
Suara pintu itu cukup pelan untuk disadari. Mungkin karena suara musik yang aku sengaja putar lebih kencang dari biasanya. Jendela dan tirai yang aku tutup berharap bisa meredam suara tersebut. Namun aku harus kecilkan dulu.
Berdiri aku dari meja belajarku. Pintu yang masih mengetuk itu akhirnya aku buka.
“Masuk, Fir~” aku pastikan diriku sendiri ceria.
Tentu saja sebelum papa, yang tak punya jadwal jaga di rumah sakit, teralihkan dari layar beritanya. Pintu tertutup tanpa halangan.
Aku bisa menenangkan bahu dan tidak perlu menahan lengan bajuku yang panjang lebih lama.
“Thanks, Fir.”
“Kamu yakin, Ras?” Firna masih dengan ekspresi terganggunya. Ia mengeluarkan kotakan dari tote bag-nya, “Papamu tambah marah loh nanti.”
Mau bagaimana lagi? Aku tidak akan menyangka Harun akan meledak sampai seperti ini.
Aku tahu kalau papa pasti tidak akan segan-segan memberikan bantuannya padaku bila aku membutuhkannya. Namun aku tidak melihat akan adanya hal baik bila papa tahu apa yang ada di pergelangan tanganku.
“Ini cuma bisa diobati biasa loh. Nanti kalau...,” Firna, dia tidak bisa sedikitpun tenang.
Ya, tentu saja. Aku yang memaksanya untuk merahasiakan tentang lukaku, khususnya dari papa. Papa tidak boleh tahu kalau Harun yang menggenggam keras tanganku.
Kududuki karpet bulu di depan meja bundar yang pendek.
“Tidak apa. Aku bisa obati sendiri kok,” aku ulurkan tanganku meminta kotak P3K itu.
Firna duduk di seberang meja, “Kan lebih enak kamu cerita.”
“Terus? Biarin Harun kelahi lagi sama papa. Mereka pernah debat dulu gara-gara ekskul aku. Makanya aku hindari mereka ketemu.”
“Debat tentang ekskul?”
Oh iya. Aku belum menceritakan dia tentang itu, “Dulu Harun pernah larang aku ikut ekskul apa-apa. Akhirnya dia marah sama papa yang bebasin pendapat aku.”
“Terus kamu ikuti kata Harun?”
Aku merentangkan tanganku lurus di permukaan meja meraih kotakan tersebut, “Iya iya, aku bodoh.”
Bermain dengan berbagai obat luar. Memang aku bukan dokter. Yang aku andalkan hanya pengalaman hidup sendiri Sekar dan ingatan masa kecil yang sering terluka jatuh.
Hari ini memang berjalan dengan tidak baik. Bahkan Harun tampak menghindari aku seharian meski bangku ada tepat di belakangku. Ketegangan ini juga membuatku ragu untuk memulai kembali pembicaraan.
Harapanku hanya pada hari esok yang mudah-mudahan lebih mudah untuk diajak berdiskusi.
Akan lebih baik kalau mereka bisu untuk beberapa waktu aku bicara!
“Rasyi yakin banget nih? Papamu tuh pintar loh. Pasti dia tahu sendiri nanti,” Firna masih saja membahasnya.
“Makanya aku mau meredakan masalahnya sebelum papa tahu.”
Namun untuk itu, sepertinya aku harus mengembangkan skenario yang mungkin akan terjadi. Apa yang akan aku katakan, apa reaksi mereka.
Huh! Sesaat berpikir saja, sudah banyak sekali keadaan dimana mereka akan berkelahi seperti tadi.
Lalu aku harus buat siasat yang seperti apa?
“Rasyi, sorry nih aku bilang gini. Tapi Harun tidak worth it diperjuangkan, tidak sih?”
Aku terdiam. Bila aku melihat nilai jual yang hanya mengatur sosialku dan teman-temanku, Harun memang bukan individu yang baik. Namun, apa hatiku bisa menerima itu?
__ADS_1
Tidak. Kurasa aku hanya tidak mau merusak apapun.
“Harun yang bikin kamu kayak gini loh,” dia menyenggol kecil tanganku yang sedang sibuk mengobati luka.
Bagaimana caranya aku menjelaskan simpatiku ini ya? “Setiap orang memang punya sisi begitu, kan?”
“Tidak kayak Harun juga.”
Aku menghela nafas, “Please. Biarin aku perbaiki sebisa aku dulu.”
Firna tampak tidak menanggapinya dengan senang hati. Perempuan ini bisa jadi sudah tidak percaya dengan Harun. Namun hatiku bilang, masih ada harapan. Benar kata papa, aku sudah terlalu menyukai orang ini.
Aku meletakkan kembali apa yang ada di tanganku. Menyusunnya sedemikian rupa sampai semuanya cukup di satu kotak kecil itu.
“Yuk, ngurus PR.”
Kami tidak mematokkan diri ke topik yang membingungkan itu. Memilih mendahulukan apa yang lebih penting dan menenggelamkan diri di antara nomor-nomor soal.
Dengan lagu yang masih terputar, kami mengerjakan soal dan berdiskusi atas ketidakmampuan masing-masing.
Sampai akhirnya sore semakin larut dan waktu kumandang yang tidak pernah pelan itu terngiang di sepanjang jalanan komplek.
“Jangan terlalu dipikirin loh. Nanti kamu malah sakit lagi.”
Aku tersenyum mendengar ucapan teman sekelas sekaligus tetanggaku ini, “Iya. Udah pulang sana.”
Dia membuat-buat wajah marahnya. Pura-pura ambek dan menutup pintu kamar.
Kesendirian membawaku membanting diriku sendiri ke atas ranjang tinggiku. Rambutku yang mengepang dua kanan dan kiri memudahkanku untuk merasakan empuknya langsung permukaan ranjang.
Apakah aku hanya lelah?
Heh?! Duduk tegak aku terkejut.
Papa kah itu?!
Langsung aku tarik lebih panjang lenganku menutupi perban luka di pergelangan kiriku. Tak peduli bukaan di pundakku semakin lebar, aku harus menutupi pemandangan tak nyaman ini.
Terbuka pintu itu tanpa suara.
“Rasyi?”
“Iya?” aku berusaha sekuat tenaga menutupi keteganganku.
“Udah mau tidur?”
Aku menggeleng, “Rasyi cuma capek mikir bikin PR.”
Kuperbaiki gestur sehingga tampak sekiranya natural dan tidak aneh kalau aku memegangi tanganku.
Terteleng kepalaku menatap papa, “Kenapa?”
“Ayo kita dinner di luar.”
Heh? “Tumben.”
“Tidak mau ya sudah. Bibi tidak masak.”
Aaa! “Rasyi mau~!”
__ADS_1
“Cepat siap-siap,” pria ini menutup pintu menghilangkan jejak dirinya.
Namun aku, yang pada dasarnya orang yang suka jalan-jalan, bersemangat memikirkan pakaian apa yang aku akan gunakan.
Aku butuh jaket agar aku tidak kedinginan. Jangan. Hindari jaket untuk saat ini. Bila aku disuruh melepas jaket, papa akan menyadari lukaku. Pakaian hari ini harus aman menutupi pergelangan tangan.
Mungkin aku pakai blouse dengan Batwing sleeve atau Poet sleeve?
Dengan celana panjang kulot cream dengan tiga kancing di sisi kiri dan kanannya. Bersamaan dengan blouse hangat yang panjang poet sleeve berwarna pink manis.
Kurasa ini cukup.
“Rasyi!”
Suara di luar menggelegar sekali.
Berjalan aku dengan semangat sambil mengecap-kecap kedua bibirku. Memperbaiki lipcream yang sudah aku kenakan.
Langsung aku bawa sling bag putihku dan berjalan membuka pintu, “Iya⏤Wow!”
Papa, tampanmu kepenuhan!
Hanya dengan kemeja dan knitwear sweater hitam putih kotak-kotak. Dipadupadankan dengan celana wool slim fit hitam.
“Sudah,” papa langsung menekan kepalaku menghentikan ekspresi terpesona aku, “Ayo berangkat.”
Jujur, sejujur-jujurnya! Penampilan papa hari ini menyapu beban di dadaku. Seperti tornado kecil yang membersihkan semuanya, dalam arti yang baik.
“Makan apa?” langkah papa mendahuluiku menyisir ruang tengah ke tangga sana.
“Hmm..., mie ayam?”
“Oke...,” papa dengan kalem dan coolnya menungguku di bawah dasar tangga.
Loh? Ponselku berbunyi?
Aku perlahan mengambil satu langkah turun selagi mengamati ponselku. Panggilan masuk..., dari Harun....
Terhening aku sejenak. Begitu pula langkah kakiku.
Kumatikan panggilan itu. Menjejalkannya lagi di sling bag-ku dan kembali menuruni tangga.
“Siapa?” papa menyambutku di ujung tangga.
Mulutku tertahan, “..., Harun.”
Papa terhening, tapi ia memilih melanjutkan jalannya ke luar rumah.
“Masih belum selesai?” terbuka pintu di tangan papa setelah ia meraih kunci rumah di lemari sampingnya.
Aku memasang heels putihku, “Belum.”
Berat. Jika saja aku bisa menyelesaikannya seperti membersihkan debu di lantai, aku pasti sudah menggunakan vacuum cleaner dengan tenaga turbo! Ini menjengkelkan!
“Do your best,” papa?
Ia melangkah pergi setelah mengunci rumah. Membuka mobil yang akan ia kemudikan.
Papa tampan ini memang sungguh menenangkan.
__ADS_1