Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#132 Keberanian


__ADS_3

“Everything looks good,” paman periksa hasil x-ray, “Istirahat di rumah tidak jadi masalah.”


“Iya, bisa langsung pulang saja. Tapi jangan kerjakan pekerjaan berat dulu,” dokter lain setuju, “Kalau butuh, bisa saya siapkan paracetamol biar nyerinya tidak mengganggu..”


“Ini yakin nih? Tidak perlu rawat inap satu atau dua hari?” ibu masih tidak percaya.


“Kalau tulangnya patah, dia tidak bisa ketawa-ketawa sekarang,” paman menjelaskannya selalu unik ya.


“Rizki sudah pengalaman hadapi yang begini, kalau kamu tidak percaya gitu, mau percaya siapa?” ayah juga bingung.


“Tenang saja, bu. Anak ibu kuat. Ini cuma memar di punggung kanan dan lengan. Anak ibu cuma perlu istirahat. Rajin dikompres air hangat dua sampai tiga kali sehari selama sepuluh menit,” dokter tadi menulis sesuatu.


“Lukanya merah banget begitu...,” ibu masih takut.


“Tidak papa bu. Memar memang seperti itu. Ada darah yang pecah di dalam akhirnya kelihatan merah. Sekitar seminggu juga nanti warnanya hilang. Ini saya rekomendasikan obat salep. Sesuaikan saja dengan cara pakainya. Dua tiga minggu insya Allah sembuh total.”


Ibu ambil kertas dari dokter, “Kalau tidak sembuh?”


“Dokter Wirandi sudah kasih kompres es, kan?”


“Sudah,” paman jawab saja.


“Kalau gitu ibu gak perlu khawatir. Obati saja dulu dengan rutin lukanya, ikhtiar dulu. Insya Allah sembuh kok bu.”


Malam ini makin larut. Kalau begini terus, ibu tidak bakal mau pergi dari rumah sakit. Ibu cuma khawatir gara-gara aku teriak sakit waktu di mobil. Itu juga gara-gara jalannya tidak bagus.


Paman jadi tidak ada pilihan minta kenalannya buat buka jalur IGD dan langsung cek x-ray. Aku tahu paman juga sadar kalau lukaku tidak separah itu.


Aku masih bisa duduk. Sakit sedikit saja tidak papa. Yang penting ibu bisa lebih tenang. 


“Ibu, tidak papa kan kalau kita pulang sekarang. Fares... capek.”


“Luka kamu gimana, sayang?”


“Kata dokter kan aku tidak papa,” coba aku senyum, “Fares juga tidak suka nginap di rumah sakit.”


“Saya bebat luka anak ibu. Bisa langsung minum juga paracetamol biar pulangnya tidak sakit. Secepat mungkin mending anaknya langsung istirahat, bu,” dokter kayaknya mau perban lukaku.


Ibu masih belum berhasil diyakinkan. Selalu saja khawatir.


“Gini deh,” paman punya ide, “Di sini kan dekat sama rumahku, Fares inap aja di rumahku. Sekalian bisa aku pantau kan? Tidak beda jauh sama rawat inap.”


Paman selalu punya solusi yang di luar kepala. Kalau aku inap, aku bisa bikin ibu lebih tenang.


Memang tidak beda jauh dari rawat inap di rumah sakit, tapi paman tidak mantau seketat itu juga. Mungkin satu dua hari, aku sudah dibolehkan kuliah lagi. Sudah biasa juga inap di rumah paman. Jadi enak saja. 


“Kalau Fares mau,” paman bertanya sambil melihat ke sini.


Aa. Pasti ini tentang aku masih canggung sama Rasyi.


Tapi....


“Ibu tidak papa kan kalau aku nginap di rumah paman?”


“Sudah tidak papa kan?” ayah tanya ke ibu.


Masih kelihatan jelas khawatir, “Ya sudah. Tapi, Riz, jangan bolehkan Fares ke mana-mana loh.”


“Dia, aku penjara di rumah.”


Aku tahu paman tidak sungguh-sungguh bilang begitu.

__ADS_1


Ini jam... sembilan. Masih butuh satu dua jam buat sampai rumah paman. Sudah terlalu malam. Beruntung koneksi paman bagus, jadi kami tidak perlu nunggu lama-lama.


Benar juga, Rasyi dan yang lain masih nunggu di luar. Rasyi juga badannya lagi panas. Minum obat saja tidak bakal cukup.


“Terima kasih dokter,” ibu masih belum bisa biarin aku jalan sendiri.


Akhirnya kami bisa keluar.


“Loh, Rasyi,” ibu juga kaget.


Rasyi berdiri tepat di jalan pintu.


“Gimana?” Rasyi tidak tenang juga ya?


“Rasyi,” aku senyum ke dia.


“Ya?!”


“Rasyi halangi jalan loh.”


“Aa! Iya!” dia mundur banget.


“Ada yang patah, tulang?” Saga masih bisa bercanda.


“Hush! Jangan gitu!” ibu tidak lihat itu sebagai candaan.


Vian nyenggol Saga, “Maaf, tante. Otaknya larut ke lambung gara-gara lapar.”


“Kamu kali yang lapar!”


“Ye, suara perut siapa juga dari tadi?”


“Telinga kamu kali yang masuk ke perut sendiri.”


“Kak Sari mau beli obat salep kan? Di depan jalan ada apotek sama minimarket,” paman tiba-tiba bicara, “Kalian semua ikut sana.”


Aa, paman cuma tidak suka ribut.


“Bisa sambil pulang nanti kan?” ayah sepertinya khawatir.


“Tidak, tidak. Aku jalan saja langsung ke sana biar cepat. Fares jalannya pelan-pelan saja ya?” ibu sudah bawa kertas tadi, “Tolong jemput di sana nanti.”


Ibu tidak mungkin bilang tidak. Biasanya memang lebih suka jalan kaki kalau ke mana-mana. Pasti juga karena ibu masih khawatir.


Mau bagaimana lagi?


“Rasyi ikut.”


“Semua anak-anak ikut, sana,” paman sudah tidak tahan ya?


Ibu tertawa saja, “Ayo semuanya ikut. Tante belikan makanan di minimarket. Pada lapar, kan?”


Mereka pergi juga akhirnya. Paman bakal lebih marah kalau Saga sama Vian lebih ribut lagi.


Sudah waktunya kami pergi juga. Aku masih bisa jalan, tapi kalau tidak pelan-pelan rasa sakitnya terasa.


Bakal sayang, beberapa hari ini tidak bisa apa-apa. Minggu ini sepertinya tidak ada pilihan selain absen dulu.


“Mending langsung ke mobil,” ayah mau jalan duluan, “Pegangan sini.”


Aku pegangan ke pundak ayah. Mulai jalan pelan-pelan. Paman sama ayah jalan di depanku.

__ADS_1


“Tidak masalah nampung satu anak di rumah?” ayah tidak segan-segan ya?


“Beneran nih Fares itu anak kamu?” paman ikutan juga.


Ayah jawab lagi, “Hei, hei, jangan ngomong yang aneh-aneh.”


“Lihat siapa yang mulai dan lihat siapa berhenti.”


“Aaa...,” aku jadi bingung.


Kadang-kadang mereka suka berdebat seperti itu ya. Cukup aneh juga.


Paman bicara lagi, “Well, kalau Fares tidak nginap di rumah juga, aku yang bakal sering dipanggil ke sana.”


Ayah ketawa ngejek, “Pintarmu bermanfaat juga padahal keadaannya begini.”


“Terima kasih untuk anakmu yang terjun bebas ke laut.”


Sarkasme paman ke arahku lagi, “Maaf.”


Dijawab paman lagi, “Buat apa juga kamu terjun dari pelabuhan? Sejauh itu ke tengah laut bisa hanyut., kalau kamu tidak tahu.”


“Oh itu,” bilangnya harus pelan-pelan biar kedengaran tidak salahkan siapa-siapa, “Aku sama Rasyi sempat debat sedikit, terus aku salah langkah jadi malah jatuh.”


“Hmm... habis didorong Rasyi?”


Paman selalu saja peka.


“Bukan didorong kok,” jelasin tapi tidak salahkan orang cukup sulit kalau paman terlalu peka.


“Berarti ditarik.”


Semakin peka.


“Ditarik? Gimana?” ayah juga ikut bahas?


Paman jawab juga, “Habis tarik tambang, terus Rasyi malah lepas. Menurut kamu?”


“Maaf,” aku jadi tidak enak.


“Kamu yang harusnya minta maaf,” ayah kelotot ke paman?


“Saya memohon maafkan anak saya dengan segala kebaikan hati anda,” paman mau mengejek lagi ya?


Hebatnya paman selalu bisa menjalankan pembicaraan yang ia inginkan. Ayah juga bukan orang yang suka dikendalikan. Jadi, hasilnya, mereka seperti mau berdebat terus.


Paman lihat ke arah sini, “Oh, and, kalau kamu pintar, jangan dibuang kesempatannya.”


Kesempatan....


“Kamu masih mau jaga jarak terus dari Rasyi? Bisa saja lain kali bakal jadi jatuh dari jurang.”


“Saya akan lebih hati-hati,” aku tidak tahu paman menganggap sangat serius.


“Kenapa kok jaga jarak?” kalau ayah tahu....


“Yang punya anak siapa? Tanya sendiri,” paman lagi-lagi.


“Tidak papa kok, paman. Saya sudah mutuskan buat berhenti begitu.”


Paman benar, tidak akan ada yang beres kalau aku menghindar terus. Kalau aku mau tetap jadi kakaknya aku harus jadi kakaknya. Kalau tidak mau jadi kakak....

__ADS_1


Aa, aku tidak mau jadi kakak lagi.


Tolong jangan marah, kak Riza.


__ADS_2