Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#144 Kejutan yang Tidak Lucu


__ADS_3

Gosipku kembali berlanjut, “Tapi Firna balik-balik tidak ada kemajuan. Bikin kesel tidak sih?!”


Terdengar suara tawa kecil, padahal anginnya kencang sekali. Ditambah lagi, kami masing-masing menggunakan helm. Udaranya juga dingin sekali. Kendaraan bermotor malam hari sangat tidak bersahabat. Namun aku tetap harus pulang.


Yah, hari ini memang tidak sukses kencan. Namun aku tidak bisa berhenti tersenyum-senyum sendiri. Hanya bersamaan dengan orang yang dicintai saja sudah cukup membuat orang terbang ke mars~


“Ras.”


“Ya~?”


“Udah sampai.”


“Iya sampai~” sampai?


Aku melihat sisi kiriku yang menyala terang dengan berbagai lampu taman di balik pagar tinggi. Ini rumah besar siapa ya?


Oh, ini rumahku sendiri.


Wah, sepertinya tidak hanya akunya yang terbang ke mars, tapi ingatanku diusir ke venus. Aku sampai tidak kenal rumah sendiri.


“Kenapa?”


Menggeleng aku sambil mulai menuruni kendaraannya, “Tidak apa...,” aku berhasil melepas helm-nya.


Tidak aku sangka aku akan sesedih ini untuk pulang.


Fares tersenyum manis, “Udah lapar?”


Aku tambah mengerutkan wajah. Hebat sekali dia sampai berpikir, kalau aku tidak semangat pasti aku lapar. Semua pria berpikir seperti itu kah?


“Bukan?”


Kumajukan bibirku tidak senang, “Bukan!”


Dia tertawa lagi, “Ngantuk?”


Aaaa... Peka dong! Rasyi percaya kok kalau Fares itu peka!


Benar juga! Coba kunanti dengan sabar sampai Fares benar-benar menebak dengan peka. Sebelum itu, aku tidak akan masuk rumah!


“Cepat masuk. Mandi, makan, terus tidur.”


Ini akan lama~


“Kenapa?”


Aku masih tidak mau bergerak selain memainkan jariku di belakang tubuhku, “Tidak~”


“Rasyi....”


“Tidak apa, benar kok!”


“Kenapa tidak mau masuk?”


“Rasyi mau kok,” tapi nanti.


“Kakak tinggal ya.”


Loh? Loh eh? Loh kok gitu?!


Dia mengambil ancang-ancang pergi?!


Tidak segan-segan aku langsung memegang setir kirinya. Wajahku memandang ke arah lain sambil diam di sana.


Fares itu cukup polos apalagi kalau dibandingkan papa dinosaurus tercinta itu. Kalau tidak aku tunjukkan, Fares tidak mungkin paham.


“Rasyi....”


Sabar! Aku harus mencari alasan!


Oh! “Ajarin Rasyi Fisika!”

__ADS_1


Fares tidak menjawab. Matanya yang tidak lebar dan tidak sipit itu mengkilap hanya dengan lampu di pagar rumah. Jantungku tidak bisa diam hanya menunggu orang ini merespons.


“Rasyi tidak mau pulang?”


“Iya~!” Tepat~! Akhirnya peka juga!


Tunggu. Kenapa aku langsung mengiyakan saja tadi?!! Malu juga kan kalau terlalu jelas!


“Kalau gitu...,” hmm? “Kakak boleh... nginap di sini?”


Aaa....


KYAAAAA!!!


Tidak! Mataku!!


Bagaimana orang yang lebih tua dariku⏤secara fisik⏤bisa jadi seimut ini?! Aku memang tidak tertarik sama yang imut-imut. Namun imutnya Fares itu.... KYAAAA!!


Orang yang pertama kali lihat saja langsung melupakan standar keindahan mereka!! Bukan! Mungkin malah langsung pingsan!


Lihat, dia jelas terlihat malu hanya karena ucapannya sendiri!!


Fares masih tampak merah selagi satu punggung tangannya menutupi area mulutnya. Menatapku ragu-ragu, “Bisa dimarahin paman ya?”


Harus jawab sekarang!


Berputar aku ke arah pagar di belakangku. Membukanya lebar dan kembali berbalik.


“Rasyi yang bilang ke papa~ Ayo masuk!” aku pastikan tersenyum lebar.


Fares tersenyum lebih manis. Ia sungguh memasukkan kendaraannya. Pagar itu aku tutup dari dalam. Langkahku semangat mendekati lebih dulu ke arah teras. Membuka pintu selagi Fares memarkirkan kendaraannya.


“Papa~!” lebar terbuka pintu itu.


Hmm? Tidak ada orang? Papa ada di perpustakaannya kah? Mana mungkin kerja malam-malam kan?


Oh. Bisa terdengar ada suara dari lantai dua. Mungkin papa menonton televisi di atas? Fares sepertinya sudah masuk dan menutup pintu.


Kencang aku menaiki satu demi satu anak tangga. Benar saja, televisi itu menyala. Masalahnya adalah, tidak ada satu pun orang yang duduk di sofa itu.


“Papa~”


Bagaimana bisa papa selalu meneriaki aku dengan kata-kata menusuknya agar menghemat listrik? Pa, tv yang papa tonton masih menyala.


Oh, apa papa ada di dalam kamar? Ada suara di sana dan pintunya juga terbuka. Lampunya juga menyala.


Dia sedang mencari sesuatu kah? Sepenting apa sampai meninggalkan televisi menyala dengan suara kencang seperti ini?


“Pa⏤” eh?


A, apa-apaan ini?


Yang benar saja.


Bercanda juga tidak seperti ini.


“Rasyi?” suara dari belakang menepuk pundakku.


Namun aku tidak mau menjawabnya meski aku yakin itu kak Fares. Otakku tidak bisa memproses apapun.


Aku... aku ingin....


“Rasyi!”


Tidak aku dengarkan panggilan itu seberapa banyaknya ia mengucapkannya. Berlari lagi dan lagi, tapi tidak dengan senang di hatiku. Sakit, sesak. Aku tidak bisa bernafas dengan benar.


Baru menyadari aku sudah ada di luar jalan. Nafas tersengkal-sengkal terasa baru saja berlari sangat lama.


Jangan! Harus tenang. Organ tubuhku tidak akan normal kalau aku tidak berusaha.


Pandanganku teralih ke atas. Sungguh langit malam yang bertaburkan bintang. Gelap angkasa dan setitik terang yang banyak seakan menyuruhku tenang. Layaknya yang aku inginkan.

__ADS_1


“Huuuh....”


Ha ha ha..., tidak bisa.


Langsung kakiku terasa lemas tak sanggup menopang seluruhnya yang ada di atas. Membuatku tidak tahu lagi selain mengikuti keinginannya dan duduk jongkok di sana. Memeluk lutut milikku sendiri.


Menangis.


Tidak seharusnya aku seperti ini. Padahal aku sudah bertekad kuat selama ini. Aku akan terima⏤tidak, aku harus mendukung kalau papa memang... mau menikah lagi.


Namun kenapa aku menangis?


Itu kan hanya tante Ira.


Papa tidur dengan....


“Hik...,” mulutku tidak bisa tenang.


Kepalaku rasanya mau pecah. Mataku rasanya sangat sakit. Air mataku tidak bisa diam.


Seperti aku tidak pernah... tidak pernah ingin papa menikah lagi.


Apa karena aku selalu memikirkan bisa melihat keluarga papa dan istri barunya bahagia? Lalu... apa aku... takut? Kenapa aku takut? Papa kan sudah janji tidak akan membuangku.


Tidak. Itulah yang aku takuti. 


Rizki yang tidak menggerakkan posisiku tapi memperbarui posisi orang lain. Layaknya aku dipaksa melihat keluarga baru itu bahagia tanpa aku.


Papa tidak mungkin seperti itu!


Mustahil papa akan meninggalkanku! Enam belas tahun lamanya ini aku habiskan untuk mengerti itu. Untuk mengerti papaku sendiri. Negatif-negatif itu tidak mungkin terjadi!


“Rasyi.”


Kedua telapak tangannya mengangkat wajahku sampai aku bisa memandangnya. Orang yang memanggilku itu tampak sedih.


“Kakak minta maaf.”


Fares selalu saja mencoba minta maaf padahal dia saja tidak kuberitahu ada apa.


Tanpa aba-aba dia memelukku. Membuat lututku menyentuh tanah jalan aspal. Dinding yang menahan air mataku tidak berfungsi lagi. Balasan akan pelukannya semakin erat dan erat.


Jelas terasa kalau ia mengangkat tubuhku. Meski aku tidak melepas pelukanku di lehernya.


Sepertinya ia memilih mengangkatku dari tanah, menggendongku dan mendudukkanku di dudukan di suatu tempat yang lebih tinggi. Kendaraannya? Dia memarkirkan kendaraannya di dekat sana.


Fares melepaskan pelukanku dan mengusap air mataku, “Rasyi marah ya?”


Kenapa dia berpikir seperti itu? “Tidak,” apapun itu dia pasti khawatir denganku, “Maaf Rasyi tiba-tiba lari. Rasyi cuma kaget.”


Fares masih membentangkan kedua tangannya di antara dudukku. Seperti saling memperhatikan wajah penuh sendu satu sama lain..


“Rasyi mau ngomong sama paman? Kakak juga temani,” ia mengelus rambutku.


Aku menggeleng, “Rasyi tidak mau bahas itu lagi. Biarin saja.”


“Ras⏤”


“Tidak mau!”


Heh, aku berteriak?


Kembali aku memandang ke arah lain, “Maaf. Tolong, jangan membicarakan itu lagi.”


Fares dengan lembutnya mengelus pipiku yang masih basah.


“Mau dinner di luar berdua sama kakak? Ada tempat yang kakak datangi,” ia tersenyum cerah seperti biasa.


Kuakui, hal itu saja, dayaku jadi terasa terisi lagi, “Iya.”


Ia masih tersenyum dan masih berdiri di sana. Bajuku yang tanpa lengan menjadi sasaran jaketnya yang baru ia lepas. Hangatnya mampu menghentikan air mataku.

__ADS_1


__ADS_2