Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#76 Putar-Putar~ Komedi Putar~


__ADS_3

“Rasyi senang sekali, ya?”


Aku memberikan senyuman ke arah Sari, tentu sama lebarnya dengan senyum yang aku pertahankan dari tadi. Kurasa inilah satu-satunya aku menebar senyum pada orang lain tapi dari lubuk hati terdalam.


Ira berjalan seiringan dengaku, “Wahana mana yang Rasyi mau naik?”


“Daffa mau naik itu!” suara cemprengnya masih menusuk telinga saja.


Ira sampai kewalahan, “Eh, jangan lari!”


Keributan kecil yang manis ini yang namanya liburan.


Daffa semakin ribut dengan berbagai hal, ditambah ia yang selalu ingin diikuti oleh semua orang. Menarik orang sesuka hati kecilnya inginkan.


Tentu. Liburan dadakan ke taman wahana yang sedang viral bisa memberikan angin sejuk di helai rambutku. Namun bukan itu sebab utama aku bisa tersenyum dengan setulus ini.


Aku sungguh bersyukur!


Selama ini yang jadi masalah besar milikku adalah mereka. Orang-orang yang tertinggal dari tragedi seumur hidup itu. Kakek sungguh meninggalkan trauma.


Dan mereka sudah tidak akan mengannggu kami lagi.


Akhirnya aku bisa hidup dengan normal!


“Rasyi,” hmm? Paman Hendra? “Papamu bilang sesuatu?”


Oh, paman sedang penasaran kah? Papa memang tidak selalu jujur dengan semua orang, tidak terkecuali Hendra.


“Papa bilang Kirana menyerah di pengadilan,” aku jawab dengan suara pelan tapi tegas, “Berarti mereka tidak akan ganggu aku sama papa lagi.”


Wajah keras nan tampan itu menggambarkan rasa kaget. Terhapus sesaat dengan senyum tipisnya, “Begitu?”


Hmm? “Paman tidak percaya?”


Ia menyipitkan matanya dan manis berseringai, “Paman tidak sepintar itu sampai bisa lomba teori sama papamu.”


Aku tidak bisa menentang itu, “Hihihihi~!”


“Kak Achi!!” Daffa mendekatiku, “Ikut ayo ikut!!”


Duh, mulai lagi deh dia. Memainkan orang-orang seperti bidak catur yang mudah dipindahkannya.


“Cini!”


Hmm? Kenapa aku disuruh berdiri di samping kak Fares? Permasalahannya, ini kita ada di depan stan orang loh!


“Pegangin!” si kecil ini menyerahkan balon berhelium yang baru saja dibeli, lalu ia pun pergi, “Paman, cini!”


Ditarik paman Hendra membelakangi aku dan Fares. Sungguh, nih anak maunya apa?


Anak ini mengangkat tangannya ke depan Fares, “Angkat!”


Fares tersenyum. Memberikan tumpangan untuk si kecil.


Namun Daffa menunjuk ke arah Hendra yang masih berdiri di depan kami, “Kuda-kudaan sama paman!”


Aaa... baiklah. Jadi keputusannya adalah dia membutuhkan Fares untuk menaikkan dia ke punggung Hendra. Dan butuh aku untuk memegangkan bawaannya selagi ia naik.


Senang sekali ya dia, memerintah kami seperti ini.


“Balon!” Daffa mengulurkan tangannya kepadaku setelah ia naik ke punggung Hendra.


Sudahlah. Anak-anak dan aku memang tidak pernah searah. Kuserahkan saja balon itu dengan patuh.


“Mau kemana, Daffa?” Sari dengan senyumnya.


“Naik putal-putal!”


Sepertinya maksud dia komedi putar.


“Ya udah. Daffa sama paman tante ya~ Bye~” Ira, dia mendekat ke arah papa⏤

__ADS_1


“Tidak,” Hendra, wajahmu kenapa seram tiba-tiba? “Kamu juga ikut.”


“Kakak~!”


Meski berteriak keras, Hendra dengan badan kekarnya dengan mudah menarik Ira pergi selagi menggendong Daffa. Ternyata benar, paman tidak merelakan Ira dengan papa.


“Kita ngumpul jam sembilan di resto yang kemarin ya?” Sari memberikan senyuman sembari pergi.


Wah, jadi sepi....


Daffa memang sangat hiperative. Batasannya semakin pudar setelah dia dilepas di alam liar. Memang membutuhkan setidaknya dua orang untuk menjaganya, atau dia akan hilang.


Namun, papa dan kak Fares tidak bergerak. Itu memberikan aku bayangan akan akulah anak kecil lain yang bisa saja hilang.


“Mau kemana?” pa, tolong jangan tanyakan hal yang sama dengan Sari ke Daffa tadi.


“Huuh.... Rasyi juga tidak tahu,” langsung aku menatap Fares, “Kita mau coba yang mana dulu kak?”


Hmm?


Aku telengkan kepala, memandangnya lebih dekat. Mengamati wajah pria 21 tahun ini.


Yang sedang melamun?


Hari ini memang nuansa tahun baru, jadi tidak salah kalau Fares tidak mendengarku karena tempat ini terlalu ramai.


Aku guncang sedikit dia, “Kak?”


“Ya? Oh? Maaf,” kak Fares kenapa sih? “Kakak ke... ke sana ya? Bye.”


Loh? Loh?! Kenapa anak itu malahan pergi?!


...


Mengantuk kah?


“Rasyi, ayo,” heh? Kenapa papa, dia berjalan ke arah lain?


“Pa, tunggu!” rasa canggung yang aneh!


Aku tidak mau menghabiskan waktu liburan berhargaku! Hari ini aku akan melampiaskan semangat liburanku sampai habis!


“Pa,” aku peluk tangan kanannya, menarik kecil ke arah yang aku tunjuk, “Ke sana yuk!”


Permainan demi permainan aku coba. Bahkan stan memanah yang tidak pernah aku kira akan kulakukan. Jantungku senam akrobatik saat aku menemukan papa bisa menggunakan senjata jarak jauh itu.


Kejutan satu ke kejutan lain. Hadiah dan memori dikumpulkan.


Sampai akhirnya aku lapar sebelum waktunya.


“Pa, sini! Ada kursi kosong~!” aku berlari kecil. Berharap bisa merebut spot kosong itu sebelum orang lain.


Kami duduk di kursi taman yang serba kayu. Lampu manis di sekitar payungnya sangat cantik untuk dipandangi empat orang. Tempat yang semakin ramai membuatku memilih duduk berdampingan dengan papa.


Dan memulai makanku.


Salam kenal, kentang spiral yang manis~ Masuklah kau ke dalam perutku!


“Heh,” hmm? Papa tertawa?


“Kuhenapa pa?” aku masih saja mengunyah camilanku.


“Tidak,” tangan papa memainkan jarinya ke rambutku yang terikat seperti ekor kuda, “Habiskan makannya.”


Aku sudah terbiasa melakukan banyak hal saat papa memainkan rambutku. Ia hanya ingin merapikannya dan terkadang memberikan gaya baru.


Namun kali ini dia juga membersihkan mukaku yang terkena saus manis. Bahkan merapikan tali jumpsuit pendek yang aku kenakan.


Manis sih, tapi kan aku merasa seperti seumuran dengan Daffa!


Loh? “Pa,” aku menunjuk ke satu arah, “Itu kak Fares kan?”

__ADS_1


Papa mengalihkan pandangannya. Kami menatap ke satu orang yang sibuk bermain di arena main arcade. Meski banyak orang yang menonton dan menutupi orang itu, aku mengenali dengan sangat baik.


Aku berdiri membawa boneka, “Rasyi ke sana ya sebentar~”


Berjalan aku semangat ke arah dia.


Hahaha, entah kenapa aku bisa bersikap seperti ini setiap kali aku dengan Fares. Lucunya, layaknya alami, aku menjadi adik kecil manis yang suka pamer dan manja sambil membawa boneka hasil buruanku dengan papa tadi.


“We!!”


“GG dia.”


Orang-orang ini tampak sangat heboh. Sementara kak Fares terlihat serius dengan senjata pistol yang menjadi benda pengontrol di mesin permainan itu. Dan di luar dugaan, kak Fares jauh lebih jago.


Ramainya sorak sorai ini semakin menutupi kak Fares. Aku dekati dia sebelum orang-orang ini menghimpit kak Fares.


“Kak Fares~!” langsung aku peluk tangan pria ini.


“Aa! Rasyi?”


Aku berhasil membuat Fares kaget. Meski aku tidak menduga dia akan sekaget ini.


“Huh? Itu pacarnya kah?”


Eh?


“Kayaknya adek doang deh. Kecil begitu.”


Apa katanya?!


Maaf deh aku pendek! Haruskah aku berteriak kalau umur kami hanya berbeda lima tahun? Namun, aku harap anda ingat kalau itu bukan urusan kalian!


“Rasyi,” kak Fares? “Tolong lepas.”


Hmm? Aku bisa merasakan kak Fares menarik tangannya dari pelukanku.


Mungkinkah dia kepanasan? Atau karena kami dikelilingi banyak orang? Fares tidak pernah bertingkah seperti ini meskipun dilihat oleh banyak orang.


“Dah.”


...


Eh? 


Tu...


Heh?!


Kenapa Fares pergi?! Aku ditinggal seperti itu saja?!


“Mantan kah?”


“Dibilangin, dia pasti adek doang!”


“Bertengkar?”


Rasanya aku mau memberikan pandangan mematikan sebagai hadiah bisik-bisik itu.


Kupandang mereka dan⏤


“Omg! Dia manis banget!”


“Kayaknya dia denger kita deh.”


Aku bisa merasakan wajahku masih tersenyum. Memang aku berakhir mengikuti kebiasaanku dimana aku tersenyum dimana saja. Setidaknya hal itu membuat penggosip diam dan pergi.


Di sela orang-orang yang pergi, aku melihat Fares semakin menghilang ditenggelamkan kerumunan.


Kupeluk lebih dekat bonekaku.


Fares sedang marah kah? Apa aku melakukan apapun yang salah?

__ADS_1


_____________________________________________


Selamat Tahun Baru Imlek bagi yang merayakan~ Love love you~♡


__ADS_2