
“Sebenarnya yang menangkap kami itu sudah mengincarku sama papa dari dulu. Makanya dari kecil aku dikurung di rumah terus.”
Dia… milikku….
“Intinya sih begitu. Karena itulah aku tidak mau kamu sampai kena juga seperti Jagad.”
Dia itu milikku.
Aku membalas Rasyi, “Paman Hendra tidak bisa tangkap mereka?”
“Papa bilang tidak bisa semudah itu. Mereka punya nama bagus di masyarakat. Salah-salah papa yang ditangkap.”
“Memang siapa mereka?”
“Maaf Harun, aku tidak mau kamu kenapa-napa.”
Dia milikku. Sejauh apapun, aku akan temukan dia lagi. Kembali ke sini.
“Harun, aku saja bingung harus bagaimana. Masalah ada di depanku, tapi papa tidak mau aku ikut-ikutan. Aku berharapnya bisa pikirkan sesuatu kalau aku refreshing ke rumah kak Fares. Tapi ya… begitulah.”
Aku cuma perlu pastikan milikku tetap begitu keadaannya.
Ya, cuma perlu dia. Kuajak saja dia.
Senyumku lebar, “Kabur saja. Rasyi tidak perlu bahayakan diri. Rasyi sudah terlalu sering sedih.”
“Harun?”
“Buat apa bareng ayah yang tidak becus jagain kamu? Tidak usah capek-capek pikirin.”
Cuma dia. Cuma bunga teratai kecil kayak dia, aku juga bisa bawa pergi. Dia punyaku, tidak akan kenapa-napa kalau dia cuma ikut aku main. Aku cuma perlu tahan dia di dekatku.
Aku mengulurkan tanganku, “Kabur sama aku yuk. Jadi Rasyi tidak perlu disakiti mereka sama ayahmu lagi.”
Cuma perlu–
.
.
.
“Rasyi hilang! Puas!”
Dia… cuma perlu ikut aku…
“Hendra! … Harun, sayang. Keadaannya memang rumit, tapi kamu tenang saja tunggu ya?”
“Sari! Ayo!”
Kalau dia ikut aku, dia tidak perlu begini.
Sialan! Keparat!
Orang kurang ajar! Mereka semua mengambil punyaku! Mereka menyakiti punyaku! Mereka seenaknya main-main dengan punyaku!
Kalau mereka cuma bisa bikin dia tidak tersenyum lagi. Bikin dia menderita begitu lagi. Lebih baik kalian pergi saja. Kalian saja yang hilang! Jangan bawa kabur punyaku!!
.
.
.
“Penjahat itu ayahku.”
Apa? Paman Rizki bilang apa?
“Kelompoknya menerima permintaan jahat siapa saja. Orang itu sudah ditangkap, dan dihukum tembak bulan lalu.”
Rasyi…
__ADS_1
“Papa sudah pikirkan banyak rencana sejak mamamu ajak papa kabur. Semuanya hampir sama, kumpulkan bukti supaya bisa ditindak secara hukum. Tapi itu sulit karena mereka menyimpan bukti tindakan mereka dengan ketak.”
“Pilihan yang baik tentu menyusup langsung ke tempat mereka. Aku mudah masuk dengan ditangkap, tapi sulit untuk keluar. Karena itu aku butuh Fares.”
“Akhirnya aku memasukkan chip kecil untuk melacak di pundak Fares. Jadi Hendra bisa menyergap mereka langsung.”
“Kenapa harus kak Fares?”
“Ayahku… selalu sensitif dengan apa yang aku bawa, berlaku juga dengan Rasyi. Dia sudah kenal Hendra itu polisi, tidak mungkin dilepas begitu saja. Kamu? Kamu tahu kenapa.”
“Fares itu paling ideal. Fares dekat dengan Rasyi. Tidak aneh kalau dia juga tertangkap saat waktunya. Lagipula dia volunteer sendiri.”
Hah. Hahahahahaha!
Ini terlalu aneh.
Perempuan yang aku cintai. Dia ternyata, teratai kecil yang sudah kena penyakit.
Rasyi yang aku cintai, sudah terlalu jauh sebelum aku sadar. Aku salah berpendapat kalau aku pikir dia di sampingku. Tidak pernah dia di sampingku. Padahal keberadaannya rasanya nyata. Senyumnya, tangisnya, hangat genggamannya. Itu nyata.
Aku dibutakan cinta.
Tapi aku tidak membencinya. Hatiku aneh lagi. Rasyi masih main-main walaupun dia sudah jauh.
Hah. Hahahaha!
Apa yang aku pikirkan?! Ya sudah pasti dia masih mainin hatiku! Dia mencintaiku! Dia tidak bisa hidup tanpa aku! Kalau aku bersabar sedikit lagi, dia pasti bilang itu sendiri dengan mulutnya.
Memang kenapa bunga teratainya sakit?! Cuma perlu bawa dia pergi dari kolam yang sakit! Kuhancurkan saja kolamnya! Dia pasti ikut aku. Aku selalu ikut dia, sekarang giliran dia yang harus ikut! Pelan-pelan sampai dia sadar, dia cuma butuh aku!
Dia milikku!!
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
“Emm…, Harun?”
Oh. Tanganku berhenti. Padahal masih di tengah sesi belajar. Banyak yang perlu ditulis. Aku tidak fokus sama sekali.
Siapa yang memanggil itu? “Kenapa, Gista?”
“Itu, yang di samping kanan itu. Kamu paham tidak?”
Tersenyum. Jangan lupa senyum, “Aku paham kok. Mau aku ajari?”
“Iya!”
Aku benci perempuan ini.
Duduk kami makin dekat. Semakin aku harus tahan kesalku. Kepalaku harus dingin. Mau perempuan ini bodoh atau apa. Aku harus tetap mempertahankan karakter yang Rasyi suka. Tidak bisa aku ambil resiko dia lebih menjauh.
“Terus, yang ini?” perempuan ini, dia tidak memperhatikan kelas, apa?
Aku tersenyum, “Gista buat apa less kalau begini?”
“Ya?”
Itu hampir. Pasti aku terlalu lelah sampai keceplosan, “Tidak pa-pa,” masih tersenyum, “Yang ini mau dijelasin tuh. Kita dengerin dulu.”
“Aa… iya….”
Dia ambil kelas les buat lolos dari rumah malam-malam, apa? Buktinya dia tidak memperhatikan sama sekali. Aku sengaja ambil kelas malam supaya bisa main bareng Rasyi. Sebab lainnya juga supaya hindari Gista. Tapi dia malah ikut ganti kelas.
Fuuu. Kepalaku harus tetap dingin. Rasyi harapin aku biar jadi orang pintar. Harus bisa fokus supaya nilaiku tidak jatuh.
Siapa peduli sama lomba itu. Aku tidak bisa fokus karena sekitar Rasyi yang tidak becus lindungi Rasyi.
“Meet minggu depan, guys~” aku suka senyum guru muda ini. Kelihatan alami. Tidak kelihatan kalau itu cuma sopan santun.
“Harun,” dia lagi, “Boleh tidak aku ikut belajar bareng di rumahmu?”
Dia gila, “Tidak.”
__ADS_1
Aku sudah malas dengannya. Capek banget. Untuk apa juga aku baik-baik dengannya kalau dia saja kasar dengan Rasyi? Kutinggal saja.
“Tapi, itu… aku traktir deh. Ya?”
Bodohnya itu maunya aku ludahi langsung ke mukanya, “Kamu bilang aku terlalu miskin buat ditraktir?” tidak bisa aku tahan. Kesal!
“Tidak! Tidak begitu…,” dia diam sekarang?! Katakan saja, cepat! “Kenapa kamu kasar sama aku? Tapi ke Rasyiqa selalu saja….”
Sekarang dia mau protes sama yang bukan urusannya! Bodoh! Bodoh banget!
Aku dekat berdiri di depannya, “Maaf, Gista,” senyum kuhilangkan. Dia harus tahu, “Kamu itu orang yang aku benci.”
Lihat kagetnya itu.
“Aku mencintai Rasyi. Jadi berhenti cari perhatian sama aku. Sampah kayak kamu jangan banyak gaya,” aku rangkul ranselku, “Tapi tidak pa-pa. Aku bakal tetap senyum ke kamu kalau ada Rasyi kok. Awas saja kalau kamu ngeluh-ngeluh tidak jelas!”
Capek, pulang saja. Bodo dengan perempuan yang mau nangis itu. Sudah terlalu banyak yang perlu aku pikirin.
Rasyi.
“Fuuu…,” capek. Tapi aku harus berpikir.
Hampir seminggu. Jelas kelihatan kalau dia menghindariku. Dia masih tersenyum. Tapi, tidak beda dengan saat tiga tahun lalu. Saat aku temui dia di hutan.
Ketakutan. Mata yang getar. Tidak memandangku sama sekali.
Sialan! Aku harus apa?!!
“Surprise~!”
Apa?
Rasyi? Dia, tersenyum?
Sedang apa dia di sini? Malam-malam begini bukannya di rumah. Dia malah tunggu aku di lahan parkir tempat less?
Aku dekati dia, “Rasyi kenapa kamu di sini?”
Dia benar-benar tersenyum? “Namanya juga kejutan~”
Yang dia omongin pasti konveti ini. Suaranya keras tapi aku tidak paham. Kami mau merayakan apa?
“Happy birthday, Harun~”
Apa?
Rasyi genggam tanganku, “Sorry baru sekarang. Soalnya cake-nya….”
Dia menyiapkan–langsung aku pegang bahunya, “Rasyi tidak hindari aku?!”
Matanya berkedip. Kepolosan itu, “Ya, gimana kalau Harun tahu aku mau kasih surprise. Kalau tidak menghindar sedikit, Harun pasti tahu dong!”
Rasyi, dia.
Haha….
“Oh, iya, cake-nya sudah tunggu di rumah loh~ Pulang yuk~” tangannya dorong tanganku lembut.
Raih lagi tangan itu. Tangannya sedikit kasar. Dia berusaha keras sekali untuk main denganku. Biar aku kasih hadiah sedikit.
Aku mencium punggung tangannya.
“Ha, ha ha Harun?!”
“Hehehehe,” itu baru Rasyi. Muka merah yang bilang kalau dia senang main denganku.
Rasyi yang aku kenal. Ini Rasyi yang aku kenal. Rasyi yang pasti aku lindungi.
Rasyi milikku.
___________________________________________
__ADS_1
^^^NOTES^^^
^^^Kali ini ambil latar dari prequel-nya di chapter 61 sama 77. Dan bagi yang tidak paham, Harun ini balik lagi ke masa sekarang ya~^^^