Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#43 Sekilas Tawa


__ADS_3

“Yang selanjutnya yang mana?”


Tanganku mengulur satu foto, “Ini di bawahnya.”


Hari yang melewati tengah, tapi hari masih panjang. Kelas juga ikut menjadi perlombaan dan kami tidak boleh berleha-leha.


Akhirnya aku dan Firna sibuk menghias dinding kelas. Foto-foto polaroid disusun berdasarkan gambar yang ditentukan. Menggambarkan keluarga manis kelas kami.  Sudah didesain sehingga tangan kami disatukan membentuk hati.


“Vian ngapain kamu tadi? Pasti ada something!”


Duh, “Tidak. Dia cuma paksa aku temani ke bazar saja.”


Firna menatapku dengan melotot. Menelitiku sembari tangan satunya meraih minuman di meja orang sampingnya. Wajah itu mendekat sedikit demi sedikit.


Aku menghela nafas. Dia akan mengganti target terornya ke arahku kalau aku tidak bilang, “Vian nembak.”


“Uhuk!”


Loh?! “Minum, minum!”


Firna kembali meminum milkshake kehijauan yang sebenarnya baru saja membuat dia tersedak. Dia tentu terkejut dan lega secara bersamaan.


“Seriusan?!”


Aku hanya merapatkan kedua bibirku dan bermain alis. Ia sudah paham dengan diriku yang tak bisa menjelaskan apapun lagi.


“Dua-duanya tidak ada yang beres!” dia mengulur tangannya, “Foto.”


Aku memberikan foto selanjutnya yang perlu dipasang, “Tidak tahu juga....”


“Terus? Terus?” dia mengulur tangannya lagi.


Kuputar bola mataku dan memberi foto lagi, “Dia langsung ajak aku balik ke sekolah. Kayaknya dia tidak mau aku jawab kalau akhirnya ditolak.”


“Tidak menyerah kayak Saga?” dia mengulurkan tangan untuk menagih lagi. 


Aku mengangkat bahuku, “Ya itu. Jadi bingung,” kuserahkan foto selanjutnya, “Ini yang terakhir.”


“Oke...,” dia menempelkannya sesuai urutan dan selesailah menghias sisi dinding yang ini.


Hening ini menggangguku.


Kupandang dia, “Nasihatnya tolong?”


“Ya gimana? Tidak pernah aku direbutin tiga cowok.”


Siapa yang pernah selain Rasyiqa yang cantik jelita ini?


“Firna-Rasyi. Bantuin ambil buku paket di perpus dong. Nanti kita gak kebagian lagi.”


Ketua kelas mendapati kami. Memang daripada yang lain, kami terbilang sudah menganggur.


“Iya~” Firna dengan malasnya menjawab, “Yuk Rasy.”


Kuikuti langkahnya. Bercakap dengan pembahasan lain. Setidaknya kami bersenang-senang sambil kami menerobos di keramaian yang masih disibukkan persiapan lomba berbau sastra.


Letak perpustakaan yang perlu menelusuri taman. Berlawanan dengan aula yang kudengar adalah tempat perlombaan baca puisi. Gema pengeras suara dari lapangan depan yang dihalangi dua gedung besar itu masih terdengar jelas.


Perpustakaan yang ramai itu mengejar waktu santai kami. Tergesa-gesa untuk mengambil bagian untuk kelas.


“Ini kan?” segala prosedur berakhir dengan kami yang harus membawa setidaknya tiga puluh buah buku.


“Kuat?”


Aku mengangguk dengan kedua tangan itu mengangkut setengah dari yang dijumlahkan.


“Rasyi tidak berat tuh?”


Hmm? Duh....


“Sini.”


“Aa!” aku terkejut dengan gerak tangan Vian yang mengambil sebagian besar buku yang aku bawa.


“Kalian tidak ada kerjaan, apa?” Firna berkata, mengingatkanku bahwa Saga juga ada di sini.


Wajah si Saga terlihat asam, “Tidak mau dibantuin?”


“Oh, boleh.”


“Eh!” Saga langsung kelabakan dengan Firna yang menyerahkan seluruh bagiannya padanya.


“Tidak. Tidak perlu,” aku menahan mereka sebelum semakin jauh, “Kami bisa kok.”


“Kenapa jadi sungkan?” Vian malah membawa pergi buku itu.


“Biarin mereka kerja rodi, Rasyi~” Firna, mengapa anda jadi senang?


“Eh!” Saga dengan kesalnya masih mengikuti.

__ADS_1


Dengan tiga buku tersisa di tanganku, aku terpaksa mengikutinya, “Terima kasih.”


Vian tersenyum dengan langkah yang seirama denganku, “Aku selalu ada kalau kamu butuh kok~”


Kenapa kalimatnya jadi seperti itu?! Dia sungguh-sungguh akan bertingkah seperti cowok kasmaran yang ingin merebut hatiku dari Harun?!


“Apa-apaan?!”


Saga?


“Kenapa? Kan aku berusaha.”


Vian?


Langkah Saga yang terhenti memberikan kode tersendiri bagi kami untuk ikut berhenti. Wajahnya terlihat tak senang sama sekali dengan jawaban Vian. Dan Vian malah ikut menatap tajam.


“Kamu ngomong apa ke Rasyi?” Saga kok seperti marah?


Vian kenapa seperti menantang? “Aku bukan pecundang. Tidak mungkin aku nyerah.”


Duh. Duh duh duh. Panas.


“Kurang ajar!” Saga sungguh tidak senang.


“Aku salah apa memang?”


Mereka kenapa jadi ribut di tengah koridor seperti ini?!


Segala macam cacian itu tidak luput dari mulut mereka meski tidak kulupakan bahwa keduanya saudara kembar. Tentu dengan ketertarikan dari gerombolan yang terpisah-pisah.


“Ras! Kamu biarin gitu saja?!”


Saga?!


“Kamu lebih pilih otaknya Saga, Rasyi?!”


Vian?!


“Rasyi tidak mungkin pilih orang curang kayak kamu.”


“Siapa bilang? Kan kamu juga yang mulai duluan.”


Kenapa keduanya⏤


“Pilih Ras!” kenapa Saga berteriak ke arahku?!


“Siapa yang benar?” kenapa kamu juga, Vian?!


Pusing!!


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


“Jangan ganggu!”


“Kamu itu melawan aku. Mana bisa tidak ganggu?!”


Kenapa sih~?


Kenapa sih mereka bawa perdebatan mereka sampai ke rumah Fares dan menggangguku sampai seperti ini?!


Kenapa sih mereka menyiksaku yang butuh ketenangan untuk menjaga kecantikan wajah ini?!


Pusing!! Jangan teriak di kanan dan kiriku! Main saja game console itu dengan damai!!


“Jangan ribut.”


Suara nan surgawi ini! Langsung aku buang wajahku ke arah asal suara.


Kak Fares~! “Ada apa sih?”


“Ada yang suka ikut campur,” Vian malah membuang wajah.


“Kamu tuh yang seenaknya!” Saga kembali membalas.


“Bebas pilih dong! Aku saja tidak protes kalau kamu menyerah!”


Saga malah berdiri, “Sialan⏤”


“Apa? Menyesal sekarang?!” Vian jadi ikut berdiri.


Duh, aduh duh!! Kenapa jadi semakin gawat?!


Mata Vian bertambah tajam, “Kalau kamu mau diam, bukan berarti aku nurutin biar diam.”


“Aku bikin kamu nurut!”


Tu, tunggu⏤


“Hei!”

__ADS_1


Aku yang duduk di tengah ketiga perjaka ini merasakan takut sekejap datang dan sekejap hilang saat mendengar suara Fares itu. Tampak kakak ini berhasil menghentikan kepalan Saga.


Mataku menangkap sosok Saga yang terkejut memandangku.


“Cih!” Saga langsung... Pergi?


Loh? Dia mau ke mana dengan wajahnya yang masih penuh marah itu? Keluar rumah Fares?


“Huh!” Vian membentak duduknya di sampingku.


“Tidak dikejar?” aku menunjuk arah pergi Saga.


“Buat apa?”


Heh?


“Kak,” Vian menyerahkan salah satu console pada Fares, “Main yuk.”


Fares seharusnya menyuruh dia mengejar Saga dan baikkan, kan?


“Oke,”


Kenapa mereka jadi bermain?!


Waktu berdetik dan aku yakin tidak akan sebentar keduanya bermain... Sudah?!


“Huh, sekali lagi!”


Vian, dia bermain dengan emosi. Sampai akhirnya sudah dua kali dia kalah.


Kali ini aku memperhatikan permainan mereka. Dua karakter yang berhadapan dan adu kekuatan mereka. Pukulan, tendangan, dan jurus.


Pada akhirnya di pertarungan ke sembilan, Vian berhasil menang.


“Yes!!” hmm? Vian tampak lebih lunak. Menghela nafas. Tangan itu menyerahkan console kepada Fares, “Aku cek Saga.”


Hmm? Kenapa dia tiba-tiba mau mengejar Saga?


Dia berjalan pergi, seperti itu saja?


Itu memang harapanku, tapi bukannya tetap harus ada penengah?


“Biarin,” Fares masih tenang.


“Tapi....”


“Udah, tidak papa,” Fares lagi-lagi mengelus kepalaku, “Mau main?”


“Tidak bisa.”


“Coba saja dulu.”


Kurasa aku juga penasaran sedikit. Aku meraihnya console yang diserahkan Fares dan mencoba membiasakan secepat mungkin.


Menekan setiap tombol, mempersiapkan karakter yang ingin aku mainkan. Sampai akhirnya satu lawan satu dengan Fares. Mulai dengan kaku.


“Coba pukul.”


Aku sudah menekan tombolnya, tapi kenapa tidak kena? “Sudah.”


“Itu kurang maju,” Fares terdengar menahan tawanya dengan santai tak menggerakkan karakternya.


Kucoba maju, “Tidak bisa, kak~!”


“Masih kurang maju~”


Kurang maju bagaimana?! Ya sudah, aku maju dan pukul⏤eh!


Aku berteriak, “Jangan mundur!”


“Masa kakak diam kalau diserang?”


“Iii~h! Eh! Kak!!” kenapa dia malah menyerang balik?! Sampai poin hidupku tinggal setengah!!


“Hehehe! Lawan dong.”


Aku menatapnya tajam dengan mulut memanyun.


“Ya sudah. Coba pencet kotak. Biar serangan jarak jauh.”


Kotak? “Eh!” dia malah menghindar?! “Kak Fares~!”


Jangan ketawa. Kupukuli nih!


“Auw, hehehe.”


Namun, rasanya menggelitik daripada panas. Mungkin aku juga menikmati waktu bersenang-senang ini?


Hmm?

__ADS_1


“Sudah baikan?” aku tersadar si kembar sudah berjalan ke arah kami tampak baik, “Sini, sini! Bantuin aku~!”


__ADS_2