Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#44 Bertahan


__ADS_3

“Nih~” Firna datang bersama botol kopi dan minuman jeruk di kedua tangannya.


Kuraih kopi itu, “Nice!”


Firna duduk di bangkunya, “Makanya jangan begadang.”


Mataku ini begadang karena otak yang lari berkeliling tanpa henti. Aku tidak berniat untuk menghabiskan waktu malam memandangi langit-langit.


Huuh... Insomnia bukan penyakit keturunan kan? Yang aku rasa semakin hari aku semakin sulit tidur.


Bukan berarti aku tidak tahu apa alasannya. 


“Pagi semua~”


Oh!


“Hai, Harun~! Udah lama tidak kelihatan nih~” aku sangat paham dengan gaya bicara Firna yang pasti ditenangkan dengan kehadiran Harun.


Aku memandang sosok yang duduk sementara di baris depan kami, “Gimana lombanya?”


“Harus ngomong tentang itu? Aku lebih penasaran gimana kabarnya Rasyi loh~”


Seminggu hanya sekedar sapa-pergi dan dia semakin melonjak gombalannya. Aku bisa merasakan Firna menyipitkan matanya sambil tersenyum lebar.


Harun tampak bingung. Eh?


“Rasyi kok lemas?”


Di, di, di di di dia mengelus pipiku?!


“Kenapa kamu sedih begini? Ada apa?” dia... Semakin mendekatkan wajah sedihnya, “Ada yang dipikirkan?”


Tersendat aku ke 'belokan' baru. Di tengah adegan ini, kata hatiku bertanya bagaimana dia bisa tahu aku memiliki pikiran? Apa sejelas itu wajahku mengatakan kalau aku khawatir akan papa dan tidak pernah bisa tenang?


Pantas saja orang-orang mudah sekali khawatir.


“Rasyi, cerita.”


Dari semua orang, Harun adalah orang terakhir yang ingin aku ceritakan tentang ini. Bukannya seperti Firna dan teman lain yang tak tahu apa-apa, Harun tahu masalah keluargaku. Aku tidak mau memancingnya lebih dalam dari ini.


“Kalau begitu, aku tinggal ke WC~” Firna kenapa berkata begitu⏤


Benar juga! Keadaan ini bukan untuk itu!!


“Muka Rasyi merah!” Harun tampak panik.


Bagaimana caranya tidak merah kalau wajah kamu sendiri terlebih dekatnya?! Lama kelamaan aku jadi bisa merasakan nafasnya!


Kyaaa!! Firna penghianat!!


Langsung aku berdiri melepaskan diri, “Fir, aku ikut!”


“Rasyi!” Harun malah menahan tanganku meski aku sudah bersusah payah berdiri dan melepas tangannya dariku, “Kamu sembunyikan apa?”


“Tidak ada. Kenapa kamu mikirnya aku sembunyikan sesuatu?”


Dia masih duduk di sana dan tangannya menahanku agar aku tetap berdiri di depan dia. Sampai akhirnya ekspresi tak senang itu sangat kentara.


Mulut itu terbuka kecil, “Kamu kan memang selalu sembunyikan semuanya dari aku.”


Tidak ada bantahan. Selama ini aku memang tak bercerita apapun, bukan hanya dengan lelaki ini. Bukan tentang tak mau, tapi ini tentang keluargaku. Dan aku harus memastikan tidak siapapun terikut serta di dalamnya.


Tidak akan terulang lagi seperti kejadian Jagad.


Ditambah kemungkinan besar hal sama akan terjadi lagi. Melihat papa menghilang dengan anehnya.


“Rasyi, tolong. Kamu sudah bilang iya selalu cerita sama aku. Kamu kok jauhin aku?” aku mendengar nada amarah walau wajahnya tak mengeras sama sekali.


“Salah kamu sendiri peras Rasyi begitu.”


“Pantas Rasyi jadi tidak suka cerita-cerita. Rasyi sudah tidak enak sama kamu, kali?”


Eh?


Eh?! Kenapa si kembar tiba-tiba mengelilingiku seperti ini?!


Vian memegang pundakku dan berdiri tinggi di belakangku, “Tangan kamu gimana?”


“Dikasarin harusnya lawan dong,” Saga mengangkat tanganku yang ia lepaskan paksa dari genggaman Harun.


Aku menyadari gerakan dari arah Harun. Ia sungguh berdiri sekarang.


“Kalian ngapain ke sini?” wajah Harun keluar karakter lagi!


“Kami kan temannya Rasyi,” Saga mengubah posisi tangannya, merangkul leherku.

__ADS_1


“Rasyi itu kakak kelas kalian. Panggil Rasyi yang benar!” aduh, Harun tambah marah.


Vian menahan tangannya di kepalaku, “Rasyi sendiri kok yang suruh panggil nama aja.”


Kemarin si kembar baru saja berkelahi, tapi mereka kembali dengan baik. Dan sekarang? Mereka bekerja sama memojokkan Harun dan aku?


Apa kalau Harun tahu keduanya sudah menembak aku, akan ada perang besar?!


“Ras! Gimana game yang kukasih kemarin?” Saga sekarang bertindak layaknya Harun tidak ada.


“Masih susah itu untuk Rasyi, Sag!”


Apa maksudnya itu?! Mereka mengira memainkan game peran, tentang memelihara ladang dan kehidupannya yang damai itu adalah sulit untukku?!


“Bisa! Cuma kan pelan-pelan!” aku berteriak kesal.


“Ya sudah.”


“Ya sudah~”


Mereka berdua maunya apa sih?!


“Lihat tuh muka Rasyi. Kamu sih, Sag~” Vian, aku tahu kamu sedang mengejek.


“Rasyi sih dari tadi mukanya memang loyo~” Saga, jangan menusuk pipiku!


Inj karena kalian datang tak diundang dan membuat hatiku kusut! Bagaimana caranya aku tidak bingung?!


Vian masih saja menahan kepalaku, “Mending kita main kartu.”


“Oh, iya!” Saga akhirnya melepaskan rangkulannya yang berat, “Kak Wira! Main kartu yuk!”


“Ogah!”


Kelas ini semakin ribut karena si kembar. Aku baru menyadari kalau kelas ini tidak mengeluarkan reaksi berarti pada keributanku dan ketiga cowok ini. Bisa jadi mereka terbiasa?


“Yuk Rasyi~” Vian melepas tangannya dan melangkah duluan ke Saga.


Huuuh! Tidak akan pernah aku terbiasa. Cepatlah kembali ke belajar mengajar yang menghindari keramaian. Diri ini ingin bisa bernafas tenang!


Eh? Tanganku. Harun menahannya lagi?


Sebelum dia marah, aku harus membawanya ke pembahasan yang lebih enak, “Kita ikut main kartu yuk. Lagi asyik tuh.”


Kenapa? Aura wajahnya....


Dia bicara apa?


“Paman Rizki diculik lagi?”


Heh?


“Siapa pelakunya? Bawahan kakekmu?”


Bagaimana...?


Tidak. Rizki tidak diculik siapapun. Dia yang pergi sendiri bersama kopernya. Papa tidak diculik.


“Apanya sih?” aku berusaha melepas genggamannya, “Tidak ada begitu lagi. Tidak ada yang bisa bertingkah.”


Itu tadi pasti hanya firasat Harun. Keadaan papa adalah rahasia. Aku juga tidak banyak berkomunikasi dengan Harun selama masa lomba karena aku tidak ingin mengganggu. Tidak mungkin dia tahu sesuatu.


“Rasyi, kamu tahu aku. Kamu tidak pernah cerita, jadi aku selalu cari tahu tentang kamu. Aku tahu paman tidak kerja lebih dari seminggu.”


Pasti karena ibunya yang perawat itu. Namun Hendra memastikan kehidupan Rizki sebagai dokter tidak mengganggu dan aku mempercayainya.


Benar, itu hanya asumsi.


Aku tersenyum, “Papa cuma kerja keluar kayak biasa, Harun.”


“Gimana kalau kamu juga diculik lagi?”


Heh?


“Gimana kalau ada yang seperti Jagad?”


Kenapa dia malah membahas itu?


“Rasyi, jujur sama aku. Ada apa?”


Tidak. Bila memang hal ini berbahaya, aku tidak boleh membaurkan dia dalam hal ini.


Memastikan genggaman itu lebih longgar, “Tidak ada.”


“Ini bahaya, Rasyi! Kamu tahu aku khawatir. Waktu kami nemu kamu di hutan....”

__ADS_1


Hentikan. Tolong, jangan ingatkan aku dengan tragedi malam itu.


“Tidak apa-apa, Harun.”


“Terus kenapa kamu lemas begitu? Semua juga tahu kamu keganggu sesuatu.”


Aku tidak mau menjawabnya.


“Ini pasti karena paman Rizki yang diculik.”


Papa baik-baik saja.


“Dia pasti parah sekarang. Mana kita tahu apa yang terjadi.”


Papa baik-baik saja.


“Kamu juga bahaya kalau paman Rizki juga kena bahaya⏤”


“Papa baik-baik saja!!”


Telingaku berdengung.


Aku tidak bisa melihat jelas.


Lingkungan seakan menyedot habis tenagaku. Sampai akhirnya aku terketuk dengan getaran yang tak asing.


Tidak!


Kendalikan!! Jangan pikirkan!!


Papa baik-baik saja!


Harun meluruskan tangannya padaku, “Rasyi⏤”


“Ras!”


“Kenapa?!”


Saga? Vian?


Mereka tampak panik.


“Rasyi!”


Pelukan ini?


Firna? 


Apa dia menangis?


Ini pasti karena aku berteriak.


Tenang, Rasyi. Tenang!


Kendalikan emosimu! “Aku tidak apa. Maaf, teriak-teriak.”


Suara Firna bergetar, “Tapi kamu nangis....”


Aku terdiam.


Menyentuh pipiku selagi Firna masih memelukku. Basah.


Hatiku pasti terguncang dengan ucapan Harun.


“Telepon kak Fares deh,” Saga terdengar panik.


“Apa maksudnya itu?!” Harun menyamakan tinggi wajahnya denganku yang lebih rendah darinya, “Rasyi, tidak papa. Siapapun yang bahaya, aku pastikan kamu tidak terluka.”


Eh?


Kenapa dia mengatakan itu?


Apa dia mengatakan tidak apa kalau terjadi sesuatu pada papa?


“Rasyi...,” suara Firna tak runtut.


“Mending diam deh.”


“Tidak bantu tahu! Aku telepon kak Fares.”


Tidak!


Papa baik-baik saja!


Jangan goyah! Pertahankan!!

__ADS_1


“Tidak, Saga, tidak perlu,” aku mendengar suaraku sendiri yang sumbang, “Aku paham. Makasih Harun.”


Kurasa senyumku kurang lebar.


__ADS_2