Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#Special5 Sedikit Lebih Besar, Sedikit Lebih Pendek


__ADS_3

“Cakep banget~”


“Cepetan minta sosmed-nya!”


“Berisik!”


Lima menit di sini sudah seribut ini. Capek.


Namaku memang tidak seluas dulu. Tapi muka tetap sama. Kemana-mana, orang selalu bisik-bisik.


 Jam berapa ini? Rasyi lama sekali.


“Abi!” itu dia orangnya.


“Nanna lama.”


Dia tersenyum, “Maaf~ Abi juga sih tidak mau jemput Nanna~!” duduk di depanku.


“Siapa yang lupa bayar pajak kendaraannya Abi?”


Mulutnya manyun, “Itu salahin Pappa!”


“Heh.”


“Jangan ketawa!”


Pasti sukses bikin aku ketawa. Sudah lebih dari sepuluh tahun lewat, dia masih bertingkah kayak putri umur dua puluhan.


“Kenapa Nanna datang jam segini? Pamerannya Abi dua jam lagi,” dari sini bisa kelihatan menu di papan atas counter.


“Kencan?”


Hari ini..., “Nanna mau ngaret selesaikan komiknya Nanna kan?”


Matanya main ke tempat lain, “Tidak....”


Sudah punya cucu delapan belas tahun, dia masih begitu saja. Dulu, salah di mana besarkan putri ini?


Jauhkan punggung dari sandaran kursi. Lebih ke arah meja di depan, “Kalau tidak selesai juga masalah Nanna.”


Auw. 


Tangannya dia sudah cubit pipiku, “Bilang apa tadi~?”


Sakit juga, “Tidak.”


Ya, setidaknya dia masih tertawa. 


Kembali lagi ke menu di dalam, “Nanna, belikan Abi makan, ya? Abi lapar.”


“Iya... Pesan saja,” dia memiringkan kepalanya, “Bilang apa~ Ke Nanna~?”


Heh. Dia mau begitu mainnya?


Mataku ke arah lain, “Nanna, kerja, jangan malas-malas⏤auw.”


Dia cubit pipiku sakit sekali, “Iiish! Udah cepat pesan sana~!”


Ambek lagi. Siapa yang nenek, siapa yang cucu?


Lucu juga.


“Nanna mau pesan apa?”


Hmm? Huuuh....


Rasyi ini melamun lagi. Kali ini dia sambil lihat ke sini.


Kebiasaan melamun Rasyi sudah jadi kebiasaan kami juga. Terkadang dia jadi sangat pendiam. Fares tidak bisa apa-apa selain tetap di samping Rasyi. Pelan-pelan, kami... seperti terima kalau beginilah Rasyi.


'Nenek yang ceria. Tapi sering masih sedih kehilangan ayah, anak dan menantunya. Mau gimana lagi, semuanya terjadi satu tahun saja.'


Lambat laut, image itu mengelilingi Rasyi. Dia saja tidak sempat memikirkannya karena sibuk melamun.


“Nanna,” aku panggil, dia tidak jawab.


Yang berubah, hanya satu. Dia lebih sering melamun saat melihat ke aku.


Orang-orang, tetangga dan teman, tahu kalau 'Abizar' dan 'Rizki' serupa. Aku ada di depan sini saja, ingatkan Rasyi tentang 'Rizki'. Semua... Tahu.


Ini baru awal kuliah. Bila aku sudah sampai umur orang kerja, seberapa sering lagi dia melamun?

__ADS_1


Setidaknya dia sudah jarang menangis di malam hari. Dia juga lebih sering keluar rumah. Layaknya... Dia mau membiasakan semua kehilangan itu.


Huuuh....


Genggam tangannya, “Nanna.”


“Eh? Kenapa?”


Hela nafas, “Abi tanya, Nanna mau pesan sesuatu?”


Dia tersenyum, “Maaf~ apa ya...? Jus saja deh.”


Aku hela nafas, “Nanna sudah makan pagi ini?”


Matanya. Selalu saja alihkan percakapan.


Begini terus.


Rasyi masih bisa senyum kalau makan yang manis. Harusnya ada ice cream less sugar di sini. Tapi dia juga harus tetap makan.


Dorong kursi, berdiri, “Abi pesankan sandwich sama ice cream.”


“Omo~” Rasyi senyum cerah, “Makacih~”


Oh iya, “Nih,” aku kasih lembaran ke Rasyi.


“Apa?”


“Questionnaire kating. Katanya tentang cewek atau apalah. Abi juga tidak paham,” kasih juga pulpen dari tas ransel, “Nanna tolong isikan ya?”


Mukanya sudah seperti mau ambek untuk satu minggu penuh. Heh. Itu bikin ingat waktu dia masih SD.


“Daripada tidak ada kerjaan,” aku pergi. Sempat dengar Nanna hela nafas.


Itu bisa hindarkan dia buat banyak melamun. Rasyi juga bukan orang yang suka tidak mengerjakan apa-apa. Seperti... ingin menghabiskan waktu mengerjakan sesuatu daripada diam.


Pesan saja dulu dengan cepat. Jam segini tidak banyak yang berkunjung. Bisa kembali cuma sekitar dua puluh menit.


Tapi kayaknya itu terlalu lama.


“Wah! Abi mah kagak bilang ke sini sama pacar~!”


Orang-orang ribut yang mengaku teman. Bagaimana mereka tahu aku di mana?


Aku dorong dia, “Kak Triya, tidak usah teriak. Kedengaran.”


“Tapi cantik sih~ Pantas Abi tidak pernah bilang.”


Rasyi senyum saja, “Makasih~”


Inilah kenapa aku tidak bilang, kalau nenekku sendiri datang ke pameran. Siapa yang berpikir? Putri ini berpakaian maxi skirt dan kaos yang berwarna cerah. Kalem tapi bukan pakaian untuk nenek-nenek.


“Nanna,” aku mulai dari mana? “Ini Eghi, Fidi terus ini kak Triya yang punya Questionnaire-nya.”


“Oh~?” Nanna kasih kertas tadi, “Sudah selesai nih~”


Triya marah. Ambil kertasnya cepat, “Dengar ya, Nana~ Jangan besar muka cuma karena kamu jalan sama Abi! Aku duluan!”


Huuuh, here we go again.


“Hmm..., kenapa memangnya kalau AKU kencan sama Bi Bi~?”


Panggilan apa lagi itu? Rasyi benar-benar niatnya cari ribut.


“Bi? Bi Bi?! Kamu panggil Abizar begitu?! Kurang ajar!”


“Bi Bi tidak masalah tuh~” dia senyum ke arah aku.


Aku bisa protes apa? Orang yang memberi aku panggilan itu adalah orang yang memberikan nama di akta-ku. Cuma bisa terima saja.


Kapan dia sampai sini.


 “Loh, pada ngumpul di sini,” ada kak Brem.


Sampai juga. Waktu yang tepat. Orang yang tidak peka. Tapi karena ini juga aku mengundang dia ke sini. Mau bagaimana pun, aku dan Rasyi saja di tempat umum bisa jadi masalah.


“Kak,” aku panggil dia, “Tolong bantu.”


“Bantu apa?” dia akhirnya dekat ke sini. Lihat Rasyi, “Oh, nenek.”


Sudah selesai akhirnya.

__ADS_1


“Abi gak bilang ada nenek,” dia minta izin cium tangan Rasyi, “Nenek makin cantik aja.”


“Thank you~ Brem udah lama banget tidak di rumah,” muka Rasyi puas sekali bercanda.


“Ne, nenek?!”


Duduk saja dan biarkan Brem selesaikan.


“Apanya?” Brem masih bingung, “Kalian sudah kenalan sama nenek Rasyi. Neneknya si Abi.”


Muka mereka benar-benar kaget.


“Ma, ma, maaf nek! Itu tadi....”


“Salahin Fidi nek. Dia yang bilang duluan nenek pacarnya Abi.”


“Lah?! Kenapa aku?”


“Hihihihihi,” ketawa saja si Rasyi, “Nanna tidak tahu ternyata teman-teman Bi Bi kayak gini. Bi Bi sih tidak pernah cerita sama Nan~ Na~”


Dia masih saja tidak mau berhenti bercanda.


“Nanna,” aku tidak bisa biarkan Rasyi terus bercanda.


“Iya, iya~ Hihihi,” Rasyi memiringkan kepalanya, “Tidak pada duduk? Nanna traktir deh~”


Setidaknya Rasyi bisa senyum. Ramai begini bisa bikin Rasyi lupa sedihnya dia.


Dua jam yang tenang...?


...


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


Kelihatannya Rasyi menikmati waktunya. Dia sudah belajar banyak seni lukisan. Akhirnya banyak yang dia bisa apresiasi.


Semuanya baik. Mukanya kelihatan senang sekali setelah dari cafe tadi. Bicara yang senang. Rasyi juga mau makan. Tempat ini tidak terlalu ribut dan ramai, cocok buat Rasyi.


Tapi... ada yang salah....


“Abi...,” siapa yang bisik-bisik?


Suara itu, Tanisha, “Katanya sibuk.”


“Aku juga bilang I’ll working on it,” dia senyum ke Rasyi, “Hai, bu’de~”


Rasyi “Hai~”


Ada sesuatu yang salah. Rasyi seperti lelah. Kenapa? Dia bersenang-senang dari tadi.


“Abi, temani aku sebentar dong.”


Hela nafasku, “Temani apa? Tidak bisa.”


“Kasar amat, temani sana,” Rasyi mudah saja bilang begitu.


“Tapi kan Nanna masih di sini,” aku khawatir tentang Agoraphobia-nya.


Dia senyum, “Apanya~? Nanna bisa tunggu di sini.”


Semuanya terasa tidak nyaman. Ada yang salah, ganggu keadaan. Tidak tenang.


“Tidak. Abi tetap temani Nanna.”


Rasyi majukan bibirnya, “Kalau begitu, Nanna yang pergi.”


“‘Nanna.”


“Nanna cuma di dalam gedung kok, tidak....”


Ini salah. Ada yang salah!


“Nanna?” aku dekati lagi, “Nanna?”


Rasyi!


Ini salah! Rasyi seharusnya tidak pingsan begini!!


___________________________________


^^^One more bonus guys. Besok udah Finale huhuhu^^^

__ADS_1


^^^( Ĭ ^ Ĭ ) ^^^


__ADS_2