
Rasyi seharusnya ada di belakangku. Oh. Bisa jadi dia lari duluan. Di sana sudah kelihatan ayah ibu. Rasyi itu anak pintar, dia ngerti kalau mau ke mana.
Mending aku langsung cepat balik saja. Nanti malahan aku makin tidak bisa jalan. Orang-orang numpuk sekali. Susah untuk nyebrang.
Aku sampai, Rasyi pasti di sini.
“Ibu!” teriak sambil jalan pelan-pelan, “Rasyi sudah di sini kan?”
Crepe-nya ibu ambil, “Loh? Kan tadi sama Fares.”
Iya tapi....
“Ikut sama Rizki?” ayah lihat ke belakang.
Kemungkinan besar. Tadi paman tinggalin kita beli minum. Mungkin Rasyi mau cari papanya dulu baru ke sini.
“Fares,” paman Rizki! “Seharusnya tunggu dulu paman di sana.”
Aa..., “... maaf,” Rasyi tidak kelihatan, “Paman... anu....”
“Rizki, Rasyi tidak sama kamu?” ayah langsung bilang.
“Rasyi?” paman lihatin aku, “Fares?”
“Tadi Rasyi di belakang Fares, terus....”
Paman tidak tahu Rasyi di mana. Terus, Rasyi....
Minuman yang paman beli cepat banget dikasih ke ayah. Larinya paman benar-benar kencang. Dia coba balik lagi ke seberang jalan tadi.
Iya, bisa jadi Rasyi masih di sana. Aku juga harus ikut cari.
“Fares,” tangan ayah nahan, “Kamu sama ibu dulu di sini.”
“Fares bisa bantu cari!”
“Sayang, tolong ya. Sebentar saja sama tante di sini. Ya?” ibu gosok mukaku.
Ya paham sih. Kalau aku juga tidak kelihatan waktu aku cari Rasyi, ayah ibu juga pasti takut. Tapi kalau Rasyi tidak dicari sekarang....
Sudah, tidak papa. Paman itu hebat. Dia bisa dapat Rasyi gampang banget. Bisa jadi sekarang paman cari teman-temannya, biar bisa bantu. Ayah juga bisa minta bantu ke banyak orang.
Untuk sekarang, aku diam jadi anak baik saja dulu.
“Iya. Fares tunggu sama ibu.”
Ayah senyum, “Kalian cari tempat tunggu. HP harus online.”
“Iya,” ibu pegangi aku erat.
“Aku ikut,” tante Ira lari bareng ayah.
Ayah sama tante tidak kelihatan, sampai malam. Yang aku ingat, ibu selalu ngomong macam-macam. Ngajak aku ke cafe yang enak. Kayak tidak ada apa-apa. Padahal Rasyi lagi hilang.
Waktu ayah telepon ibu, suaranya serak banget. Rasyi ketemu tapi dia sambil nangis. Tangannya Rasyi luka.
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
“Nona kenapa, tuan?”
Paman gendong Rasyi masuk rumah, “Tolong bawakan P3K.”
Rasyi masih tidur. Mata dia bengkak. Tapi paman tidak diam aja. Dia sudah bersih-bersihkan lukanya Rasyi.
Kenapa... Rasyi luka begitu? Kalau lukanya ada di tempat taruh gelang, berarti bukan jatuh kan?
“Rizki,” ayah maju ke depan paman dan Rasyi.
Tapi paman diam saja. Paman pasti marah. Matanya tidak pernah sampai seram kayak gitu sebelum ini. Aku paham, Rasyi sampai seperti itu karena aku.
Paman pasti marah ke aku.
__ADS_1
“Ki, aku cuma mau bantu.”
“Diam. Kamu tidak bisa bantu sama sekali.”
Ayah masih ngomong, “Polisi menahannya sampai sekarang⏤”
“Lalu gimana cara dia membawa Rasyi?! Rasyi terluka pasti karena dia…,” paman marah sekali.
Tidak ada yang aku paham. Bicaranya orang dewasa selalu bikin bingung. Paman juga tidak lihat aku sama sekali. Kayak, lagi marah ke orang lain.
Tapi, paman marah ke siapa? Yang salah kan aku.
“Iya, paham,” ayah masih usaha buat bicara, “Makanya⏤”
“Berhenti mengurusi urusanku.”
“Ini masalahnya! Ini tidak terjadi kalau kamu mau kerja sama dengan kami dari awal!!” ayah, jangan ikut marah juga.
“Kamu mau mengulangi kematian ibumu di orang lain?!”
Ibu? Ibunya ayah?
“Rizki!” Ibu juga ikut marah.
“Jangan bicara!” paman tidak diam.
Aa!
Kenapa, ayah kenapa?! Jangan ngajak paman bertengkar! Ayah, jangan tarik bajunya paman!
Tidak paham. Ibu cuma mau aku tidak dekat-dekat. Jadi ibu tahan pundak aku kencang.
“Kamu sudah keterlaluan!” ayah, lepas.
Ibu, lepas. Paman sama ayah mau bertengkar! Harus di-stop!
“Sudah aku bilang, kamu tidak tahu apa-apa!” paman, jangan marah dulu.
“Ini salahku!!”
Mereka diam. Mereka harus diam waktu aku teriak begini.
Aku ngaku kalau aku salah. Kayak anak yang nakal. Sudah kayak kakak yang jahat. Nanti bisa aku terima apa saja hukumannya.
Yang penting jangan bertengkar. Tolong.
Rasyi nanti takut.
“Maaf, paman. Kalau aku lebih mengawasi Rasyi…,” jangan nangis, nanti Rasyi tambah takut. Kakaknya harus kuat, “Maaf….”
Ketebak, ibu pasti langsung peluk. Ayah juga tidak di depan paman lagi. Semuanya tidak papa. Biar marah saja ke aku, jadi kalian tidak perlu bertengkar.
“Papa?” Rasyi bangun!
Paman cepat-cepat nahan Rasyi biar tetap duduk di kaki paman, “Papa bangunin Rasyi, ya? Maaf. Ayo kita tidur di kamar.”
Dekat sekali paman berdiri di samping. Tangannya elusin kepalaku.
“Paman tidak marah kok. Ini bukan salahnya Fares,” terus, paman pergi.
Sepertinya sudah mau tidurin Rasyi ke kamarnya.
“Mereka sudah mau pulang.”
Paman bisa bilang, tapi aku juga tahu kalau paman masih marah.
Paman....
Tentu saja dia marah. Saat masih sebelas tahun itu, sudah sangat paham. Kalau dipikirkan lagi, itu bukan hal yang rumit untuk dipahami. Apalagi, kalau paman tidak benar-benar marah ke aku.
Benar juga.
__ADS_1
Enam tahun.
Kayaknya selama itu sampai aku paham kalau ada yang tidak beres.
Percuma kalau aku bertanya pada ayah. Apalagi ibu, dia pasti menghindarkan masalah. Cuma satu dan aku harus bertanya langsung.
Sudah lama aku cari tahu, tidak ada yang perlu dihabiskan lagi.
“Paman,” coba tetap fokus di pelajaran.
“Hmm.”
“Hari. Itu nama kakek paman kan?”
Diam. Perpustakaan paman jauh lebih sunyi.
Ini sulit. Tidak mudah menghadapi paman. Ayah juga akui itu. Yang aku lakukan ini karena tidak ada pilihan lain. Semuanya, harus aku tahu semuanya.
“Jadi benar, yang bawa Rasyi pergi waktu umur enam tahun kemarin....”
“Dari mana?”
“Susah, tapi saya bisa gali info di mana-mana.”
Paman tertawa, “Hendra ajarin anaknya terlalu pintar.”
Ayo lebih serius. Lepas buku dan pulpen. Melihat ke paman Rizki.
“Paman,” harus siap, “Tolong ceritakan. Kenapa kakeknya Rasyi malah jadi buronan polisi?”
“Itu pertanyaan untuk ayahmu kan?”
“Saya tidak mungkin masuk ke lingkungan paman kalau bukan lewat paman. Saya paham itu dari keadaan ayah saya juga.”
“Hmm...,” paman tidak tertarik, “Kalau begitu kamu juga harusnya paham ini bukan jangkauan kamu.”
Sudah diduga akan seperti itu jawabannya. Paman selalu bisa kembalikan kalimat orang. Itu semuanya cuma untuk jauhkan orang lain.
Jawaban yang seharusnya bisa memuaskan⏤
“Riza meninggal karena dia juga.”
...
Apa?
“Dengan tahu itu, kamu sudah paham kamu tidak boleh macam-macam, kan?”
Yang dikatakan paman, benar. Bahaya memang.
Sayang, paman salah paham. Itu yang malah jadi alasan kenapa aku mau tahu lebih banyak. Garis merahnya, ke arah ke kakeknya Rasyi. Kak Riza pergi, tante Nisa pergi, Rasyi hampir... pergi.
Coba saja bicara lagi, “Itu juga alasannya.”
“Maksudnya?”
“Saya paham kalau paman anggap saya kayak orang luar. Tapi saya sayang banget sama anak paman. Rasyi...,” Rasyi itu..., “Adik saya juga.”
Paman, diam saja. Terus ngomong lagi, “Kamu punya apa?”
“Tidak ada. Makanya saya langsung terus terang ke paman. Pintarnya paman itu luar biasa. Paman pasti bisa nemu potensi lebih yang tidak saya tahu.”
Sepertinya paman tertawa lagi, “Aku tidak suka anak kurang ajar,” tapi aku lihat matanya jelas, “Tapi aku tidak benci juga.”
Jawabannya... positif!
“Jangan salahkan aku kalau akhirnya terkesan kamu paman manfaatkan.”
“Tentu. Saya sudah tahu paman pasti seperti itu.”
Aku kakaknya Rasyi. Ini semua sudah wajar. Kulakukan semua.
__ADS_1