
Redup masih terasa di keadaan pagi yang belum terang. Siapapun yang melihat sepi ini bisa jadi mengantuk seketika. Dan saat mata itu kalah dan terpejam, suara memanggil.
[“Yang masih di kelas! Cepat baris! Mau upacara!”]
Tidak ada yang mau mengambil resiko sampai guru-guru memeriksa satu persatu siapa yang ada di kelas.
Pengibaran bendera yang membosankan, didampingi matahari yang untungnya teduh, menjalani satu persatu susunan acaranya.
Melayangkan suara-suara menggema dari murid yang dipilih. Sampai ke posisi istirahat yang mematikan indra pendengaran meski seharusnya mendengar. Bila selesai, tinggal satu susunan acara lagi. Pengumuman.
[“Upacara selesai. Semua pimpinan barisan dapat membubarkan barisannya”]
Hmm?
Tidak ada pengumuman? Bukannya ada yang perlu diapresiasikan minggu ini?
Kelompok Harun kan baru saja selesai lomba. Penyerahan piala, piagam dan segala macamnya ke mana?
Upacara selesai seperti itu saja. Lautan manusia itu tembus dari barisannya.
Namun aku menatap pria yang memaku di sampingku.
“Pengumuman pemenangnya ditunda ya?” aku yakin dia paham dengan apa yang aku maksud.
Wajah itu tak menunjukkan semangat, “Kami kalah.”
Heh?! “Loh? Kok....”
Yaaah. Padahal Harun sudah berusaha hampir satu bulan dan melepas belajar di sekolah untuk mempersiapkan semua itu.
“... Salah Rasyi....”
Hmm? Kenapa? Dia bilang apa? “Apa, Harun?”
Ia tersenyum manis, “Tidak,” dia melangkah duluan, “Kelas yuk.”
Kakiku mengikuti langkah itu. Aku bisa melihat punggungnya yang lebar. Tegang di gestur tubuhnya membuatku berpikir sekilas. Harun sedang marah?
Yah, siapa yang senang dengan kekalahan yang padahal sudah dihalau dengan baik selama sebulan? Dan aku baru saja bertanya langsung tentang hal tabu itu tanpa pakai hati! Kurang asam sekali aku ini!
Cepat kukejar langkahnya, “Habis ini kita jalan-jalan, gimana? Harun mau ke mana?”
Mata itu memandangku, “Aku lagi tidak mau ke mana-mana.”
Eh? Tumben sekali Harun menolak ajakanku. Dia pasti benar-benar sedang marah.
“Terus mau apa? Beli camilan manis-manis?”
Ia menggeleng pelan di senyum sekilas yang hilang di kurang dari satu detik.
Ya mau bagaimana bisa terhibur? Kamu menawari hal yang kamu suka! Pikirkan Harun dengan sungguh-sungguh, Rasyi!
Kalau dipikirkan, aku tidak mengerti betul apa kesenangan Harun. Bila ditanya pun jawabannya selalu mendahulukan kesukaanku. Jadi aku menawari apa untuknya?
Mungkin..., “Oh iya, papa suka kalau dibelikan buku. Mau aku belikan buku juga⏤”
“Rasyi.”
Tersentak aku pada kaki Harun yang berhenti di tengah lorong kelas terbuka dan sepi. Raut wajah, tampak bukan biasa di sana. Bibirnya yang kemerahan itu seakan ingin mengatakan sesuatu.
Aku memperhatikan wajah serius itu, “Ya?”
“Bilang jelas-jelas, apa aku salah?”
Hmm? “Salah apanya?”
__ADS_1
“Fuuu,” dia tambak sungguh sedang kesal, “Kamu kayak mereka. Kamu pikir aku salah kalau perhatiin kamu. Gitu kan?”
Eh? Kenapa dia tiba-tiba bertanya itu?
“Tidak dong. Malah manis kok kalau kamu perhatiin aku begitu.”
Dia memandangku seketika dengan tajamnya, “Terus kenapa kamu tidak mau cerita apa-apa ke aku? Tentang kamu di dies natalis, papamu. Juga si dua keparat yang nembak kamu!!”
Aduh, dia tahu.
Dari mana? Seharusnya Firna paham betul untuk tidak membocorkan pada Harun.
“Jawab, Rasyi! Kamu pikir perhatiin dari aku itu salah?”
“Tidak mungkin aku pikir begitu.”
“Oke. Beritahu aku tentang papamu itu,” Harun bertambah sedih, “Aku juga mau jadi sandarannya kamu, Rasyi. Jangan sembunyikan apapun dari aku.”
Ini sudah kesekian kalinya ia memintaku untuk terbuka lebih dari yang seharusnya. Dan sebanyak itulah aku menahannya menyadari apapun.
Namun sebanyak apapun aku menentang, ia akan tetap seperti itu.
Bukannya aku tidak memahaminya. Yang ia rasakan itu sama seperti yang kulimpahkan pada Rizki. Papa selalu menghalangiku agar aku tidak terikut masalah lebih dalam, tapi selalu kupaksa ia untuk mengikutsertakan aku.
Harun maupun aku hanya tidak mau sosok yang ada di keseharian kami mengalami sesuatu yang buruk.
Dan aku pun paham bagaimana jadinya ada di sisi papa. Ia tidak mau merasakan penyesalan kedua kalinya.
Aku pun demikian.
“Harun. Lebih baik kalau kamu tidak tahu. Aku takut, Harun,” menghela nafas, berharap ia paham, “Kalau kamu sampai kenapa-napa karena tahu ini, aku... Tidak mampu.”
Kepalaku menunduk. Menunggu respons yang berarti akan usaha terakhirku. Namun sahutan tak kunjung datang. Tolong katakan kalau dia mulai ragu.
Mulutku melanjutkan kalimatnya, “Tahu juga kan kalau aku selalu perhatikan kamu? Cuma ini caranya. Biar kamu aman.”
Harun?
Warna di wajah menutupi sampai ke ujung poninya yang tak sampai alis. Seindah apapun ukiran itu, aku tidak bisa menemukan sisi lelaki yang aku kenal.
Ia tidak seharusnya melengkungkan mulutnya semenukik itu. Tak pernah mulut dan alisnya berarti sangat negatif.
Apa benar ini Harun?
Kuulurkan tanganku, “Ha⏤Aaa!”
“Ngapain di tengah jalan?”
“Mau bel tuh. Katanya tidak mau bolos.”
...
...
...
Heh?
“Kamu di-bully Harun?”
“Kayaknya mereka bertengkar.”
Tunggu. Tunggu tunggu tunggu tunggu tunggu dulu!
Si kembar kenapa selalu datang di saat orang sedang diskusi penting?! Tidak lihat situasinya sangat serius?!
__ADS_1
“Kalian tidak perlu ikut. Kami cuma ngomong,” rasa tak senang itu bertambah menumpuk di air muka Harun.
“Tidak kelihatan gitu.”
“Rasyi sampai mau nangis,” Saga menempel lebih dekat denganku.
Vian juga tidak kalah, “Dia bicara sembarangan lagi sama kamu?”
Mereka berdiri dekat sekali denganku!! “Ti, tidak!”
Kepalaku berputar tidak tahu harus seperti apa di tengah drama seperti ini. Layaknya orang yang sedang presentasi pekerjaan penting. Tiba-tiba badut datang dan membawa pai yang siap dilempar untuk perang makanan.
Apa yang bisa keluar dari wajahmu selain terkejut dan pahit di ujung lidah yang tidak bisa dikeluarkan?
Buruknya lagi, asam asin yang kelebihan di kanan dan kiri lidah saat menyadari⏤akan ada pertempuran hiu dan singa kembar di bibir pantai medan perang. Dan aku ada di tengah-tengahnya!!
“Kenapa kalian suka sekali mengganggu orang lain?” wajah Harun, dia tersenyum dengan kemarahannya.
“Memangnya kenapa?” Saga bersembunyi di belakang tubuhku.
“Kamu tegang banget sih,” Vian tidak kalah menempel di punggungku.
Senyum Harun bergetar, “Berhenti bersembunyi di belakang Rasyi. Rasyi jadi tidak nyaman.”
Kepala Saga dimunculkan dari balik belakang tubuhku. Ia sepertinya ingin melihat wajahku. Tenang saja, aku masih saja mencoba tersenyum walaupun sedang keringat dingin.
“Tidak tuh. Ra⏤kak Rasyi senyum saja.”
Namanya ini akting, sayangku.
“Itu karena Rasyi terlalu baik, tidak seperti kalian,” Harun, tolong jangan menatapku seperti itu.
Panas. Panas panas panas panas panas! Aku butuh sunblock!!
Harun mendekat, “Menyingkir sekarang juga.”
Vian ikut merengut, “Memangnya kenapa? Sekarang kan kami tidak mengerjai siapa-siapa.”
Duh, Saga pakai mengulurkan tangannya ke depanku seperti mau memelukku saja. Harun kan bisa semakin cemburu.
“Kamu saja yang menyingkir,” Saga menarikku perlahan ke belakang dan menjauhkanku dari Harun, “Kamu yang bikin kak Rasyi tidak nyaman.”
Perdebatan ini tidak selesai hanya dengan beberapa patah dariku, korban di antara kedua belah pihak ini. Kurasa kalau seharian pun belum cukup.
Bahkan aku hanya akan memperburuk keadaan. Membela satu, yang satunya mengamuk. Jika aku membela keduanya, kedua meletus! Diri ini harus apa selain mendengarkan perdebatan mereka yang semakin panas ini?!
Tolong...!
[“Yang merumpi berempat itu! Kembali ke kelas!!”]
Oh? Oh! Ada guru yang memperhatikan?!
Guru sampai-sampai menegur menggunakan pengeras suara. Namun meski ditegur langsung dari guru di kejauhan, kalau mereka tidak tenang....
Eh?! Berhenti! Mereka berhenti berdebat!
Harun tersenyum meski tangannya mengepal, “Iya bu. Maaf.”
“Iya bu....”
“Cih.”
Si kembar lemas sekali kedengarannya.
Tunggu, Rasyi! Jangan biarkan kesempatan ini luntur!
__ADS_1
Hempasan tanganku melepaskan semua bekapan yang ada di sekelilingku. Mengambil satu dua langkah pergi terlebih dahulu, “Aku balik duluan~!”
Terima kasih tegurannya, bu~ Hiks~!