Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#20 Dibawa Firasat


__ADS_3

Langkah yang sedikit cepat membawaku mendekati sosok di depan. Kendaraan yang menjadi sahabat lelaki ini senada dengan pengaman kepala yang ia kenakan, begitu pula dengan pengaman satu lagi.


Sambutan yang sudah biasa tak ada kiranya lelah diterima.


“Bye bye~” Firna yang sudah ada di kendaraan matic biru berusaha untuk mencari jalan pulang sendiri.


Aku melambai kecil saat ia sudah mulai menarik gasnya, “Hati-hati~”


Firna meninggalkanku dengan tumpanganku, yang sudah mengganti seragamnya, berdua di pinggir jalan sekolah. Duh, memikirkannya saja membuatku malu sendiri.


Oh iya, “Harun,” aku menatap lelaki itu, “Antar aku ke RS ya.”


“Ya?” dia tampak kebingungan, “Paman Rizki sudah balik? Tidak dari rumah paman Hendra sekalian sama bawaan?”


Ya, entahlah, dia sendiri yang menyuruh.


Rizki memang bilang dia sudah di rumah sakit itu sejak tiga hari lalu. Entah pekerjaan apa yang dilakukan sampai hari selasa sekarang ini. Yang pasti dia memintaku untuk ke sana dan bersiap untuk pulang.


Kuangkat kedua bahuku, “Papa baru chat. Aku disuruh ke sana.”


Setidaknya aku bisa ke rumah yang aku rindukan itu. Walau terdengar aneh, tapi aku juga kangen dengan papa.


Lebih lagi, ada yang perlu dikonfirmasi. Kalau papa kenal dengan si kembar, aku yakin ia punya petunjuk tentang Sovian pergi kemana dan Sagara yang bertingkah aneh.


“Tidak bisa ya?” aku memulai lagi percakapan kami.


“Pasti aku antar kok. Ke mana saja,” ia tersenyum manis.


Mataku yang terpesona..., tapi sudah waktunya kami pergi.


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


Akhirnya kami memasuki jalan yang lebih sepi. Orang-orang memang menyebutnya jalan tol, tapi ini sekedar alternatif jalan untuk pada pengangkut berbadan besar. Minimnya pemukiman di pinggiran jalan, membuatnya terasa segar dengan berbagai hijaunya.


Rumah sakit papa bekerja memang bukan terletak di jalan utama, tapi fasilitasnya sudah melebihi rumah sakit biasa bahkan terus berkembang.


Bisa jadi karena pengaruh ayah bagus meski hanya ikut bekerja.


Ponselku ternyata berisik ya? Lagi-lagi dia membunyikan suara kalau ada pesan masuk.


“‘Lagi di IGD’,” aku membaca pesan dari papa ini.


Aku tahu papa itu sibuk. Bahkan walau hanya berjarak tiga puluh menit dari rumahnya, ia tidak sempat pulang sama sekali. Hari ini ia memintaku datang saat pekerjaannya mulai senggang, tapi masih ada saja urusan dadakan.


“Ya?” pundak Harun bergetar, “Paman Rizki?”


“Masa aku sih?”


“Heheheh,” duh, aku diketawain.


Oh, kita sudah sampai tujuan. Aku harus turun sekarang⏤


“Loh, tunggu,” tangan kiri Harun menahan kakiku sebelum sempat turun, “Aku antar sampai ke dalam.”


Hmm? “Tidak perlu, nanti bayar parkir.”

__ADS_1


“Paman kan lagi rawat IGD, nanti nunggunya lama loh,” postur tubuhnya bergerak tak jelas, “... tidak boleh ya aku ikut?”


Dia tidak pandang bulu deh. Kalau sejelas itu dia mengatakannya, harapan akan fantasi indahku akan melayang terlalu tinggi.


“Lama loh,” mau sebesar apapun aku menginginkannya, aku tidak mau memaksanya.


“Aku jadi punya banyak alasan untuk temani,” kendaraan akhirnya masuk setelah dia melewati gerbang dengan jejeran loket masuk.


Duh~ Iya deh, aku tidak akan menghalangi keinginannya lagi~


Benar juga. Aku memang bisa menyusup dan menyudutkan diri ke ruangan papa yang tidak mungkin dimasuki sembarangan orang. Namun untuk masuk ke sana, aku harus melewati kawasan yang terlalu penuh dengan manusia.


Jangankan jalan, yang ada malahan aku terguncang seperti kapan lalu.


Harun, tolong bantuannya ya~


“Yuk,” ia meletakkan pelindung, yang baru saja aku lepaskan, di dudukan belakang kendaraannya.


Area parkir ke jalan masuk lumayan jauh. Tidak seperti gerbang yang dibuat lebih dekat ke lobi.


Ya meski jalan sangat jauh, itu pasti akan berkurang dengan mudah karena aku akan terus berbincang dengan Harun. Tentu saja dengan beberapa kenalan yang menyapa dan sapaan balik yang basa-basi.


Kubuka mulutku memulai topik pertama, “Harun tidak les hari ini?”


“Sudah ganti jadwal di malam. Jadi sore lebih santai.”


Hmm... Topiknya selesai dengan cepat sekali.


Masuk ke pintu yang dimaksud tidak terasa lagi.


Ramai sekali ya~ Untunglah Harun ada di sisi kananku yang bisa aku pandang leluasa karena jauh lebih sepi.


Hmm? Tunggu, yang berjalan ke sana itu bukannya paman Dito? Ia pergi bersama seorang wanita dengan air wajah yang tidak menyenangkan.


“Rasyi? Lihat siapa?” Harun menyadarkanku.


Ternyata aku sudah berhenti di tempat dan menatap lekat ke arah mereka berdua yang mendekati perbatasan IGD.


Loh? Kak Fares? Dia kenapa bisa keluar dari sana?


Mereka bertiga bertemu dan saling berbicara. Entah apa itu.


“Rasyi?”


Aku menarik lengan baju Harun, “Itu, itu kak Fares tidak sih?”


Pandangan yang sedari tadi tidak jauh dariku akhirnya bisa ia pindah ke arah yang aku tunjuk di belakangnya, “Iya....”


“Kenapa kak Fares di sini?”


Harun mengangkat kedua bahunya, “Cari paman Rizki juga mungkin?”


Tidak mungkin. Kak Fares itu tipe yang tidak mungkin mengganggu papa kalau sedang kerja. Makanya kak Fares lebih memilih pergi ke rumah yang lebih jauh daripada ke rumah sakit untuk mencari papa.


Aku tahu karena kak Fares itu punya pelajaran tambahan dengan papa, sejak Fares masuk SMP.

__ADS_1


Ditambah lagi dia bersama paman Dito. Saling bertemu di rumah sakit di depan pintu menuju kawasan IGD. Bukannya itu bukan hal yang tak biasa?


Firasatku bergejolak dan tiada hal bagus darinya.


Paman Dito dan satu orang lagi mulai pergi. Harus aku kejar kak Fares sekarang.


Kutarik tangan Harun dan membawanya mendekati Fares, “Kak Fares!”


“Rasyi?” Fares terhenti dari langkahnya.


Tunggu. Ada orang lain yang berdiri di sampingnya. Mustahil aku tidak mengenalnya.


“Sagara lok...,” kekhawatiran yang terasa tepat sasaran. Rasanya takut untuk mengakuinya, akhirnya membawaku memandang lagi, “Kak, kenapa kakak di sini? Di sana IGD kan?”


Bukan. Tatapan itu tidak bilang kalau mereka berkumpul sekedar ingin bertemu papa. Ia bingung dan sedih dalam waktu bersamaan.


Jangan bilang, “Kak Fares, Sovian⏤”


“Terus-terusan dibilangin!” Sagara langsung mendekat dengan wajah marahnya, “Jangan ikut-ikut urusan orang!!”


Ia memberikan dorongan di bahu kiri depanku. Meski ujung jari-jarinya yang terasa sakit itu menyenggol keras, aku tidak melihat ia berniat mendorongku jatuh.


“Saga!” Fares sepertinya sadar dengan apa yang ingin Segera lakukan.


“Kurang ajar!” tidak, Harun, aku harus menahannya.


“Harun, jangan ikut marah⏤”


“Bawa pacar kamu sana!! Suruh jangan seenaknya sama urusan orang!” Sagara dengan marahnya berteriak sambil menunjuk ke arahku.


Entah kenapa di sela kemurkaannya, aku bisa melihat matanya basah. Yakin kalau ia seperti ini karena emosinya sedang tak stabil akan sesuatu.


“Sagara, tolong...,” tidak bisa bertengkar sekarang.


Aku harus tahu siapa yang ada di dalam sana. Ini bukan masalah tentang rasa penasaranku. Tidak mungkin aku menahan ketakutanku akan apa yang terjadi.


Bila benar seperti yang aku pikirkan, yang ada di ruang IGD itu....


“Saga, mending kamu pergi sekarang,” Fares tampak serius.


“Tapi kak⏤”


“Saga!!” Fares, meninggikan suaranya.


Aku dan bahkan Sagara tampak terkejut. Udara yang menekan dari satu teriakan nama yang keluar dari mulut Fares tak bisa diabaikan.


Masih, Saga tidak bisa berhenti marah, “Terserah!”


Sagara... dia pergi. Tidak bisa seperti ini. Yang ada dia akan semakin membenciku, “Sagara.”


“Rasyi,” Fares menggenggam tanganku, menghentikanku, “Biarin.”


Hening di antara kami yang sesaat jadi lirikan orang yang ramai di belakang. Jalur publik para resepsionis dan semua orang yang berkeperluan, tidak pernah bisa sepi.


Selesaikannya masalah lebih cepat membuat orang-orang ini kembali ke aktivitasnya sendiri. Dan sekarang ini ada hal penting yang perlu aku pastikan.

__ADS_1


“Kak,” aku membalas genggamannya, “Sovian... Sovian kenapa?”


Ekspresi itu kembali sedih.


__ADS_2