Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#141 Hearts


__ADS_3

“There's no problem.”


Cowok ini lihatin alat bantu dengar punya Miley. Katanya baik-baik aja.


Bisa bersyukur sih. Kalau itu juga rusak, berarti aku rugikan orang tuanya juga. Miley masih bisa dengar lebih baik. Aman.


“Next time, act more feminine in front of your boyfriend, OK?” pamannya Miley bilang apa tadi?


Miley sampai mukul-mukul pamannya.


“What~? No?”


Tadi paman itu bilang....


‘Lain kali, bersikaplah lebih feminim di depan pacarmu.’?


Oh, berarti paman kira aku pacarnya Miley. Pantas Miley jadi salah tingkah begitu.


Salah tingkah ya. Mirip sama... Rasyi.


Aneh. Kok aku tidak sesak? Kayak, malah senang aja.


“Go get the thing on the back. You know what. Come on!”


Paman nyuruh Miley untuk ambil sesuatu di belakang. Katanya Miley tahu. Dia pergi.


“I’ll take care of your boyfriend, don’t worry~!”


Miley marah-marah lagi. Aku tahu paman cuma bercanda waktu bilang dia yang temani pacarnya Miley.


Tapi, Miley memang asyik digodain begitu.


“She got bullied, isn’t she?”


Apa?


‘Dia dibuli, kan?’


Miley sudah bersikeras gak mau aku bilang ke siapa-siapa apa yang terjadi di sekolah tadi. Gak paham kenapa. Gak bisa juga maksa untuk bilang ke keluarga dia. Tapi kayaknya pamannya paham duluan.


“I’m sorry. It’s all my fault,” yang bisa aku bilang cuma minta maaf karena semuanya salahku.


Dia dorong pundakku padahal di depan ada konter kaca. Senyumnya luwes sekali.


“No, it's not. I know that. It's just..., huuh...,” tangannya ditahan di lemari pajang jam tangan.


Dia bilang dia tahu kalau itu bukan salahku. Tapi dia kayaknya mau bilang sesuatu lain.


“Her friends always hurt her. They just don't understand how sweet Miley is. She can’t even make a friend. Or she doesn’t want to. She’s pretty quiet, not like... you know what I meant.”


Paman tadi bilang....


‘Teman-temannya Miley selalu nyakiti Miley. Mereka cuma gak paham seberapa manis Miley itu. Dia tidak bisa punya teman, atau memang tidak mau. Dia selalu pendiam, tidak seperti... kamu tahu maksudnya.’


Ya, aku tahu.


Satu bulan, mungkin hampir dua bulan ini. Ngerti kalau Miley itu suka sendiri. Dan dia memang sering jadi korban perundungan.


Itu juga gara-gara mereka yang... mau cari perhatianku.


Paman ngomong lagi, “I’m just so relieved that she invited you here. Thinking that she has a change this time. Being her boyfriend or just friend, please keep her safe.”


‘Aku cuma tenang dia undang kamu ke sini. Mikirin kalau dia punya perubahan kali ini. Jadi pacar dia atau cuma teman, tolong jaga dia.’


Senyumku berat, “You keep your hope too high. I’m not a hero.”

__ADS_1


Dia terlalu berharap tinggi. Aku bukan pahlawan.


“But, you man enough not to leave her alone. You keep her heart filled. That’s more important.”


‘Tapi, kamu cukup jantan buat gak biarin dia sendiri. Kamu jaga hatinya keisi. Itu yang paling penting.’


Aku terdiam dan tersenyum tipis. Tidak tahu, kenapa aku bisa ikut tenang seperti paman ini. Rasanya senang yang tidak jelas.


 Senyum lagi, aku tanya kalau dia tidak keberatan aku sering mampir, “You don’t mind if I often visit you, right?”


“Why not?” dia bilang, kenapa tidak.


Miley, dia kembali. Dia bawa tulisan juga.


[My home, now?]


Ke rumah dia sekarang, ya?


“OK,” siap aku pergi.


[Bye]


Paman itu cuma lambai. Tokonya lumayan ramai. Nanti gangguin kalau ngomong sama paman terus.


Kami juga harus selesain projek. Gak bagus kalau sampai kemalaman. 


Untung tidak jauh... oh? Miley ketuk aku.


[This for you~]


Dia kasih tas kertas tenteng kecil. Bilang itu buatku. Aku ambil aja dulu, lihat apa isinya.


Kotak. Jam tangan?


[So now you know the time, anytime~]


[No return!]


Tidak boleh dikembalikan?


“But, I can’t just take it,” tapi aku tidak bisa cuma terima ini.


[Please?]


Kenapa dia jadi mohon gitu? Makin tidak bisa nolak.


Baiklah, aku ambil saja, “Fine, I’ll take it. After I treat you with a coffee. How ‘bout it?” kalau aku traktir kopi, dia gak nolak kan?


Dia senyum lebar banget. Semangat banget dia langsung tarik aku. Kayaknya itu maksudnya dia setuju.


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


Gini aja, dia sudah senang banget. Kamarku gak ada yang spesial. Cuma gini aja. Tapi Miley semangat banget lihat-lihat.


Aku harus hentiin, “If you keep amazed like that, we never finished our homework,” kalau dia terus kagum gitu, kami tidak bisa selesain PR kami.


Dia merengut. Terus pakai tangannya buat bahasa isyarat.


[Waktunya istirahat]


“No, it’s been fifteen minutes,” tidak, ini sudah lima belas menit.


[Lima belas menit lagi]


“After this, you’ll ask it again,” setelah ini dia pasti minta gitu lagi.

__ADS_1


[Beneran sekarang]


“Fine. Promise me, just fifteen minutes. It’s hard if it gets dark,” Oke, dia harus janji cuma lima belas menit. Kalau sudah malam, bakal lebih susah. Dia harus pulang.


[Gak usah khawatir. Nanti kan ayah bakal jemput.]


Orang tuanya memang percaya kalau kami kerjakan PR di ruanganku. Tapi kalau terlalu malam juga tidak bagus.


Kami masih teman.


...


Kenapa aneh?


LIhat dia....


Dia masih lihatin barang-barangku. Padahal itu cuma koleksi buku.


Nungguin sambil buka hp saja. Hampir dua minggu jarang lihat sosmed. Dua bulan ya? Aku sudah di sini hampir satu musim. Tapi aku jarang dapat kabar apa-apa.


Miley, sekarang dia tusuk pipiku. Lagi percaya diri sama bahasa isyaratnya.


[Kamu punya paket, tapi gak dibuka?]


Oh, aku baru ingat punya itu. Paket dari Indonesia, baru dapat beberapa hari lalu. Tapi belum sempat aku buka. Bisa nanti-nanti saja. Paling kayak bulan lalu, makanan dan buku-buku yang dikirim ayah ibu.


“Because, we have to do our homework,” aku senyum bilang alasannya karena kita harus kerjakan PR.


Dia jadi manyun. Malah kabur lagi.


Jangan ketawa. Aku lihatin saja sosmed yang lain. Banyak yang sudah di-post. Banyak⏤apa?


Rasyi... sudah... sudah sama Fares?


Jadi begini ya?


Fares memang suka sama Rasyi. Tapi dia... selalu kayak... ngalah. Padahal dari lama banget, sudah kelihatan, Rasyi suka sama orang ini.


Kalau aku tidak bilang, Rasyi mungkin.


Jangan. Lepas! Kamu di sini supaya bisa lepas! Lepas⏤


“Aa!” kaget. Apa itu tadi?


Miley? Kenapa dia tiba-tiba peluk aku? Dia, mukanya kayak nahan nangis?


Buat apa dia peluk?


Tapi aku... gak mau lepasin. Mau peluk dia juga.


Dia? Tulis sesuatu di punggungku.


[Let it go]


Aku disuruh... lepas?


[Don’t smile]


Jangan... senyum?


Mana mungkin aku bisa senyum. Pingin banget sekarang nangisin itu kencang.


Tapi... gak papa. Tidak papa sekarang.


_________________________________

__ADS_1


^^^Huhuhuhu my sad boy~!  (੭ ˃̣̣̥᷄⌓˂̣̣̥᷅ )੭⁾⁾^^^


^^^Yang kuat, sayang! Lepas~kanlah~^^^


__ADS_2