Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#Special4 Masa Lalu Masa Kini yang Bertabrakan


__ADS_3

Hmmm...?


Ini... kamarku. Masih malam ya? Gordennya tidak begitu tebal. Cahaya luar harusnya masih kelihatan. Segelap ini, berarti tengah malam.


Terbangun begini terus. Berarti, insomnia-ku kambuh lagi.


Lebih baik aku bangun. Rasanya tidak nyaman kalau tidak bisa tidur tapi paksa tidur.


Apa aku ke kamar Rasyi lagi? Tidak perlu pura-pura jadi anak yang takut tidur sendiri. Karena memang bukan itu masalahnya.


Mau baca sesuatu, tapi tidak ada bacaan.


Banyak di perpustakaanku. Tapi ruangan itu selalu dikunci sama Rasyi. Jadi aku sebagai Abizar tidak pernah ke sana. Satu kali saja tidak pernah lihat.


Kalau kunci, seharusnya ada di sana.


“Coba saja,” bicara sendiri sambil turun kasur.


Buka pintu pelan-pelan. Terus tutup lagi waktu sudah keluar.


Lampu tangganya masih berfungsi kalau ada yang lewati. Pelan-pelan turun, terus belok kanan. Di samping pintu depan, ada lemari dinding. Khusus untuk kunci.


Hmm?


Celah di bawah pintu kamar tamu kelihatan jelas. Masih menyala. Berarti Rasyi masih di sana.


“Rasyi...,” tidak bisa tidur juga kah? 


Gerak lebih pelan biar tidak ketahuan. Kalau digeser sedikit kursi pendeknya, bisa sampai tanganku ke lemari.


Ini kunci rumah. Kunci kendaraan Fares. Mobil. Rumah satu lagi.


Hmm? Belum pernah aku lihat kunci yang ini. Coba saja aku bawa ke perpustakaan.


Perbaiki pelan-pelan posisi kursinya. Terus, jalan ke arah dapur. Di dapur ada satu pintu. Isinya seharusnya taman indoor-nya Nisa, dan perpustakaanku.


Bisa. Kuncinya pas.


Akhirnya pintunya kebuka.


Lampunya mati. Taman tabung punya Nisa tidak dipasang atap. Jadi kelihatan terang bintang di atas sana. Gelap, walau kelihatan barang-barangnya tidak ada yang berubah.


Barang yang penuh nostalgia.


Masuk, tutup pintu. Jalan memutar sampai ke pintu perpustakaanku.


Kalau tidak dipindah Rasyi, seharusnya di sekitar lemari sini ada kunci cadangannya. Ada, bisa aku masuk ke dalam.


“Aneh...,” masuk lebih dalam.


Sadar kalau ruangan ini tidak ada debu sama sekali. Padahal pintunya selalu ditutup.


Lampunya ada di.... sini.


Benar-benar tidak ada yang berubah. Rak bukunya. Sofanya.


Hmm? Perubahan satu. Aku tidak ingat aku bawa album ini ke meja sini. Ini album fotonya Nisa.


Duduk dan lihat-lihat isinya, “Heh,” tertawa.


Foto waktu kami SMA. Kuliah bahkan menikah. Banyak yang sudah disusun Nisa jadi satu di sini.


Yang menaruh ini di sini⏤


“Eh?! Abi! Duh! Jangan bikin Nanna panik dong!”


Ketahuan. Sudah ada Rasyi di sini.

__ADS_1


Aku berdiri, lepasin bukunya di sofa, “Maaf, Nanna.”


Tapi, entah kenapa, dia tidak kelihatan marah. Dia... takut?


Rasyi duduk berlutut di depanku. Pegangi mukaku lembut. Ekspresinya sudah tidak setakut tadi, tapi jadi sedih.


“Abi kenapa ke sini?” dia masih elus pipiku.


Karena aku tidak seharusnya tahu tempat ini. Cuma satu alasan saja yang masuk akal.


“Pintunya selalu Nanna kunci, jadi Abi penasaran....”


Hela nafas lagi dia, “Jangan diulangi lagi.”


Anak-anak tidak banyak memikirkan sebab akibat. Jadi aku lebih bisa bertanya apa dan kenapa tanpa merasa bersalah. Kalau mau tahu kenapa, harus ditanyakan sekarang.


“Kenapa Abi tidak boleh masuk sini?”


Rasyi diam. Tapi dia akhirnya duduk di sofa, “Bukannya Abi tidak boleh, Nanna cuma tidak mau buka.”


“Kenapa?”


Dia angkat aku biar duduk di sampingnya, “Nanna cuma tidak mau perpustakaannya kotor.”


Walau masalahnya, Rasyi pasti pikir aku tidak perlu banyak penjelasan karena pemikiranku masih simpel. Tidak bisa gali lebih banyak informasi.


Coba sedikit lagi, “Ini foto siapa?” kutunjuk album foto di sampingnya.


Rasyi sudah seperti menangis lagi. Tapi dia bisa tahan sampai mukanya kelihatan biasa lagi.


Dia menunduk ke bawah meja. Ada beberapa buku di sana. Itu buku-buku anak yang biasa aku taruh untuk Zeline setiap kali dia ke sini. Masih belum ada yang dipindah.


Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan. TIba-tiba dia angkat aku terus duduk di pangkuannya dia. Sambil buka satu buku.


Buku itu. Kenapa ada di sini?


“Tada...,” dia membuka buku pop-up itu.


Cerita tentang putri dan raja yang kehilangan ratu dan pangeran. Pada dasarnya itu memang cerita tentang kami.


Rasyi tidak menjawab sama sekali apa yang aku tanya tadi. Dia masih cerita saja tentang bukunya.


Tapi aku tahu dia gemetar takut.


“Nanna yang bikin ini?” aku mulai bicara sebelum dia mulai membaca lagi.


“Bagus kan~?” Rasyi cium dahi di atas mata kiriku, “Abi suka? Kalau suka, Abi boleh ambil kok.”


Harus aku tanya.


“Nanna. Kenapa Abi tidak boleh ke sini?”


“Buku di sini banyak yang susah loh~”


“Ini punyanya ayahnya Nanna kan?”


Tolong, bilang sesuatu.


“Abi dengar dari mana?” suaranya pelan.


Siapa? Aku tidak bisa menyalahkan orang lain. Rasyi pasti menanyakan langsung ke orangnya sekali disebut namanya. Pasti ketahuan bohong.


“Tadi Abi lihat buku yang namanya Rizki Wirandi di meja sana. Itu ayahnya Nanna kan?”


“Hmm... gitu,” Rasyi peluk aku erat.


“Ayahnya Nanna gimana orangnya?” aku ingin tahu pendapatnya.

__ADS_1


Seberapa dalam luka dia tentang aku? Apa yang harus diobati? Usaha apa yang harus dikerjakan untuk putri ini?


Pertama, aku harus tahu apa isi pikirannya.


“Gimana ya...,” Rasyi masih peluk, “Tegas kayak aki Hendra. Tapi bisa lembut kayak nini Sari.”


Penjelasan yang aneh.


“Selalu bekerja sendiri walau nyatanya dia tidak bisa.”


Hmm?


“Punya pikiran sendiri. Egois dan selalu bisa bikin orang khawatir. Kalau dia hilang..., aku harus apa?”


Rasyi....


Apa dia nangis?


“Gimana kalau... padahal papa selalu melakukan segalanya untuk Rasyi. Tapi Rasyi.....”


Perasaan itu, Rasyi merasa bersalah.


Aku tahu Rasyi selalu tidak tenang kalau ada satu saja masalah. Masalah itu selalu dianggap masalah dia juga. Tanpa sadar dia sudah kepenuhan.


Walau seharusnya Rasyi tidak perlu merasa bersalah. Kematian adalah kematian. Itu yang namanya manusia. Itu bukan masalah.


“Nanna pernah punya mimpi....”


Hmm?


“Nanna lahir yatim piatu. Sekolah dan kerja semuanya buat Nanna sendiri.”


Itu....


“Terus, Nanna ketemu orang di tengah jalan. Malam itu gelap sekali. Tidak tahu kenapa. Dingin sekali, sunyi sekali. Tembakan....”


Itu... Sekar....


Sekar itu Rasyi.


Yang aku bunuh waktu itu... putriku sendiri....


“Ha ha, maaf. Nanna jadi emosian,” Rasyi lepas pelukanku.


Mau kulihat mukanya dia. Rasyi... dia pasti beneran takut.


“Loh, Abi? Kok nangis? Takut ya?” dia peluk aku lagi, “Maaf ya?”


Berarti Rasyi tahu kalau kehidupan dia sebelumnya itu Sekar. Dia tahu, ayahnya sendiri yang sudah bikin dia pergi.


Apa..., “Apa Nanna benci sama orang yang Nanna ketemu itu?”


Lepas pelukan. Rasyi, pikirannya tidak di sini lagi, “Awalnya..., Nanna tidak percaya kalau itu dia. Tapi, Nanna... terlalu sayang sama dia. Nanna tidak bisa benci. Nanna sayang....”


Hmm?


“Nanna?”


“Eh? Duh!” Rasyi tepuk pipinya sendiri, “Nanna membicarakan apa sih? Mau baca buku tadi di kamar? Abi masih harus tidur~”


Rasyi... tidak membenciku....


“Abi sayang, maaf ya Nanna cerita yang seram-seram,” dia cium dahiku lagi, “Yuk kita tidur.”


Berhenti menangis. Nanti Rasyi tidak bisa berhenti khawatir.


“Abi tahu?” Rasyi usap mukaku pakai bajunya sendiri, “Abi tuh mirii~ip sekali dengan papanya Nanna.”

__ADS_1


Iya... aku tahu....


Papa janji, Rasyi akan bahagia. Tolong tunggu sampai aku mampu.


__ADS_2