
“Next slide. Pembukaan hubungan diplomatik. Setiap negara yang merdeka dan berdaulat punya right of legation. Hak legasi ada dua....”
“Psst. Fares,” Naufal memanggil.
“Kenapa?”
“Cek grup.”
Mau tidak mau. Handphone itu harus dinyalakan. Tengah-tengah kelas pak Basri.
[Guys. Yang bawa proposal pinjam properti, siapa? Mau kita kasih ke bu Yanna nih buat ke fakultas Teknik!]
[Ayo eh. Ditagih bu Yanna.]
Sedang ribut. Bisa jadi ada salah paham. Penyelesaian tampaknya tidak kunjung ditemukan.
Bu Yanna sampai harus mengirimkan pesan online padaku.
[Faresta? Kalau tidak ada yang urgent bisa bantu? Proposalnya belum dikasih sama teman-temanmu.]
Ini tidak dapat terhindari lagi.
Angkat tangan, “Pak, saya boleh izin? Ada keperluan Yudisium.”
“Berdiri.”
Tegap mengikuti arahan beliau. Pertanyaan apa yang akan beliau kasih kali ini.
“Penggolongan hukum, berdasarkan kekuatan berlaku.”
Ini materi mata kuliah pengantar hukum. Kalau tidak salah semester satu.
Berdasarkan kekuatan berlaku, atau sifatnya berarti....
“Hukum memaksa atau imperatif, kaidah hukum yang tidak dapat dikesampingkan. Dan hukum mengatur atau fakultatif, kaidah hukum yang dapat dikesampingkan.”
“Contohnya.”
Berarti yang⏤ “Untuk imperatif, pasal 147, pasal 148 KUH Perdata, pasal 326, pasal 338 KUHP. Untuk fakultatif ada pasal 1476 dan 1477 KUH Perdata.”
“Iya iya. Silahkan keluar. Sudah presensi kan?”
“Sudah pak,” akhirnya, “Terima kasih.”
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
Pesan online lagi?
[Sudah kah kerjaannya?]
Pesan Naufal kubalas simpel dengan kata, iya.
[Di cafe ya, sudah beliin tela-tela. Sini bayar.]
Dia selalu menyiapkan tempat. Makanan yang aku bisa konsumsi juga. Aku harus pergi ke sana, sebelum porsiku dimakan sendiri sama dia. Tidak dipungkiri aku juga sedang lapar.
“Woi! Fares!”
Naufal di satu meja cafe. Kantin hari ini ramai juga.
Duduk dan disuguhi kopi bersama tela-tela. Pesanan Naufal tidak buruk. Tapi sepertinya lebih baik aku pesan makanan berat juga. Hari ini jadwalku sampai sore.
“Eh. Kalian tidak balik? Mau nginap lagi di kampus?”
Aku menyadari satu perempuan yang tiba-tiba duduk di sampingku. Dan mengambil satu potongan tela-telaku.
Clarissa. Kali ini juga bajunya sangat lain.
“Lagi nyemper nih?”
Tiga lagi orang yang bersamaan dengan Clarissa mendekat. Bukannya dia ketua kelas perancangan kontrak? Dimulai jam dua kan?
Aku tanyakan saja, “Dicepatkan kah, Zi, kontrak?”
“Gak. Dilambatin bahkan. Iya ya, lupa ku-share.”
Hanya tambahan orang untuk tela-tela yang bahkan belum aku raih.
“Habis dah tuh punya Fares,” Windu cuma tertawa.
“Kalau ambil punya Fares, pasti dia beli lagi. Hahahaha.”
__ADS_1
“Gitu kah?” aku bersandar di kursiku, “Pesan satu lagi dah sana.”
Mereka langsung ribut. Bersemangat.
Mereka memang tidak pernah sungkan. Aku juga sering kali yang menawari duluan.
Waktunya aku untuk sungguhan makan, “Pesankan bakso juga.”
“Siap bosku.”
Kali ini cuma bisa menunggu. Lihat-lihat keadaan kampus dari kursi.
Loh? Anak kecil?
Mencari seseorang sendirian di fakultas yang besar begini. Terpisah, pasti begitu.
(“Kak Fares~”)
Rasa menolak untuk bergerak. Mungkin aku akan sedikit berpuasa.
Tidak bisa meninggalkannya.
“Makan aja baksonya. Aku mau tinggal dulu,” aku biarkan tasku di tempatnya.
“Yakin nih? Kamu yang bayar loh.”
Aku tertawa kecil, “Bayar sendiri.”
Kutinggalkan mereka saling menertawai. Mata semakin lincah cari jejak si adik kecil tadi. Untung masih bisa disusul.
“Dek.”
Saat aku memanggil, adik perempuan ini berpaling. Tatap dengan air matanya. Bisa jadi benar kalau dia terpisah dengan walinya.
Aku jongkok, “Adek cari siapa?”
“Hiik, kakak.... Kakak gak ketemu....”
Kakaknya mahasiswa sini ya?
Tersenyum dan elus dia, “Siapa nama kakaknya?”
“Kak Putla....”
“Tadi sama kakak ke mana?”
Dia menunjuk, kantin? “Sana....”
Sepertinya antrian yang ribut mengganggu pengawasan kakaknya. Atau mungkin saja kakaknya yang pinta dia tunggu, tapi adek ini tidak mau diam.
“Putra, Putra Argandani?” Clarissa? Sudah ada di belakangku. Kenapa?
Tapi, “Kamu kenal?”
“Si Dandang. Adik tingkat. Dia ArtSella juga kayak aku.”
Hmm..., Clarissa kenal. Lebih baik meminta dia hubungi si Putra ini. Dia pasti khawtair. Kalau memang benar dia yang dimaksud.
Adik ini tidak mengatakan apapun. Takut?
Tersengum lagi, “Benar itu kakaknya?”
“Gak tahu....”
“Mukanya mirip loh sama Dandang,” Clarissa begitu keras akan jawabannya.
Kalau begitu, “Coba, Ri, telpon atau chat Putra.”
“Coba ya...,” dia mengakses handphone-nya.
Sepertinya cukup memakan waktu. Belum tentu orang ini menggenggam handphone. Atau bahkan terlalu sibuk untuk mencari adiknya.
“Tunggu sebentar ya, ini dicoba carikan kakaknya adek,” aku tersenyum lagi. Pelan-pelan tanganku menyeka air matanya, “Nama adek siapa?”
“Hiik... Latika.”
Wow? “Ratika?”
Dia mengangguk pelan.
Aku tidak bisa tidak mengelusnya. Jiwa yang tak punya salah ini sedang ketakutan. Orang-orang yang ramai dan tak dikenal, pasti membuatnya sesak. Bahkan tidak dapat bergerak.
__ADS_1
Bertahanlah sedikit lagi.
“Halo, Dandang? Kamu bawa adek ke sini? Ratika ya namanya?” Clarissa sepertinya berhasil menghubungi Putra, “Dimana kamu?” apa benar? “Jangan kemana-mana.”
“Kakak?” Ratika tampak berharap.
“Gimana?” aku mencoba menenangkan Ratika dengan mengelus pundaknya.
“Bener. Dia di sekre ArtSella.”
Untunglah. Masalah ini tidak lebih panjang lagi. Jadi Ratika juga tidak perlu takut lebih lama.
Aku berdiri. Mengulurkan tangan ke Ratika. Tersenyum, “Yuk.”
Loh? Dia masih takut.
Tidak bisa disalahkan juga. Kami ini orang asing untuknya.
Aku jongkok lagi, “Ratika suka kak Putra?”
“... suka....”
“Apa yang disuka sama kak Putra? Mau tidak cerita ke kakak?”
Dia berpikir, “Kakak pintal. Jago main gital. Sualanya juga bagus,” Ratika merengut? “Tapi Latika gak suka kak putla!”
Melenceng?
“Loh. Katanya suka?” Clarissa juga menyadarinya.
“Iya, tapi... Kak putla nakal! Aku dibilang jelek. Penakut. Padahal gak gitu!”
Begitu ya? “Iya ya. Sekarang Ratika saja berani ngomong sama kakak-kakak. Masa dibilang penakut. Apalagi,” aku hapus lagi air matanya, “Ratika pasti cantik kalau senyum. Ya kan?”
Dia sudah tenang. Akhirnya tanpa rasa takut dia tersenyum. Dengan giginya yang bolong satu itu.
Lucunya. Tidak sadar aku elus kepalanya lagi.
“Iya. Gitu,” aku berdiri. Mengulurkan tanganku lagi, “Kita tunjukin ke kak Putra kalau Ratika pemberani. Yuk.”
Kami akhirnya bisa bergandengan tangan. Clarissa ikut berjalan di sampingku. Memahami ke mana harus kami pergi. Sampai ke jalanan luas dengan satu sisinya berupa Kesekretariatan UKM seni itu.
Bisa terlihat satu orang yang menghampiri.
“Ratika! Astaga kamu tuh ya! Kakak kan bilang jangan kemana-mana dulu!!”
Sepertinya benar Ratika tidak mau diam saat ditinggal sebentar.
“Kakak yang tinggalin aku!!”
Mereka bertengkar? Kurasa aku harus tengahi.
“Gak usah dimarahin. Kamu juga, kalau tahu adeknya gak bisa diam. Jangan ditinggal.”
Kakak ini kelabakan, “Iya kak. Maaf.”
“Ratika juga,” aku duduk jongkok lagi, “Kalau Ratika disuruh diam sebentar. Nurut ya? Nanti kalau kepisah lagi begini gimana?”
“Jangan!” dia langsung memeluk kaki kakaknya.
Cukup sudah dia kapok dengan kejadian ini. Tidak ada yang perlu dimarahi atau memarahi.
“Makasih kak.”
“Lain kali hati-hati,” aku pergi sambil melambai kecil ke anak yang sembunyi di kaki kakaknya itu.
Tidak ada alasan berlama-lama di sana. Baru ingat tentang perut yang belum terisi. Clarissa juga setuju ikut langkahku yang pasti ke cafe sebelumnya.
Aku bisa tenang mengetahui anak kecil itu tidak takut lagi.
“You're good with child~” Clarissa berpikir aku menangani anak-anak dengan baik?
Jawaban yang pasti..., “Aku punya adik.”
“Kamu ya, calon bapak idaman. Hehehehe.”
Aku tertawa, “Gitu kah?” oh iya. Hampir lupa, “Thanks ya, sudah bantuin.”
“Traktir-nya mana~?”
Lelah sekali. Itu lagi yang dibahas.
__ADS_1
Reaksiku berhasil memancing tawa Clarissa. Candaan ini tidak bisa dihindari.
Tapi tidak ada salahnya mentraktir perempuan ini.