
“Tangan Rasyi,” papa yang sudah ada di depan terbukanya pintu mobil mengulurkan tangan kepadaku.
Aku perlahan mengangkat kakiku dari pijakan mobil dan meraih tangan kanannya. Berdiri dengan pelan, turun dengan memastikan tas ranselku sungguh terpasang di pundak.
Ia teralih ke tangan kiri untuk membimbingku. Dan menutup mobilnya sehabis aku berdiri cukup jauh darinya. Hantaran hangat tangan itu mulai melanjutkan langkah. Papa tetap dokter. Dia tidak mungkin membiarkanku membebani kaki terkilir terlalu berat.
Lagi dia mengalihkan tangan kiriku dengan tangan kanannya dari bawah sehingga ia juga menumpu sikuku. Mulai berjalan kembali, “Masih sesakit kemarin?”
Kugelengkan kepala, “Sudah enakkan kok.”
Hmm? Papa ingin bicara? “Rasyi tidak mungkin diam saja di kelas, kan?”
“Biar Rasyi pikirkan~ Tidak?” anda kan tahu kalau anakmu ini banyak tingkah~
“Usahakan jangan.”
“Tidak janji~”
“Heh,” papaku yang tertawa kecil memang terlalu silau!
Aku sakit kepala. Bisa-bisanya pria duda ini masih tampak seperti dua puluh tahun. Papa, ketampanan siapa yang anda curi?
“Rasyi populer juga,” papa membuka lagi mulutnya meski tangannya semakin kalang kabut membantuku menaiki medan yang beranjak.
Tunggu, kenapa banyak sekali yang memandangi kami? Apa ada tontonan seru...?
⏤langsung aku balikkan wajahku kembali ke pria yang kusebut papa ini. Pertanyaan apa yang tadi kukeluarkan? Sosok papa ini tentu saja tontonan yang asyik!
Mata papa mengkilapkan kesadaran akan situasi, “Ini akan jadi gosip.”
“Iya,” dan itu tidak menyenangkan.
Untung saja kelasku termasuk dekat. Sehingga durasi untuk menahan malu lebih pendek tanpa aku sadari.
Gista?
Dia keluar dari kelas waktu aku melangkah mendekat pintu. Lagi-lagi ia sempat menatapku sinis saat aku sibuk melepas sepatu dibantu papa.
“Auw!” aku hampir jatuh! Tadi dia melewatiku sambil menabrak pundakku? Sungguh?!
Papa sudah mendukung kakiku menahan badanku, “Apa Rasyi makan cookies-nya dia?”
“Eh?!” apaan?! Kadang-kadang papa random sekali deh!
“Heh, kayaknya bukan.”
Duh, bisa saja dia bercanda! Mana mungkin dong Gista sampai sebenci itu padaku karena aku memakan kue miliknya!
Kami masuk dengan papa yang masih menahan tawa. Apakah anda bersenang-senang dengan candaan anda sendiri, wahai ayahanda? Entah bagian mana yang anda tertawakan, tapi aku sudah tidak menyukai hari ini.
Papa? Menunjuk..., buket bunga? Aku baru sadar ada itu di mejaku.
Tidak jarang itu terjadi, tapi sosok tanpa nama yang sering memberikan buket itu sudah lama tidak kelihatan. Padahal buketnya selalu ada setidaknya seminggu sekali. Apakah kali ini juga dari dia?
“Ini biasa~” aku teringat papa yang mempertanyakan benda ini.
“Sure,” alis itu bermain, “Pulang telpon papa.”
“Iya~” aku melambai kecil.
Lagi-lagi ia tersenyum. Ia menggosok kepalaku lembut dan pergi menghilangkan sosoknya.
Hmm..., sepertinya mood papa sedang baik. Namun matanya..., sekilas kulihat menggelap⏤
“RASYI!!”
Waa!
“Itu siapa tadi?!”
“Oh my god, cakep banget!”
“Dia single kan? Iya kan?”
“Kenalin dong!”
__ADS_1
Kenapa orang-orang kelas jadi ribut?!
“Ee! Kalian!”
Firna~! Tolong selamatkan aku~
Cewek ini mengambil bangkunya di sebelahku, “Itu tadi papanya Rasyi!”
Akhirnya, sunyi juga⏤
“Masa?!”
“Bohong! Muda banget!”
“Sayangnya!”
Telingaku....
Ya, kalian sibukkan saja rasa tak rela kalian. Aku mau mengecek buket yang baru kudapatkan tadi. Di mana surat penuh kalimat manismu, buket...?
[Maaf]
...
Pertama, fantasiku dimana ini adalah buket rahasia dari Harun, hancur. Kedua, aku sadar akan satu-satunya orang yang berhutang maaf padaku. Ketiga, baru aku ketahui kalau Saga pengecut!!
Apaan minta maaf dengan cara seperti ini?! No!! Tidak bisa dibiarkan!!
“Firna! Temani aku!!”
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
Berhasil aku masuk ke kawasan tanah berumput yang diperbolehkan untuk diinjak. Pepohonan yang tak ingin berjauhan itu menutupi wajah orang yang ingin aku datangi. Mampu aku menuju ke depan duduknya dan mengangkat pandangan yang kuyakini sadar akan kakiku.
Mari kita selesaikan selagi Vian dan Firna mau menunggu di kejauhan.
Kuulurkan buket bunga yang sengaja kubawa, “Ada komentar?”
Sayangnya lelaki yang sering berisik ini bisu seribu kata.
“Aaa! Apa⏤!”
“Cara kamu minta maaf pakai beginian?!” kupotong tidak memberikan waktunya untuk terkejut.
Dia tampak kesal sambil merapikan rambutnya dari beberapa kelopak bunga yang menyangkut, “Yang kamu marahi itu apa sih?”
“Yang kamu pikirkan itu apa sih? Kamu kira aku pikirnya, ‘oh Saga-ku memberikan aku bunga yang cantik~ Aku terharu, aku maafin deh~’ Begitu?! Berarti kamu bodoh!”
Sangat kukenali wajah itu. Dia tidak bisa menahan amarahnya, “Intinya saja!”
Tersenyum aku rekahkan tak rela, “Baiklah~ Intinya adalah jeng jeng jeng jeeeeng~ Jantan!”
“Apaan sih? Yang penting kan aku sudah minta maaf!”
“Ya kalau mau minta maaf, mulut tuh dipakai~ Bunga ini buat apa? Kamu mau membuatku terkesima atau minta maaf sih? Gunanya apa? Coba bilang!”
“Itu....”
“Oh, tidak ada gunanya? Senang sekali aku mendapatkan usaha Saga manis yang tidak ada guna⏤”
“Itu karena aku suka kamu!”
... baiklah....
Kepalaku, sakit.
Memang aku punya dugaan atas alasan Saga mengirimi aku buket dalam jangka waktu yang panjang. Tentu saja aku sudah tahu! Setiap kata yang ia gunakan dalam memujiku di surat yang menyertai setiap buketnya, artinya bukan main-main menyatakannya.
Namun tidak mungkin aku menduga akan mendengar pernyataan dari orangnya langsung di tengah taman yang banyak orang!
“Anu, itu. Aaaargh! Sudahlah!” dia pun pasti malu menyadarinya.
Lihat. Orang-orang sekitar saja tampak tidak tahu harus bagaimana. Untung saja mereka tidak berkomentar dan bersikap layaknya tak mendengar apapun.
“Ya,” kurasa aku butuh bersikap seperti itu juga daripada ia malu setengah mati, “Aku anggap tidak mendengar apapun.”
__ADS_1
“Heh?”
Kenapa dia jadi terkejut seperti itu?
Ia tersenyum tanpa sebab, “Kamu kejam juga ya. Sudah aku keceplosan karena marah, di depan banyak orang. Tapi begitu reaksinya.”
Apa yang dia maksud? “Kita kan bukan membahas itu saat ini.”
Ditambah lagi aku membantunya agar tidak malu. Tak pantas dia marah. Seharusnya akulah yang marah terhadap masalah yang disepelekan.
“Oh, iya. Sorry. Kita kan lagi bahas tentang bunga. Kamu kan jijik terima bunga dari aku. Nanti, aku suruh KAK Harun yang kasih bunga. Maaf deh aku suka sama kamu.”
Apa-apaan?! “Bukan! Kita omongin itu nanti saja.”
“Baik komandan. Mau bahas apa?” sekarang dia mengejekku?
“Ok. Karena kamu tidak peka, aku bilangin! Tolong ya, minta maafnya yang benar. Bukan beli bunga terus tulis maaf gitu saja.”
“Baik. Permintaan maafku juga dianggap jijik.”
Sungguh? Mengapa dia melihatnya seperti itu?! “Iya, kamu menjijikkan! Main pukul sembunyi tangan sudah seperti hewan tidak ada otak!”
“Kenapa memangnya?” dia berdiri menatap wajahku yang sama-sama marah layaknya ia, “Cuma pukul ringan. Kalau masih begitu, orang juga tidak bakal mati kok.”
Dia... mengatakan hal menakutkan apa sih? Tentu saja orang bisa kehilangan nyawanya kalau dipukuli⏤
(“Cepat kabur.”)
Heh?
“Dipukuli sepuluh kali juga orang kuat. Kalau dia masih bisa ngomong, berarti aku pukulnya tidak keras.”
(“Aargh gah!”)
(“Gak mungkin, Rasyiqa~”)
Hentikan.
“Tanganku tidak berdarah, berarti tidak masalah. Itu cuma bikin dia kapok saja.”
(“Lari sekarang.”)
(BRUK!)
(“Ii gah!!”)
Jangan. Jangan!
“Kalau aku mau bunuh orang nih, tinggal aku tembak aja. Dor!”
(DOR!)
(“Keluar ke arah sana.”)
(“Biar... yang urus....”)
(“Cepat!”)
(“Kalian lucu ya~”)
(“Itu dia!”)
(“Ra…!”)
“Rasyi!”
“Aa!” aku tidak bisa bergerak sesaat aku menyadari nafas terputus. Tersengkal-sengkal aku mengisi rongga paru-paru yang memberontak, “Fir... Na...?”
“Iya ini aku,” wajah khawatir itu tampak jelas sambil memegangiku, “Kita balik ke kelas, yuk?”
Aku mengangguk pelan. Tak bisa berpikir selain mengikuti.
“Cuma begitu takut,” suara... Saga?
“Diam kamu,” Firna marah? Sedetik kemudian Firna kembali menatapku dan tersenyum, “Ayo.”
__ADS_1
Kembali aku mengangguk.