Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#115 Berpikir Sampai Hujan


__ADS_3

Ini... hari ketiga ya?


Hidup ini memang menyenangkan, ya? Terlalu berharga untuk disia-siakan.


Mulutmu!


Hari-hariku adalah buah yang sudah kadarluarsa!


Aku menentang adanya bully! Kubakar kalian semua para pembuli! Gaaaaaaa!!


“Lagi?” Firna saja sudah mulai kehilangan semangat mengapresiasi.


Ini sudah hari ketiga. Pengalaman manis wanita yang merasakan hidup keduanya dan untuk pertama kalinya ditindas. Maaf saja, Sekar anak baik yang tidak akan ikut dalam urusan bully.


Dan seharusnya Rasyiqa juga!


Hmm... Apa karena Rasyi terlalu cantik? Em, itu memang bisa jadi masalah.


Firna mengangkat satu dari banyaknya kertas basah di atas mejaku, “Kamu yakin tidak ada kasih impresi buruk ke siapa-siapa?”


Tersenyum aku mengambil kantong plastik yang sengaja aku bawa, “Apa mukaku mengatakan, 'iya, aku pernah'?”


Dia menatap ke arahku, “Pernah?”


Wajahku berhasil mengkerut, “Tidak pernah!”


“Ya, kamu kan sering suka marah-marah gini,” dia menjatuhkan kertas tadi di dalam plastik yang aku buka, “Coba ingat-ingat.”


Hmm..., “Aku pernah cubit hidung orang.”


“Cubit hidung? Kenapa?”


“Karena kamu banyak ngomong, mau?” langsung kusapu semua kertas itu masuk ke plastik.


“Ye, gimana sih?! Aku kan mau bantu!”


Aku mengambil lap yang lagi-lagi sudah aku siapkan, “Yang aku pikirin cuma Gista. Tidak ada lagi.”


“Itu sih sudah kelihatan,” Firna berinisiatif dengan tisu yang selalu ada di kolong mejanya, “Tapi kenapa?”


Tersenyum lagi aku, “Kalau aku tahu, aku sudah langsung lapor ke polisi seberang. Masalahnya aku tidak tahu kenapa!”


“Bener juga. Tidak minta bantu ayahnya kak Fares?”


Aku tertawa, “Telan aja, iya, bulat-bulat. Aku juga mana mungkin kasih yang beginian ke polisi.”


“Kenapa? Malu-maluin?”


Tanganku cergas mengambil tisu Firna untuk mengeringkan mejaku, “Nah, pintar.”


Mau seburuk apapun bully itu, kalau tidak sampai nyawa bilang selamat tinggal, mana ada polisi mau ikut tangan. Meski ada jalan belakang, ini masalah yang akan hilang akarnya kalau aku sendiri yang menangani.


Masalahnya, aku tidak berpikir kalau para anak kurang kerjaan ini bisa diajak berdiskusi. Pada akhirnya, mau tidak mau, aku harus sadar kesalahanku... Sendiri⏤


Aku tidak punya clue sama sekali akan hal itu!!


Kami selesai membersihkan meja untuk sekian kalinya dalam tiga hari ini. Menghadapinya dan duduk setelahnya. Layaknya tidak terjadi apapun.


Yah, kurasa itu namanya terbiasa. Dalam tiga hari ini mereka sungguh mengeluarkan kreatifitas mereka.


Jadi ingat masa si kembar masih mengerjaiku.


Namun ini lebih tidak niat. Intinya mereka membuat sampah di mejaku. Kulit pisang, plastik bekas, potongan buku yang aku tinggalkan di loker bawah meja.

__ADS_1


Walau aku juga kesal, tapi mereka harus lebih kreatif.


Daripada memikirkan kemalangan yang terjadi, aku dan Firna lebih memikirkan penyebab. Alasan apa yang jadi pilar ketekunan mereka. Seperti mengembalikan arus ingatan yang berlalu.


“Ingat lagi, apa yang bikin kamu sama Gista bisa tidak match. Awal-awalnya deh.”


Kuikuti arahan Firna.


Pertama kali aku merasakan ketegangan dengan Gista... bukannya memang sudah seperti itu waktu pertama kali bertemu?


Apa itu berarti dia hanya sekedar haters yang tidak suka dengan keberadaanku?


Mataku memandang Firna dan menungguku berpikir, “Kamu, bisa benci aku?”


“Kenapa kenapa?”


“Bisa kah orang lain benci aku tanpa alasan?”


“Mana ada yang benci orang tidak ada alasan.”


Aku memainkan ujung bibirku. Tidak habis pikir, “Cinta saja bisa tanpa alasan. Kenapa tidak bisa benci tanpa alasan?”


“Ya, pasti ada dong saat dia... kelihatan marah banget, gitu?”


Terdiam aku, “Tidak tahu,” aku berdiri, “Kepala panas. Jalan yuk.”


“Yang serius dong.”


Kumainkan bahuku, “Mau bagaimana lagi kalau tidak tahu. Hidupku kan bukan buat perhatikan apa maunya haters.”


“Ras, Fir,” Wira? “Dicari Sovian Sagara.”


Aku tersenyum ke arah Firna yang masih terduduk di bangkunya. Mengalihkan sedetik saja pandanganku ke arah pintu keluar dan kembali lagi ke Firna. Sinyal yang lebih dari cukup untuk menunjukkan kita akan keluar dan melupakannya sejenak.


“Iya deh, yok,” dia berdiri, “Masukin dulu tasnya ke loker.”


Setelahnya, aku gandeng dan memaksa Firna lewat ke jalur di samping mejaku. Berjalan sekaligus bergandengan setelah berterima kasih kecil pada Wira.


Kembar manis ini sudah menyambut kami.


Senyumku menyapa kedua orang yang menunggu di depan pintu, “Hai....”


Mengapa dengan wajah kalian?


“Dari kapan?” Vian?


“Kok tidak bilang?” Saga?


Aku rasa, mereka menanyakan kapan kami di depan sini, kan? “Baru saja~”


“Terus kamu diam aja?”


“Kalau diganggu, ganggu balik.”


Oh, mereka tahu.


“Rasyi tidak mau,” Firna?


Aku tersenyum, “Tidak mau apanya? Ini namanya bertindak pintar.”


“Dibiar-in, bukan pintar namanya,” Saga, manis sekali ya~


Ah, tepat sekali. Si ketua kelas kemari membawa tumpukan buku. Mari kita tanyakan pertanyaan seribu umat setelah melihat kembali si ketua yang sempat hilang.

__ADS_1


“Ketua kelas, ada gurunya?” langsung aku pada intinya.


“Tidak. Nih, buku PR. Suruh kerjain dikumpul minggu depan. Tinggal aja,” dia paham dengan keadaan.


“Oke~” aku meraih salah satu si kembar yang berseragam olahraga itu, “Yuk kita duduk di lapangan~”


“Kami tuh kan tidak mau kamu diganggu terus,” Vian menahan gerakanku.


Aku tersenyum. Mereka ini walaupun tidak bisa santai, mereka tetap saja bermaksud lebih dari baik. Bila seperti itu, aku kan jadi lebih ingin mengajak mereka lebih tenang.


“Iya, makanya aku juga mau lihat yang asyik. Kalian tidak olahraga atau apa, gitu?”


Vian dan Saga saling memandang satu sama lain.


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


Ice cream memang membuat sweet tooth milikku kegirangan~


“Kamu kadang-kadang terlalu santai,” Vian lemas duduk di sampingku.


Firna ikut menikmati makanannya, “Lah gitu lah. Random.”


“Dari pada bilang lebih baik gini, lebih baik gitu. Mending kalian bantu aku cari alasan mereka jadi liar tiba-tiba.”


“Itu tugas kamu sendiri!” Firna mulai muak.


“Buat apa mikirin yang begituan?” Saga masih saja berdiri di depan kami, “Langsung saja kasih tahu! Dijambak biar paham!”


Pemikiran anak ini kelahi saja kerjaan. Yang seperti itu tidak akan menyelesaikan dengan baik. Walau aku bisa menghentikan gangguannya, tapi dia bisa berdebat denganku terang-terangan dan lebih berani.


“Jambak siapa? Kamu?” aku langsung memamerkan wajah kesalku.


“Sag, Rasyi itu digangguin terus tapi tidak ada yang tahu siapa,” terima kasih sudah menjelaskannya, Firna.


“Pancing aja. Kamu sendirian gitu di kelas, tidur. Nanti kami kerjain sisanya,” Saga menyatukan satu kepalan tangannya dengan telapak tangan satunya.


Wow itu penyelesaian yang menggugah hatiku, “Tidak. Terima kasih.”


“Terlalu baik tidak bagus. Tegas dong. Sangar sedikit! Jangan lembek!” Saga satu ini.


“Hmm...,” aku mendorongnya keras Saga dari ujung lapangan.


“We!”


Aku berdiri dan berteriak keras, “Lembek ya? Lembek?!”


“Iya aa! Cebol kasar!”


Semua orang selalu bilang aku terlalu lembek. Padahal aku hanya berniat untuk memprosesnya perlahan-lahan. Karena apapun itu, aku tidak mau meninggalkan jejak sedikitpun dalam pembersihannya.


Bagaimana caranya... tentu aku harus bicara⏤


“Ini masalah tentang Harun tidak sih?” Vian tiba-tiba bicara.


Aku bisa melihat diriku sendiri dan Firna memandang Vian. Senyap sejenak sesaat suara lapangan yang memulai sparing-nya.


Kalau ada perdebatan, yang aku dan Gista punya memang hanya tentang itu. Maksudnya, dia menggangguku karena rasa sukanya pada Harun tidak terjawab?


“Ya, kalau di keadaan Gista, memang bisa marah ya...,” Firna setuju?


Aku tersenyum sinis, “Salahku apa? Kalau Harun suka aku, ya suka. Kalau aku tolak, ya sudah. Kenapa mereka jadi marah ke aku? Tidak ada sebab dong⏤”


Eh?

__ADS_1


Hujan? Tidak, aku tidak salah sadar. Seseorang sungguh, menuangkan sesuatu di kepalaku....


Heh?


__ADS_2