
Nafas kuhela panjang.
“Bisa bisanya yang jualan kenal sama lu.”
Senyumku seakan mengendalikan wajahku, “Aku memang sering kemari.”
Terserok satu sendok ice cream dengan variasi buah di mangkuk yang tampak ceria. Warna yang didominasi coklat kental ini tak serta merta membangun nafsu makanku.
Semoga apa yang dia cari dari seorang wanita, tidak ada di diriku. Jadi pertambahan calon masalah ini bisa langsung selesai.
“Tipe cowok lu yang gimana?”
Wow, anda benar tidak mau menggunakan basa-basi? Ini boleh jadi kencan. Namun tetap saja ini paksaan. Seharusnya berusahalah sedikit untuk menunjukkan kepribadian yang menarik.
Nih, aku langsung saja, “Kayak Harun.”
“Hadeh, bohong dikit juga kagak papa.”
Biar saja. Supaya tahu rasa!
“Lu sudah direbutin sama berapa cowok?”
Pertanyaan apa lagi itu?!
“Gua pernah ketemu Vian sama Saga. Mereka suka lu juga kan?”
Heh? Aku tidak pernah tahu kalau Dhika mengenal mereka. Terlebih lagi tentang masalah rebut-rebutan itu.
Lelaki ini belajar dengan baik.
“Padahal gua gak pernah liat cowok-cowok berebut cewek segitunya. Sinetron beda cerita.”
Mungkin saja aku memang terlalu cantik. Papaku saja banyak yang mengincar meski sudah di usia... lima puluh tahun.... Bisakah ada kemungkinan kalau aku ada di dunia sinetron sekarang? Karena semua ini memang tidak masuk akal.
“Tapi ya, Rasyi emang menarik. Gua juga jadi mau ikutan. Hahahaha.”
Kulahap saja satu sendok ice cream tadi sambil berterima kasih di dalam hati.
“Lu gak ada penasaran tentang gua sama sekali?”
Aku bertanya apa? ‘Mengapa anda muncul dan membuat pekerjaanku jadi lebih dari delapan jam kerja?’??
Oh, ada satu hal, “Memang di mata kamu apa yang menarik dari aku?”
Sebenarnya aku penasaran akan hal itu. Maksudku aku tidak berbeda dengan diriku sebelum reinkarnasi kecuali fisikku. Namun, tidak ada yang tertarik denganku yang dulu. Apa benar Rasyi hanya unggul di tampang saja?
“...,” kenapa Dhika diam sekarang? “Gak tau sih.”
...
Jika saja aku tidak menyukai Ice Cream, aku sudah membuangnya tepat ke tong sampah dari Jakarta yang ada di depanku ini. Karena memang itu kegunaan tong sampah! Tempat membuang sampah!!
“Kayaknya gagara, lu orang asyik dikerjain deh.”
Aku menyerah, “Kita benar-benar tidak cocok ya? Gimana kalau kita sudahi saja sampai sini~?”
“Dih, ngambek-an.”
Ketahuilah, bahwasanya saya tidak menyukai engkau di berbagai sudut manapun.
“Iye deh, iye. Nih makan jatahku,” Dhika mendorong mangkuk ice cream miliknya padaku.
Maaf nih, kenapa ya?
“Tar ya. Perut mules.”
Huuh....
Dan pergilah orang ini meninggalkanku.
Hiks! Apa benar aku ada di acara kencan sekarang? Kukira dia akan berusaha sedikit membuat suasana menarik hati. Padahal sebelumnya, memberi bunga di telinga dan menyambutku setelah dua hari sakit, termasuk hal yang romantis. Sekarang malahan jadi seperti ini.
__ADS_1
“Rasyi?”
Hmm? Ada seseorang yang aku kenal di sini?
Eh?
“Hehehe, ada di sini ternyata.”
“Pas banget gak sih?”
“Kita sekalian mampir yuk~” wanita ini....
Nenek ini ada di mana-mana! Membuatku kesal saja.
Si Kirana yang tidak pernah ingat umur ini duduk di kursi Dhika tadi. Bersama dua rekannya yang entah dari mana.
“Dimakan gak nih?” rekan merepotkan yang bertanya sambil meraih mangkuk Ice Cream milik Dhika. Untuk apa bertanya tadi?!
“Lagi sendiri?” Kirana membaca menu selagi memulai percakapan.
Aku memutarkan bola mataku, “Kenapa memang?”
Senyum wanita ini, hilang. Kebalikan dari aku yang senang karena dia sadar kalau tidak ada gunanya memohon restu dariku. Cintanya ke papa, atau apapun itu, masa bodoh!
“Aku benci orang kayak kamu.”
Tak berkutik aku mendengarkan wanita ini.
“Sok kuat. Sok cantik. Sok imut. Padahal cuma cewek yang gak bisa apa-apa. Kerjaannya cuma banyak nuntut. Cuma bisa ngoceh doang.”
Apa.... Apa yang dia ingin sampaikan sebenarnya?
“Gak paham deh, kenapa Gading mati-matian buat jagain kamu? Emang kamu punya apa? Muka? Itu doang?”
Wanita ini, berisik sekali!
“Aku beritahu ya. Kemarin-kemarin itu aku cuma lagi baik hati aja. Gading sayang sama kamu. Aku juga gak berani bikin Gading marah. Gak rame lah dapat Gading pakai paksa-paksaan.”
“Tapi, ni yah, gimana kalau dia gak sayang lagi?”
Heh?
“Gading gak mungkin mau jagain cewek kayak kamu terus-terusan.”
... berisik.
“Dengar ya,” tubuhnya terlihat condong ke depan meski meja di antara kami cukup lebar. Ia merendahkan nada bicaranya, “Kamu yang bunuh istrinya.”
Tanganku mengepal. Rasanya cuaca panas tidak ada hubungannya dengan gerah yang aku alami saat ini.
Marah. Dan juga takut.
Fakta itu sudah menghantuiku sejak aku masih berumur delapan bulan.
Rizki, dia mau membuang aku sedari lahir. Meski sekarang aku tahu, itu semua karena ia tidak mau aku ikut ke masalah yang mengejarnya terus menerus. Ia tahu seberapa bahayanya kalau aku tetap ada di sana, di samping ia berada.
Namun, siapa yang tahu, mungkin saja di lubuk hatinya ia tidak pernah bisa memaafkanku akan apa yang terjadi dengan istrinya.
Aku... tidak bisa berhenti gemetar. Tidak bisa berhenti merasakan takutnya.
Rizki, kapan saja, bisa saja membuangku⏤
“Berhenti buntuti anakku.”
Heh?
Di belakang?
“A,” wanita ini, jadi kelabakan seketika, “Hai, Gading~”
Perlahan aku memandang pria yang terasa jelas hangatnya berdiri di belakangku.
__ADS_1
Apa yang membuat Rizki datang kemari?
Kirana langsung berdiri, “Kami cuma ngomong santai doang kok~”
Meski aku tidak bisa memutar badanku sepenuhnya menghadap papa, aku bisa merasakannya dengan jelas. Rizki sedang marah.
“Aku kira aku sudah tekankan,” bayangan papa menutupi sebagian pandanganku. ia tampak condong ke meja samping kiriku, “Anakku tidak termasuk permainan.”
“Iii! Aku tahu Gading~ Tapi kamu bilang aku harus dekati Rasyi juga kan?”
“Heh,” Rizki tertawa meski tak mengeluarkan wajah yang cerah, “Kalau saja benar aku biarin kamu dekat sama Rasyi.”
“Gading~ Kamu kan⏤”
“Diam.”
Eh?
“Rasyi, kita pulang.”
Hmm? Aa? Kuikuti saja mungkin? Sebesar apapun aku bingung, ikuti saja!
Kirana tampak mau mengusul, “Iii! Tunggu~!”
“Kalian mau apa lagi, hah?!”
Heh?! Loh kok?!
“Eh,” rekan yang sibuk makan ice cream tadi malah ikut panik, “Pak Hendra. Sore pak....”
Tunggu! Aku bingung!
“Jangan bingung begitu. Ayo pulang,” papa yang selalu bertingkah seperti bisa membaca pikiran ini meletakkan tangannya di kepalaku.
Aku merasa kesulitan dengan caranya menarikku ikut dengannya, “I, iya. Rasyi jalan!”
Genggaman papa tiba-tiba meraih tanganku. Meninggalkan Hendra yang ternyata sudah bersama dengan pasukannya. Pergi menjauh dari kerumunan yang semakin ramai mencari tontonan. Berjalan dengan papa tampan, seenaknya membawa putrinya yang masih bingung.
Kok papa bisa tahu aku ada di cafe ini? Ditambah lagi papa datang dengan Hendra. Itu berarti papa tahu ada Kirana di sini?
Bagaimana sih cara berpikir orang-orang ini sampai bisa mempersiapkan sejauh ini?
“Rasyi!”
Apa lagi?
Eh, Harun!
“Rasyi,” dia menggenggam bahuku tiba-tiba, “Kenapa? Apa yang terjadi di sana?!”
“Itu....”
“Paman,” Harun langsung memandang tajam papa, “Kenapa lagi ini?!”
“Tidak mungkin kamu pikir aku yang buat begini,” papa membalasnya dengan tatapan tajam pula.
Aduh, tolong jangan memulai perdebatan baru.
“Harun,” aku mengulurkan tangan kiriku yang bebas, “Itu⏤”
“Kita pulang.”
Papa?
“Rasyi, pulang. Sekarang,” papa tidak memperdulikan Harun dan malahan menarikku pergi.
Mungkinkah papa....
Aku memandang Harun meski aku semakin menjauh mengikuti tarikan tangan papa. Berusaha memberi sinyal dengan mengeluarkan ponsel dari kantong rok abu-abu milikku. Harun pasti bisa paham kalau aku akan menghubunginya nanti.
Sekarang, aku harus menenangkan rasa khawatir papa dulu.
__ADS_1