Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#111 Saha?


__ADS_3

“Selesai!” aku akhirnya menyelesaikan penyalinan yang memanaskan mata dan ujung jariku.


Seandainya saja ada alat pengembali waktu untuk barang. Aku akan membayar berapapun untuk membuat buku robek ini kembali seperti semula.


Rasanya sangat lelah, lesu, tidak bersemangat.


Tidak. Kurasa bukan itu yang membuatku tidak bisa tersenyum.


“Kak Fayyes!” anak kecil itu enak sekali bermain dengan Fares.


Sedangkan aku? Bahkan pria ini tidak memandangku.


Aku sengaja sering menginap di sini, agar anak ini tidak bisa menghindariku. Namun aku tidak bisa berpikir sekilas pun kalau cara seperti ini bisa Fares gunakan. Dia selalu membisukan apa saja yang aku katakan padanya.


Bagaimana ceritanya aku bisa melangkah lebih dekat?!


“Rizki tidak urusin Rasyi atau gimana? Sukanya di sini,” Hendra masih sibuk dengan korannya.


Yah. Aku tidak menyalahkannya. Sepanjang hidup Rasyi, yang aku khawatirkan selalu saja kepergian papa yang panjang. Namun kali ini aku seperti tidak mempermasalahkan apapun tentang hal itu. Layaknya papa tidak penting.


Aku pura-pura merengut, “Rasyi tidak boleh inap di sini lagi, gitu?”


Sari, yang bermain dengan pensil dan bukunya, terkejut sesaat. Ia langsung menyikut suaminya itu.


“Bukan gitu juga...,” Hendra memegangi lengan atasnya yang baru saja disikut oleh Sari.


Lucu juga melihat kedua pasangan ini bertingkah layaknya pasangan baru pacaran.


“Makanya, usir saja,” suara... itu....


“Selamat sore, papa. Sudah nganggur ya? Padahal dari kemarin tidak ada waktu di rumah,” aku tersenyum padanya.


Dia tersenyum balik, “Soalnya anakku satu-satunya senang tidak di rumah. Jadi papa harus cek ke sini kan?”


Maksud anda saya membuat anda repot? Padahal aku tidak melakukan apapun.


Perang ya, pa? Oke!


Kutarik ujung bibirku lebih lebar, “Baik sekali. Rasyi harap papa tidak kecapaian karena banyak kerjaan.”


Banyak kerjaan kan? Lebih baik urus sana kerjaan sendiri!


“Itu juga biar Rasyi bisa beli dan inap santai di mana aja yang di-mau,” papa pasti bermaksud kalau semua itu untuk kehidupan boros dan merepotkan dariku kan?


Tidak aku sangka wajah papa benar-benar sudah menjadi tamengnya selama ini. Setiap kali aku ingin berbuat jahat, ketampanannya selalu bisa menjadi alasan tanganku terhenti. Aargh!


“Sudah?” papa sudah kembali ke mode wajah datarnya, “Kita pulang sekarang.”


Aku merengut tak bisa menahan kesal, “Rasyi mau tidur di sini~!”


“Mau berapa lama lagi di sini? Setahun?” papa mengangkat alisnya.

__ADS_1


Iya sih, tapi aku tidak ada kemajuan sama sekali dengan Fares!


“Sudahlah, Riz. Semalam saja lagi. Sudah malam banget loh. Kamu juga tidur di sini saja,” aku sayang Sari~


“Tidak usah, kak. Ini mau langsung pulang aja,” papa memandangku lagi, “Rasyi.”


“Tidak mau!”


Sari memukul kecil kaki Rizki? “Biarin aja eh. Malam sabtu juga kok. Kan libur. Besok bisa minta Fares buat antar.”


Nice idea, tante! Pada saat itu, aku punya kesempatan lebih baik untuk bicara⏤


“Fares besok sibuk, bu. Maaf,” Fares? Dia sempat sekali bicara seperti itu padahal sejak tadi tidak mengatakan apapun!


Dia masih saja sok sibuk. Aku juga tahu, kalau BEM tidak mungkin sibuk 24 jam dalam tujuh hari seminggu juga. 


Jelas sekali itu untuk menghindariku. Sama seperti yang dia lakukan setelah Harun mengancamnya. Masa sih Harun masih memaksanya juga meski setelah dia berangkat sekolah ke luar?


Tidak mungkin kan ini keinginannya sendiri? Kenapa? Apa aku melakukan kesalahan? Namun jelas tuh kalau dia tidak membenciku.


Kalau seperti ini terus, tekadku merebut hati Fares hanya terdengar layaknya omong kosong belaka.


“Biar besok pagi aku yang jemput,” papa kembali membawa cardigan-nya, “Jangan macam-macam, Ras⏤”


Hmm? Bel rumah? Jam delapan malam? Siapa yang berkunjung di hari yang bukan apa-apa ini?


“Sebentar!” Sari berdiri dari duduknya.


Tatapan menusuk papa tertancap masuk seakan tombak besi. Dia marah, aku kan juga bisa. Apalagi kalau dia mengganggu diriku dalam mencari hidup yang lebih baik untuk masa depanku.


Kalau mau pulang, pulang saja sendiri!


“Iki sudah mau pulang?” Ira?


“Paman cini aja!” Daffa kembali memeluk kaki papa. Manja seperti setiap harinya kurang perhatian, “Tidul cama Dappa!”


Papa menggendongnya. Menekan hidung pesek anak ini, “Sorry ya, paman besok harus kerja lagi.”


Ira ikut kedua orang ini. Tertawa pada anaknya yang memanyunkan mulutnya ke depan. Mereka tampak... apalah. Terserah!


“Fares~!” Sari kembali, “Ada Riri~!”


Riri? Wanita di belakangnya itu kah?


“Om~ Gimana, kado kemarin? Suka?” wanita ini langsung duduk di sofa samping Hendra.


“Lumayan.”


Kado? Kado apa?


“Oh iya, ini om,” wanita ini memberikan tas bingkisan. Tertulis nama kue di atasnya, “Bolu pandan, khusus buat om sama tante”

__ADS_1


“Oke, thanks,” paman Hendra menerimanya.


“Aku mau!!” Daffa memilih turun dan menyerang bingkisan itu.


Ini memang bukan pertama kalinya aku melihat tamu yang tidak aku kenal. Namun entah kenapa, rasanya wanita ini sangat akrab ke arah lain. Membuatku hanya duduk diam di samping Hendra di satu sofa panjang yang sama.


Sementara Ira membantu anaknya untuk membuka bingkisan ke arah Dapur.


“Titip Rasyi, Hendra,” papa mengetuk pinggir keningku.


“Yak. Hati-hati,” Hendra melipat korannya.


Papa memilih untuk sungguh pergi.


Lambaian kecil membiarkan pria itu pergi. Namun mataku sesaat dialihkan. Aku dengan jelas merasakan tatapan wanita yang Sari panggil sebagai Riri. Senyumku membalas senyumannya yang jelas ke arahku. Meski aku merasa canggung.


“Mau movie night?” ia kembali berbicara.


“Movie apa? Berita,” Hendra menyalakan televisi di berita malam terpercaya-nya.


Rasa tidak nyaman ini semakin tidak nyaman. Bukannya aku ketagihan konflik, tapi semuanya terlalu damai. Aku seperti tidak ada di sini. Mereka berdua lebih akrab dari yang aku kira.


“Kubilang besok saja, kan?” Fares?


Riri ini menjulurkan lidahnya, “Gak dengar~”


Temannya Fares ya? Lalu bagaimana bisa kok akrab dengan Hendra? Padahal Hendra jauh lebih kaku daripada papa yang sekeras gunung es.


“Ya tidak papa, dong. Sudah lama juga tidak ke sini,” Sari kembali muncul, “Mau kerja kelompok ya?”


“Iya, tante~ Urgent!”


“Buat minggu depan kan?” Fares tampak sedikit sibuk dengan laptopnya.


“Urgent dong. Aku kan butuh foto kamu~” wanita ini mengeluarkan kamera polaroidnya.


Fares terdiam. Ter, ter ter ter... tersenyum?! Loh? Kenapa ini? Inner joke kah?


“Kita ke meja sana,” Fares mendahului langkah, “Satu jam saja. Nanti kamu pulang kemalaman.”


“Kan ada kesatria yang bisa antar-in aku pulang~” wanita ini mengikuti langkah Fares. Ia tertawa renyah.


“Gitu kah?”


Kedua orang ini pergi. Tadi apa yang baru saja aku lihat?


Aku pandang Sari dan Hendra yang sibuk sendiri. Mereka layaknya tidak pernah melihat keanehan yang terjadi di depan mataku. Dari mananya? Ini tidak normal!


“Tante..., siapa itu ya?” aku mengganggu kemesraan mereka.


“Itu Clarissa. Cantik kan? Sering loh, main ke sini,” Sari tersenyum seperti biasa.

__ADS_1


Clarissa? Clarissa teh saha?!


__ADS_2