Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#40 Takut yang Tak Dapat Dibendung


__ADS_3

Aku masih tidak paham kenapa si kembar mengajakku.


Sejak air mataku pecah sebelumnya di kelas, si kembar terasa... Entahlah. Berhati-hati?


Namun lagi, aku tidak bisa membutakan mataku akan sikap mereka yang seakan sengaja memperhatikan lebih aku. Mengenal mereka dengan berbagai macam kejutan, kurasa bukan tidak mungkin lagi mereka ingin menghiburku.


Sikuku menempatkan diri di ujung meja bundar yang disiapkan untuk tamu, “Kalian ajak buat hibur aku?”


“Kata siapa?” Saga sibuk dengan kunyahannya, meskipun..., “Buat apa hibur kamu? Memang tidak boleh pergi bertiga?”


“Muka sama ucapan beda tuh,” Vian sepertinya menyadari juga kalau wajahnya Saga memerah.


“Mending makan nih,” Saga menyodorkan garpu tanpa isi makanan apapun, “Biar diam!”


Keseruan mereka menggeser fokus telingaku meski kami ada di keramaian. Tempat tiga sampai empat kali lebih besar dari lapangan basket.


Acara ulang tahun yang di lain sisi terdapat konser yang ramai dan di lain sisi penuh dengan stan berbagai dagangan. Kursi kami yang menghadap jauh di panggung konser memang disediakan bagi pengunjung yang berbayar.


Namun tanganku, bukannya makanan, aku sibuk dengan ponselku. Room chat yang bicara sendiri. Balon kata hanya dari sisiku. Menatapi centang dua yang tak terang, sungguh mencekik.


Tak lama lagi, seminggu akan terlewati tanpa kabar dari papa seperti ini.


“Rasyi,” hmm? Oh, kak Ilham? “Penasaran ya sama dies natalis?”


Ia tahu kalau aku tidak pernah ikut ke acara seperti ini. Dan aku datang tak jauh setelah aku mendengar cerita dari beliau. Yang penting aku bisa tenang melihat luka wajahnya yang tak separah yang aku ingat.


“Gimana makanannya?” Ilham memandang si... Saga.


“Ma, maaf kak.”


Ilham tertawa, “Santai. Cuma salah paham, juga.”


“We! Siapa nih~?!”


Dan siapa anda?


“Eh, Ham, kenalin dong!”


“Ei, ei, dia kan si ini!”


Ini?


“Oh iya!”


“We~! Ham, ngapain lu?! Gak boleh!”


“Hai, neng. Siapa namanya?”


“Loh, loh, jangan weh!”


Heh? He heh?!


Kenapa tempat ini menjadi lebih ribut dari konser di depan?! Ini, aku kok jadi dikelilingi lima cowok ribut?!! Ini tidak nyaman! Tolong keluarkan aku dari sini!


“Jangan ribut-ribut,” ... kak Fares~!


“Akhirnya! Yang sibuk dateng!”


“Gak kangen lu apa sama kami, hah?”


“Sini!”


Loh? Loh?! Kok malah adu panco di meja kami?! Salah satu pria asing ini mengambil tangan Fares dan memulai panco tanpa aba-aba. Fares hanya meladeni dan... menang?


Ini kenapa sih?!


“Masih aja kalah lu!”


“Saya kak! Saya kak!” kenapa Saga jadi ikutan?!


Ini meja makan atau meja panco sih?!! Mereka ribut sekali!

__ADS_1


“Have fun?” kak Fares menahan tubuhnya dengan tangan yang membebani sandaran kursiku.


Aku tersenyum, “Hmmm.”


Keributan ini sesaat layaknya mengheningkan Fares, “Kakak mau cek tempat seru. Bukan publik sih, tapi Rasyi bisa ikut kakak kok. Mau?”


Bukan publik? Lalu kenapa aku harus ke sana? “Tidak. Rasyi tidak ikut.”


Fares menarik alisnya ke atas, “Tumben Rasyi tidak kepo.”


Heh? Tumben? Apa selama ini aku terang-terangan menunjukkan diri sendiri seberapa keponya kepribadianku? Berarti aku sudah dengan jelas menunjukkan kalau aku tak punya semangat?


“Yakin? Tempatnya pasti Rasyi suka kok.”


Aku kembali menatap pria ini, “Tidak ganggu?”


“Waa!”


“Katanya rajin gym! Gimana sih?!”


Mereka sibuk sekali ya main panconya.


“Siapa yang berani bilang kakak mengganggu?” Fares... sungguh mengatakan hal yang tidak bisa dibantah.


Bagaimana lagu? Ketua BEM yang berkata. Kurasa aku tidak punya alasan.


Persetujuanku menjalankan kaki kami pergi dari arena tanding panco dadakan itu.


Area ramai, kusadari dikelilingi oleh banner bagaikan pagar sementara. Namun kak Fares memimpin jalan menuju cela banner yang tersembunyi.


Kami menemukan tangga. Cukup banyak anak tangga itu tapi entah bagaimana tidak sampai begitu lelah. Untunglah kakiku sembuh beberapa hari yang lalu.


Disambut oleh koridor lantai tiga. Bisa dengan jelas melihat gemerlap lampu keramaian itu.


Pintu kaca yang terang? Di sini kah tujuan kami?


Wah!


“Tinggal dua orang lagi.”


Mereka tampak sibuk. Namun aku sibuk dengan mataku yang menerawang banyaknya lukisan yang ditata layaknya pameran seni. Berbagai macam gaya cerita yang dipadatkan dalam goresan warna 40 kali 60 sentimeter.


Sekar mungkin tidak paham, tapi Rasyi memiliki jiwa seni yang mungkin dari mamanya. Tertangkap mata akan pemandangan ini sangat menarik.


Ruang yang aku yakini aula ini sungguh disusun manis untuk memajang karya-karya. Khususnya yang di ujung sana.


“Mau lihat ke sana?” Fares menangkap arah penyaksian mataku.


Aku mengangguk.


Jalur yang dirancang dengan susunan kanvas berisi. Hiasan memenuhi aula dengan khasnya akan bulan bahasa. Berhenti aku ke lukisan yang menarik hati.


“Dalam rangka bulan bahasa?” memulai aku percakapan dengan Fares.


“Kelihatan ya?”


“Lukisannya bilang kalau tidak ada bahasa, peradaban juga tidak ada.”


Fares memainkan matanya, “Di mananya?”


Aku tertawa kecil, “Ya semuanya!” aku paham bagaimana bila tidak paham. Sekar pernah buta seni, “Jadi kan ada dua sisi nih. Sisi yang ini⏤”


BYUR!


Byur? Byur?! Kak Fares?!!


“Aa! Sorry sorry sorry!”


Terlalu tiba-tiba. Fares sudah dalam keadaan basah kuyup oleh minuman hasil tumpahan seorang perempuan yang tak tahu dari mana asalnya. Semua orang panik termasuk aku.


Aku bawa sapu tangan! Wajah Fares harus dibersihkan dulu.

__ADS_1


Orang-orang bergerombol dengan kacau mulai dari melihat sampai berusaha membantu Fares yang basah. Kaku, dingin suasana terasa hanya dengan melihat wajah penumpah minuman.


“Kayaknya Mile dendam kusiram air waktu di ospek deh.”


Tadi, Fares bilang apa?


Seketika suasana mencair dengan gelak tawa setelah hening.


“Wah, Mil, parah kamu!”


“Dendam lama banget.”


“Kada, kak ae! Ulun kadada dendam~!*”


“Gak papa, Res. Mojito baik untuk kulit.”


“Gitu kah?” suara datar Fares masih terdengar lucu, “Ada yang bawa baju ganti?”


“Ada nih punyaku.”


Fares memang sesuatu. Kurasa itu yang disebut pemimpin yang baik. Dia bisa mengubah suasana hanya dengan satu kalimat saja. Padahal baru sedetik lalu mereka semua terlihat membeku.


Sungguh tidak terduga⏤seperti sekarang!


“Eh! Fares! Kok ganti di sini?!”


“Langsung aja ye?”


Fares tampak berhasil melepas bajunya selagi menyambut handuk dari tangan yang lain, “Dingin banget.”


“Ya iya lah. Tuh es semua isinya!”


Kak Fares ternyata sangat acak. Namun memang ia terlihat sangat kedinginan, ditambah ruangan ini penuh AC.


Oh, ada daun mint menyangkut di rambutnya.


Sosok yang memperlihatkan sisi kirinya itu tampak sibuk untuk menyadarinya. Kubantu ambilkan saja deh⏤


(“Jangan!!”)


(“Buta kamu!! Tidak bisa kalau seperti ini! Fares!!”)


(“Lepaskan!!”)


(“Fares!! Jangan!! Rizki lepaskan! Jangan!!”)


“Bernafas!”


“Hah!” sentuhan itu memaksaku untuk mengambil nafas. Wajahku tertahan oleh sepasang tangan.


Fa... res...?


“Rasyi?” kutangkap suar Fares yang mungkin bingung selagi aku memeluknya.


Tidak bisa. Aku takut. Aku tidak mungkin menang dari ketakutanku. Ini berlebihan. Bukan seperti kejadian Jagad, kali ini aku tidak bisa menerimanya.


Hangat tangan Fares membalas pelukanku, “Kakak minta maaf. Rasyi jadi ingat ya?”


Luka bekas jahitan di bahu kiri Fares. Yang terkait erat dengan masa lalu. Padahal aku mengira sudah baik. Namun ketakutannya menumpuk kembali sekejap saat mataku bertemu dengan lukanya.


“Kakak panggilkan ayah Hendra ya? Biar Rasyi ikut pulang.”


Aku menggeleng kuat, “Jangan! Nanti kak Fares hilang kayak papa!”


“Rasyi!” Fares melepas pelukanku dan menahan lagi wajahku, “Kakak sama papa Rasyi tidak hilang!”


“Papa sudah seminggu tidak balik! Gimana ceritanya tidak hilang?!” aku memaksa memeluknya, “Tolong..., aku mau di sini...” tangisku akhirnya pecah.


“Iya. Rasyi ikut kakak. Jangan nangis ya?” Ia kembali memelukku. Menghangatkan diriku yang masih gemetar.


________________________________________

__ADS_1


^^^*) Persembahkan, logat banjar (KalSel) dari Mile yang artinya “Gak kak! Aku gak ada dendam~!”^^^


__ADS_2