Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#125 Burung Ketiga


__ADS_3

Lama-lama, aku sudah tidak lihat lagi. Lama-lama, aku lupa apa yang pernah aku lihat.


Itu lama sekali. Kalau tidak salah, aku baru saja berumur lima tahun. Wajar saja aku bisa lupa kak Riza ke mana. Makan, tidur, main, semuanya lancar saja. Seperti tidak ada yang terjadi sama sekali.


Tapi ibu....


“Sayang,” ibu dekat ke arahku, “Lagi apa, sayang?”


“Tidak apa-apa.”


Aku cuma diam. Lipat lipat lipat kertas-kertasnya. Ibu juga tidak bilang apa-apa. Dia cuma kelihatan takut.


Tidak ingat berapa lama sudah kelewat harinya. Rasanya lama sekali. Semua orang tidak bisa senang. Ibu selalu sedih, ayah selalu marah.


Paman dan tante juga tidak pernah ke sini lagi. Mereka mau pindah lagi yang jauh. Jauh, makin lama tidak kelihatan lagi.


Makin lupa, tapi ibu makin kelihatan takut.


Aku yang tidak paham, tidak lihat apa-apa yang akan terjadi. Cuma, tiba-tiba, aku diajak ke rumah sakit. Semuanya tidak senang. 


Katanya, tante Nisa pergi...


Paman sampai teriak-teriak padahal lukanya banyak sekali. Mereka bilang paman sama tante kecelakaan. Terus, mereka bilang, tante Nisa punya...


Semuanya bikin aku bingung.


Orang-orang tidak tahu kenapa tiba-tiba bisa senang banget. Mereka tetap senang padahal tante Nisa juga tidak ada.


Ibu awalnya selalu sedih, tapi dia juga selalu senang sama bayi itu.


Aku jadi paham kenapa.


Gara-gara adik itu adiknya kak Riza.


“Lucu kan?”


“Iya....”


Tidak tahu. Apanya yang bikin senang kalau dilihat saja?


Oh.


“Bu, adiknya bangun!”


Dia kayak ulat. Kata ibu, bayi itu bisanya nangis. Tapi dia tidak nangis juga. Matanya kayak kak Riza.


Cantik.


“Anak pintar,” ibu kasih dia susu botol.


Dia, adiknya kak Riza. Adik perempuannya kak Riza.


Makanya aku harus turuti janjinya kak Riza kan? Rasyi juga adikku. Berarti aku yang harus jagain Rasyi.


Kayak aku sama kak Riza. Aku main, mandi, makan sama-sama. Dia bangun aku ajak main. Kalau dia tidur, aku jaga. Rasyi harus senang.


Adiknya kak Riza, juga adikku.


“Rasyi!”


Dia pasti senang sama marakasku kan?


“Aa da eunda! Ta tattata emdata, taa!”


“Apa?” aku tidak paham.


Geleng-geleng kepalanya kencang sekali, “Tta ta ta ta tta!!”


“Jangan berkelahi~” ibu selalu ketawa.


“Rasyi duluan!”


“Eummu dada!!”

__ADS_1


Dia tidak suka?


“Ndamm! Ndattaa!!!”


Rasyi marah-marah. Padahal aku coba jadi kakak kayak kak Riza. Aku sudah susah-susah di sini terus. Bikin senang Rasyi. Sama buat jagain Rasyi. Kayak kak Riza.


Coba panggil lagi, “Rasyi! Lihat!”


Yang ini pasti dia suka. Kak Riza pernah ajarin bikin ini. Waktu aku kasih lihat, kak Riza juga suka.


Aa!


“Jangan!”


Mainanku dimakan Rasyi!


“Jangan ditelan ya~” ibu kasih sapu tangan ke mulut Rasyi, “Kak Fares buat lagi tidak apa kan?”


Padahal aku sudah coba.


Rasyi pasti tidak suka aku, gara-gara aku bukan kakaknya yang benar. Dia cuma adiknya kak Riza. Bukan adikku. 


Aku panggil lagi, “Rasyi tidak mencintaiku ya?” 


Dia lihatin aku.


“Soalnya Rasyi jahat terus sama aku.”


Ibu malah ketawa, “Bukan begitu, sayang~ Memang kelihatannya Rasyi tidak suka, tapi sebenarnya menggigit sesuatu memang cara adik bayi bilang dia suka.”


Rambutku diacak-acak lagi sama ibu.


Tapi Rasyi diam saja. Seharusnya kalau benar, Rasyi bakal ketawa. Atau senyum.


“Nda!” Rasyi senyum!


Rasyi sayang aku! Rasyi cinta aku! Aku kan kakaknya! Iya! Aku kakaknya!


Itu bukan hal besar, tapi aku bisa ingat jelas. Adik yang belum satu tahun ini. Dia seperti setuju kalau aku kakaknya. Kekanak-kanakan sekali. Sampai rasanya malu kalau sekarang aku ingat lagi.


“Rasyi~”


“Aa Ayyeeis!”


Aku kakaknya Rasyi. Jadi kalau aku duduk di bawah, dia pasti jalan ke arahku. Terus dia pasti peluk aku. Habisnya semuanya ketawa.


Waktu aku lihat mukanya, dia pasti lihatin aku seperti suka. Suka ke kakaknya sendiri.


“Achi kaaen aa o~”


Dia bilang apa? Oh! “Rasyi kangen kakak ya?”


“Ya!”


Aku juga kangen adiknya kakak.


“Fares~”


CEKLEK!


Sama seperti yang ada di foto yang diambil tante Ira. Kami kakak adik.


“Rasyi~” aku kasih dia keranjang, “Ini kado buat Rasyi~”


Ibu juga suka, “Ini kelinci~”


“Rasyi takut ya?” tante cuma iri aja!


Rasyi, beneran takut? Dia seharusnya suka apa saja yang aku kasih.


Tangan Rasyi sudah bisa peluk kelinci. Cuma aku ambil satu. Kasih dia terus suruh peluk.


“Kelincinya gak gigit kok. Rasyi pasti suka.”

__ADS_1


Kak Riza sudah suruh aku bikin janji buat jagain adiknya. Bilang kalau Rasyi adikku juga. Jadi aku harus bikin dia senang. Harus jagain Rasyi.


Sama kayak tiga burung itu.


Aku kakaknya.


Aku kakaknya Rasyi.


Rasyi itu adikku.


Kalau Rasyi tidak suka, aku⏤


Rasyi cium dahiku!!


“Achi cuka!”


Rasyi adikku jadi... aku bisa senyum.


Aneh. Waktu itu rasanya lain. Tapi aku tetap harus jadi kakak yang baik kan?


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


“Haaa!” Rasyi menangis kencang sekali.


“Maaf, Rizki. Aku tidak bisa melarangnya,” ibu jadi ikut panik.


Paman Rizki duduk, “Dia memang keras kepala.”


Untung saja kursi tamannya ada yang kosong. Jadi paman bisa pangku Rasyi. Hari ini taman hiburannya penuh sekali. Bisa desak-desakan nih setiap kali jalan.


Tapi ada yang lebih penting, Rasyi masih takut tentang wahana yang baru. Dongeng tentang laba-laba sih ya. Rasyi kan takut laba-laba. Kalau saja aku halanginya lebih keras. Mau bagaimana? Aku tidak mungkin bilang tidak ke Rasyi.


Salahku juga sih. Lain kali aku harus bedakan yang mana yang bagus buat Rasyi yang mana yang tidak. Dia belum paham apa-apa. Umurnya masih enam tahun.


Harus minta maaf dulu, terus ajak yang seru.


Oh iya.


“Maaf Rasyi,” aku dekat ke arah mukanya, “Kakak belikan crepe deh. Mau tidak?”


Nangisnya selesai, “Coklat?”


“Gigi-nya Rasyi kan masih sakit,” bagusnya apa ya? “Gimana kalau dicampur sama buah?”


“Pisang?”


Lucu sekali. Tidak bisa tidak ketawa, “Boleh~”


Aa. Dia mau digendong?


Setelah aku kasih tangan, dia pasti langsung minta ke aku. Tidak boleh lama-lama, nanti dia marah lagi.


Paman Rizki setuju buat temani. Banyak orang, jadi harus tetap dijagain. Padahal aku bisa saja sendiri. Cuma diseberang saja kok, gampang buat ke sana.


Yang penting kami samai. Aku sudah pesan yang Rasyi mau. Ayah ibu juga bilang pesan dua lagi. Oh iya, minuman juga. Paman Rizki bisa belikan di sana. 


Satu crepe sudah jadi. Rasyi keliatan suka. Tidak papa kalau dia pegang sendiri.


“Pelan-pelan, masih panas,” aku kasih saja dulu.


Tangannya kecil sekali. Crepe sebesar itu harus diambil sedikit-sedikit. Dia paham buat tiup sebelum dimakan. Sekarang sudah tidak papa.


Oh dua crepe yang lain. Besar sekali. Tanganku jadi penuh. Aku bisa bawa pelan-pelan ke ayah ibu. 


“Rasyi bisa jalan sendiri kan?” aku bisa suruh Rasyi ikut aku di belakangku, “Jangan jauh-jauh dari kakak ya?”


“Iya~” adik yang pintar.


Jalannya memang ribut sekali. Banyak orang. Tapi aku jalannya pelan-pelan. Rasyi bisa saja ikuti aku dari belakang⏤


Rasyi? Rasyi di mana?


⏤⏤⏤⏤⏤⏤⏤⏤⏤⏤⏤⏤⏤⏤⏤⏤⏤⏤⏤⏤⏤⏤⏤⏤⏤

__ADS_1


^^^Biar tahu aja sih. Sebenarnya aku ada buat bagian ini pakai POV-nya Rasyi. Kalau mau baca (happy banget~) bisa langsung ke Putri Sang Duda chapter #1, #5, #9, dan #20 ~~^^^


__ADS_2