Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#106 Kesibukan


__ADS_3

“Rasyi?” elus lagi kepalanya.


“Dadaku..., aneh....”


Apa?


Tidak baik. Harus ditindak, “Sakit? Nafas Rasyi sesak?! Ayo kita⏤””


“Bukan.”


Rasyi?


“Apanya?”


Dia lihat aku. Mukanya masih merah, “Aku..., kayaknya suka kak Fares.”


“Apa?”


Rasyi, dia pasti bingung. Obat pasti bisa bantu sedikit.


Berdiri, “Kakak carikan obat buat Rasyi. Tunggu du⏤”


Tangan Rasyi di tanganku. Ditahan biar tidak pergi. Berarti dia sadar. Rasyi katakan tadi dengan sadar.


Ini bisa sulit.


“Kak Fares, tidak jawab...?” malah dia peluk tanganku.


“Apanya?”


Harusnya dia tidak akan bilang apa-apa lagi. Mukanya juga makin merah. Tapi dia tidak lepas tangan dia.


“Aku suka kakak!!”


Omongan itu benar dari mulut dia.


Tapi omongan itu tidak boleh ada. Lebih baik tidak ada yang tahu. Akan jadi baik kalau Rasyi juga pikir dia hanya melantur.


“Rasyi pasti lagi pusing. Makanya tidak bisa mikir benar.”


“Berpikir apanya? Rasyi mikirin ini lama!”


Kulepas tangan Rasyi, “Rasyi tidur deh di kasur kakak. Kakak carikan obat biar Rasyi bisa langsung tidur. Nanti besok tidak bisa sekolah loh.”


“Rasyi tidak sakit!!”


Hentikan sampai sini saja.


Mata Rasyi berair. Tetap harus disampaikan. Keras-keras. Biarkan saja kasar. Tidak ada pilihan selain pakai cara yang sakit.


“Rasyi,” aku pandang dia, “Rasyi tidak mungkin suka kakak. Kakak juga tidak mungkin suka sama Rasyi.”


“Heh?”


“Kita cuma kakak adik. Kakak tidak pernah lihat Rasyi lebih dari itu. Kalau saja kakak anggap Rasyi wanita, kakak tidak mungkin... bareng Rasyi.”


“Maksudnya...?”


Tidak bisa lihat matanya, “Rasyi itu manja, tidak punya pendirian. Tidak punya apa-apa.”


Jangan lihat mukanya.


“Kakak kenapa....”


Jangan lihat kemari!


“Go...! Si cengeng kayak kamu, tidak bisa diam ya?!”


Dia... pasti kaget.


“Dengarkan sekali lagi. Kakak benci Rasyi. Paham?”

__ADS_1


Sudah cukup. Jangan katakan apa-apa lagi. Dia bisa menangis. Hatinya bisa terluka. Lebih dari yang sudah dia punya.


“Jangan katakan apa-apa lagi tentang ini. Kakak risih!” mata melotot dariku, “Keluar kalau Rasyi tidak sakit.”


Cukup. Ini sudah terlalu banyak.


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


“Fares~”


Lihat ke arahnya.


Clarissa, dengan kamera polaroid, “Senyum~!”


Dia tidak menekan tombolnya. Tunggu aku sampai senyum, tidak akan jadi-jadi. Foto juga bukan hal yang enak dilakukan. Kuambil saja kamera itu sebelum dia tekan.


“Kenapa sih? Foto sekali saja kan? Buat buku memento,” Clarissa marah ya?


“Memangnya Fares mau mati?” Fauzan ikut masuk.


Sikut Clarissa terjang ulu hati Fauzan, “Gak lucu!”


“Duh..., cewek kok kasar?!”


Kalau dilihat, sudah jam seini. Harus aku persiapkan sebelum waktunya. Semisalnya ada yang tidak sesuai, akan sulit memperbaikinya.


“Aku langsung ke sekre,” raih tas sendiri.


Clarissa ambil kameranya, “Kenapa? Ada acara kah?”


“BEM masih sibuk LKMM ya,” Fauzan langsung ambil alih kamera tadi.


“Kok rasanya lama banget? Sudah sampai mana sih?”


“Besok hari pengabdian,” aku jawab saja.


“Susah ya harus sambil kuliah. Belum LKMM lapangan yang harus kemah,” Fauzan mengerti kesulitannya.


Harus terus berpikir. Kerjakan sesuatu. Memastikan panggung siap dipakai. Bendera dan tempat meletakkannya juga. Lebih perhatikan sound system.


Iya, presensi harus siap dicetak semua. Anak-anak BEM juga tidak boleh ada yang absen tanpa izin.


Lalu....


Lalu....


“Hei, ketua~ Serius amat.”


Satu jari ada di depan mulut. Beri dia tanda untuk diam untuk sebentar saja.


Dia hampir tertawa, “I get it, I get it~”


[“Selanjutnya, bapak mau bilang terima kasih buat kakak-kakak BEM yang sudah siapin semuanya. Dari susunan acaranya sampai disiapin juga payung begini. Maaf ya bapak sendiri yang gak panas. Hahaha...!”]


Hari ini untung panas. Payung yang disiapkan sebenarnya takut kalau hujan. Sepertinya tidak ada banyak masalah. Kecuali anak-anak peserta LKMM yang sudah kepanasan karena Dekan panjang memberi sambutan.


[“Kalau begitu, bapak langsung aja persilahkan. Kayaknya semua sudah pada kepanasan ya?”]


Oooh... mereka langsung ribut karena lihat dekan malahan terlalu santai. Bisa terlihat kalau anak-anak panitia jadi punya alasan untuk marah.


[“Dengan demikian, Pengabdian Masyarakat, Latihan Keterampilan Menejemen Mahasiswa Tingkat Dasar tahun 20xx-20xy, saya nyatakan dimulai.”]


Yang memulai tepuk tangan tidak sampai setengah. Mereka masih sok sibuk ngomong sendiri. Panitia sampai harus mulai tepuk tangan untuk aba-aba.


[“Saya limpahkan untuk penanganannya acara kepada ketua pelaksana Alfarezi Kevindra Aiwin dan ketua BEM Faresta Parasaputra. Panitia, dengar-dengaran sama ketuanya ya?”]


Sambutan selesai dari beliau. Dekan dan dosen sudah selesai. Bubar dan kembali ke pekerjaannya masing-masing. Tinggal kami yang atur anak-anak peserta ini.


“Baris yang benar, dek!”


“Acara aja belum mulai, sudah pada mau santai! Kakak-kakaknya saja urusin semua siang malam! Gini aja gak kuat?!”

__ADS_1


Sudah mulai.


“Ketua, mau ikutan turun?” Kevin berbisik.


Di atas panggung permanen bisa kelihatan dari sudut mana saja. Aku tidak perlu turun tangan langsung ke pengecekan bawaan dan semacamnya. Semua orang punya tugas masing-masing. Ketua pelaksana juga begitu.


Aku lihat dia, “Kamu tetap di sini aja. Tuh, tidak ada yang ngatur kalau kamu juga sibuk.”


Bahu dia diangkat, “Gak salah sih. Tapi aku gak biasa cuma lihati doang.”


Memang begitu dia.


“Gitu? Dek? Tidak ada jawabannya, gitu?”


“Kenapa? Dia ngapain?”


“Ini kak, barang-barang yang diminta kemarin. Dia lupa semua~!”


“Semuanya? Kok sampai lupa semua?!”


“Apaan dek?! Mau nantang banget sih!”


“Dijawab dek!”


Kevin bisik lagi, “Jadi dah. Bayar dendam.”


Tapi tidak ada yang di luar kendali. Asal tidak pakai kekerasan fisik.


“Naik ke panggung! Sekarang!”


Panitia dampingi anak ini naik. Ya, penampilannya sungguh seperti anak yang tidak peduli siapa-siapa.


“Alasannya nih apa dek~?”


“Alasannya apa kek, yang pasti mau diapain nih?”


“Bilang apa? Maaf? Itu doang?!”


Ini tidak akan selesai-selesai. Reaksi si anak ini tidak bagus. Dia gemetar.


“Wah? Dia marah kah?” Kevin masih diam di sampingku.


Kubalas jawabannya, “Dia lagi takut.”


“Mananya?”


Beberapa saat terus dimarahi. Takutnya mulai kelihatan. Malahan jadi bahan topik amarah baru dari panitia.


Ini sudah mulai tidak baik. Perempuan atau laki-laki bukan skala mengukur rasa takut. Yang seperti itu bisa dilatih, seperti sekarang. Tapi kalau  mental health-nya, ini hanya memperburuk. Cukup sudah sampai situ.


Keraskan suara, “Sudah!”


Semuanya dengar. Berhenti.


Tapi, barisan peserta malah jadi ribut.


“Perhatiannya!” harus aku tegaskan lagi, “Ini latihan kepemimpinan. Kalau mau bicara saja, kembali tahun depan!”


Mereka akhirnya diam.


Langsung saja aku bilang, “Panitia, dipercepat evaluasinya! Biar cepat langsung berangkat ke lokasi!”


Akhirnya bisa kondusif lagi.


“Hah..., kalau gini, aku jadi ketua pelaksana tidak ada apa-apanya,” Kevin ngomong lagi. Juga rapikan rambutnya.


“Kalau gitu kamu yang atur pemandu jalan. Sana duluan,” aku mulai jalan ke tengah panggung.


“I get it~”


Lelah, tapi harus tetap sibuk. Aku tidak boleh berhenti mengerjakan sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2