
“Bubar!”
Bisa sekali aku takut sampai begini. Aku selalu berhasil menantang rasa takut. Tidak ada yang bisa bikin bulu kuduk berdiri.
Rasyi, semua takutku mungkin ada hubungannya sama Rasyi. Tidak salah lagi. Aku selalu usaha untuk penuhi kebutuhan Rasyi. Semuanya aku serahkan ke perempuan itu.
Dan sekarang dia hilang.
Gemetar ini pasti karena tanganku. Dia tegang. Aku sedang marah. Tapi aku tidak tahu aku marah karena apa. Karena siapa. Mungkin karena diriku sendiri. Mungkin karena orang-orang sekitar Rasyi yang tidak becus.
Setidaknya aku jadi sadar satu hal⏤Rasyi selama ini adalah teratai putih yang bisa tenggelam kapan saja. Dan itu juga dari kenalan-kenalan dia.
Aku tidak ada di sana saat ada yang menarik dia tenggelam.
“Kamu pulang saja, Harun,” salah satunya orang ini.
Paman bilang dia ikut kami untuk melindungi Rasyi. Itu bohong. Rasyi tetap hilang di acara jurit malam. Dia kerja apa?!
“Aku ikut cari,” kutatap kak Fares itu.
Dia membuang nafas, “Kamu tidak istirahat sama sekali loh dari kemarin.”
Senyum, aku harus senyum, “Tidak pa-pa kak. Aku juga tidak bisa tenang. Biar aku bantu.”
Dia sedih ya? “Maaf....”
Aku tidak menjawab. Orang ini memang pantas minta maaf. Tapi tidak pantas dapat penerimaannya. Rasyi begini karena dia tidak tanggung jawab benar-benar.
Lagi aku tersenyum, “Jangan tekan diri kakak begitu. Mana kita tahu kalau bakal jadi begini. Yang penting kita cari Rasyi sekarang. Dia kuat kok, pasti tidak pa-pa.”
Mau aku pikirnya begitu. Tapi Rasyi itu cuma bunga lemah. Selama ini dia selalu takut keluar rumah. Kalau begini, bukannya bakal bikin dia lebih takut, apa?!
Dinginkan kepala. Rasyi tidak akan mau main denganku kalau aku keluar dari ekspektasi dia.
Tenang Rasyi, aku pasti jauhin kamu dari rasa takut kamu.
“Ayo kita gabung sama paman-pamannya, kak,” aku pergi duluan ikutin tim SAR yang sudah menyebar.
Rasyi pasti ketemu hari ini.
Harus ketemu di hari ini.
Dia harus aku temui hari ini!
Dia tidak boleh pergi jauh lebih dari hari ini!
Kami berdua harus bermain lagi.
Hatiku dimainkan lagi sama dia, sampai aku ketagihan. Aku tidak tahu harus apa kalau dia tidak ada.
Tolong jangan jauh-jauh.
Aku mencintai dia.
“Hai! Kamu!”
Siapa? Apa ada yang menemukan Rasyi?!
Aku masih bersama kak Fares. Jadi aku bisa lihat reaksi kak Fares yang sama-sama kaget. Dia sadar aku lihat ke arah dia. Kami sudah kayak saling tukar pikiran dan setuju.
Itu pasti Rasyi!
“Berhenti!”
“Dia ke arah sini!”
“Cepat!”
Mereka semua berlari lebih masuk ke dalam hutan. Malam ini tidak tanggung. Terlalu gelap. Siapa yang dikejar itu tidak bisa kelihatan. Aku cuma ikut kak Fares. Kami lari susul orang-orang ini.
“Perhatikan sekitar!”
“Itu dia!”
Mereka sudah menemukannya!
Bisa aku lihat! Ada orang yang duduk di antara akar-akar pohon hutan. Makin kelihatan. Makin jelas. Semakin tampak!
“Itu Rasyi!” kak Fares juga lihat sama kayak yang aku lihat.
“Benar itu dia?”
“Iya, pak. Itu pasti Rasyi,”aku bantu jawab salah satu tim SAR.
Hatiku kacau. Mau senang. Mau sedih. Tanganku masih tidak mau diam.
Akhirnya aku melihat Rasyi habis seminggu hilang.
__ADS_1
Berisiknya tangan ini, bukan karena lega. Pasti karena takut dengan melihat keadaan Rasyi.
Dia sudah seperti... bunga teratai yang lepas kelopaknya.
“Kemari!”
“Rasyi!”
Kak Fares langsung berlari ke arahnya.
Dia duduk di depan Rasyi. Tapi Rasyi tidak mau buka mata dia. Perempuan ini sudah terlalu takut.
Rasyi kenapa?
Bukan Rasyi yang ini.
Kalau Rasyi yang aku kenal, dia pasti tersenyum.
Aku ikut dekat ke sana. Duduk di samping kak Fares. Mungkin kalau dia dengar suaraku. Mungkin kalau itu aku, dia bisa senyum lagi. Pasti ketawa lagi.
“Ini aku, Rasyi. Harun,” rasanya aku ingin sentuh dia.
Dia? Memukul tanganku?
“Tenang, Rasyi,” Fares masih berusaha tenangkan dia, “Tidak apa.”
“Jangan mendekat!!”
Rasyi masih saja memukul tangan kami. Berteriak tutupin suara kami.
Teriakan Rasyi makin keras. Makin kedengaran takutnya dia. Makin gema. Makin bikin gemetar.
“Rasyi...,” aku harus membujuknya.
Dia terus berteriak takut, “Biarkan aku sendiri!!”
“Rasyi, lihat aku,” jangan hindari aku.
“PERGI!!!”
“Ra⏤”
“RASYI!!!” kak Fares, dia berteriak keras sambil tahan pundak Rasyi.
Rasyi berhenti. Dia melihat ke arah kami.
“Hah ah…, kak… Fares….”
“Iya, ini kakak. Tidak apa….”
Dia... memeluk kak Fares?
Aneh. Sangat aneh.
Harusnya senang.
Aku tidak senang.
Harusnya lega.
Aku kesal.
Lagi, Rasyi bermain sama hatiku. Sekarang rasa hatiku sakit. Tapi ini beda sakitnya saat Rasyi hilang.
Sakit ini makin sakit waktu aku lihat Rasyi pingsan di peluk kak Fares.
Aku pernah belajar tentang ini di cerita-cerita orang. Mereka bilang, cinta bisa membawa cemburu.
Iya, aku cemburu ya?
Aneh, tapi tidak salah. Rasanya aku tidak bisa marah dengan keadaan diriku. Kenyataannya aku memang tidak suka melihat Rasyi lebih memilih Fares.
Fares yang bikin dia hilang. Karena dia tidak kompeten, Rasyi jadi begini.
Pantas aku untuk cemburu. Aku yang menjaga Rasyi selama ini. Aku yang bikin dia nyaman. Aku yang selalu ikut maunya dia.
Aku ikuti permainannya dia, dia seharusnya ikut juga main denganku.
Aku menyerahkan semuanya. Dia juga harus serahkan ke aku.
Dia sudah main-main sama aku. Aku yang harusnya boleh main sama dia.
Aku sudah cinta dengannya. Dia harus cinta denganku.
Rasyi tidak boleh lebih jauh.
Jangan pergi semakin jauh. Jangan sembunyi dari aku. Jangan sembunyikan apapun tentang kami dari aku.
__ADS_1
Kenapa? Selalu saja begitu! Selalu, kayak aku orang asing.
Aku orang yang paling bisa dipercaya. Dia tidak boleh sembunyikan apapun. Dia tidak boleh selalu menyembunyikan banyak hal. Sebab-sebab itu harusnya aku tahu banyak. Lebih banyak dari cuma tahu kalau dia takut.
.
.
.
Rasyi harusnya tidak terlalu jauh begini.
Aku ingin menahan dia, “Kenapa kamu tidak beritahu aku?!”
“Terus kenapa Harun tidak bilang-bilang kalau tahu?”
Kami saling menjauhi. Aku berteriak dan dia juga.
“Papa bukan pembunuh!”
“Aku tahu, Rasyi. Tapi kayak tante Nita, masih banyak yang tidak percaya.”
“Kau juga tidak percaya?!”
“Bukan begitu!”
Tapi aku mencintainya. Aku tidak mau melepaskannya.
.
.
.
Dinginkan kepala. Memang kenapa kalau dia marah denganku. Cuma perlu di sampingnya. Penuhi kemauan dia. Sampai dia sadar, dia cuma butuh aku.
“Rasyi segitu sukanya sama Harun, ya?”
“Iy⏤ Hah?!”
Aku, hanya perlu ikuti hatiku.
Rasyi bermuka merah, “Jangan keluar topik!!”
“Phht,” aku cuma bisa tertawa kalau sama dia, “Aku tidak dengar apa-apa kok~”
Mau seperti apa saja, aku akan ikut perempuan ini. Sejauh apapun dia pergi, aku akan ikut permainannya.
Aku cuma perlu bertahan sampai dia tidak bisa hidup tanpa aku. Sama kayak yang dia lakukan ke aku.
.
.
.
Cuma...
“Sebenarnya yang menangkap kami itu sudah mengincarku sama papa dari dulu.”
Perlu sabar...
“Makanya dari kecil aku dikurung di rumah terus.”
Sebentar saja... Jadi aku akan lindungi dia.
“Kabur saja. Rasyi tidak perlu bahayakan diri. Rasyi sudah terlalu sering sedih.”
“Harun?”
“Buat apa bareng ayah yang tidak becus jagain kamu? Tidak usah capek-capek pikirin.”
Aku mencintainya. Dia tidak boleh pergi jauh dariku.... Jangan....
“Kabur sama aku yuk. Jadi Rasyi tidak perlu disakiti mereka sama ayahmu lagi.”
Rasyi milikku.
____________________________________________
^^^NOTES^^^
^^^Kalau penasaran, bisa cek lebih jelas di prequel-nya (POV Rasyi) chapter 38, 45, 46 dan 61.^^^
^^^Bagi yang tidak cek juga gak masalah kok. Aku sengaja bikin ceritanya masih nyambung walau tidak baca prequel-nya~^^^
^^^Happy reading~ ♡♡♡♡^^^
__ADS_1