Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#38 Setengah Lingkaran


__ADS_3

“Gimana? Aku harus bicara lagi sama Saga?” aku memainkan pensil.


Firna mengerutkan kening, “Buat apa? Sudah kelewatan, harusnya dia yang berani minta maaf langsung.”


Memang mengingat masa lalu itu bermula dari terganggu akan ucapan Saga. Namun tak salah bila Saga tidak mengenali Jagad. Ucapannya sekedar kebetulan yang pahit.


“Saga kan tidak tahu.”


Merapat kerutan itu, “Tidak harus kasar juga.”


“Pada dasarnya aku yang desak dia tanpa alasan.”


Firna masih berkerut tapi artinya berbeda. Ia menyentuh keningku, “Rasyi sakit?”


Heh? Kalimat itu seakan dia melihat seorang teman yang bertingkah tidak seperti biasanya.


Padahal aku berusaha tenang dan berpikir rasional. Apa itu bukan gayaku selama ini? Jangan bilang Rasyi di hadapan orang adalah yang selalu bertingkah kebalikannya?


Senyumku terasa bergetar, “Harus sakit dulu ya baru bisa logis?”


“Marah waktu begitu juga logis kok. Aku sih juga bakal tidak suka kalau minta maafnya dari bunga doang. Kasih bunga sih nilai plus, kalau dikasihnya langsung.”


“Tapi...?” aku merasakan dia menahan ‘kondisi lain’ di lidahnya.


“Tapi aku tidak mungkin bisa sampai semarah Rasyi. Palingan aku marahnya diam.”


Ha ha ha. Bukannya itu lebih mematikan bagi para pria? Sekar pernah melihat fenomena ini dari sekitarnya. Dan hasilnya? Pasangan itu putus dan tidak pernah mau bicara walau ada di satu ruangan.


Ditambah lagi, aku memang bukan orang yang suka diam.


“Rasyi! Dicariin si kembar!”


Hm? Saga Vian? “Bilang, ‘tunggu’!”


Aku berdiri dari duduk yang tentu masih terganggu dengan kakiku. Namun dengan sandal empuk dan pemulihan beberapa hari, rasa sakitnya semakin memudar. Berjalan sendiri di depan kelas bukan masalah. Sampai akhirnya aku menemukan sosok yang berdiri di depan kursi koridor.


“Saga?” suasana ini tidak seperti aura biasa yang mengelilingi Saga. Dia seperti melakukan apa yang di luar karakternya, “Kenapa?”


Krem manis boneka dikelilingi bunga mawar berwarna merah muda. Tangan besar itu memegangi buket yang bermahkotakan rangkaian kertas yang menumpuk-numpuk indah dengan warna yang seragam dengan mawarnya.


Heh?! Saga?! Ia mengulurkan ini?! Di depan banyak orang?!


“Maaf. Aku keterlaluan kemarin,” lelaki ini tampak sedih, “Sumpah, aku tidak ada maksud singgung siapa-siapa.”


Menyinggung? Dia tahu kalau dia menjamah keadaan tragis Jagad? Kalau bukan, siapa lagi kan?


“Saga tahu Jagad dari mana?” aku membuka mulutku.


“Kemarin aku tanya ke kak Firna. Kalau kamu bilang duluan⏤tidak,” ia mengulurkan buket itu lebih dekat, “Aku yang mestinya peka. Maaf.”


Permintaan maafnya yang dicampur dengan rasa bersalah sangat tidak biasa dengan karakter Saga. Bukannya aku tidak suka dengan sikap gentleman itu, tapi harus sekali mengatakannya di depan umum?!


Rasyi, apa yang kau lakukan?! Kamu membuat orang yang percaya dirinya tinggi ini menjadi seperti pendosa yang tidak bisa dimaafkan walau dihukum berat. Omongan besarku harus bisa aku kendalikan biar setidaknya tidak membuat malu di depan mata orang banyak!!


Pantas saja papa mengatakan aku kelinci penipu yang tidak pernah berpikir!


“Tidak, tidak!” aku mendorong buket itu kembali, “Ini salahku. Aku terlalu mengebu-ebu. Saga tidak perlu minta maaf.”


Berkat papa, aku sudah tersurat alasan kenapa aku termakan oleh amarah. Alasannya hanya karena aku takut masa lalu menangkapku lagi. Tidak ada alasan yang bisa aku pikirkan selain itu.


Saga tak berkata apapun. Ia bahkan terlihat terkejut dan bingung di saat bersamaan....

__ADS_1


“Ditolak kah?”


“Rasyi kan memang sukanya sama Harun.”


“Kasihan ya dia sudah bela-belain sampai segitunya.”


Eh? Eh?!!


Duh! Harus gimana ya? Duh! Ini, itu... aaargh! Aku harus mencairkan suasana yang kulut ini!


Langsung aku ambil lagi buket itu dari tangan Saga yang masih dilanda kebingungan, “Ini salahku!! Saga tidak perlu minta maaf!! Aku tidak suka kamu, aku sukanya Harun!”


...


Mata Saga terbelalak dengan tangan yang masih mengulurkan kehampaan setelah buket itu kembali kurebut, “Hah?”


“Beneran ditolak dong!”


“Mentah-mentah.”


Aaaargh!! Itu tadi apaan?!


“Rasyi?”


Langsung aku tunjukkan telapak tanganku ke arahnya, “Aku terima bunganya, makasih.”


“... oke...,” Saga masih saja terlihat aneh.


Sial! Aku tidak pernah terbiasa dengan pembicaraan yang dilihat banyak orang seperti ini! Memangnya aku apa? Topeng monyet?!


“Tidak suka bunganya ya?”


Kenapa lagi dia membahas itu?! Dia melanjutkan percakapan seperti kita tidak ada di tempat ramai! Tidak sadar apa banyak sekali pasang mata yang mencuri pandang di keanehan kita?!


“Oo..., baiklah.”


Eh?! Apa lagi maksud dari senyuman itu?!


Dan orang-orang di sekitar semakin ribut dengan bisikan yang gagal dirahasiakan oleh mereka.


“Anu...,” aku sampai tidak bisa berkata-kata! Aku harus ajak dia ke suatu tempat yang sepi!


“Kenapa?” Saga sepertinya mengalihkan pandangannya ke sekitar.


Sadarkah dia dengan keadaan?


Tunggu, ada apa dengan tatapan mengancamnya kali ini?! Orang-orang yang sadar melangkah pergi bertingkah selayaknya tak dengar apapun.


Dia melakukannya lagi.


Saga tersadar akan tatapanku, mata keras itu melembut, “Aku cuma suruh mereka pergi!” ia mengalihkan pandangannya, “Kalau Rasyi tidak suka, aku juga tidak akan berkelahi lagi kok.”


Kunci mulutku tak bergerak. Ekspresinya yang terlihat tertekan dengan kemerahan di sekitar pipinya. Ia melakukan semuanya hanya meminta maaf padaku. Dia sungguh melakukan apa yang aku minta padanya.


“Aku tidak suka melihat orang pukul-pukulan sampai seperti kemarin. Mungkin aku jadi teringat,” aku mendekatkan buket itu sampai menutupi setengah wajah, “Tolong jangan terlalu kasar.”


Saga terkejut. Entah kenapa wajahnya semakin memerah, “Ya, kalau aku begitu, bisa saja kan tampar aku lagi?”


Hmm?! “Hihihihihi,” dia meminta aku menamparnya? Itu sangat mencairkan suasana, “Aku akan tampar sekeras mungkin.”


“Yah, nanti aku tagih cookies-nya.”

__ADS_1


“Enak saja!”


Oh, benar! Masalah sudah selesai, sekarang tinggal hal ini.


“Tentang pernyataanmu kemarin...,” aku mungkin akan merenggangkan hubungan kami tapi aku juga tidak mungkin tidak menjawabnya.


“Udahlah. Itu cuma keceplosan.”


“Tapi⏤”


“Lewat. Aku sudah menyerah kok.”


Hmm?


“Mau usaha gimana? Kamu tadi aja bilang sukanya Harun.”


Kenapa dia mengingatkannya lagi?!


“Aku tidak bakal ganggu. Jadi... semoga baik-baik sama Harun,” ia tersenyum asam.


Sosok lelaki ini bisa aku baca dengan baik. Tidak suka dengan apa yang mulut sendiri katakan, tapi juga tidak senang mengambil langkah sebaliknya.


Tentu aku akan memilih Harun. Dan ia mengetahuinya dengan baik. Ungkaian yang sangat manis. Mustahil aku membencinya.


Kuserahkan senyuman sehangat mungkin, “Terima kasih~”


Pahit asam senyum itu berubah nyaman dipandang. Barangkali ini bentuk pemurnian untuk kekacauan di antara kami.


Bersyukur. Masalah selesai dengan tawa. Canggung itu hilang dengan waktu candaan kami. Layaknya tidak terjadi apapun.


Kurasa memang papa disebut jenius bukan tanpa alasan. Lontaran kalimat papa waktu itu bukan kebohongan yang mendorongku ke rasa perih. Namun apa yang aku pikirkan saat itu setelah aku tahu? Disebabkan oleh kalimat itu pula, lengkungan itu sungguh terbalik.


“Rasyi!”


Paman Hendra? Kenapa dia ada di⏤


“Kamu tidak kenapa-napa kan?”


Aku termenung, “Tidak apa. Kenapa?”


Tunggu, aku tidak merasa baik....


Dia menghela nafas, “Tidak, paman cuma⏤”


“Papa kenapa?”


Gelagat itu. Dia mencoba menyembunyikan sesuatu, “Tidak kenapa⏤”


“Paman,” aku tidak menyukai suasana ini. Jangan. Jangan....


Langsung aku mengambil ponselku di kantong rok abu-abu yang kukenakan. Membuat panggilan pada nomor papa yang baru saja pagi buta ini pergi. Ia berangkat dengan pesawat. Sudah siang seperti ini seharusnya sudah sampai tujuan.


... kenapa tidak diangkat? Sesibuk apapun, dia akan mengangkat dan setidaknya bilang akan menelponku nanti.


Ada apa sampai panggilan kelima tidak diangkat?


Kupandang kembali Hendra, dengan mata yang aku yakini sudah basah. “Paman... papa ke mana...?”


Hendra, kenapa dia ragu? “Paman juga tidak tahu.”


Saat hari yang suntuk, aku tahu aku tidak akan bisa tersenyum.

__ADS_1


“Ras!”


“Rasyi! Rasyi, bangun!”


__ADS_2