Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#118 Datang dan Pergi


__ADS_3

“Kita ngapain sih di sini?” Firna masih mengomel.


Aku duduk manis dengan kedua siku di meja cafe. Menahan wajahku untuk lebih santai memperhatikan sekitar. Kanan, kiri. Seperti tidak ada kerjaan, menyamakan diri dengan kipas yang geleng-geleng.


Usaha itu hanya untuk mencari satu orang.


“Mau cari kak Fares, cari sendiri dong.”


Kutatap Firna dengan posisi yang sama, “Saga nanti ke sini.”


“Yah...,” ia tampak menyayangkan dan langsung duduk lebih santai, “Mau ngapain sih?”


“Lihat keadaan,” aku masih mencari sosok pria yang menggalaukan hatiku dalam satu bulan ini.


Semua ini karena aku tidak menyukai keadaannya.


Aku tidak lelah-lelah memikirkannya. Tidak, aku sebenarnya sangat lelah dengan kemarahannya yang dibuat-buat. Untuk apa dia membohongi orang yang pasti sangat kenal dengannya? Semua pasti sudah menyadari Fares yang biasa dari sekilas pandang.


Dan matanya yang biasa selalu tampak sedih. Bukan Hendra dan papa yang tidak suka berekspresi, Fares tampak seperti... menanggung banyak kesedihan.


Apa yang dipikirkannya?


“Rasyi,” Firna menusuk pipiku, “Dia siapa?”


Siapa?


“Hai~”


...


Padahal anda adalah orang terakhir yang ingin aku ajak bicara!


“Lagi cari Fares? Katanya sih rapat BEM. Dekat-dekat pergantian anggota soalnya.”


Hmm? Jadi Fares sudah mau masuk masa purna?


Bukan itu masalahnya! Kenapa kamu jadi ambil duduk di samping kami? Hei! Anda tidak diundang!


“Temen Fares juga ya?” Riri mulai berbicara dengan Firna yang kebingungan, “Oh, kenalin, aku Clarissa. Satu angkatan sama Fares~”


“Firna, bestie-nya Rasyi,” Firna tersenyum, “Aku tidak gitu dekat sama kak Fares sih.”


“Hmm... emang kenalnya dari mana?”


“Dari Rasyi.”


Maaf, ladies, kenapa jadi anda merumpi seperti ini? Kalian bahkan tidak saling mengenal lima detik lalu. Ada yang aku tinggalkan kah sampai kalian bisa akrab dengan cepat?!


“Kalau, Rasyi, kenal Fares kapan?”


Aku pamerkan senyum sangat manis, “Dari lahir~” makanya kamu mundur saja, ya?!


“Wa? How come?”


Kepo banget sih nih orang. Aku tahu kepo itu sangat menyenangkan, tapi kepo juga bisa membunuhmu!


“Rasyi sih dari kecil sudah diasuh sama ibunya kak Fares,” terima kasih deh, Fir. Anda sangat berguna di sini. Pergi saja sekalian!


“Oh!” Riri ini terlihat terkejut, “Jadi kamu si adik itu?!”


Adik?!


Hm..., maksudnya dia bukan ‘kamu cuma adik jadi jangan merangkak seenaknya’ kan?!


“Jadi penasaran,” Riri menekuk tangannya, membungkuk lebih dekat ke arahku, “Fares kalau ngomong sama kamu, jadinya gimana?”


“Tidak ada yang special....,” aku tidak mau kamu semakin penasaran. Tolong pergi lah.


“Masa sih?”


Berhenti memberikan pertanyaan padaku!!

__ADS_1


“Udah dari kapan di sini?” Oh, ternyata dua orang yang dekat kemari.


Salah satunya saja seenaknya ambil kudapan yang sudah aku pesan untuk diriku sendiri. Padahal mood-ku sedang tidak baik.


“Cuma segini makanannya? Udah susah ke sini, gak ditraktir gitu?” Saga masih seenaknya masih belum puas juga.


Aku malah semakin tidak senang, “Punya duit monopoli atau gimana? Beli sendiri!”


“Kalian...,” hmm? Riri?


Wajahnya kenapa jadi terkejut? Harus ya sekaget itu?


A, atau dia mau dikenalkan dengan mereka?


“Oh, ini kak Clarissa, temannya kak Fares. Mereka temanku, kanan Sovian sama yang kiri Sagara.”


“Vian Saga! Benar ternyata! Kalian kelihatan beda banget!” loh? Riri kenal?


Saga ikut terkejut, “Riri kenapa balik ke sini?!”


“Vian dih, ditanya dulu dong kabar. Gak friendly banget!” Riri berlanjut.


Lah? Kok Vian?


Mungkin Saga juga berpikir seperti yang aku pikirkan, “Vian yang ini,” ia menunjuk Vian, “Aku Saga.”


“Oh, ya? Duh! Kalian berubah banget sih!” Riri menatapku, “Kok Rasyiqa bisa tahu?”


Well, aku tahu mereka kembar. Mereka juga mirip. Namun mereka masih bisa dibedakan kok. Kedua orang ini juga tidak berusaha menyamakan diri. Orang tidak sesulit itu membedakan mereka.


Yah, ini bukan saatnya kan?


“Kalian saling kenal?” sekarang giliranku untuk bicara.


“Oh, iya,” Riri masih dengan seringainya, “Kami teman masa kecil. Nih,” dia menunjukkan, gelangnya? “Gelang ini, couple sama mereka.”


Gelang itu gelang sahabat?


Kok kayaknya pernah dengar cerita seperti itu?


Saga mengangkat bahunya, “Gak tahu lagi dah. Tong sampah paling.”


“Kurang ajar!” Riri tampak kesal.


Riri dan Saga begitu akrab. Membuatku semakin ingin mengingat kembali.


Layaknya ingatanku menendangku, sadar bila dulu aku pernah diceritakan tentang gelang. Dengan Saga atau Vian. Itu terjadi waktu kapan ya? Cerita bukan hal baru bagi kami bertiga yang suka bercakap.


Oh⏤


“Kenapa kamu ke sini lagi?”


Vian? Oh, kenapa Vian tidak mengambil duduk seperti Saga? Aku baru menyadarinya.


Dia kedengarannya seperti marah?


Riri tampak sebaliknya. Wajahnya terlihat tidak nyaman, “Vian masih marah?”


Marah? Kenapa dia marah?


Aku berhasil mengingatnya. Waktu itu aku ke mall bersama Vian dan ia menceritakan tentang teman masa kecilnya. Matanya yang berkaca-kaca waktu itu, tampak merindukan temannya ini.


Kalau benar gelang yang diceritakan wakty itu adalah gelang ini, bukankah berarti, wanita di sampingku ini yang dimaksud?


Teman yang Vian suka.


“Memang ada apa sampai Vian marah?” aku mengeluarkan kalimat di kepalaku seperti itu saja. Dan tentu aku terlambat sadar, “Sorry. Kalau keberatan, tidak usah cerita tidak apa.”


“Itu...,” Riri tampak ragu. Hmm? Lalu kenapa dia terkejut lagi, “Fares!”


Hmm? Di mana?!

__ADS_1


Oh benar! Ada dia jauh di sana! Wajahnya yang jarang aku perhatikan belakangan ini merespons panggilan Riri. Sampai akhirnya mata kami sesaat bertemu. Meski aku tahu ia menghela nafas setelahnya.


Rasanya berbunga di hati saat mengetahui dia berjalan kemari meski matanya canggung.


“Sudah selesai kerjaannya~?”


“Kalian kenapa ngumpul di sini?”


Riri menempelkan bahunya di bahuku, “Ada si Rasyi sama Firna, jadi aku mau ikut rumpi~”


Fares berdiri di samping Vian. Ia memegangi keningnya seakan semua membuatnya pusing, “Rasyi bisa pulang sekarang kan?”


Sepertinya dia sangat lelah. Apa aku pulang saja dulu? Namun....


“Apaan sih?!” Riri? “Dia sudah susah-susah kemari loh!” tolong berhenti menekan kedua pipiku!


“Buat apa ke sini kalau cuma mau ganggu orang di kampus. Tolong jangan buat kakak makin susah, Rasyi,” mata Fares..., kurang tidur kah?


Riri menjawab, “Hei, hei hei, Fares, sir! Say hey aja bentar memang rugi?!” ia menggenggam tanganku, “Malaikat datang buat melepas penat sejenak, malah dimarahin. Kamu mau ngusir siapa?! Pura-pura capek juga! Biasanya juga tidak!”


Wow. Kenapa dia mengutarakan semua yang aku pikirkan? Padahal kan saingan.


“Kamu juga bukannya ada kelas habis ini?” Fares, wajahnya, dia benar-benar marah!


“Iya, ayah, aku paham!”


Fares memandang Firna, “Fir, antar pulang Rasyi langsung.”


Seperti biasa, Firna masih tidak tahu harus bagaimana. Namun Riri kembali mengelak dengan wajah tidak senang,


“Fares dih! Bossy banget! Terserah kami lah!”


“Oooh,” Fares beneran marah!


“Cih!”


Hmm? Heh?!


Saga juga kaget, “Vian?!”


Lah? Kok? Anak itu ke mana pergi tiba-tiba?


“Kami duluan ya,” kelihatannya Saga mencoba menyusul kembarannya pergi, “Ri! Kasih nomor ke Rasyi! Nanti kami telpon!”


Eee....


Aku memandang Riri, “Kenapa sih?”


Riri tersenyum, tapi sedih.


Mengapa rasanya aku jadi khawatir.


“Clarissa, kelas!” Fares, juga pergi?


“Iya iya!”


Aku berdiri, “Kak Fares⏤”


“Rasyi. Kakak bilang, pulang.”


Dia, kenapa sampai benar-benar marah sih? Kan aku tidak melakukan apapun.


“Iya...,” aku tidak mau membuatnya semakin marah.


Jadinya, aku membiarkannya pergi.


“Tidak usah dipikirkan,” Riri membawa kembali tasnya dan berdiri, “Aku dengar ada banyak masalah di BEM. Palingan dia cuma kaget.”


Hmm? Sungguh? Aku tidak tahu soal itu.


“Kalau sudah kenal Fares, pasti tahu dong dia marah tidak mungkin tanpa sebab,” Riri menuliskan sesuatu di bukunya dan merobek satu lembar, “Duluan ya. Aku beneran ada kelas sih. Nih kontakku. Bilangin ke Vian Saga ya?”

__ADS_1


Dia juga pergi.


Huuuh..., pergi, pergi, pergi. Semua pergi. rencana kali ini kesannya tidak baik banget!


__ADS_2