Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#12 Lagi Lagi


__ADS_3

“Ternyata mereka punya sisi begitu juga ya?” salah satu dari teman laki-lakiku itu tampak tidak percaya.


“Kak Fares sih tidak mungkin bohong,” kalaupun bohong dan bercanda, tidak mungkin Fares membiarkan sampai besok harinya.


“Tapi ya, dengar kalau si duo itu bisa nurut apapun yang dia bilang, susah dipercaya. Aku sudah jadi senior basket mereka dari lama hari! Tidak pernah tuh begitu!”


“Ssst!” Harun menegur kami. Dia tampak kesal.


Yah, tentu saja kesal. Hampir saja kami membeberkan diri sendiri kalau kami sedang tidak fokus dan berleha-leha berbagi gosip. Kami ada di tengah barisan menghadap tiang yang ujungnya sudah ada bendera.


“Pastinya jangan lengah,” teman lelakiku itu masih berusaha berbisik


“Rasyi tidak perlu mengurusi mereka,” Harun ikut berbisik, “Sekarang diam. Kita dipelototi guru.”


Wah, aku juga bisa merasakan tatapan yang bisa menembus. Bukannya itu guru killer yang paling diagungkan satu sekolah? Duh, akan jadi masalah di pelajaran sejarah nanti.


Langsung aku memasang poker face dan mempertahankan posisi istirahat di tempat yang baik.


Rombongan kelasku menjadi sunyi di sepanjang amanat yang sudah ketiga kalinya mengatakan ‘sekian dulu’. Walhasil, kalimat itu terkabul saat sudah dikatakan kelima kalinya.


Lautan orang tampak lega dan menunggu formalitas pembubaran upacara. Saat pembawa acara mempersilahkan, dengan semangat yang layu menggerakan lautan orang itu. Terbagi ke berbagai arah dan satu persatu masuk ke kelas.


Ups!


Uuuuups!


Apa-apaan sih kamu, tangan?!


“Ma, maaf!” apa selama aku melihat banyaknya orang itu, tanpa sadar aku meraih baju Harun untuk berpegangan?!


Harun membalikkan tubuhnya menghadapku. Tak lebih dari setengah meter di depanku. Ia seakan ingin menutupi pandanganku akan banyaknya orang.


Bisa kutangkap senyuman Harun, “Santai saja dulu. Guru juga tidak langsung ke kelas.”


Aku bisa merasakan tenang di setiap sisi diriku. Terlalu tenang, sampai kehadiran satu orang ini saja bisa jadi melelapkanku walau di tengah kengerian. Lucu.


“Terima kasih~” aku mempertemukan kedua tanganku di belakang tubuhku, “Aku sudah tidak apa. Yuk balik.”


Harun mempersilahkan aku berjalan duluan dan ia pun menyusulku. Menyamakan posisi kami yang sejajar.


“Rasyi,” panggilan hangat itu mengalihkan pandanganku padanya, “Kamu masih mikirin mereka? Kamu terlalu baik.”


Harun seperti biasanya…, “Mereka kan sudah tidak sejail sebelumnya. Cuma sekali-sekali sapa sambil bercanda kok. Kasih kesempatan dong~”


“Rasyi bilang waktu itu kamu tidak percaya, kan?”


Iya sih, “Bukan berarti aku tidak mau kasih kesempatan~”


Yah, walau beberapa saat aku masih mendengar kelakuan mereka, sejauh ini sih mereka tidak jadi pembuat onar di depanku.


“Terus kan, kamu pasti jagain aku~ Hihihi,” bagaimana ya reaksinya dengan candaanku kali ini?


“Ya itu sudah pasti.”


Eh?! Dia kok serius sekali menjawabnya?


Kali ini juga aku dipermainkan dengan candaanku sendiri. Rasyi, ingat! Jangan bercanda tentang yang seperti ini lagi dengan Harun!


“Tapi,” hmm? “Kamu jangan lupa cerita-cerita juga ke aku. Ya?”


Aku tidak bisa menutupi kesedihanku, “Iya~”

__ADS_1


Masuk ke kehidupan Rasyiqa, membuatku tercengang pada awalnya. Bukan hanya karena identitasku yang berubah, tapi juga masalah yang sudah terlilit erat di leher.


Sejak papa menceritakan pada Harun masalah yang ada di antara keluarga kami, Harun menjadi sensitif bila aku tidak cerita apa-apa.


Namun lidahku seakan tertahan bila aku ingin bercerita padanya. Permasalahan ini tidak ada kaitannya dengan Harun. Menceritakannya sama saja mengundangnya ke masalah keluargaku.


Untunglah semua masalah itu sudah selesai.


“Rasyi tidak papa?” kenapa suara Harun dekat sekali?


“Hmm?” oh, sepertinya aku melamun lagi.


Terpaku aku di titik aku berdiri. Baru saja aku tersadar kalau kami berdiri sangat dekat satu sama lain. Kedua tangan di pundak sepertinya ia gunakan untuk menegurku dari lamunan.


Harun tampak mundur satu langkah dan membungkuk kecil. Wajah itu yang sekarang malah mendekat, menatapku lekat.


Aku tahu kalau sejak kecil pun Harun sudah ditakdirkan memiliki wajah yang menawan. Begitulah yang dikatakan wajah ayah dan ibunya.


Pandangannya yang menghipnotis itu tidak tertandingi. Rambut halusnya mengkilap terang walau hanya dibiarkan terpotong pendek.


Wah, aku tidak bisa melepas pandanganku.


“Kenapa?” Harun masih menunggu jawabanku.


“Harun tampan banget….”


“Ya?”


… Tu!


Tu tu tu tunggu! Kenapa aku bicara terang-terangan seperti ini?!


Harun masih tersenyum dan melepaskan tangannya dari pundakku, “Aku tidak dengar apa-apa~”


BOHOOOONG!!


Rasanya sangat ingin menawarkan diri ke scientist yang ingin melakukan percobaan untuk penghapusan memori. Sekecil apapun persentase keberhasilannya, aku akan ikut!


Malu sekali!!


“Kak Rasyi!”


Heh? Siapa?


“Wa!” aku terkejut.


Apa lagi ini?! Kenapa ada dua orang yang tiba-tiba saja memelukku?! Mohon sabar dong! Jantungku belum tenang karena kejadian tadi!


Sebentar, mereka kan si kembar!


Yang memeluk di kananku, “Kak Rasyi~” Sagara?


Yang memeluk di kiriku, “Tolong, kak~” Sovian?


Eh? Heh? Eeeeeh?!


“Kalian sedang apa?!” Harun jadi marah lagi kan!


“Berisik! Kami pusing nih!” Sagara kok berlinang air mata begitu?!


“Nilai kami terancam!” Sovian kok bawa-bawa nilai?

__ADS_1


Aku berusaha mulai membuka mulut, “Nilai?”


Mereka… kenapa jadi terlihat menarik dipandang seperti itu?!


Bola mata yang berbinar dan terasa dalam. Sedangkan ekspresi sedih yang menyakitkan hati. Aku bisa mengatakan mereka imut. Namun biasanya aku tidak suka melihat tampilan lelaki yang imut sementara aku jelas-jelas ditarik saat ini.


Mungkin, imut yang tampan?


Tidak! Kelemahanku!!


Aku berusaha mengelus kepala mereka yang masih erat memelukku, “Ada apa sih?”


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


[“Tidak ada alasan kamu kerjain tugas kelompoknya mereka!”]


“Iya, tapi aku juga tidak tegaan, Harun.”


Apalagi mereka menghadapiku dengan senjata yang disebut ketampanan. Ya tentu saja aku kalah!


[“Ini pasti juga kerjaan jailnya mereka. Jangan dianggap serius!”]


“Iya, aku tetap waspada kok. Kalau ada yang aneh, aku langsung berhenti.”


Sudah. Sudah. Tidak perlu diperpanjang~


“Malam~”


[“Huuuh…, selamat malam.”]


Panggilan suara itu akhirnya tertutup. Aku bisa membayangkan nanti pagi-pagi sekali dia akan menghubungiku lagi.


Bukan saatnya bersenang-senang dengan khayalan! Ayo kita kerjakan makalah dan dokumen presentasi ini!


Si kembar bilang mereka terkendala device yang sedang rusak. Karena itu mereka tidak bisa mengerjakan bagian mereka. Dengan pasrahnya aku menerima untuk mengerjakan bagian mereka. Meski ya, aku juga masih ragu bisa selesai lusa pagi.


Apa aku minta bantuan kak Fares ya? Tidak! Jangan! Kak Fares baru bisa pulang sejak weekend kemarin tidak pulang. Dia pasti lelah sekali.


Lebih lagi ini mudah kok. Materi ini juga pernah aku pelajari sebelumnya. Harun juga pernah cerita tentang kerja kelompok materi ini waktu belajar sama-sama.


 “Tapi,” kenapa mereka tidak mengirim hasil kerja kelompoknya sampai sekarang?


Padahal tugas mereka kan merapikan hasil penelitian kelompok mereka. Kalau tidak ada hasilnya, apa yang aku tulis? Sudah sekitar dua jam dari terakhir kali aku menchat mereka. Dan bahkan tidak dibaca.


Hmmm…, mencurigakan.


Aku memutuskan untuk tidak mengerjakannya. Karena dimanapun aku melihatnya, ini hanya bagian dari rencana besar mereka sejak sekian lama.


Namun, sepertinya aku sudah salah di awal. Maksudnya, seharusnya aku tidak menyapa mereka dengan ramah di hari itu.


Selasa pagi ini pun aku tidak bisa menahan emosi.


“Gimana sih kak!”


“Kami kan jadi tidak bisa presentasi besok⏤Aauw!!”


“Aduh!!”


Wow~ Telinga mereka tentu sangat memberikan undangan indah untuk aku tarik dengan kencang~!


“Sovian, Sagara, kalian melakukan kerja bagus~” aku menahan senyuman di wajahku walau aku yakin mataku kedutan karena amarah, “Kalian tidak akan pergi sebelum dibayar kan~?”

__ADS_1


__ADS_2