
[“Sudah disusun semua makanannya? Kakak-kakak pembimbing, pastikan lagi nih adek-adeknya. Jangan waktu udah kita mulai semua malahan ada yang nggak kebagian.”]
“Untung ya, hujannya lewat.”
“Kalau masih hujan sayang banget kita sudah beli lampu tumblr tapi gak kepakai.”
“Ya pasti dipindah ke aula juga gak sih?”
“Tumblrnya kan dipakai buat photobooth, gak bisa kali dipindah.”
“Buat apa bagus-bagus bikin photobooth kalau gak dipakai.”
“Ya ya, kita foto-foto dulu yuk. Nanti gak keburu.”
Kepalaku tegang. Acara masih setengah jalan. Masih banyak waktu untuk kelelahan.
“Belakangan kamu tegang banget.”
Ada yang ajak ngomong.
Oh, Fauzan ternyata, aku jawab seadanya saja, “Gitu kah?”
“Udah dua minggu kerjaan kamu sibuk terus. Padahal anak-anak juga bagus aja kerjanya.”
“Tidak ada yang salah dari jaga-jaga.”
Fauzan tepuk pundakku, “Tidak ada salahnya juga santai sedikit. Habis ini pentas seni kan? Biar kami yang urus.”
Anak kesenian. Dia yang akan isi acara setelah makan bersama. Ada empat seni yang ditunjukkan. Tari tradisional, musik medley, solo singing, sama dance. Semuanya sekitar tiga puluh menit.
Oh, aku harus pastikan sound system-nya. Karena tadi siang hujan, semua orang pikir sampai acara selesai aula yang bakal dipakai. Persiapannya jadi gesa-gesa.
Persiapannya lama juga. Terlalu lama. Seharusnya mereka sudah bisa makan bareng. Kalau diundur terus, anak-anak jadi terlalu malam pulang. Banyak yang kendalanya jam malam. Kevin mana?
“Dibilangin santai sedikit, malah makin tegang,” Fauzan tepuk pundak lebih kencang.
Mungkin... aku memang terlalu serius, “Ya, noted. Siap-siap juga sana. Biar bisa tenang sedikit.”
“Ampun, iya. Baik, pak ketua BEM~”
Dia pergi.
Melihat waktu, harus aku pastikan acaranya mulai cepat. Kecuali ada... kendala. Langsung saja aku berjalan. Ke arah panggung. Banyak anak-anak yang kumpul di sana.
“Ada yang salah kah?” kubuat bubar ribut anak-anak panitia.
“Tidak ada sih. Cuma nunggu konsumsi tuh disusun.”
Apa? “Masih ada yang belum?”
Dari atas panggung masih kelihatan jelas peserta-peserta itu. Banyak yang sibuk, dan ada yang sok sibuk. Malam bisa saja semakin larut.
“KYAAA!”
“Haduh!”
Mungkin ada juga yang kesulitan seperti dia. Bagaimana bisa peserta perempuan yang membawa minuman satu dus penuh? Lantai lapangannya masih basah, jadi pasti licin. Akhirnya malah jatuh semua.
Mungkin bisa bantu-bantu sedikit. Segera aku lompat ke bawah panggung satu meter lebih itu.
“Hati-hati dong dek.”
“Maaf kak. Licin.”
Untung banyak yang bantu. Jadi gelas-gelasnya bisa banyak diselamatkan. Yang sudah pecah jadi genangan air baru. Bisa saja nanti cari sapu. Anak-anak pakai itu untuk keringkan genangan hujan tadi.
Pertama-tama....
Sempat aku ambil beberapa gelas yang bergelinding di depan panggung.
“Makasih kak.”
Teman laki-lakinya sudah banyak yang bantu. Salah satunya yang bawa kardus sedikit basah. Gelas yang dipungut sudah banyak di sana.
Kuletakkan di dalam sana. Kembali jalan.
Aku sampai, di depan perempuan yang jatuh ini, “Ada yang luka? Lututnya?” dipikir-pikir, tadi dia jatuh di lututnya.
“E, e, enggak. Enggak kak,” sepertinya dia masih kuat berdiri. Tapi....
__ADS_1
“Udah dilihat?”
Dia diam.
Lengan dia kutahan. Pegang yang dirasa luka.
“Aaa duduh!” benar, sakit.
“Itu. Ikut kakaknya situ. Adini, tolong,” setidaknya satu panitia gesit kemari, “Obati dulu, oke?”
“Iya, kak.”
Dia sudah tenang. Pergi dengan Adini.
Sekarang....
“Pembimbingnya siapa?” dekati teman dia tadi, “Minumnya pas saja kah? Kalau kurang ambil punya panitia.”
“Masih cukup kok.”
“Langsung ditata, dek.”
Mungkin aku pastikan lagi sebentar, “Masih ada yang kurang kah?!! Ketua kelompok! Kakak pembimbing!”
“Tidak ada kak.”
“Cukup kak!”
“Semua sudah kebagian, kak. Sudah siap.”
“Ingat lagi ya. Jangan sampai ada yang kurang. Jangan sampai juga ada yang mubazir. Bagi-bagi! Oke, siap?!” aku berjalan ke depan panggung, “Kevin! Langsung mulai!”
Kevin ambil alih pengeras suara.
[“Semuanya duduk. Laper nih. Laper. Ayo, makan~ Ciwi-ciwi yang lagi foto-foto, ngumpul dulu~!”]
Langkah memutar lagi. Kembali ke belakang anak-anak yang duduk di terpal yang banyak sudah disiapkan. Pergi ke bagian tangga lebar untuk penonton.
“Fares~”
Clarissa.
“Fares tidak mau berduaan sama aku~”
“Tidak.”
Clarissa terlihat terkejutnya, “Jahat banget....”
Sepertinya aku tersenyum, “Ada urusan apa?”
“Fares selalu, tidak ada pakai basa-basi,” mengeluh lagi, “Ini nih. Aku mau antarin ini dulu,” dia kasih tas, kado.
“Apa ini?”
“Buat om Hendra~”
“Ayah? Buat apa?”
“Om baru anniv kan? Ini!” dia paksa aku terima itu, “Aku sudah pesan dari lama, tapi kendala pengiriman. Oh, ada juga yang buat tante Sari. Emang buat couple!”
Terima saja, “Terima kasih.”
“Ini,” dia kasih bingkisan lain, “Yang ini buat kamu.”
“Kenapa?”
“Biar kamu gak cemburu lihat om tante dapat barang bagus.”
Aku tertawa. Dia ada-ada saja pikirannya, “Gitu kah?”
“Terus~?”
Diam, cuma berdiri hadap ke panggung, “Apanya?”
“Harus ya, aku blak-blakan?”
“Karena aku tidak paham.”
“Tidak adakah rasa terima kasih untuk teman yang cantik jelita dan baik hati, rajin menabung ini?”
__ADS_1
Oh, hanya itu yang dia mau? Perempuan ini ada-ada saja.
“Terima kasih banyak,” senyumku kasih di⏤
“Dapat~ Yey!”
Jadi itu yang dia mau? Yang dia mau hanya dapat fotoku yang tersenyum. Keras kepala sekali. Dia senang sekali dengan kamera polaroidnya itu.
Tapi....
“Memang keliatan?” kuintip sedikit hasilnya.
Kami berdiri di tempat yang membelakangi cahaya. Jadi setidaknya kalau kelihatan, cuma setengah muka.
“Yah. Fo, foto lagi. Foto lagi!”
“Bye,” aku melangkah pergi.
“Aa! Fares~! Udah bagus senyumnya tadi!”
“Siap-siap pentas seni sana.”
“Gak seru dih, Fares! Kuanggap itu hutang!”
“Ya iya.”
Pentas seni tinggal beberapa menit lagi. Lalu ada award untuk peserta dan panitia. Semua penghargaan seharusnya sudah siap. Benar juga, harus aku koordinasikan untuk bawa ke bawah saja sekalian. Ruang empat belas buka kan? Bisa pinjam meja dulu untuk itu.
Fashion show, setelahnya nonton bareng. Seharusnya tidak ada yang perlu dipikirkan banyak. Proyektor dan layarnya sudah ada di belakang panggung. Oh iya, kabelnya sudah dicek kan?
“Suaranya mana, heh?!”
“Kabelnya, kah?”
Oh, benar, pentas seni sudah masuk ke persiapan. Aku tidak sadar karena suaranya memang tidak terdengar.
Harus aku bantu lihat masalahnya dimana.
Setelah itu....
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
“Pinjam pensil dong!”
“Ssst! Berisik! Lagi malam.”
Ramai sekali dimana-mana. Padahal mataku sudah ngantuk. Mau tidur, tapi masih tidak bisa.
“Res,” Fauzan panggil aku lagi, “Jangka waktu pengajuan surat permohonan keberatan Wajib Pajak kepada Dirjen Pajak paling lambat...”
Huuuh..., “Tiga bulan.”
“Pemerintah dalam memungut pajak, minimal harus ada tiga variabel penting. Apa?”
“Subjek pajak, objek pajak, tarif pajak.”
“PT. INSERT adalah Wajib Pajak Badan. Penghasilan Kena Pajak selama tahun 2009 adalah sebesar 205.000.000 rupiah. Maka jumlah PPh terutang PT. INSERT tahun 2009 sebesar....”
“29.750.000 rupiah.”
“Ya sudah,” Naufan menepuk keningku, “Silahkan tidur.”
“Tidak bisa.”
Fauzan menongol tutupi lampu di langit ruangan. Malam ini mereka semangat sekali untuk belajar. Karena mid-test sudah ada di depan mata.
“Kamu juga kenapa tidak pulang ke rumah sendiri. Kan lebih enak.”
Pilihan buruk. Dia masih menginap di sana.
Tidurku arahnya berputar, “Pingin.”
“Anak aneh. Rumah sendiri enak, malah ke rumah orang miskin.”
“Heh. heh heh. Kalian sadar gak, kalian tuh nginep ke rumah orang miskin. Kurang miskin apa kalian?!” Fauzan marah-marah sendiri.
“Ssst! Udah malam!”
Ribut sekali. Aku ingin tidur sebentar saja. Besok ada mid-test.
__ADS_1