Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#24 Malam Hari kok Begini?


__ADS_3

Hari indah. Menghindari kerumunan, mencari kedamaian. Dilayani oleh calon pacar yang tidak kunjung menembak. Lalu berkutak dengan teman sekelas yang terkadang cari gratisan.


...


Itu tidak benar.


Ehem!


Hari indah. Bersekolah layaknya anak normal tanpa drama. Ditemani si pujaan hati yang terus ada. Lalu bercanda gurau dengan banyaknya teman yang tidak pernah membiarkan diri kesepian.


Sungguh hari yang damai, seperti yang kuharapkan.


Musnah sudah hari penuh drama yang dibawa papa sendiri, mulai dari diculik sampai rebutan warisan.


Damai yang terkadang mengantukkan. Itulah yang namanya normal. Selagi sedikit kejadian manis yang tak terduga membuatnya lebih manis untuk dikenang.


Pagi ini pun ada kejadian di meja sekolahku tergeletak dua buah buket bunga. Satunya lagi tertulis Vian yang berterima kasih sudah membantu di rumah sakit.


Satunya lagi hanya surat pujian, tak tahu dari siapa. Membayangkan itu dari Harun bisa menerbangkan hatiku sampai ke surga.


Keseharian yang sangat indah dan normal.


...


Lalu kenapa aku ada di sini sekarang?


“Hachi!” dinginnya! Menusuk sampai ke tulang!


Melihatnya berkali-kali pun share-loc yang kuterima sudah sesuai dengan kakiku berdiri.


Di mana salahku sampai bisa tersesat di rumah penuh ilalang yang terlihat terlupakan ini?


Bahkan spanduk dijual dengan barisan nomor itu sudah seperti baju rajut yang terlepas ikatannya. Kaca jendela buram,lebih jelas melihat diri sendiri. Di sudut manapun mataku memandang, yang ada hanya 'rumah ini berhantu'.


Tenang. Mustahil ada yang terjadi di depan rumah terlantar di daerah jarang pemukiman di malam hari dengan modal lampu yang kurang.


Yang aku maksud, ada bapak satpam yang selalu siap menjaga rumah dan menjadi ojek pribadiku. Beliau sedang ada di tempat ibadah kecil di persimpangan sana menunggu. Aku hanya pergi berlari kalau hal buruk terjadi. Situasi ini aman.


“Hii!” angin sepoi yang tiba-tiba datang, tolong perhatikan bulu kudukku yang sedang tidak santai ini!


Sungguh! Apa yang aku lakukan sih di sini?!


Tenang. Bernafas dengan cantik, anggun dan gemulai layaknya tidak ada yang akan menakutimu. Nantikan kedatangan Saga dan Vian sebentar lagi, ambil buku paket yang mereka pinjam, dan pergi dari sini.


Kenapa juga deh mereka meminta pertemuan di tempat seperti ini?! Rumah mereka dimana si⏤


Apa?! Suara apa itu?!!


Rasyi yang cantik, tidak ada apa-apa di sini! Ti....


...


...


Itu, putih-putih, apa ya?


“AAAAA!!!”


“Aduh!”


Tunggu....


Kukeluarkan telunjuk yang penuh ketakutan, “Hantu apaan yang sakit waktu dilempar barang?!”

__ADS_1


“Orang mana yang takut tapi lempar HP, bukannya lari!!”


Suara... Itu. Di belakangku⏤


“AAAAAAAAAA!!!”


“Auw!”


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


“Jadi begitu mainannya kalian?”


“Beneran kak, kami cuma bercanda,” Saga dengan lemasnya menjawab.


“Oooh.”


Satu kata yang bahkan bukan kata sesungguhnya ini malah terdengar menakutkan bila digunakan nada datar dengan wajar yang tak kalah datar. Matahari yang sudah lama terbenam dan membawa remang-remang sangat mendukung situasi.


“Ini ide Saga,” Vian kenapa jadi sembunyi tangan?


Saga tampak tak percaya, “Penghianat!”


“Kan sudah kuperingatkan kalau kita bakal dapat masalah!”


“Kamu juga yang setuju dari awal!”


Bagaimana bisa mereka malah berkelahi sendiri?!


“Vian, Saga.”


“Maaf. Sumpah, cuma candaan.”


“Kami lagi bosan dan usilin Rasyi asyik, jadi....”


Apaan maksudnya itu?! Kalian sudah dimarahi Fares, yang seumur hidup Rasyi tidak pernah melihat dia semarah ini. Namun kalian masih bersenang-senang seperti ada di taman bermain bersama maskot kesayangan.


“Maaf,” aku ingin sekali menginjak wajah Saga saat ini, “Boneka sama kamu, cantikan bonekanya.”


Iiish! “Orang mana yang minta maafnya malah mengejek?”


“Orang mana yang habis lihat hantu, malahan lempar HP, terus nonjok!” Saga menunjukkan bekas tebasan kepalan tanganku di pipinya.


Salah sendiri! Aku masih kaget karena Vian yang baru aku lempar ponselku. Lalu tiba-tiba Saga muncul di belakang. Itu kan refleks!


Dan setelah aku tenang dan kak Fares datang memarahi mereka, mereka masih saja tidak tahu malu!


Bosan?! Mending mereka nongkrong di warung orang malam-malam di perumahan sepi seperti sekarang daripada membuat drama di rumah kosong!


Masih aku berdebat, “Orang mana yang bosannya malah cosplay jadi hatun?!”


“Orang mana yang dikasih Share-loc ke tempat aneh tapi tetap pergi?”


... Siapa yang ada di belakangku ini?


Kutarik tangan Fares yang duduk di sampingku. Perlahan melihat belakang, “Papa! Jangan tiba-tiba nongol. Kaget, tahu!”


“Selamat,” maksud anda apa ya, papa Rizki Wirandi yang terhormat?


Tunggu. Aku memang menelpon Fares, dan itu juga meminjam ponsel bapak sopir yang senantiasa menunggu dengan segelas kopi panas di ujung sana bersama bapak-bapak lain. Namun aku tidak pernah menelpon dinosaurus ini.


Oh. Kulepaskan pelukanku dari tangan Fares. Pasti anak ini yang menelpon. Bukan hanya Vian ternyata yang berkhianat, kakakku tersayang juga.


“Kalian masih kecil kah sampai tidak paham sudah ribut di komplek orang?” ini dia kata-kata pedas dari papa.

__ADS_1


Fares berdiri dari duduknya, “Paman tahu benar bagaimana si kembar. Tolong dimaklumi. Paman bisa pulang dengan Rasyi. Biar saya sendiri yang hukum mereka.”


Situasi ini tidak bisa diterima khususnya untuk Saga, “Kakak! Udah malam, kami mau dihukum apa⏤”


“Ooh.”


Wow. Posisi ketua BEM* memang tidak bohong. Tatapan penuh murka itu tidak tanggung-tanggung.


“Ada waktunya kita menyerah, Saga,” setidaknya Vian tahu diri.


“Kalau untuk Rasyi, saya serahkan langsung ke paman,” Fares melanjutkan....


“Heh?” menyerahkan apa ini maksudnya?


Papa terdiam, “Pastikan mereka juga pulang sebelum larut. Jangan sampai ada masalah baru,” papa, dia langsung mengalah. Dan cara bicara apa itu? Sepertinya beliau sudah cukup puas dengan keputusan Fares.


“Tentu.”


Percakapan yang berat. Dan sepertinya masa depan akan memberatkan lebih dari suasana sedingin puncak gunung ini.


“Ayo pulang. Jangan pikir alasan masih ngantuk besok pagi,” hiks, kalimat papa itu penyiksaan.


Badan yang sudah di bawah 20% tenaga ini dipaksa memasuki mode hemat. Namun sang bapak ini terlalu banyak tenaga sampai imajinasiku tidak bisa mencapai kekejaman apa yang keluar dari mulut beliau. Aku tahu Rizki tidak menghukumku secara fisik, bukan berarti beliau membisu.


Dengan berharap keselamatan si kembar, aku mengikuti langkah papa. Sebelum menyusulku di dalam mobil, papa tampak bicara dengan bapak yang sudah mengantarku.


Beliau tidak dimarahi papa kan? Aku yang meminta beliau untuk membawaku jauh-jauh kemari karena papa juga belum pulang saat itu. Setidaknya aku berhasil membawa pulang buku paketku.


Papa akhirnya naik ke mobil, “Papa ingatkan. Gaji papa boleh banyak, tapi bukan untuk dihabiskan. Memangnya papa tidak akan kasih tambahan untuk antar Rasyi malam-malam?”


Artinya simpel, jangan merepotkan orang lain di kerjaan yang tidak berguna.


Memanyunkan bibirku kesal, “Ini kan kerjaannya si kembar, masa Rasyi yang dimarahi?”


“Karena Rasyi-nya bodoh.”


Seperti itukah cara anda memperlakukan anak anda sendiri?! Ini putri cantik semata wayang loh. Bagaimana bisa anda malah mengejek?! 


Berisik kamu ponsel! Kamu malah mengingatkanku pada ponselku yang pecah karena kulempar!!


“Tolong cek,” papa masih sibuk pada mobil yang sudah bergerak.


Kuraih ponsel yang bertengger di kop mobil. Ada pesan SMS, hmm?


“Unknown?” ini bukannya dari kontak tak dikenal. Kontaknya memang bernama unknown.


Papa bisa saja buat yang seperti ini.


Hela nafas tak terduga dari papa, “Dia bilang apa?”


Membaca apa yang ada di lembar pesannya, “'Aku ke rumah ya?"??!” hah?!


Aaa!! Kenapa?! Ada apa?!


“Fuuuh...,” hmmm, papa? Mengapa anda lemas dan mengeluh?


Kenapa papa tiba-tiba menginjak rem sangat dalam seperti itu?! Lampu merah lagi! Bukannya posisi berhenti papa terlalu ke depan?! Eh?!! Heh???!!


“Sini,” papa mengulurkan tangan untuk ponselnya.


Kuserahkan dalam rasa kejutku. Dengan cepat tangannya langsung menekan tombol power dan merendamnya. Ponsel dimatikan?


Apa... Yang terjadi? Sebelumnya juga seperti ini kan?

__ADS_1


Siapa si 'unknown' ini?


^^^*BEM -> Badan Eksklusif Mahasiswa, mirip OSIS tapi badan ini berada di tingkat universitas dan institut (perkuliahan).^^^


__ADS_2