.


Kami memandang pria ini pergi ke arah kantor guru. Yang tentu dari jauh tampak guru-guru yang berkumpul.


__ADS_2