
“Tidak aku duga-duga bisa bertemu dengan papa di tempat ini,” artinya, untuk apa anda di sini?!
“Marah-marah awas stroke,” terima kasih, papa!
“Tante sama Daffa tidak check up?” Fares semakin kewalahan dengan tingkah aktif Daffa di gendongannya.
Ira ini seakan-akan keringat dingin. Kenapa keringat dingin? “Ya kan... itu... keperluan Daffa! Kan, kan tidak... tidak hanya di RS. Ada, itu, baju. Teru popok, susu. Sekalian~”
Fares mengerutkan dahi, “Kan bisa besok waktu ayah ibu belanja⏤”
“O, oh iya. Lupa,” Ira masih aneh, “Daffa katanya mau main ke taman kan~?”
“Iya!”
“Oke!” Ira tampak bersemangat sambil meraih Daffa dari tangan Fares, “Say bye to kak Fares, kak Achi~”
“Jda dah~”
Aaaa.... Apa?
“Iki, ayo. Kalau kamu tidak ada, aku, aku bingung jagain Daffa,” Ira yang mulai pergi berseru.
“Hmmm,” papa dengan turut mengikuti tante Ira sambil tersenyum?
Tunggu... heh?! Tersenyum?!!
Duh! Sempat-sempatnya papa menggosok kepalaku saat ia berjalan pergi.
Kupinta maaf dengan lubuk hatiku terdalam. Apakah benar apa yang kulihat dengan mata ini?
Itu tadi tante Ira sungguh kabur? Jelas sekali kalau dia bertingkah seperti ketahuan mencuri. Benarkah ia hanya memanfaatkan Daffa untuk jalan-jalan bersama papa?
Benar juga. Tante Ira kan suka papa.
“Tadi...,” aku ingin memastikannya lagi pada kak Fares.
Fares tampak lemas, “Maaf.”
Benar? Tante Ira modus?
“Rasyi! Ayo ke Arcade!”
Kaget!!
“Lapar. Makan dulu,” Vian tampak tak senang dengan apa yang diteriakkan Saga.
Saga juga tidak senang, “Tadi sudah ke golf. Giliran aku yang pilih tempat dong!”
“Yakin? Tidak lapar?” nada mengejek Vian sangat panas.
“Udah, iya. Kita ke semuanya. Jangan ribut,” Fares bersusah payah memisahkan mereka.
Huuuuh....
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
“Huaaa...,” aku berusaha menutupi terbuka lebarnya mulutku.
Ini adalah hari yang sangat panjang. Malam minggu yang membiarkan setiap orang begadang bisa mengambil waktu tidurnya di pagi hari. Sehingga tidak ada yang menyalahkan bila kesenangan dipertahankan berlanjut meski jam malam mall hampir menunjuk angka sebelas. Kurasa sebentar lagi pusat perbelanjaan ini akan tutup.
“Ayo bubar, sudah larut,” Fares dengan rasa tanggung jawab besar tidak mungkin meninggalkan anak-anak, yang pada dasarnya belum cukup umur ini, berkeliaran.
__ADS_1
“Jam berapa, memang?!” Saga masih sibuk melihat-lihat game console yang masih fresh.
Kepala Fares berteleng, “Jam kalian pulang.”
“Padahal aku pingin beli baju,” sungguh Vian? Semalam ini?
“Sejam lagi deh. Yah?” Saga mau ke mana lagi sih?
“Jangan kayak anak kecil. Sudah, nurut,” sikap tegas Fares tidak bisa dinegosiasi lagi.
“Setengah jam deh,” Saga masih keras kepala.
Si kembar seperti tidak pernah main ke mall saja.
Biasanya yang suka dengan mall adalah perempuan yang terlalu banyak barang keinginan. Ternyata cowok-cowok seperti si kembar ini ada juga ya. Meski kerjaan mereka kebanyakan main dan makan. Saat membeli sepatu dan baju sebagainya pun, mereka tidak menghabiskan waktu lebih lama daripada bermain satu mesin arcade.
“Kita langsung pulang saja yuk,” Harun sepertinya sadar akan kantukku, berusaha membantu membawakan tas-tasku.
Fares menepuk kepalaku memastikan aku masih kuat untuk berdiri, “Rasyi ikut mobil kakak ya? Takutnya nanti Rasyi ketiduran di jalan. Bisa-bisa sampai rumah Rasyi jam dua belas.”
Iya-ya. Papa tadi kirim chat kalau aku pulang lebih malam, ikut Fares saja.
“Aku bisa pelan-pelan,” Harun mengambil alih seluruhnya semua barang bawaanku.
“Harun, kali ini saja. Paman Rizki sudah pesan ke kakak. Lebih enak juga kan Rasyi tidur di mobil?” oh, jadi kak Fares juga diberi titah oleh papa.
Rumah mereka semua berlawanan arah dengan rumahku. Karena itu aku berharap bisa pulang dengan Firna yang rumahnya hanya seberangan denganku. Tapi kak Fares sudah terbiasa begadang di perkuliahannya. Kalau Harun, sudah belum biasa ditambah lagi membawa kendaraan bermotor sendirian.
“Aku ikut kak Fares saja ya?” ingin sekali meyakinkannya kalau aku juga khawatir dengannya.
Harun tampak ragu, “Iya deh. Tapi aku juga ikut ya. Aku tidak tenang kalau tidak lihat kamu beneran pulang.”
Loh? Sama saja dong, “Rumahku kan jauh. Harun langsung pulang saja.”
Kalau seperti itu aku semakin tidak bisa menolak. Ya, tidak akan ada yang terjadi pada kedua orang yang memiliki KTP dan SIM ini. Si kembar juga tidak perlu khawatir karena dari awal memang ikut Fares.
Aku menyerah dan ikut saja kemauan mereka.
Diri yang kantuk ini seakan tidak berpikir lagi melangkah ke mana. Rasa waspada lenyap karena kak Fares meminjamkan lengannya untuk kupeluk. Harun juga sibuk dengan barang-barangku. Terasa seperti tuan putri yang dilayani.
Mengantuk sekali~ Apa sebabnya kemarin aku tidur terlalu malam karena terlalu asyik melukis, mentang-mentang tidak ada pekerjaan bawaan dari sekolah?
“Bantu Harun masukkan belanjaannya di belakang,” suara Fares.
Sejak kapan kami sampai ke mobil?
“Heh,” siapa yang tertawa itu? “Tidur saja lagi. Nanti kakak bangunin kalau sudah sampai.”
Itu gaya bicaranya kak Fares sih. Mungkin dia juga yang menuntunku ke kursi yang sudah diturunkan sandarannya ini.
Sesekali aku merasa aku ada di tempat lain. Bahkan melihat cerita asing dan akrab yang tidak terjelaskan. Jika dibilang, itu bukan cerita melainkan acara komedi yang memberikan perasaan ngeri.
Dalam waktu lain aku merasakan sepoi angin yang dingin dan suara ramai yang dibekap ruangan. Cahaya dan bayangan rumpang tindih berlalu seperti digerakkan oleh sesuatu.
Mataku terasa perih beberapa saat. Sebelum akhirnya aku kembali ke fantasi yang berbeda.
“Rasyi.”
Ada lagi yang mengganggu telingaku. Cerita aneh apa yang masuk di kepalaku kali ini?
“Sudah sampai. Ayo bangun dulu.”
__ADS_1
He? Memangnya aku pergi ke mana? Entahlah. Semua ceritanya rumit sampai aku tidak ingat.
“Rasyi....”
Lembut. Hangat. Tidak seperti cerita asing yang berganti-ganti di kepalaku. Kali ini aku merasakan belaian yang akrab. Ya, aku mengenalnya dengan baik. Seharusnya. Itu siapa ya? Otakku tidak bisa berputar.
Mataku menangkap cahaya. Tampak samar-samar. Aku tak yakin, tapi itu sesosok bayangan orang lain. Ceritanya dimulai kah?
Sepertinya aku harus mengangkat kedua tanganku ke siapapun itu.
“Rasyi?”
Kenapa terdengar layaknya ia terkejut?
“Gendong Rasyi...,” siapa yang bilang itu?
Tunggu. Itu suaraku.
Suaraku?!
Eh?! Alih-alih maksud lain layaknya terpesona, aku benar-benar terasa diangkat.
Hangat yang kuhirup, terasa nostalgia yang tak begitu kurindukan. Bisa jadi karena terlalu sering kuhirup. Orang ini yang pasti sangat akrab denganku.
“Bi, kasur Rasyi,” suara lain.
Bukannya... itu papa?
“Lah, non?!”
Tunggu. Apa aku dari tadi tertidur?!
Hmm? Elusan di belakang kepalaku. Benar juga, tadi aku merasa diangkat. Sekarang pun rasanya seperti aku sedang berjalan tapi kakiku tidak merasakan tanah.
Jangan bilang?!
“Hmmm...,” aku berpura-pura memperbaiki posisiku sambil menyadarkan diriku dengan keadaan.
Ada orang. Sungguh ada orang yang sedang menggendongku. Bahkan menggendongku di depannya seperti membawa anak kecil.
“Ssst,” suara di telingaku ini. Elusan lembut dan nada suara rendah.
... ini kak Fares ya?
Heeeh?!
Aku diturunkan. Bagian belakangku seperti diletakkan awan yang lembut. Ranjangku?
“Thanks,” percayaanku sangat tinggi pada telinga yang menangkap kalau ini suara papa.
“... iya,” kak Fares kok sempat ragu?
Ya tentu saja, Rasyi! Kalau misalnya ada cewek yang memintamu menggendongnya, apa itu terasa biasa saja dilakukan?! Aku yang jadi ceweknya saja malu! Ini bukan masa kecil yang bisa manja!!
Oh, suara pintu. Mereka pasti sudah keluar semenjak sekitarku terdengar sepi.
Perlahan kubuka mata. Lampu tidur sudah mewarnai remang-remang kamar tidurku yang hanya berisi aku dan barang-barangku.
Kututup lagi. Sekarang wajahku kubekap sendiri di bantal imut sebelahku. Berharap suaraku bisa merendam dari telinga.
“HMMMMMM!!!”
__ADS_1
Malu, maluin!!