Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#113 As Ta Ga


__ADS_3

Aku mengerti apa yang terjadi dibalik kelahiran Daffa. Itu sebuah tragedi, dan semua itu tidak pernah terduga sedikit pun akan terjadi.


Dan semua itu terjadi dengan aku sebagai porosnya. Semua hal buruk itu berasal dari adanya aku di sosial.


Ira harus mendapatkan Daffa di keadaan yang terpaksa.


Bahkan aku tidak pernah diberitahu siapa ayahnya. Dan aku pun tidak berani menanyakannya.


Namun aku tidak pernah mengira hal ini. Ira seperti melihat kematian di depannya saat mengatakan anaknya sakit.


“Sudah, Ra. Tidak papa,” Sari berusaha menenangkan adik iparnya ini.


Daffa memang selalu ribut, tapi aku tidak pernah mendengarnya menangis kencang tak selesai-selesai seperti sekarang. Anak ini termasuk pintar walaupun banyak mau. Telinga saja sudah menangkap keadaan Daffa yang sakit. Pantas Ira sampai panik.


“Daffa kenapa?” suara Ira bergetar saat tangannya mencengkeram baju di pundak papa.


Dengan tenang, seperti biasanya, papa memeriksa Daffa yang masih menangis. Ia menggenggam tangan Ira dan menariknya menjauh dari pundaknya. Papa duduk di ujung ranjang, membelakangi Daffa yang masih rewel.


“Cuma Gastroenteritis. Tidak usah takut gitu,” papa masih menggenggam tangan Ira yang ikut menangis. 


“Aa, Daffa sakit apa itu?!” Ira menarik-narik tangan papa, “Cepat bawa ke rumah sakit, Iki! Daffa!”


Papa berdiri dari duduknya. Wajahnya tampak kesal tapi alisnya terangkat layaknya ikut sedih. Ia... menahan wajah Ira? Nafas panik Ira masih bertahan di sana.


“Tenang,” papa masih menahan wajah Ira, “Daffa cuma mutaber. Kalau istirahat juga sembuh.” 


Ira mulai tenang meski air matanya masih deras, “Beneran tidak papa?”


Rizki melepaskan wajah itu, “Buat apa aku bohong?”


“Mamaaaaa!!” Daffa masih rewel di sana, disertai batuk di tangisnya.


“Aa...,” Ira kembali panik.


“Udah,” papa jongkok di sana mengelus kening Daffa, “Berapa lama terakhir muntah?”


“Pas telpon tadi dia muntah sedikit,” Sari ikut mendekat setelah Ira duduk di ranjang untuk mengelus kaki Daffa.


“Daffa, kalau mau muntah. Muntah aja, ya? Biar enak, habiskan,” papa berpindah posisi.


Pria ini mengangkat kepala Daffa. Ia memberikan bantalan yang lebih tinggi untuk kepalanya. Mendekap lebih dekat dengan satu tangan melingkar di atas kepala Daffa. Satu tangan lagi memijat kecil belakang kepala Daffa.


Papa masih melakukannya sambil memandang ke Sari, “Kasih minum sama makan. Dua puluh menit habis muntah. Biar tidak dehidrasi.”


“Teh ya, sayang?” Sari ikut mengelus Daffa.


“Jangan terlalu manis,” Papa masih melakukan apa yang ia lakukan, “Sama makan pisang, hmm? Sedikit aja.”


Daffa terlihat lebih tenang dan mengangguk pelan. Membuat orang di sini tampak hilang sedikit ketegangannya. Ruangan ini lebih hidup hanya dengan hal kecil yang papa lakukan pada Daffa.


Kalau diingat-ingat, papa sungguh mengerti anak kecil. Saat aku sakit pun, semua tampak nyaman.


“Mmm!” Daffa kembali rewel.

__ADS_1


“Mau muntah?” papa memandang Daffa.


Anak itu mengangguk.


Papa dengan sigap mengangkat anak ini untuk pergi ke kamar mandinya. Tentu dengan Ira yang masih khawatir di belakang punggung papa.


Aku rasa aku pun bisa duduk. Turun ke ruang keluarga yang sepi. Duduki satu sofanya. Sambil mendengar kesibukan orang-orang dewasa itu menangani sakit Daffa di lantai atas.


“Rasyi,” suara Sari? “Rasyi kalau mau jajanan, ada di rak dapur. Ambil sendiri ya?”


“Iya, tante,” aku tersenyum lebar.


Wanita itu menaiki tangga. Membawa nampan dengan menu ringan untuk pasien di atas.


Sedangkan aku bingung harus melakukan apa.


“Kak Fares di kampus lagi? Huuh...,” aku menghela nafas.


Di samping semua hal yang terjadi di kurun kurang dari sepuluh menit sejak menginjakkan kaki di rumah ini, kepalaku masih fokus pada hal lain. Tidak lain dan tidak bukan, kak Fares.


Aku ingin sekali menunjukkan seberapa keras kepalanya aku. Itu memang bukan hal yang bisa dipamerkan. Maksudku, aku ingin sekali... apa ya...?


Hooam! Aku mengantuk... aku ingin... dapat perhatiannya... seperti biasanya....


.


.


.


“Hmm?” aku bangun?


“Jangan tidur di sini, ayo. Kita pulang,” papa?


Apa aku tadi tertidur? Sekarang jam berapa? Pulang, ke mana?


“Tidak makan dulu?” Sari?


Oh, iya. Kami ada di rumah Hendra. Karena Daffa sakit dan Ira panik akan hal itu. Dan sepertinya aku sempat tertidur di sofa meski dalam keadaan duduk.


Hmm? Punggung jemari tangan papa menggosok pipi di bawah mata kiriku. Tanpa aku sadari benar, papa ini terjongkok dekat di depanku. Ia sungguh mengelusku dengan lembut, seperti biasanya.


“Ngantuk banget ya?” papa memainkan rambut di ubun-ubunku, “Makan dulu sedikit.”


Papa selalu saja mencoba mempertahankan kesehatanku walau hanya dengan makananku. Tidak melewatkan satu waktu pun untuk makan menjadi rutinitasnya. Meski sedingin es, dia tetap saja orang yang khawatiran.


“Iya...,” aku menggosok mataku dan benar-benar membangunkan diriku sendiri.


Sari ikut mengelusku. Ia pergi menjauh ke arah dapur. Aku pikir ia ingin menyiapkan makanan.


Jam delapan malam? Karena ini lewat jam kerja Hendra, dia seharusnya pulang jam segini sih. Memang sudah pada waktunya, ibu rumah tangga ini menyiapkan makan malam.


“Iki,” suara Ira?

__ADS_1


Mataku menyadari seorang ibu ini menggendong anaknya mendekat kemari. Sepertinya urusan papa belum selesai. Kalau seperti itu, kenapa aku dibangunin papa di sini?


“Dia maunya sama kamu,” Ira menunjukkan anaknya yang mengulurkan tangan ke papa.


Rizki tidak ada alasan menolak seorang anak yang sakit. Ia mengambil alih menggendong Daffa dan mengelus rambutnya.


“Tidak tidur?” papa mendapat anak ini memeluknya lebih erat.


Ira mendekat, “Iki yang temani Daffa tidur, tolong ya? Aku takut dia tidak bisa tidur semalaman....”


Papa terdiam sejenak, “Daffa tidur, yuk.”


Tidak jadi makan nih?


Lihatlah mereka. Bahkan seperti berpose seperti berfoto keluarga....


Kupandang lagi mereka dengan seksama. Membiarkan mereka bercakap dengan keinginan mereka.


Jika misalnya papa dan Ira menikah, bukannya gambaran ini yang akan diabadikan di foto album? Gambaran yang, akan aku lihat setiap hari.


Entah bagaimana, aku tidak nyaman. Aku tidak paham, tapi ini sungguh membuatku ingat akan Fares, yang menjauh semakin hari. Setiap saat yang... merindukan perhatiannya.


Tak tahu kenapa, satu nama muncul.


Sekar.


Namun, kenapa?


“Rasyi makan duluan, hmm?” papa mengelus keningku.


Aku terdiam, “Iya....”


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


“Huuuh...,” aku tidak bisa berhenti menghela nafas. Kemarin malam sulit juga untuk aku tidur, “Ngantuk....”


“Begadang?” Firna menggandengku selagi kami selesai melepas sepatu, “Marathon?”


“Mana sempat aku nonton?”


Hmm? Kenapa orang-orang sekitar terasa mengeluarkan aura yang aneh. Mereka seperti... menggosipkan aku? Ada apa?


“Marathon sekali, nanti tidak tidur samsek!” Firna berjalan duluan, “Tapi pingin.”


Aku menyusulnya memasuki kelas. Masih dengan keadaan sekitar yang canggung tidak menyenangkan. Walaupun Firna masih berkicau tidak menanggapi, atau tidak menyadarinya.


Sebenarnya kena... pa?


“As, ta... Ras!”


Tidak bisa aku hentikan wajah terkejutku, sama seperti Firna yang berhenti di seberang antara meja kami. Mataku menemukan objek yang mengejutkan itu dengan sangat baik.


Mejaku yang awalnya masih dengan kain taplak hijau matching dengan yang lain. Sekarang, sudah rusak penuh coretan.

__ADS_1


__ADS_2