Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#80 Mencari Udara Segar


__ADS_3

Suara panggilan masuk itu memperingatkanku lagi. Kurasa aku sudah bisa menebaknya semenjak suara itu selalu muncul setidaknya tiga kali sehari dalam dua hari belakangan.


Tak berbeda dari sebelumnya, aku menjawab panggilan ini, “Halo, kenapa telepon, Harun?”


[“Memang tidak boleh telpon? Atau kamu lagi sibuk?”]


“Ti, tidak sih..., cuma kok, telepon pagi-pagi banget.”


[“Hehe, kenapa kamu tegang begitu? Aku cuma mau ajak kencan.”] 


Kencan?


Ha ha, ha....


Entah kenapa aku terasa tidak bertenaga menghadapinya. Maksudku, aku biasanya keterlaluan senang menghadapi ajakan itu. Namun, sekarang....


[“Aku sudah sewa sepeda. Kita bisa sepedaan. Lagi ramai kan?”]


Sesaat aku terdiam. Mungkin aku hanya kelelahan. Aku hanya ingin... diam.


Kukeluarkan suaraku, “Tapi, Harun, gimana ya? Papa suruh jangan kemana-mana dulu. Kemarin aku sempat panas.”


[“Hah? Tidak kenapa-napa kan kamu?!”] 


“Aku cuma disuruh istirahat saja. Biasa.”


[“Hmm... Aku temani ke sana gimana⏤”]


“Huk! Uhuk!”


[“Rasyi!”]


“Tidak. Aku... mau tidur saja sekarang.”


[“... oke. Istirahat yang banyak ya?”]


“Huk..., iya. Bye.”


Panggilannya, tertutup. Nafasku terasa ringan lagi.


“Kok gitu?”


Aku menatap perempuan ini, “Apanya?”


Terlihat perempuan ini sibuk memainkan cat kuku ke arah kanvasnya yaitu kuku kakinya.


Dia pintar sekali menutupi kelakuannya di sekolah yang jelas-jelas tidak memperbolehkan cat kuku. Si Firna dengan simpelnya mengatakan tidak ada yang tahu apa di balik kaus kakinya.


Aku memilih untuk merebahkan tubuh ke ranjangnya yang serba hijau itu.


“Kok balik tanya? Kamu ke Harun tadi kan bohong. Mana ada sakit,” ia menyalakan pengering cat kuku, “Kayak bukan kamu saja.”


“Bukan aku, apanya?” kumatikan layar ponselku dan melemparkannya ke ranjang Firna, “Eh, Fir, sepedaan yuk.”


“Aneh banget! Tadi tidak mau. Sekarang ajak aku?!” Firna tampak berkeringat dingin.


“Oh...,” aku terdiam berpikir sejenak.


Benar juga.


Aku sendiri yang berusaha keras ber-akting untuk menolak ajakan Harun. Sengaja kutolak dengan tidak terang-terangan seperti itu. Karena aku kira aku hanya lelah.


Namun, kenapa aku jadi ingin melakukan agenda itu sendiri?


Itu memang aneh.


“Ada apa sih? Tumben-tumben begitu kamu ke Harun.”

__ADS_1


“Cuma, tidak enak badan.”


“Tapi habis itu ajak aku.”


Entahlah, aku pun tidak bisa mencari jawabannya.


Firna mengakhiri perawatan dirinya, “Saga juga aneh. Kalian semua lagi aneh-anehnya.”


“Kalau itu mungkin gara-gara aku keluar bareng Vian kemarin.”


Dia mendekatkan wajahnya, “Yang buat cari kado Saga?”


Oh, iya, aku belum menceritakan itu dengannya, “Vian bohong. Vian cuma mau ajak aku jalan. Aku tahu waktu Saga tiba-tiba ke sana. Jadinya kami pergi bertiga.”


“Terus? Terus?!”


“Terus... Harun nyusul.”


Firna mengubah posisi duduknya dan merangkak mendekati wajahku sampai cahaya lampu benar ia tutupi, “Terus? Pukul-pukulan?!”


Aku menghela nafas, “Si kembar paham langsung pulang duluan.”


“Huuuh...,” Firna tampak ikut lega, “Untung!”


Ya. Memang untung. Keuntungan sekali seumur hidup yang menguras tenagaku sampai tinggal dua persen.


Namun seharusnya tidak ada hubungannya dengan hari ini. Semua sudah lewat. Hari ini, terasa terlalu lelah. Di saat yang sama, aku butuh rehab dengan aktivitas yang menyegarkan.


“Ya, tapi aku cuma punya satu. Mau pinjam kak Ilham?”


“Hmm? Apanya?”


Firna mengarahkan wajahnya ke arahku, “Jadi sepedaan tidak?!”


Oh, “Iya. Jadi.”


Hari masih saja belum menunjukkan diri seterang itu. Matahari masih menyapa banyak hal yang baru terbangun. Pagi masih segar dan membuat ketagihan.


Mengikat rambut dan menggunakan cream untuk melindungi kulit. Sampai akhirnya langkah keluar dengan keadaan siap untuk bersepeda. Rumah kami yang tidak jauh membuatku mudah bergerak.


“Nenek~” Firna dengan semangat mendekat sambil membawa sepedanya.


Wanita yang berkutak dengan sapu lidinya itu tersenyum, “Nak Firna, pagi nak. Ada nak Rasyi juga~”


“Kak Ilham ada, nek?”


“Kenapa?” suara pria itu terdengar semakin mendekat.


Pria dengan penampilan bugar dan kekar ini mendekati kendaraannya selagi nenek membuka pagar. Kurasa di hari minggu cerah ini, anak kampus tetap menjadi anak yang sibuk. Apalagi kak Ilham pun bagian dari BEM.


“Kak, pinjam sepeda dong?”


Ia tampak kebingungan di awal. Namun ia akhirnya menunjuk ke arah satu sudut taman, “Tuh. Pakai saja.”


Sesaat aku berpikir kalau Firna sering meminjam macam-macam ke kak Ilham. Itu menjelaskan arah pinjam meminjamkan ini selancar air terjun.


Firna menyerahkan sepedanya ke arahku, “‘Permisi~” akhirnya ia masuk ke pekarangan.


Sepertinya dia lebih suka sepeda pinjamannya daripada miliknya sendiri.


“Mau sepedaan?” nenek dengan ramahnya melanjutkan percakapan.


Senyum manis aku kerahkan, “Iya nek. Mumpung tidak panas.”


“Betul juga ya. Pelan-pelan loh. Rasyi sering sakit kalau kecapekan.”


Itu, sungguh rahasia publik ya? Sudah seberapa banyak tetangga yang tahu akan tubuhku yang lemah ini?

__ADS_1


Kurasa itu juga karena mama hamil dan melahirkan saat tinggal di sini. Aku dengar mama juga orang yang terbuka. Jadi aku tidak terkejut kalau semua tetangga di sini tahu keadaannya.


Bagaimana aku lahir. Bagaimana mama bisa meninggal. Bagaimana dan siapa yang merawatku dari kecil. Aku juga tidak kaget mereka kenal Hendra beserta istri dan anaknya. Apalagi Fares itu teman satu sekolah dasar dengan Ilham.


Kak... Fares....


“Kami bawa, kak~”


“Oke.”


“Kak,” aku masih berdiri di tempatku.


Rasanya aku harus tanya. Tidak mungkin aku tidak terganggu akan hal ini. Melihat Fares menjauhiku....


Ilham kembali bersuara, “Kenapa?”


Harus aku tanyakan. Mungkin aku mendapatkan sesuatu, “Apa...,” kenapa, aku takut? “Kak Fares. Ada yang terjadi kah?”


“Fares? Maksudnya?”


Aku menatap pria yang seumuran dengan Fares ini, “Aku cuma penasaran. Kalau saja ada hal buruk di kampus....”


Diam dibawa oleh pria ini sesaat. Sampai akhirnya ia berbicara, “Biasa saja dia. Ya, tidak tahu kalau ada pro-kes yang nyusahin. Kami kan beda fakultas,” ia tertawa kecil.


Huuuh, itu semakin membuatku khawatir. Bahkan teman terdekat Fares, yang tetap kontak walau berbeda jurusan ini, tidak bisa yakin apa yang terjadi.


Semua itu tidak terlihat layaknya baik.


“Memangnya kak Fares kenapa?” Firna ikut kebingungan.


Aku terdiam. Kecemasan itu tidak akan terhenti. Namun aku justru tidak yakin apa yang terjadi antara aku dan kak Fares.


“Dia ngapain?” Ilham melepas lamunanku.


Mataku memandang lurus pria itu. Aa, aku membuat orang khawatir lagi kah?


“Tidak kok,” aku menggeleng lembut, “Kak Fares kelihatan lemas saja. Dia juga kelihatan sibuk kalau aku datangi. Makanya aku kira ada yang salah di kampus.”


Semakin kemari, aku semakin tidak yakin.


Entahlah. Rasanya aneh. Terasa sangat penting, tapi seakan aku melupakan beberapa hal. Layaknya aku memegang gunting yang tajam dan siap mengoperasikannya, tapi aku tidak tahu apa yang harus aku potong. Benda itu terlalu pudar untuk dikenali.


Hmm? Heh... aku telat menyadari suasana. Udara pagi di sekitar ini berat sekali.


Kupaksa diriku tersenyum, “A, ayo, Fir. Nanti kita terlanjur siang.”


“I, iya.”


Setidaknya Firna paham kalau aku tidak mau membahasnya lagi. Kami akhirnya bersiap dengan transportasi manual ini.


“Rasyi,” hmm? Kak Ilham?


Apa dia ingin membahasnya lagi?


“Fares itu sayang sama kamu kok.”


Heh?


“Kak Ilham bilangnya apa tadi?!” Firna sepertinya kaget juga.


“AK! Sudah! Lupain!”


Itu sungguh bukan hal yang biasa untuk dikatakan. Namun....


“Hihihihi!”


“Jangan diingat...,” suara lemasnya pasrah.

__ADS_1


Rasanya, lebih lega, “Iya kok, Rasyi tahu. Makasih.”


__ADS_2