Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#69 Pasar di Rumah


__ADS_3

[“Gimana caranya aku tenang? Kamu selalu kena kejadian begini terus!”]


“Harun. Yang khawatir itu aku loh. Harun selalu tidak tenang begini. Aku kan jadi kepikiran terus.”


[“Apa lagi aku!”]


Suara Harun, sungguh sedang tidak tenang.


[“Mereka ditangkap paman Hendra kan? Iya kan?”]


Hmm? “Em....”


[“Cih! Mereka mau buang waktu sampai kapan?!”]


“Harun, menangkap mereka juga tidak mudah.”


Sehari, dan kabarnya sudah sampai di telingaku. Bahwa mereka hanya mendapatkan teguran dan dilepaskan. Alasannya sederhana, itu karena mereka tidak membuat masalah apapun.


Hmm? Kenapa rumah ramai sekali?


“Maaf, Harun. Aku baru sampai rumah nih. Nanti aku telpon lagi. Bye~”


[“Ra⏤”]


Sorry, Harun. Rumah yang mendadak seperti pasar malam itu memberikan aku pertanda tidak baik.


Padahal aku baru saja meninggalkan rumah sebentar untuk mencari yang manis-manis dengan Firna.


Weekend yang tak kunjung tenang ini semakin terasa saja tidak tenang.


“Aiya aiya... gimana ini....”


Bibi-bibi, semuanya tampak kebingungan di bawah atap teras yang tampak bergetar dengan kencangnya keributan rumah. Menyadarkanku semakin jelas dengan suara yang ternyata berpusat pada dua macam suara.


Kok rasanya aku mengenal suaranya?


“Bi,” aku sudah sampai berkumpul dengan mereka, “Kenapa kok ribut?”


“Non, anu... saya tidak paham juga ini....”


Aku berusaha menyelipkan pandanganku ke dalam rumah. Pintu rumah berdaun dua terbuka lebar, memperlihatkan ruang tamu yang semakin jelas ributnya.


Heh? Kenapa rumah sungguhan jadi seperti pasar malam?! Siapa orang-orang yang tampak menghambur-hamburkan rumah ini?!


Da, da dan....


“Jangan centil begitu iih!!”


“Kamu yang kurang kerjaan! Pulang sana ke penjara!!”


Aduh. Si Kirana dan tante Ira bisa sampai seliar ini ternyata.


Dua wanita yang jelas sedang marah. Keduanya tidak salah lagi sedang adu kekuatan tarikan ke rambut lawannya. Singa mereka terus meraung-raung tak terhindarkan dengan berbagai jenis bahasa kasar.


Orang-orang yang ramai ini, malah jadi penonton dan pencuri dalam waktu yang sama. Menghamburkan buku. Mencuri makanan. Menyebarkan posisi kursi.


Yang semakin aku bingungkan, kenapa papa malahan duduk santai di sofa sana?! Berbarengan dengan... menahan tawa?! Sungguh?!!


“Coba mikir deh! Gading itu tidak mungkin pilih yang sudah punya anak kayak kamu!”


“Itu berarti aku lebih berpengalaman urus anak! Rasyi jadi lebih leluasa sama aku! Daripada kamu, cuma main laki-laki! Dasar ja⏤” aduh! Aduh aduh! Semakin parah saja bahasanya si tante Ira!!


Tolong jangan diam dan menahan tawa anda di sana, papa! Lakukan sesuatu!


“Non... gimana ini, atuh~” bibi semakin panik.


“Mana Rasyi tahu~”


Heh?

__ADS_1


Heh?!


Eeeh?!!


Kenapa orang-orang ini sekarang memandangiku?!


“Rasyi!” iya, tante Ira?


“Aaa!” aku terkejut.


Kirana sudah ada di depanku menggenggam bahuku, “Selamat datang~ Gimana beli jajannya? Dapat yang enak~?”


Aaa... aku, entahlah...?


“Ini ya?” Kirana mengambil camilan milikku. Mengulurkannya jauh entah kemana, “Heh! Jangan nonton aja! Ambil piring situ kek buat jajannya Rasyi!”


Para orang ini kelabakan dan berusaha memenuhi kebutuhan yang Kirana suruh. Sementara tante Ira tampak tak senang dan berjalan lurus kemari.


“Jauh-jauh!” Ira menjauhkanku dari genggaman Kirana. Memeluk erat aku yang masih tidak bisa berpikir, “Jangan sok asyik sama Rasyi!”


Kirana lagi-lagi menarikku terlepas dari pelukan Ira, “Kami memang dekat kok!”


Ditarik lagi?! “Rasyi, jangan percaya sama dia!”


Lagi?! “Rasyi masa mau sih mama pecicilan kayak dia?!”


“Daripada kamu!”


Aduh duh!! Mereka mulai menggunakan kata-kata kasar lagi. Kali ini tepat di depan telingaku!!


Paham kok. Ibu-ibu sekalian mau dapat restu dariku kan? Namun ingat-ingat!! Masa aku jadi botol pelampiasan kekesalan kalian?! Apa daya telingaku dibuat oleh suara merdu kalian yang menggelegar?! Belum lagi aku jadi barang tarik-tarikan!


Heh?


Tangan kekar siapa ini? Dia menahan Kirana dan Ira dariku. Memberikan aku ruang dan kesadaran bila da orang di belakangku.


“Kalian tenang!!”


Kuberanikan mataku untuk memutar menatap... nya?!


“Makasih, kak,” papa? Dia sudah berdiri di dekat kami.


Seram!! Paman di belakangku terlalu menyeramkan!!


Langsung aku berlari kecil menuju papa. Memeluknya erat.


“Oh, maaf. Anakmu jadi takut,” suaranya seram!


Papa membalas pelukanku, “Hmm.”


“Ira,” oh, akhirnya suara yang aku kenal! “Kamu pulang sana.”


“Kak, aku masih⏤”


“Pulang!” tolong paman Hendra, jangan ikut-ikutan kasih muka seram!


“Iya iya!!”


Untunglah Ira masih mau mengikuti perkataan kakaknya meski dengan wajah ambek. Ia berjalan keluar menerobos para bibi yang masih menyumpal jalan keluar masuk rumah.


Hendra mendekati Kirana dengan wajah kesalnya, “Sekarang, kalian! Ikut kami!”


“Kenapa sih?!” tidak dengan Kirana, yang tentu saja masih bersikeras tetap ditempatnya, “Aku gak lakuin apa-apa. Kenapa aku harus ikut ke kantor polisi?”


“Kamu masuk rumah orang sembarangan!” Hendra semakin tampak tidak menyukainya.


Marah semakin jelas, “Kami cuma berkunjung! Kalian lebai banget deh!” heh?!


Nenek tua ini! Bukannya sibuk merajut di kursi goyang, dia malah merayu ayah orang!

__ADS_1


“Kami cuma silaturahmi kayak kemarin, pak polisi~” terdengar sahutan salah satu rekan Kirana.


“Iya pak, Bawa ke kantor polisi juga bakal keluar juga,” salah satu rekan datang dengan membawa sepiring camilan yang aku bawa tadi.


“Iya nih. Pak polisi tegang sekali~” ketawamu itu tidak lucu sama sekali, nek!


Nih! Aku kasih yang lucu!!


“Kyaa!!”


Semua terdiam. Hanya terdengar suara piring plastik yang terpelanting jatuh. Paling tidak aku membuat wajahnya tampak lucu dilihat.


Camilan coklat sudah tampak jelas menempel di wajah Kirana.


“Dasar cewek cacat!”


Memang hanya kamu saja yang bisa marah? Aku lebih bisa!! “Siapa suruh pamer muka terus di depanku, nek?!”


“Cewek ini makin⏤”


“Nenek, diam!”


“A⏤”


“Pa, usir!” seruanku yang mendadak memberikan kejutan papa, “Pokoknya Rasyi tidak mau lihat mukanya lagi!! Seret saja kalau perlu!”


Aku memeluk tangan papa. Wajahku bersembunyi di pelukannya. Elus mengelus wajahku di lengan bajunya layaknya anak kecil yang manja.


“Pokoknya cari mama baru yang lain!!” biar saja aku manja seperti ini.


Kekonyolan ini harus selesai sekarang!


“Cewek sial!!”


“Berhenti!” Hendra menghentikan gerak Kirana yang sepertinya mau menjambakku, “Ikut kami sekarang!”


“Tapi, pak....”


“Gak adil dong kayak gitu!”


Dasar para rekan pencuri! Memangnya dia mau mengeluhkan apa?! Aku tutup saja kalinya mulutnya itu!


Langsung aku angkat kursi ringan di dekatku, “Kenapa kalian malah mengemis dirumah orang? Pergi kalian!!”


“Rasyi,” aaargh! Kenapa juga sih papa menahanku?! “Lepas.”


Duh! Aku jadi tidak ada pilihan selain melepaskan kursi itu kan?!


Papa memelukku semakin erat, “Tolong bawa yang lain pergi.”


“Ayo!” polisi yang menyeramkan itu membawa pergi Kirana.


“A aduh~!”


“Kalian, cepat jalan!!” Hendra berteriak membubarkan para pencuri ini pergi.


Pasukan sekali lagi muncul dan mengamankan berbagai macam orang disini. Namun aku menduga-duga, kejadian ini bisa terjadi selama mereka akan dilepaskan lagi. Meski pastinya aku tidak ingin!!


“Fuuuh...,” papa terdengar lelah, memilih untuk mengambil duduk.


Aku yang pada dasarnya masih ia peluk mau tidak mau ikut terduduk di samping kanannya. Dengan pelukan yang erat dan elusan yang lembut.


“Hah! Apa lagi sih yang kamu rencanakan kali ini?” Hendra yang tak bertenaga tampak pusing memegangi kepalanya.


Papa, ia seperti memalingkan wajahnya selagi bibirnya memberikan kecupan di kepalaku. Apakah mungkin papa tidak mau membuka mulut?


“Fine! Kita bicarakan nanti,” Hendra tampak pergi dengan wajah kesal.


Rumah, jadi sepi. Dan papa masih memelukku.

__ADS_1


Huuuh....


__ADS_2