
Di sampingku sangat fokus menyetir. Tepat di belakangku, sedang gelisah banyak pikiran. Yang tengah, sedang mabuk. Lalu, kiri belakangku, sedang tenggelam dalam lamunan.
Kami melakukan perjalanan empat jam di mobil ini hanya untuk berlibur. Mengapa jadi bawaannya malah kelam seperti ini?
Apakah ini yang disebut sebagai kegalauan remaja? Ini bentuk stresnya mereka kah?
Oh, ini pasti juga bentuk stresku yang balik menjadi remaja. Rasanya aku tidak bisa menemukan sekrup mana yang longgar. Bagaimana caranya aku mau mengencangkannya?
“Auw!” aku terkejut setelah sebuah ketukan mendadak menyerang keningku.
Papa, anda hanya perlu menyetir. Jangan seenaknya menjahiliku! Lihat ke depan. Fokus ke jalan!
“Apa sih?” aku menatapnya tidak senang sambil memegangi keningku.
“Awas kerasukan.”
Nih papa maunya apa sih?!
Kembali aku memeluk tas bawaanku, “Memang papa percaya yang begituan.”
“Buktinya ada sesuatu di samping Rasyi.”
Aku terdiam. Mataku mengarah ke kanan dan kiri pundakku. Berusaha menemukan apa yang dia maksud.
Eh, tunggu, “Papa... indigo?”
“Tidak.”
Aaa... te, terus?! Pembicaraan kita ini bertujuan untuk apa?!!
Berhenti tertawa, pa! Fokus ke jalan!!
Mulutku tidak mau berbicara lagi dengan orang ini. Choco cream yang berdampingan dengan kue stick itu kembali kulahap. Tak peduli walau papa masih menertawakan paras ambek dariku.
Ponsel papa yang sengaja ada di kop mobil itu berganti tampilan. Dari tampilan peta digital, menjadi ruang tunggu panggilan masuk.
Berinisiatif aku mengangkat panggilan tante Ira itu, “Tante~”
“Sudah di depan kan?” papa masih asyik dengan kemudi dan berbagai fitur lain dari mobil.
[“Tapi, ini, kita pakai jalan yang mutar dikit. Katanya macet.”]
Rizki mengikuti setiap jalannya yang dilalui mobil di depan kami. Keluarga Hendra sedang menyetir mobil dan berbelok ke kanan. Membuatku bertanya-tanya, apakah yang menyetir itu kak Fares.
Tidak! Jangan berpikir dia terus setiap detik! Nanti aku sendiri yang lelah!
Ponselku ada pesan baru. Di tengah tersadarnya lamunan, aku membuka layarnya dan mengecek.
Lah? Firna?
[Rasyi]
Emosi muka sedih menjadi teman satu kata nickname itu. Napa pula dah ini?
Kujawab dengan stiker tanda tanya kepada teman yang jelas-jelas sedang duduk di belakangku ini.
[Gpp]
Belum apa-apa dia sudah mengurungkan niatnya. Apa? Dia pikir aku akan lebih ikut campur dengan keputusan cintanya?
Tentu saja!
__ADS_1
Kesempatan yang sebelumnya dia biarkan terbang seperti itu saja. Padahal itu kesempatan bagus! Semua sudah pulang dan sekolah sudah tidak begitu ramai waktu itu. Bisik pelan untuk mengatakan perasaan kan bukan hal sulit.
Dia malah kembali dengan cerita kalau sepanjang perjalanan mereka hanya diam?!
Huuh! Aku jadi terlalu emosi. Hari ini seharusnya liburan. Tumpukan beban pikiran dan stres, mohon menghilang dulu sejenak. Pantai sudah ada di depan mata.
“Sudah... sampai...?” Saga yang tidak aku sangka ternyata mabuk darat. Pastinya dia ingin keluar dari roda empat yang mematikan baginya.
“Hmm,” papa menjawab seadanya.
[“Kita langsung cari tenda kecil-kecilan.”]
Panggilan ponsel Ira yang masih tersambung itu terlihat samar-samar ribut suara Daffa yang semangat.
Anak kecil itu beruntung sudah tidak sakit lagi. Kalau tidak sembuh, rencana perayaan ultahnya ini tidak akan terlaksana. Mau bagaimanapun, hadiah ulang tahun tetap menjadi hadiah. Dan semua ini sudah direncanakan jauh hari. Sangat sayang kalau akhirnya tidak jadi.
Terparkir kedua mobil kami di antara gazebo sederhana dari kayu. Cukup untuk kami yang hanya bersepuluh.
Menuruni mobil dan memindahkan barang-barang ke gazebo setelah transaksi penyewaan selesai.
Kami siap bermain.
“Mama ayo~” Daffa yang siap bermain air menarik Ira
Padahal Ira masih berusaha melepas jaketnya, “Iya sebentar.”
Setelah siap, ibu dan anak yang suka berenang ini akhirnya pergi. Walau kami masih sibuk beristirahat kecil dengan makanan setelah turun dari mobil.
“Riz, by one. Gimana?” Hendra menunjukkan bola voli di depan papa.
Voli?
Papa? Bisa main voli? Kukira papa bukan orang yang akrab dengan olahraga.
“Aku baru tahu paman bisa main voli,” Firna, jangan tanya aku. Daku juga tidak tahu.
Sari tertawa selagi ia membuka bekel, “Mereka berdua memang klub voli pas SMA.”
Oooh....
Wah. Pemandangan apa ini?!
Kedua pria tampan tak tertolong ini bermain voli di hangatnya matahari pantai. Dengan baju khas pantai. Tidak! Banyak anak-anak di sini!
“Sesaat jadi lupa kalau mereka bapak-bapak...,” aku jadi sedikit takut.
Firna malah tidak ragu terpesona, “Hmm mm....”
Sari tertawa, “Begitu?”
Bagaimana tidak? Para pengunjung pantai jadi sibuk menonton, walau beberapa menit lalu mereka tidak tampak wajahnya. Kedua bapak ini berbahaya juga.
Namun, kalau adu tampan....
Kupandang kak Fares yang masih duduk di sisi gazebo. Menyingsing lengan kaos tanggungnya.
Diam seperti itu saja sudah keren~
Oh, mata kami saling bertemu!
“Bu, Fares langsung nyusul Daffa,” kak Fares?
__ADS_1
“Loh, tidak makan dulu?”
Fares tersenyum, “Kalau aku makan dulu, harus dua jam nunggu baru bisa berenang.”
“Oh, begitu ya....”
Dari belakang punggungnya, Fares tampak tegak dan berjalan pergi, “Fares tinggal ya?”
“Jangan berenang terlalu ke tengah loh.”
Kak Fares kan tidak begitu suka berenang. Pasti alasan saja dia sampai bersemangat seperti itu.
“Kalian tidak ikut berenang?” Sari menatap kami.
“Mau main voli dulu tante,” Vian menjawab.
Voli ya? Aa! Paman Hendra menang!
“Satu ronde lagi?” Hendra tampak percaya diri.
“No, thanks,” papa tampak lelah.
“Kami pinjam bolanya, paman!” Saga sudah pulih?
Huuuh... pantai memang indah. Namun kegalauan membuat semuanya abu-abu. Rasanya aku tidak mau bergerak dari tempatku.
“Ras~” Firna?
Aku tersenyum dengan pose manis menghadap kamera ponsel. Sepertinya Firna mulai muak dengan tidak sanggupnya dia akan cerita cintanya. Sebentar lagi dia pasti mengajakku berkeliling dan berburu selfie.
“Paman~” lah? Daffa balik? “Ayo! Belenang!”
“Aduh, Daffa,” Ira sepertinya habis berlari, “Paman Iki tidak berenang sayang~”
“Ga mau! Lenang sama Dappa!”
Menangis lagi. Senjata andalan dah. Lihat, bahkan Ira menatap papa dengan penuh harap.
Hmm? Papa melepas jaketnya? Dan melemparkannya ke wajahku?! Sungguh?!
“Ayo,” papa mengulurkan tangannya pada Daffa.
“Yee!!” Daffa membalas gandengan papa.
Oh. Karena itulah anda memakai jaket saja tanpa kaos. Anda sudah mempersiapkannya ya?
Tampak ketiga orang ini menjauh menuju bibir pantai. Daffa yang meminta digandeng di tengah kedua orang ini, tampak senang walau dari belakang. Ketiganya tampak....
Mataku terasa fokus ke arah lain. Selagi pikiranku masih fokus pada renunganku sendiri, aku bisa mendengar keributan di sebelah sana. Pasangan suami istri dan anaknya yang ceria. Keluarga yang bahagia.
Aaaa.. seperti keluarga yang utuh ya?
Pandangan kembali ke Rizki dan kedua orang itu. Tidak bisa melepaskan tanggapan acakku yang tiba-tiba ke arah mereka bertiga.
Kurasa aku mulai paham kenapa aku selalu ingat Sekar saat menghadapi pemandangan ini. Sama seperti saat aku melihat keluarga yang tidak aku punya. Mereka terlalu bahagia sampai terasa sesak.
Apa... aku tidak⏤
“Fir, Ras,” Saga tiba-tiba berteriak, “Voli sini! Dua lawan dua!”
Yah... aku kemari memang untuk liburan. Saatnya memanfaatkan pasir dan lautan.
__ADS_1