Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#94 Mengunjungi Tamu


__ADS_3

Tertegun aku duduk. Kurasa aku bisa tenang karena mereka tidak protes saat aku memilih duduk di antara mereka. Namun, aku juga bingung mau bereaksi bagaimana.


“Sag, lihat nih,” Vian mengulurkan ponselnya ke arah Saga, “P’misi.”


Ups, “Maaf,” kutundukkan tubuhku membuat mereka bisa memandang satu sama lain di belakangku.


Mereka, sibuk sendiri? Kedua orang ini tidak bertingkah layaknya aku tidak ada di sini, kan?


“Vin,” Saga mau mengulurkannya lagi.


Kali ini aku sengaja menghalangi mereka. Berkali-kali aku mengikuti arah tangannya, sampai wajah Saga tidak santai lagi.


“Ngapain, sih?!”


“Aaa!” aku ditarik dan leherku dirangkul oleh Saga.


“Vin!” Saga berhasil menyerahkan kembali ponselnya.


Iiish! “Lepasin! kecekik!”


“Kamu sih gangguin orang!” Saga melepaskanku.


“CaPer doang, Sag.”


Tidak salah lagi, suasananya hangat. Kurasa benar kata Firna kalau mereka sudah tidak marah lagi padaku.


“Dasar pendek,” apa yang Saga bilang?!


“Hiish!” kusambut dengan desis sang ratu ular.


Kami malah saling mengejek dengan ekspresi jelek masing-masing.


“Tuh kak Fares,” Vian membubarkan pertikaian kekanakan kami.


Kami memang berdiam diri di cafe dalam kawasan kampus Fares. Meski aku tidak tahu apa tujuan mereka ingin menemui Fares, bukan hal yang aneh mereka kemari. Namun tidak dengan aku.


Apa... kak Fares akan menjauhi aku lagi?


“Oi! Kak!” Saga mulai memanggil sosok itu.


Tuh kan, Fares terlihat tidak nyaman. Wajahnya tegang hanya dengan memandangku.


“Kak, jadi, kan?” Saga menanggapi pria ini.


Mereka merencanakan sesuatu kah?


“Sorry ya. Kakak masih ada urusan,” kak Fares tersenyum canggung.


Vian terkejut, “Yah, udah pesan tiketnya.”


“Nanti kakak gantiin deh,” Fares melangkah pergi, “Maaf ya.”


Dia bahkan tidak menghiraukan aku.


“Kak!” Saga berteriak bangkit dari duduknya, “Hari ini padepokan kan?!”


Fares memberikan tanda tangan ‘OK’ dari jarak yang sudah jauh. 


Saga kembali duduk dengan lemas. Melanjutkan makannya dengan tenang.


“Tumben tidak tanya-tanya?” Vian menikmati ice blend miliknya.


Aku terdiam sejenak, “Apanya?”


“Biasanya jadi tukang kepo,” Saga melanjutkan.


Haruskah kalian menggambarkan sejelas itu tentang pandangan kalian padaku?


Saga bertanya, “Kenapa ikut ke sini kalau gitu?”


Alasan aku mengikuti mereka...? “Mau kumpul sama kalian~?” kupamerkan wajah imutku.

__ADS_1


“Jijik!” Saga! Anak tidak ada disyukuri ini!!


Langsung aku serang garpunya, “Makan yang lahap ya~” aku jojolkan makanannya sendiri penuh di mulutnya, “Biar mulutnya tahu kapok!”


“Ras,” Vian tiba-tiba bicara, “Kak Fares juga kena? Harun.”


Gerakanku berhenti.


Saga berhasil mengunyah habis makanan di mulutnya, “Kamu masih mau sama dia? Dipertahanin apanya lagi? Buang, kalau sudah gila dibuang”


Apa yang aku pertahankan?


“Kamu maunya apa sih?” Saga masih berlanjut.


Pertanyaan itu. Seperti pertanyaan Firna kapan lalu.


Jawabannya... Tidak tahu....


“Mau ikut ke padepokan juga, Ras?” Vian?


Saga melanjutkan makannya, “Buat apa?”


“Ada kak Fares nyusul kok. Kami tidak bakal bisa kerjain kamu,” Vian menyeruput minumannya.


Lagi, Saga mengelak, “Lah, iya. Buat apa?”


“Kan lihat-lihat doang. Kamu mau ninggalin Rasyi di sini?”


Saga jadi diam.


Aku memahami keadaannya. Dulu mereka memang sesekali mengajakku pergi bersama dengan mereka. Itu juga karena aku lesu. Kurasa ini yang membuatku sayang dengan mereka.


Aku ikut saja!


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


Ra, ramai sekali.


Seperti anak-anak kecil ini?


Kutatap si kembar, “Kalian latihannya bareng semuanya?”


“Ya kayak latihan rutin. Kalau mau sesuai kelas nanti ada gurunya sendiri,” Saga mengulurkan tasnya ke Vian, “Dah.”


Loh? Kok Saga pergi sendiri?


Kenapa Vian tidak ikut⏤oh, iya. Otakku memang kadang-kadang dangkal ya~? Tidak ada alasan lain selain asmanya Vian.


“Duduk situ yuk,” Vian merangkul tasnya.


Aku mengikutinya, “Sepanjang latihan kamu, tungguin terus?”


Dia tertawa kecil, “Kadang-kadang aku tinggal ke cafe. Lebih asyik lah daripada di rumah. Mau langsung ke sana?”


Hmm..., “Lihatin dulu sebentar.”


Kami hanya duduk di sana. Melihat banyak orang bergabung dan berbaris untuk latihannya. Aku tidak paham apa yang mereka pelajari, tapi itu asyik dilihat.


Oh, kak Fares sudah ada di situ. Sepertinya benar kalau kak Fares sudah senior. Dia bergabung dengan para pembimbing yang ada di depan barisan.


Dengan percakapan ringan dengan Vian, aku berhasil melewati tiga jam lamanya menunggu di sana. Wow!


“Weee, Sovian? Pacar?”


Hmm?


“Teman,” Vian menanggapi orang-orang berseragam ini, “Iri ya?”


Canda dan tawa, menggema di dalam gedung dengan tidak terkendali. Orang-orang ini tidak banyak menghiraukanku, membuat mataku memilih untuk mencari-cari di mana kak Fares dan Saga.


Sepertinya mereka pergi ganti baju.

__ADS_1


“Siapa nama lu?”


Heh?


“Yakin bukan pacar?”


Vian bersuara, “Bukan.”


“Emang napa? Lu mau godain?”


“Siapa tahu jodoh.”


Wow, aku merasa tersanjung. Namun aku tidak akan nyaman kalau kalian mengelilingiku seperti ini!


“Aku kayaknya pernah lihat kamu di sosmed deh.”


“Rambutnya cantik. Pake apa?”


“Masih SMP ya lu?”


Seketika, aku jadi badut yang menarik minat anak-anak hanya dalam lima detik ya~ Padahal aku tidak bicara apapun. Teman-teman si kembar tidak kalah heboh ternyata.


Me... mereka jadi mengerikan ya~ Ha ha....


“Eh!! Ngapain?!” Saga? Tak tahu menahu, dia sudah berdiri di depanku.


“Oh, pacar Sagara?”


Tersentak pundak Saga, “Berisik! Bukan!”


“Bohong nih bohong.”


Saga malah ikut-ikutan ribut di depanku. Membuatku tidak ada pilihan lain selain membeku di tempat sambil membelakangkan punggung sedikit demi sedikit.


Untunglah ini bukan hal yang bisa membuat aku sampai sesak nafas. Karena ada Saga dan Vian di sampingku. Namun tolong, jangan makin ribut. Tolong dengan sangat nih! Tolong!!


“Kalian mau takut-takutin orang atau apa?” teguran ini, aku kenal suara ini!


“Yeh, kak Fares mah. Kan cuma kenalan.”


“Sudah, bubar, sudah mau malam,” kak Fares tampak tegas dengan wajah khas milik Hendra, “Rasyi juga.”


Hmm? Kenapa tiba-tiba kak Fares memperhatikan aku?


“Thanks, Vin udah bareng Rasyi. Kakak yang antar Rasyi pulang.”


Vian ikut berdiri, “Oke.”


Suaranya lembut. Gesturnya tegas tapi tidak lupa membungkuk ke arahku. Layaknya ia sering lakukan.


“Rasyi? Kenapa? Tidak bisa nafas?” kak Fares terdengar panik.


Padahal aku hanya memeluknya.


“Ya udah, kita langsung pulang, Sag,” suara Vian terdengar dekat.


“Oke. Kami duluan,” suara si Saga, “Ras!”


“Hmm mmm!” aku tidak memalingkan wajahku dari pelukan Fares dan hanya mengangguk.


Aku mendengar sekitaran tempat menjadi jauh lebih tenang. Kurasa semua orang memilih untuk pulang. Hanya butuh waktu dua tiga jam sampai malam tiba.


“Rasyi kenapa? Ada yang sakit?” elusan Fares semakin lembut.


Mempertahankan pelukanku dan masih merespons dengan gerakan kepala.


“Yuk, kita pulang,” suaranya yang masih hangat malah membuatku tidak ingin bergerak.


Tak ada yang berbeda dari biasanya.  Menemukan fakta itu membuatku bisa merasakan semilir angin dingin yang tidak bisa aku temukan beberapa lama ini. Lega dan senang ini sungguh menyerangku sampai hati terdalam.


Kurasa aku merindukan Fares seperti ini lebih dari yang aku duga.

__ADS_1


Pelukanku lebih erat, “Makasih sudah tidak jauhi Rasyi lagi.”


__ADS_2