
Aku mengulurkan tangkai bunga. Baru bisa kuberikan pada pria ini saat dijemput oleh Hendra kemari.
“Happy valentine~” senyumku merekah.
Tentu saja balasan dari papa adalah tatapan sinis yang khas miliknya, “Buat apa beli itu?”
Aku menahan senyumku tetap lebar. Walau hatiku berkobar dengan panasnya.
Bapak, yuk ikut Rasyi ke studio rekaman. Ingin aku nyanyikan dengan segenap jiwaku akan apa yang ada di kepalaku. Pastikan papa menggunakan headphone-nya supaya bisa mendengar aku berteriak!
“Itu dari sekolah. Kebiasaan dari dulu, sekolah bagi-bagi bunga mawar begitu,” Fares membuka lipatan lengan kaus yang dikenakannya.
Bunga itu masih terulur ke arah bapak tak berhati itu. Namun kali ini ia menerimanya walau tampak tak tersentuh sedikitpun.
Hendra tiba-tiba bicara, “Perlu pakai bunga juga?”
Aku memandangnya.
Betul juga! Paman sudah siap dengan kado yang tante Ira siapkan. Baju juga sudah oke. Siap untuk menjemput tante Sari untuk pergi ke wahana malam, tempat kencan mereka pertama kali.
Namun kami tidak memikirkan bunga. Itu jadi ide yang bagus.
“Iya! Beli dulu waktu paman otw. Terus nanti jemputnya sambut langsung sama bunga~”
“Bunga yang gimana?”
Terhening aku. Ini bukan solusi. Paman Hendra tidak akan mengerti penjelasanku dan aku pun bukan ahli bunga yang tahu pasti nama dan seperti apa buket yang perlu.
Fares tertawa kecil, “Biar Fares belikan.”
“Rasyi ikut!” aku mengangkat tanganku, lalu mengulurkannya ke depan wajah Hendra, “Kunci mobil.”
“Buat apa?”
“Well,” papa meletakkan gelas minumnya, “Tidak perlu kalau kamu mau tangkainya saja.”
“Translate, nanti rusak kena angin!” aku masih mengulurkan tanganku.
Hendra tampak tidak senang tapi ia masih merogoh kantong celananya, “Bapak anak sama,” Hendra menyerahkan kunci mobil.
Aku tersenyum cerah menerimanya, “Let’s go~!”
Jiwa jalan-jalanku bergetar dan melaju duluan daripada supir yang baru berdiri.
Kak Fares mengambil alih kunci mobil dan menggerakkannya. Aku yang selalu duduk di samping kemudi memulai percakapan acak dengan Fares.
Tak tahu bagaimana, tentu Fares yang serba tahu juga mengetahui letak di mana kita bisa menemukan buket bunga hidup.
Mobil berhenti di kala sore yang masih menyilaukan ini. Aku hanya berharap tidak ada hujan atau paman Hendra harus mengambil rencana B, Dinner yang pastinya kaku.
“Yuk,” Fares memakaikan aku topi yang ia kenakan.
Hmm..., ini membantu sejak rambutku tampak berantakan meski sudah ku kuncir rendah di kanan dan kiri.
Fares membimbing langkah ke kawasan kebun bunga. Dan, wow, seperti istana bunga dengan berbagai macam dan warnanya. Tidak aku sangka ada tempat cantik seperti ini tak jauh dari rumah Hendra.
Sayangnya ini bukan untuk wisata, mereka menjaga ketat bunga-bunganya. Bahkan sebelum ke dalam gedung, kami dibatasi pagar.
Akhirnya toko yang manis bisa kami masuki.
“Selamat datang~!”
Macam-macam sudut terlihat indah dengan berbagai bunga dalam pot. Rumah kaca yang sekaligus toko ini hanya sebagian dari banyaknya bunga di kebun tadi. Namun keindahannya seakan compact dan bisa dilihat keragamannya di tempat yang lebih kecil.
“Saya pesan buket, bu, buat hari ini,” Fares mendatangi pekerja wanita paruh baya dengan celemek manis yang seragam.
“Oh, iya. Ada bunga yang disuka?”
“Lili putih, ada?” Fares melanjutkan bicaranya selagi aku menyusul berdiri di sampingnya.
__ADS_1
“Hoh, buat pacarnya mas? Haduh, mas, kalau mau kasih bunga, jangan diajak pacarnya.”
Eh?
Fares merasakan keterkejutanku juga, “Maaf?”
Apa beliau mengira aku pacar kak Fares? Eh? EEEEH?!!!
“Bukan, bu. Ini adik saya,” Fares tertawa kecil.
Serius?
“Oh hahaha, maaf.”
Aku tidak pernah suka keadaan seperti ini.
Ibu ini akhirnya menuntun kami dengan setangkai bunga lili ke segala sisi toko yang lain. Membicarakan bunga apa yang mendampinginya. Sampai warna kertas buket apa yang disuka.
Tempat ini sungguh mengutamakan kepuasan pelanggan ya. Dibimbing satu persatu sampai bisa dirangkai seluruhnya menjadi buket yang indah.
“Ini,” ibu ini menyerahkan alat seperti kartu, “Nanti kalau sudah selesai, ininya nyala. Langsung ambil di meja sana. Kalau mau jalan-jalan dulu silahkan.”
Wow. Bahkan mereka menggunakan Call Pagers System* yang bahkan jarang di restoran.
“Terima kasih,” Fares menjauhi kasir denganku untuk mempersilahkan pelanggan lain, “Kenapa Rasyi merengut?”
Hmm? Aku?
Fares tertawa, “Marah dibilangin pacar kakak?”
Kalau masalah itu..., “Kayaknya gara-gara kakak deh.”
“Loh,” dia kebingungan, “Kakak salah apa?”
Hmm? Kenapa ya?
Atap dan dinding dari tanaman rambat dengan buah yang bulat kemerahan. Indah dengan berbagai macam bunga yang berjejer di bawahnya. Kupu-kupu pun tampaknya puas dengan tatanan ini.
“Wah, aster,” aku berjongkok menemukan bunga yang sangat familiar denganku.
Mereka sangat sehat di sini. Yah, meski kesan mereka di mataku sekarang bukan hal manis. Hanya ingatan kebohongan yang terbayang.
Kuharap dulu aku tidak pernah minta Harun menghadiahkan aster.
“Puh!” kak Fares kenapa...?
Dia malah main sama kupu-kupu? Kenapa jadi bertambah banyak temannya?!
Scene apa ini yang aku lihat?!
Aku terdiam menatap kak Fares yang mengulurkan tangannya untuk para teman baru itu. Pria itu entah bagaimana terlihat cocok dengan alam. Tampak lucu saat aku berpikir ia adalah raja kupu-kupu.
“Beli buket buat siapa?”
“Buat tante Sari,” aku masih melihati Fares yang memandang ke belakangku.
Meski tidak peduli, kupu-kupu itu tetap suka terbang di sekeliling Fares. Dia pakai body cologne bunga atau bagaimana?
Tunggu sebentar, otakku. Siapa yang bicara di belakangku tadi⏤
“Aaa!!”
Kenapa ada muka seram?!!
Langsung kudekati Fares dan bersembunyi di belakangnya. Kurasa lemas dan hanya bisa menggenggam kaus Fares dari belakang.
“Sore, paman,” Fares mulai bicara pada orang seram ini.
“Sore. Maaf ya. Ngagetin?” dia merespons baik pada Fares.
__ADS_1
Ya bagaimana bisa tidak terkejut?! Anda muncul tiba-tiba. Dan wajah anda tidak sesuai dengan keramahan pilihan kata anda. Seharusnya anda tersenyum sekarang bukannya kayak Frankenstein!!
“Paman, beli buket?” Fares melanjutkan lagi.
“Iya.”
Tunggu dulu.
Aku mencuatkan wajahku dari balik Fares, “Jangan-jangan buat Kirana.”
Lah?! Kenapa polisi ini jadi malu-malu?! Tidak cocok!!
“Memangnya boleh, paman?” Fares, dia pasti tak senang sama seperti aku.
“Bunga aja tidak nyakitin siapa-siapa.”
Paman yang sakit!! Kenapa polisi ini malah suka sama nenek tidak tahu umur itu?!
Suara Fares terdengar dingin, “Tolong jangan sampai lupa diri.”
“Mau apa lagi, sudah suka.”
“Sama orang kayak gitu?” aku jadi curiga.
“Orang itu gak ada salah. Emang kalau salah, yang salah paman yang gampang suka.”
Aku terdiam, “Kok gitu?”
“Orang memang sudah kayak gitu di awal. Kalau salah, berarti akunya yang salah. Soalnya aku yang bodoh pilih orang yang gak buat aku.”
Ha, ha ha ha. Beliau mengejek aku kah? Lucu!!
“Ou,” beliau menemukan lampu di kartunya berkedip-kedip dengan getarannya yang terdengar, “Buket-nya udah selesai. Salam buat bapakmu ya.”
Fares membalasnya, “Paman juga hati-hati.”
Beliau pergi meninggalkan kami. Hening menangkap dan hilang saat kak Fares memainkan topinya yang aku kenakan.
“Seram ya, pamannya?” ia tersenyum.
Itu bukan masalahnya sih, “Pamannya kayak bilang kalau Rasyi yang bodoh, Soalnya Harun kan....” seperti salah aku pilih.
Fares terdiam, lalu ia memiringkan kepalanya agar aku bisa melihat wajahnya meski dengan topi yang menghalang, “Kamu sama Harun cuma salah paham saja. Nanti juga baikan. Coba deh diomongin lagi.”
Aku mengerutkan kening, “Kakak mau Rasyi ketemu Harun lagi?”
“Ya..., pasti kakak mau. Kalian kan harus baikan.”
“Kakak mau Rasyi dapat luka lebih parah dari ini?” aku mengulurkan tangan kiriku.
Tidak pernah terduga di kelapaku. Pria satu ini menyuruhku untuk membahayakan diriku sendiri? Sungguh?!
Kami sadar, kartu di tangan Fares menyala.
Berpaling aku pergi terlebih dahulu, “Rasyi tidak mau bahas orang itu lagi.”
^^^____________________________________________^^^
^^^* Call Pagers System^^^
^^^Ini sistemnya jarang ada di Indonesia sayangnya.^^^
^^^Sistemnya itu bisa kasih sinyal ke receiver cuma dengan dipencet nomor antriannya. Jadi kayak alarm jarak jauh begitu lah.^^^
^^^Jadi pekerja bakal kasih receiver yang bentuknya kayak kartu. Bolehkan costumernya dapat sinyal lewat receiver itu kalau pesanannya sudah selesai atau setidaknya sebentar lagi selesai.^^^
^^^Jadi selama menunggu, customer itu sebenarnya boleh kemana-mana. ^^^
^^^Monggo browsing lebih lanjut~^^^
__ADS_1