
Hari ini lebih ribut. Gara-gara banyak barang kaca buat eksperimen. Setidaknya teman kelompok satu ini tidak bicara sama sekali. Dia cuma ikuti langkah pengerjaannya. Juga sambil lihatin aku. Kayak mau tanya itu benar atau tidak.
[Is it done?]
Miley tanya sudah selesai atau belum. Harus perhatikan lagi bukunya. Susah juga. Di buku bukan bahasa inggris yang dipakai biasanya buat ngomong.
Cewek ini dekat-dekat. Jarinya nunjuk. Tunjuk ke baris buku. Harusnya itu langkah terakhir.
Dia nulis lagi.
[Yup. That was our last step.]
‘Ya, itu langkah terakhir.’
Kalau aku baca lebih banyak, ya, itu memang langkah terakhir. Tinggal kami presentasikan.
“You two are done?” guru ke sini sambil tanya sudah selesai atau belum.
“Yes, miss,” aku cuma tinggal jawab sudah.
Huuh, sudah bisa selesai mikir. Presentasikan keberhasilannya ke guru. Baru tinggal tunggu yang lain.
Lebih baik aku pelajari lagi yang ada di buku.
Ketukan lagi di tangan kananku. Jari cewek ini gak bisa diam.
[Do you need any help?]
'Apa kamu butuh bantuan?'
Lebih baik dia diam saja.
“No. I'm fine,” tidak. Aku tidak papa.
Semua ini cuma buat tidak diam. Tidak mikir apa-apa selain belajar.
Berapa lama lagi buat ke jam pelajaran selanjutnya? Lihat jam... aku tidak punya jam tangan, ya.
Sepertinya aku lebih butuh jam tangan.
Ketukan lagi. Cewek ini.
Dia kasih... kasih tahu sekarang jam berapa.
Tulisan lagi.
[Just ask me if you need to know what time is it :)]
‘Tanya saja kalau kamu mau tahu ini jam berapa’?
“T, thanks.”
Benar cewek ini bikin gak bisa ngomong. Makin tidak bisa marah dengannya. Pasti gara-gara dia selalu begini.
Guru mulai ngomong di depan.
“OK, everyone. Before we pack them up, I need to remind you. Today's experiment is just a startup. Next class we will discuss more about science projects that have a connection with today's experiment. I hope you and your partner can present in front of the class....”
'Sebelum kita akhiri, aku perlu mengingatkan. Eksperimen hari ini hanya permulaan. Kelas selanjutnya kita akan membahas lebih banyak tentang proyek sains yang ada kaitannya dengan eksperimen hari ini. Saya harap kamu dan kelompokmu bisa mempresentasikan di depan kelas....'
Kali ini aku ketinggalan. Buku ini semakin susah untuk diartikan. Mending aku coba belajar lagi di perpustakaan kota sepulang sekolah.
Guru ini bilang membuat projek sains kan? Itu berarti aku harus lebih banyak berpikir seperti penemu.
Oh, gimana dengan Miley⏤
[Wanna work on it this afternoon?]
Dia... Tawari buat ngerjainnya sore ini.
Huuuh, aku memang butuh bantuan buat hal kali ini. Sepanjang yang aku tahu, di Indonesia tidak ada praktek sampai begini. Masih terlalu sulit untukku.
“Sure,” senyum bilang iya. Di perpustakaan kota seharusnya bukan masalah kan? “At the city's library?”
[After school?]
Habis sekolah?
Tidak masalah untukku, “It's settled then,” sudah ditentukan.
Lagi pula aku tidak suka tidak melakukan apa-apa.
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
__ADS_1
Math, Programming, French. I think it's all done. Now I can...
Sekarang aku bisa berhenti bicara bahasa inggris. Pelajaran, pekerjaan rumah, hari-hari santai. Itu semua bikin aku satu bulan di sini, jadi biasa bahasa inggris.
Hari ini sudah tidak ada pelajaran. Bisa fokus ke projek sains. Tinggal sentuhan akhir.
Janji dengan MIley seharusnya besok sore. Deadline-nya... tiga hari lagi.
Apa bisa aku minta buat dipercepat? Kalau ada yang salah, masih ada waktu buat perbaiki. Miley seharusnya ada kelas sampai sore. Cari dulu⏤
Ribut apa itu?
“Why, you never listen?!”
“I’m saying this, it’s for you also.”
‘Kenapa kamu tidak pernah mendengar’?
‘Aku bilang ini buat kamu juga.’
Bertengkar kah?
“Get lost from Harun, now!”
Menjauh dari... aku? Orang-orang ini bicara tentang aku.
Suaranya dari sana.
Miley?
Cewek-cewek gila ini sedang apa? Jelas. Apa lagi? Mereka baj... tidak tahu apa yang betul. Harus aku yang bilang kalau membuli begitu cuma bikin mereka makin beg...?!
“What are you doing?” dekat, tanyakan apa yang mereka lakukan. Dekatin ke arah Miley. Masih duduk di lantai, “Miley, are... are you OK?”
Tanya apa Miley tidak papa. Bantu juga dia berdiri.
Bajunya basah semua. Pipinya luka?! Pergelangan tangannya juga....
Apa-apaan ini...?
Sialan!
“Em... Harun, it was an accident.”
Mending dia diam! Daripada pakai alasan ini cuma kecelakaan! Kurang ajar!
Ketukan? Miley?
Dia masih tersenyum. Bahasa isyarat. Iya. Sempat sesekali dia ajarin aku itu.
[Aku OK. Terima kasih.]
Kenapa... dia malah bilang terima kasih?
Kenapa dia senyum gitu? Seperti mau nangis.
Jangan menangis.
Kenapa kamu terlalu baik⏤huuuh... terlalu baik ya? Aku kenal orang yang terlalu baik sama sepertimu.
Mereka berdua sama.
Orang itu aku sakiti. MIley juga sakit karena orang-orang gila tidak bisa diam. Padahal Miley cuma mau baik-baik ke aku.
Tidak di sana, di sini. Semuanya, aku cuma hancurin....
“Harun, we’re sorry.”
Mereka mau minta maaf? Gila?!
Ketukan lagi? Dia cuma manggil ya?
Huh, mukanya, polos sekali. Sudah kayak tidak tahu apa-apa. Padahal banyak luka. Lukanya... harus diobati.
Balik badan ke orang-orang gila itu. Cuma mau minta mereka pergi tinggalin kami, “Can you guys, just, leave us. Please.”
“We, we will.”
Mereka pergi.
Tahan. Aku harus tetap senyum. Miley ada di sini.
Ketukan di punggung? Miley.
__ADS_1
Dia cari-cari apa?
Oh, sketchbook-nya basah kuyup. Bagaimana dia mau ngomong sekarang?
Ti, tiba-tiba dia marah! Sketchbook-nya langsung dibanting ke tempat sampah.
Jangan ketawa. Jangan ketawa.
Mungkin bisa pakai bukuku. Aku ambil dulu di tas ranselku⏤
“Aa!” dia tarik aku?
Tangannya nahan lengan atasku biar tetap belakangi dia. Buat apa?
Di, dia tulis sesuatu di punggungku?
Tulisannya... you... mad...?
‘Kamu marah’?
Kenapa dia tanya itu?
Mukanya tiba-tiba nonggol di sampingku. Kayak lagi nunggu jawaban.
Cewek yang aneh.
Jangan ketawa, “Heh, no, I’m not.”
Kenapa dia mikir aku marah? Dia kelihatan juga bingung.
Sudahlah, “Let’s get your wounds clean,” lukanya harus dibersihkan.
Dia geleng-geleng. Terus dua tangannya dia angkat, artinya kuat, huh?
Miley mau bilang kalau dia tidak papa, karena dia kuat?
Yah iya, kamu kuat, “Yeah, yeah, you’re strong. Now let’s go see the nurse,” tapi kamu tetap harus ke UKS.
Geleng lagi. Kenapa dia kayak takut gitu?
Aa..., “Are you afraid of the nurse?” Apa dia takut sama perawat UKS?
Heheh, dia malah lihat ke arah lain. Yah, dia takut.
“Don’t be. I’ll be there,” seharusnya tidak perlu takut. Aku bakal di sana juga.
Kaget? Kenapa?
Ayo pergi, “Come on,” aku dorong sedikit pundaknya.
Miley kenapa lagi? Dia mau tulis lagi di punggungku?
Its... OK... if you aint... smile....
Apa?
‘Tidak papa kalau kamu tidak senyum’?
Apa maksudnya? Dia tahu kalau aku selalu pura-pura senyum?
Itu tidak mungkin, Rasyi saja tidak tahu.... iya. Miley hanya mikir kalau aku marah.
Tapi, “I’m not mad,” aku tidak marah.
Dia masih tidak percaya. Baiklah.
“Ok, I'm mad. That’s ‘cause you don’t wanna go see the nurse,” aku kasih alasan saja kalau aku marah gara-gara dia tidak mau ke UKS.
Dia semakin gak percaya. Mukanya aneh sekali.
Jangan tertawa.
Apa lagi yang mau dia tulis di punggungku?
Get... coffee... later....?
Dia ajak aku beli kopi nanti, ya?
“Yeah, then later we finish our project. How ‘bout it?” Aku tidak masalah. sekalian saja minta dia buat selesain bareng projek-nya nanti. Bagaimana menurut dia?
Senyumnya, dia angguk setuju.
Ok, “Now, the nurse,” sekarang UKS.
__ADS_1
Dia masih manyun tidak mau padahal sudah aku tarik.
Heheheh.