
Anniversary. Sekolahku cukup serius akan hal itu. Mungkin karena sekolah ini termasuk yang bersejarah, mereka ingin membuatnya lebih spesial.
Biasanya tiga bulan untuk perayaan macam-macam. Lomba-lomba untuk antar sekolah, acara umum untuk orang luar, perayaan dan lomba untuk sendiri. Memang sulit tapi semuanya selalu berhasil dilakukan di hari-hari sekolah.
Dan sekolah negeri ini hanya bisa meminta donatur dan sponsor, yang ternyata memang banyak. Dari orang tua murid sampai alumni yang selalu bertambah.
Aku mengerti kenapa sekolah ini menjadi yang paling favorit meski ada sekolah lain yang bahkan sistemnya menggunakan asrama.
Meski biasanya stabil selama tiga bulan, namun penyelenggaraannya cukup tidak teratur setiap tahun. Katanya itu tergantung sikon dan OSIS-nya.
Dan sekarang akhirnya sudah sampai di penutupan.
“Kapan nih dimulai?” Saga masih sibuk dengan minuman dinginnya.
Vian terlihat asyik setelah mencuri kipasku, “Tamu kehormatannya belum datang.”
“Siapa?”
“Mister bapaknya Rasyiqa.”
“Ha ha,” aku memutar dudukku ingin menyerangnya, “Kembalikan kipasku! Baterainya nanti habis!”
“Kamu mau pakai juga kan?”
“Iya lah! Tidak tahu panas?” aku berhasil mengambil kipasnya, “Kan jadi mubazir kalau baterainya bukan aku yang pakai.”
“Dasar pelit.”
“Wek! Biarin.”
Panggung besar. Sound yang tidak tanggung-tanggung. Tenda lebar yang menutupi sebagian besar lapangan. Hiasan yang ke mana-mana. Kursi yang sudah seperti berbaris sendiri. Dan orang banyak yang tidak kunjung diam di tempat.
Langitnya cerah. Awan sedikitpun tidak terlihat. Pagi saja, sudah terasa panasnya.
“Kamu tidak siap-siap nge-band?” Saga mengolek punggung Firna.
“E, emangnya kenapa kalau santai dulu di sini?!”
Well, Saga-ku yang mirip bulldozer, dia ingin sama kamu sedikit lebih lama~
“Itu dia om dokter,” Vian menemukan sesuatu.
“Eh,” Saga memandang ke arah yang sama, “Ada kak Fares juga.”
Dan itulah saat aku memandang ke arah dua orang yang dimaksud. Papa dan kak Fares mulai disambut banyak guru dan panitia.
Sesaat aku menemukan pria muda itu menatapku yang memang duduk dekat dengan kursi tamu undangan. Tidak seperti papa yang duduk di sana, kak Fares sepertinya memilih untuk datang kemari.
Wah, kalau kak Fares mau duduk....
Kusenggol Firna yang duduk di sampingku, “Siap-siap ih sana!”
“Aku kenapa diusir terus sih?!”
“Dipanggil Angar tuh, nanti dimarahin loh!” aku mendorong-dorong Firna dari duduknya.
“Iya nih, katanya bakal keren. Siap aja belum,” nice Saga, tekan terus.
Firna tampak semakin kesal, “Ini aku berangkat!”
“Shhst! Jangan pakai suara, Angel. Berangkat saja,” aku menenangkan perempuan ini sebelum ia memperpanjang masalah.
“Heheh,” kak Fares, tertawa~!
“Duluan kak,” Dadah Firna~!
“Iya,” senyum Fares tetap manis~ “Firna mau ikut band ya?”
“Ya, lagi siap-siap tuh,” aku menunjuk kursi Firna tadi, “Kakak duduk aja.”
“Emang kakak pernah dengar Firna nyanyi?” Saga menyenggol Fares yang duduk di depannya.
Fares menatap lelaki ini, “Saga belum pernah?”
__ADS_1
“Belum. Bagus emang? Ngomongnya aja cempreng begitu.”
Apa?! “Nih anak ya!” aku memukul kepalanya.
“Auw!”
“Mulutmu tuh kayak bebek! Seenaknya aja ngomong!” bikin kesal saja!
Anak yang kamu bilang cempreng itu sukanya sama kamu, bebek! Kalau romeo mendengar itu, dia pasti menangis! Rasanya mau aku cincang si couple yang tidak kunjung berlayar ini!!
“Rasyi.....”
Ups. Kembali aku duduk dengan benar, “Bikin kesel....,” aku merajuk beralasan ke kak Fares.
“Gitu kak memang. Kasar!”
Aku menjulurkan lidahku sekejap dan kemudian kembali menghadap panggung yang ada di depan sana.
“Lihat tuh.”
Hmm?
“Emang sukanya dikelilingi cowok begitu.”
“Itu OSIS dulu gak sih?”
“Masa dia juga nyerang OSIS juga?”
Mereka membisikkan tentang aku? Bagaimana bisa mereka berbisik kalau aku pun bisa mendengarnya?
Oh iya, yang terpenting, bagaimana bisa mereka mengenalku?
“Benar kata kak Dian.”
“Iya. Kasian kak Dian harus dikeluarkan dari OSIS.”
Wow. Aku langsung dapat jawabannya ternyata. Kakak-kakak tempo hari malah menceritakan hal palsu tentangku karena Harun kah?
Terdengar juga suara Vian, “Udah Sag, jangan disahuti.”
Aku menghela nafas. Hidupku seperti ini sekali. Harun, tolong cepat kembali dan katakan pada mereka kalau kita baik-baik saja. Setidaknya, dengarkan permintaan maafku supaya kita tidak se-canggung ini.
Hmm? Kak Fares?
“Maaf ya?” tangannya yang hangat menepuk kepalaku, tak menggambarkan wajahnya yang sendu.
Eh?! “Kenapa kakak minta maaf?!” aku menarik tangannya dari kepalaku.
Ia masih tersenyum sedih, “Kakak jadi bikin Rasyi susah. Kayak kakak yang jahat sudah rebut-rebut.”
“Kakak tidak bikin Rasyi susah sama sekali! Mereka saja yang mulutnya tidak bisa diam.”
Walau samar, aku bisa melihat senyumnya menggambarkan kesungguhan senang, “Terima kasih.”
Entah karena ini tanda aku menyukainya, atau karena kelembutan itu. Wajahku terasa panas setelah melihat dan mendengar pria ini dengan dekat.
Hihihihi. Tidak aku sangka hatiku secerah ini bercahaya. Rasanya bahagia sekali. Mungkin karena sudah lama aku bahkan tidak sedekat ini dengan kak Fares. Bahkan aku tidak pernah menyentuh tangannya seperti ini.
Ta⏤”Ma, maaf,” langsung aku lepas genggaman kami.
Suara tawa Fares tidak menghilangkan rasa maluku.
Tu, tunggu sebentar. yang kak Fares bicarakan tadi apa ya? ‘Bikin susah, jahat, rebut-rebut’? Rebut?
Aku memandang kak Fares, “Tadi kakak maksud rebut⏤”
“Rasyi,” hmm? Papa? Sudah berdiri di sini, “Fares masih lama di sini?”
“Iya. Sudah janjian sama teman SMA juga di sini,” Fares langsung menjawab.
“Rasyi pulang bareng Fares. Pak Darma tidak bisa jemput.”
Baiklah..., “Iya.”
__ADS_1
Kukira papa akan lebih lama di sini. Ya, mau bagaimana lagi kalau dokter ternama?
“Gila, ganteng banget. Siapa itu?”
“Tuh cewek nyimpen cowok banyak banget.”
“Pelakor apaan tuh?“
Mulai, memuakkan. Orang-orang ini tidak ada kerjaan lain ya?
“Mau papa belikan kue kayak biasa?!” pa, papa?
Terdengar suara tersedak. Gasak-gusuk tidak jelas. Layaknya mereka terkejut juga dengan suara papa yang meninggi itu.
Wait, tunggu.
Aku kembangkan senyumanku, “Makasih, papaaa~!”
Rizki mungkin tidak senang disamakan umur denganku. Namun itu juga membantu para kudanil itu menutup mulutnya.
Papa ini menahan tawanya.
Ia pergi selagi kepalanya memukul perlahan kepalaku dengan telapak tangannya.
Kurasa aku tidak akan pernah terbiasa dengan caranya menyelesaikan banyak hal. Bisa jadi terencana dengan detail, atau bahkan dengan satu kalimat saja.
“Ayahnya dia?”
“Oplas paling.”
Heh?
“Tapi dia tamu loh. Berarti donatur kan?”
A, apa?!
“Emang kenapa? Anaknya baj..., yah ayahnya juga dong.”
“Dari bapaknya kali? Hahaha.”
Mereka!! Kurang ajar!
Rasanya aku ingin pergi ke sana dan menampar mereka satu persatu! Aku tidak peduli lagi dengan sikap baik di sekolah. Yang memulai itu mereka⏤
“Duduk,” kak Fares? “Udah, duduk. Ya?”
Tangannya yang menahan lenganku untuk bergerak lebih jauh. Ia perlahan menuntunku untuk kembali ke kursi plastik itu. Hilang semua amarah itu dengan senyumnya yang tidak beranjak dari depan mataku.
Pria ini tampak mengganti posisi genggamannya ke sela-sela jemariku. Tanpa harus berkata-kata, membuatku berdebar.
“Aaak.”
Hmm? Kak Fares bilang apa? “Aaak? Hmm?!” kenapa tiba-tiba ada permen lolipop di mulutku?!
“Hehehehe, enak?”
Aku... itu... aaaaaa!!
Hanya bisa mengangguk.
Kyaaaa!! Tahu kok ini yang biasa aku dan kak Fares lakukan. Namun berbeda bila hati tidak menganggapnya sebagai sekedar kakak lagi. Ditambah lagi bila dia tiba-tiba menyuapi aku permen seperti itu. Bukannya itu seperti pacaran?!
Namun ya, kakak ataupun bukan, dia tetap Fares yang berusaha membuatku senang bila aku membutuhkannya.
“Eh, Ras. Kipas. Panas!”
Akan lebih baik kalau tidak ada si kembar di sini.
Langsung aku ulurkan kipas yang dimaksud, menusuk pipinya, “Ambil kipasnya. Bawa pulang!”
Hmm? Sela rambutku merasakan sebuah tangan. Kak Fares bermain dengan rambutku? Dia memperbaiki ikatan kudaku?!
Aku sungguh tidak bisa bicara. Fares, sungguh⏤I, ini sungguh tidak biasa! Jantungku!!
__ADS_1