
“Terima kasih,” wanita ini menerima apa yang kuberikan, “Buat sendiri?”
Aku tersenyum manis, “Iya, tante. Tolong kasih salam ke Harun.”
Wanita ini tiba-tiba berwajah gering, “Tante minta maaf tentang Harun. Dia....”
Diri seseorang bisa sangat asing bahkan bagi ibunya sendiri. Aku tidak ada kuasa akan hal itu melebihi wanita yang sudah mengandung dan melahirkan Harun ini. Tidak ada lagi yang bisa aku katakan.
“Tidak apa, tante. Yang terjadi ya sudah terjadi.”
Wanita ini tersenyum tipis, “Terima kasih.”
“Oh, tante. Harun berangkat kapan?”
“Kira-kira pertengahan bulan depan. Nanti tante bisa kasih kabar.”
Aku menggeleng, “Tidak usah tante. Tolong kasih itu saja ke Harun.”
“Iya, nanti tante kasihkan.”
Kepalaku menunduk pelan, “Saya permisi.”
Tidak banyak basa-basi, langkahku pun pergi melewati lagi pagar rumah itu.
Aku hanya tidak ingin lebih lama. Mungkin karena aku masih tidak nyaman ada di sekitar Harun. Lebih baik aku memberikan niat baikku seperti itu saja.
Kue dan jam tangan dengan dua buah zona waktu, kurasa itu cukup kan?
“Sudah?” papa menyambutku setelah aku kembali naik ke dalam mobil.
Aku mengangguk, “Iya.”
Mobil, yang tidak dimatikan dari awal itu, kembali bergerak dengan lancarnya. Papa menjalankan kemudinya mengikuti jalanan komplek yang lumayan sibuk. Sore ini berbagai macam kendaraan, harus lebih perlahan.
Tidak lama, kami akhirnya sampai di rumah Hendra.
“Aaak Aachi!” Daffa sudah siap memeluk kakiku saat aku turun dari mobil.
“Perlu dibantu bawaannya?” Hendra mendekati papa yang membuka bagasi.
Papa menyerahkan tas koperku, “Thanks.”
Kami menuntun diri kami masuk ke dalam rumah layaknya memang rumah sendiri. Terlalu sering aku kemari membuatku tidak sungkan lagi menerobos masuk. Menemukan Ira di ruang tamu sibuk dengan laptopnya.
“Mama, ada kak Achi!” dia menarik-tarik baju Ira.
Ira masih sibuk, “Iya, main dulu sama kak Rasyi.”
“Daffa,” Sari mengangkat anak kecil merepotkan itu, “Mama lagi kerja, sayang. Yuk kita main sama kak Rasyi.”
Ha ha ha, itu akan sangat menyenangkan....
“Aku langsung tinggal, kak,” papa dengan baiknya membawakan tas ranselku sampai di dekat aku berdiri, “Rasyi, jangan aneh-aneh. Papa telepon terus.”
“Iya...,” aku mengambil ranselku.
“Langsung? Udah mau malam loh,” Sari pasti tidak nyaman.
“Memang dadakan semua, kak. Saya titip Rasyi,” papa memperbaiki lengan bajunya yang dari tadi dilipat, “Bisa antar sekarang, kan?” ia menyenggol Hendra.
Hendra mengambil kunci mobil dari papa, “Have any choice?”
“No,” papa menggendong tas ransel miliknya.
Huuuh... aku harus say bye lagi. Tidak bisa aku berpikir semua akan baik-baik saja.
Maksudku, semua masalah yang membawa trauma sebelum ini, dimulai dari papa yang pergi. Yang waktu itu bahkan sampai satu bulan dan tanpa kabar.
Eh? Papa memelukku?
__ADS_1
“Papa benar kerja. Jangan pikir aneh,” papa menyenggol kepalaku meski satu tangannya masih merangkul pundakku ke pelukannya.
Kubalas rangkulan, “Benar-benar telepon Rasyi terus loh. Setengah hari tidak ada kabar, Rasyi kirim tim SAR.”
Dia tertawa kecil, “Iya,” kecupan hangat itu selalu jadi tanda selamat tinggal, “Jangan keseringan ke toilet.”
...
Wahai papa, aku kutuk pesawat anda ke delay sampai Subuh besok!
“Kenapa Rasyi sering ke toilet? Sakit?!” kenapa Sari jadi mendramatisir? “Muka Rasyi jadi merah!”
Papa melepaskan pelukannya dan menghamburkan rambutku, “Cuma kepanasan. Makanya sering ke toilet.”
Tolong hentikan!!
Akhirnya aku bisa terbebaskan dari papa yang menjengkelkan itu. Rumah masih ramai dan merepotkan dengan adanya Daffa dengan sikap bossy.
“Kak Fayes!” Daffa yang masih bicara tidak lancar itu berlari ke arah ruang dalam.
Tu, ada kak Fares?!
Duh! Hatiku masih belum membaik nih!
Ini salah papa! Membawa bahasan yang memalukan terus menerus. Aku tidak bisa mengendalikan wajahku....
“Rasyi kepanasan? Tante buatkan minum ya?” Sari masih panik.
Aku tersenyum, “Iya deh,” mungkin itu bisa membuatku lebih tenang walau sedikit.
“Kak Achi, cini!!” anak satu ini tidak mau tahu menahu ya?! Tangannya main tarik saja.
Namun, kekuatan sungguh tidak bisa diperhitungkan. Setiap hari tidak melihat, kekuatannya selalu naik satu tingkat.
Aku penasaran gimana jadinya kalau dia belajar bela diri seperti Fares. Kak Fares yang badannya memang bukan atletik saja bisa kuat. Gimana kalau anak ini, yang sudah kuat dari awal? Yang pasti aku tetap lebih suka kak Fares, apa lagi dari sifatnya.
Kenapa otakku memproses pikiran aneh ini?!
Pria ini memandangku, “Rasyi sudah sampai sejak kapan? Kakak baru sadar.”
Ya, kurasa dia sibuk dengan apapun yang dikerjakan di meja makan yang bersih itu. Buku, laptop, buku lain dan berbagai macam kertas.
Aku harus tenang dan bersikap biasa. Mari kita pakai alasan itu untuk pergi.
“Yuk, Daffa,” aku berusaha untuk menggendong anak kecil itu, “Kak Fares lagi sibuk. Jangan diganggu.”
“Gak mau! Mau main sama kak Fayes!!”
Nih anak tidak bisa aku jitak saja, ya? Menjengkelkan sekali! Perasaanku, waktu Fares kecil tidak seperti ini juga merepotkannya.
Kenapa aku memikirkan Fares lagi?!
Aku berjongkok, “Daffa. Jangan mengganggu orang dong. Daffa pintar kan?”
Tampak wajah kesal yang sebenarnya jelek itu, “Kakak jahat!!”
Eh?
“Auw!”
BRUK! BRAK! DEBUR!
...
Tuh anak harus aku pecel! Melarikan diri saja kerjaan!! Sudah mencoba lembut-lembut meminta, dia malah mendorongku sampai jatuh. Ditambah, jatuhku dibuat tidak cantik seperti ini!
“Astaga, Daffa! Jangan gitu ih!”
“Kak Achi jahat!”
__ADS_1
“Rasyi!” aku melihat wajah....
Jari-jariku berhasil menutupi wajahku, tidak mau melihat. Malu sekali!
Kak Fares melihat jelas semuanya! Jatuhku yang sempat membentuk kesan seperti seesaw sambil menjatuhkan barang di sekitar kepalaku.
Rumah ini juga jadi tambah ribut.
Visualisasi seperti apa yang muncul di mata Fares saat melihat ini?!!
“Sakit?” suara Fares terdengar dekat sambil menyingkirkan barang-barang yang jatuh di sekitarku.
Iya kak, saraf rasa maluku sangat sakit! Anda pasti tertawa kan? Tidak perlu dilihat, sudah tahu!
“Fares,” suara Sari, “Belajar di kamar saja ya. Ajak Rasyi, obati, kalau luka.”
“Iya,” aku merasakan sebuah tangan menarik lengan atasku lembut.
Aku tidak mau berkomentar banyak dan mengikutinya pergi ke kamarnya. Kamar yang luas dan sejuk dilihat itu tidak sekali dua kali kudatangi. Tempat ini memang lebih nyaman kalau jadi tempat belajar atau sekedar bersantai.
“Duduk sini,” dia menuntunku di kursi nyaman di depan set up komputernya, “Ada yang sakit? Kakak langsung obati.”
Eh? Eh?!
Langsung kubuang wajahku. Fares sudah berbungkuk di depanku dengan satu tangannya tegak ke lengan kursi yang kududuki. Sangat dekat.
“Ti, ti, tidak ada,” ayolah Rasyi! Bicaralah dengan normal!
“Benar?”
Kenapa wajahnya malah lebih dekat?!
Aku hanya mengangguk. Mungkin karena aku takut mulutku bicara hal yang aneh.
“Oke,” ia menjauh, “Langsung bilang kakak kalau ada sakit, ya?”
“Iya....”
“Rasyi punya PR? Kita kerjakan bareng.”
“Tidak... ada....”
“Oh iya?” Fares mendekati barang-barangnya di meja belajarnya yang selalu rapi, “Mau belajar?”
“... nanti.”
Duh! Aku tidak bisa menghilangkan sikapku yang aneh. Mana ada Rasyiqa yang menjawab pertanyaan lembut seperti itu dengan satu dua kata saja.
“Rasyi benar tidak papa?” bahkan Fares menyadarinya.
Kenapa sih aku seperti ini? Tidak ada hal yang menakutkan dan tidak ada yang menjanggal. Namun nafas dan jantungku tidak tentu.
“Rasyi,” heh?! Fares? “Kenapa?”
Fares yang duduk membawa kursi meja belajarnya di depanku. Tatapannya yang hangat dengan sedikit bumbu khawatir di mata kecoklatan itu. Kehadiran yang sangat dekat itu membuatku bisa mengamati kulit kuning langsatnya.
Sungguh membuat jantungku jauh lebih kencang.
Papa... benar?
“Rasyi?” dia mengelus kepalaku kembali.
“Dadaku... aneh,” aku meletakkan tanganku di letak yang sakit itu.
“Sakit? Nafas Rasyi sesak?!” perlahan Fares menahan tanganku, “Ayo kita⏤”
“Bukan.”
“Apanya?”
__ADS_1
“Aku..., kayaknya suka kak Fares.”
Matanya membuka lebar, “Apa?”