
“Jangan mikir aku bodoh ya.”
Masih kudengarkan.
“Tidak tahu kenapa, aku merasa anak kamu mirip Sekar. Sifatnya, pikirannya, aku kayak lihat Sekar pas lihat anak kamu,” dia mau nangis, “Kalau kamu hidup buat besarkan dia, kayaknya aku bisa terima....”
Rasyi, mirip dengan Sekar?
“Jangan salah paham. Aku tidak pernah maafkan kamu.”
Tidak bisa selain diam.
“Tapi aku gak akan ganggu atau protes lagi,” teman Sekar, yang mereka sebut Nita, lihat aku tajam, “Jangan sampai gitu juga ke anakmu.”
Rasyi punya karisma sendiri. Banyak yang suka dia cuma sekali temu.
Nita ini bilang hal berbeda. Kayak bertemu temannya yang udah lama mati.
Tapi, itu tidak mustahil. Kalau teman dekatnya bilang Sekar ini mirip Rasyi. Berarti....
.
.
.
Sampai sekarang aku masih memikirkannya. Yang dia bilang, semuaya, menjawab semua bingungku.
Tapi sayang saja.
“Hik....”
Aku tidak bisa konfirmasi kebenarannya, kalau sebentar lagi mati begini.
“Kakek....”
Aku melihat ke anak ini. Dia juga menangis seperti ibunya. Harus sesedih itu? Semua orang pasti mati. Ini bukan hal baru.
Waktunya untuk kata-kata terakhir ya?
“Zeline,” aku coba pegang mukanya, “Nurut sama mama papa, jadi anak baik.”
“Iya... hik!” dia masih nangis.
Fares berdiri di sana.
“Fares, kamu masih punya tanggung jawab.”
Kepala dia nunduk, “Saya paham, pa. Papa tenang saja.”
Aku bisa senyum, “Terima kasih.....”
Sekarang tinggal....
“Kenapa papa bicara seperti itu?” Rasyi mukanya kacau sekali, “Papa belum waktunya meninggal!”
Ini akan sulit.
Coba elus lagi kepalanya, “Rasyi, dekat ke papa.”
“Tidak mau.”
“Rasyi....”
“Tidak mau!”
Dia lagi sedih. Tapi aku jadi senang. Kehidupan kali ini tidak buruk juga. Anak ini, putriku sendiri, bisa sesayang ini. Satu saja tidak ada yang bikin sesal.
Bisa aku pegang mukanya. Putri ini menggenggamnya erat.
“Rasyi, terima kasih sudah percaya papa. Temanin... papa terus. Bahagia terus.... papa... cuma minta itu.... uhuk!”
Waktunya sudah sampai.
“Hik... jangan bilang apa-apa... please....”
Ke sini, kutarik mukanya. Sampai ke mukaku. Mau ketuk saja dahi dia ke dahiku.
Senyum, “Rasyi.... kelinci penipu papa....”
Lemas.
Gelap.
Ini sudah waktunya aku pergi.
__ADS_1
.
.
.
“Kenapa?! Kamu dokternya kan?!”
Ribut. Siapa?
“Maaf, bu⏤”
“Tidak bisa! Kembalikan anakku! Kembalikan anakku sekarang! Kembalikan!”
“Sayang, tenang dulu.”
Ada suara perempuan yang lagi marah. Laki-laki yang tenangin dia, pasti pasangan dia. Marah... karena anaknya tidak terselamatkan?
“Tidak...., hik.....”
“Maaf, kita harus terima, sayang. Abizar butuh kita....”
Suaranya terendam. Berarti mereka ada di luar ruangan. Aku ada di mana?
Yang terjadi....
Oh, aku baru saja mati. Itu berarti....
Coba buka mata. Bisa. Langit, dinding, alat-alatnya. Rumah sakit.
Aku bisa melihat tangan sendiri.
Benar. Di-reinkarnasi lagi.
Cakep juga, begini terus. Sudah ke berapa reinkarnasi begini? Lama banget aku sudah kehilangan hitungan.
Hmm?
Aneh. Otakku masih simpan ingatan hidup sebelumnya, lengkap sekali. Gading, atau Rizki Wirandi.
Sedikit sekali ingatan hidup yang aku simpan lengkap. Bila tersimpan, itu adalah bagian dari hidup yang aku anggap berharga.
“Kasihan banget ya,” masih ada suster ternyata, “Baru lahir udah yatim piatu.”
“Loh? Bapaknya?”
“Di luar siapa dong?”
“Kakek sama neneknya.”
“Huh? Muda banget!”
“Dia udah kepala empat kok. Suaminya kepala lima lagi.”
Berarti keluarganya mapan. Punya pekerjaan yang banyak orang tahu. Suster saja bisa tahu. Awal yang lumayan untuk yatim piatu.
“Kok kamu tahu sih?”
“Itu, dia kan anaknya⏤”
Pintunya kebuka. Mereka sudah mulai tenang dan mau lihat cucunya.
Hmm?
Ra⏤
“Abi...,” dia angkat aku, “Maaf ya... hik....”
Nenekku... Rasyi?
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
“Huwaaaaa!!”
Capek, harus nangis. Tidak pernah senang sedikit saja buat jadi bayi. Lapar, ngantuk, tidak enak. Semuanya cuma nangis.
“Cup cup,” Rasyi?
Mukanya, asam. Sudah... empat bulan. Aku tidak pernah lihat Rasyi senyum sama sekali. Kayak biasa, dia lebih suka melamun. Berpikir tapi tidak mikir.
Tangan dia sudah cekatan, racik susu ke botol bayi. Kasih ke aku, “Aaa’ak.”
“Huwaak...,” aku bisa diam.
Rasyi sudah dewasa. Dulu dia tidak bisa tenang kalau bersama anak-anak. Tapi sekarang bisa lembut.
__ADS_1
Sayang sekali, aku harus dilahir dengan merebut nyawanya Zeline.
Waktu aku mati dulu, Zeline masih belum menikah. Memang seharusnya beberapa bulan lagi. Calonnya pilot. Berarti benar dia jadi menikah dengannya. Tapi, ada kecelakaan pesawat baru-baru ini. Padahal Rasyi sayang dengan calon menantu dia.
Sebentar. Itu berarti, setelah aku mati, beberapa bulan kemudian menantunya mati. Lalu Zeline.
Jadi... pantas saja, Rasyi jadi begini.
Waktu Jagad pergi saja, dia butuh waktu berbulan-bulan.
“Oo!” aku sudah kenyang.
Rasyi jadi sadar. Dengan senyum palsu lagi.
“Abi mau main di luar?” dia angkat aku, “Ayo.”
Aku tidak tahan lihat dia begini, tapi aku bisa apa?
Benar-benar tenggelam ke sedihnya sendiri. Tidak berusaha lepasin.
Rumah ini juga. Semuanya masih sama. Kamar-kamarnya, tempat main, dapur, ruang makan. Dia tidak ubah sama sekali. Yang berubah hanya kamar bayinya. Padahal Fares punya rumah sendiri.
Rasyi dudukin aku. Dipangku dia. Terus kasih mainan.
Lagi, dia bengong.
Harus diapakan kalau begini?
“Kakek pulang,” itu Fares ya?
Fares ternyata pekerja keras. Pengacara yang cukup terkenal, banyak pekerjaan juga. Apalagi dia memilih buat pulang pergi jauh ke rumah sini. Rumah ini jauh dari pusat kota. Tidak seperti rumahnya dia.
Paham memang apa yang Fares pikir. Bahaya tinggalkan Rasyi sendirian. Dia bisa lupa makan walau ada pengasuh dan ART di sini.
Fares cium dahi Rasyi, “Maaf, kakak kemarin tidak pulang.”
Rasyi geleng, “Tidak apa.”
“Telat sehari sih, tapi,” oh? buket bunga, “Happy anniversary.”
Ini yang bikin aku lebih tenang. Mata Rasyi jadi terang waktu bersama Fares. Langkah tepat aku serahkan Rasyi ke orang ini. Pikirannya memang selalu negatif. Tapi kalau tentang Rasyi, dia selalu kasih yang terbaik.
“Ma, maaf,” Rasyi terima, “Rasyi... tidak menyiapkan apa-apa....”
“Apanya? Rasyi sudah jagain baby Abi. Itu sudah cukup,” Fares elus kepalaku, “Abi tidak rewel kan?”
Kuakui, dia ayah yang baik.
Supaya tahu bayinya sehat, aku harus respons, “Oh aa!”
“Mau sama kakek?” dia angkat aku dari kaki Rasyi.
Oh, aku harus olahraga. Kemampuanku masih sebatas cengkeram barang ringan. Ngomong juga masih sedikit. Interaksiku masih belum banyak. Jadi harus banyak latihan.
“Coba telungkup?” Fares kasih aku telungkup.
Insting yang bagus. Memang bayi seumuran ini sedang butuh latihan banyak. Biar otot bayi bisa berkembang lebih bagus. Jadi aku harus bergerak padahal tidak mau. Tangan sama kaki saja sudah cukup.
Minggu lalu seharusnya aku bisa balikan badan ke berbaring. Karpetnya lembut, jatuh juga tidak apa.
Coba... dulu....
“Wah,” oh, Fares di atas. Dia lihatin aku dari tadi, “Heheh, Abi hebat.”
Hmm..., ternyata bisa dengan cepat.
“Nenek lihat tidak tadi? Abi satu bulan lebih cepat dari Zeline⏤Rasyi?!”
Hmm?
Rasyi!
“Sayang, kenapa?” Fares dekat ke Rasyi.
Rasyi geleng, “Maaf. Jadi ingat saja. Tidak apa kok.”
Lukanya sedalam itu? DItinggalkan Zeline.
Atau.... itu karena papa pergi, Rasyi?
Jangan begini, Rasyi. Papa mohon....
Sekarang aku tahu buat apa aku di-reinkarnasi sedekat ini sama kehidupanku sebelumnya. Masih ada yang harus aku selesaikan. Tugasku belum selesai di sini.
Harus memastikan semua baik saja sampai aku pergi.
__ADS_1
Putriku harus bahagia.