Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#119 Magnet ya?


__ADS_3

Tanpa sadar, ternyata bulan libur se-Indonesia semakin dekat. Dua minggu lagi? Hmm, jauh lebih dekat dari yang aku kira. Atau aku saja yang salah mengira?


Yang pasti, aku sudah mengulur banyak sekali waktu. Hanya untuk Fares yang katanya semakin sibuk. Bahkan aku mendengar dari Sari kalau Fares selalu pulang dengan kelelahan.


Dan di weekend ini, sambil berharap, aku akan memberi kunjungan.


Mudah-mudahan aku tidak mengganggu, kan?


“Loh, Rasyi? Dari kapan di situ?” Hendra tiba-tiba keluar rumah saat aku baru ada di depan pagar, “Twin di dalam. Masuk aja.”


Eh? “Vian Saga?” aku memasuki pagar dan melangkah dengan cepat, “Paman mau ke luar?”


“Jemput Sari,” dia sempat menepuk kepalaku selagi berpapasan denganku, “Jaga rumah.”


Wow, tamu disuruh jaga rumah. Bapak ini aneh sekali. Tante Ira kerja atau apa? Daffa? Kak Fares tidak di rumah?!


Aku mengabaikan suara mobil di belakangku, yang pastinya dari Hendra yang ingin pergi. Masuk aku ke rumah orang seperti itu saja. Bahkan sebelum aku melewati ruang tamu, aku sudah mendengar ribut di ruang keluarga. Ya, itu suara si kembar.


 Ribut karena apa sih mereka?


“Yang kanan!” itu, Saga kan?


Vian di sampingnya, “Kamu lihat yang di belakang!”


Mereka main game? Sibuk sekali dengan kedua konsol permainan bergrafik luar biasa di layar televisi. Terlalu semangat sampai aku bisa melihat mereka memilih untuk duduk di lantai daripada sofa di belakangnya.


Aku berjalan mendekat sampai ke sisi kiri sofa yang memang lebih dekat dengan jalan masukku. Menghadap ke kiri sambil menonton kesibukan mereka.


Duduk saja deh aku di sofa ini... Eeeh?! Kak Fares?!


Kok, di, dia kenapa tiduran di sofa?!


“Hmm?” aku mendekati lagi sofa itu, memperhatikan.


Bukan tiduran lagi, Fares sungguh sedang tidur.


...


Ini bukan pertama kalinya aku melihat Fares tidur. Fun fact, waktu kami kecil, kami sering tidur bareng. Jadi itu bukan hal yang baru.


Namun kenapa... dia terlihat mempesona sekali?!


Sepertinya aku selama ini buta sampai tidak bisa melihat seberapa tampannya Fares. Ibunya cantik, bapaknya tampan. Jelas sekali dong!


“Waaa!”


Hmm? Saga? Dia kaget?


Lucu juga dia teriak seperti itu.


Dia malah heboh, “Kalau masuk bilang-bilang! Susah, huh?!”


Salah sendiri terlalu fokus main sampai tidak sadar ada yang lagi masuk.


Oh iya! Fares?! Dia tidak bangun kan?


“Senam jantung, sialan⏤”


“Ssst!” langsung aku potong sumpah serapah Saga.


Kupandang Fares berharap dia masih nyaman tertidur. Suasana hening layaknya kembar ini paham apa maksud aku menghentikan teriakannya. Namun sepertinya Fares terlalu lelah untuk mengurusi.


Hela sudah aku nafas lega, “Jangan teriak-teriak deh ih.”


“Kamu juga yang tiba-tiba datang,” Vian tertawa kecil, “Saga kan kagetan.”


“Berisik.”

__ADS_1


Mereka kembali melanjutkan permainannya. Entah apa yang dimainkan, mereka cukup fokus. Aku memilih untuk ikut duduk di sofa di sisi lain.


“Lagi ngapain ke sini?” Saga tiba-tiba mengajak bicara.


“Main aja...,” kubiarkan diriku bisa melihat permainan mereka, “Kalian juga ngapain? Cuma mau main game?”


“Saga tidak dibolehkan main game makanya ngajak aku main ke sini,” Vian juga sibuk menghadap televisi.


“Ye, nakal,” aku menaikkan kakiku sampai tertekuk di depanku.


Saga terdengar meremehkanku, “Mau ngadu?”


“Buat apa ngurusin kamu? Emang hewan ternak? Hihihi!”


“Apaan?” Vian tertawa.


Mereka masih sibuk bermain dengan koordinasi yang berupa teriak-teriakan. Walau aku tidak begitu paham, aku masih memperhatikan permainan mereka dengan seksama.


Oh iya, “Sag, kamu sudah hubungi kak Clarissa balik?”


Loh? Karakter game yang dijalankan Vian kok berhenti? Dia menatap ke arah aku duduk, “Kenapa Saga hubungin Riri?”


Apa yang membuatnya sekaget itu?


Memiring kepalaku di balik kedua kakiku yang menghalangi setengah wajahku, “Kemarin kan Saga minta kontak kak Clarissa lewat aku.”


Vian dengan wajah terkejutnya menatap Saga. Tampang Saga jadi aneh. Pupil matanya bergerak menjauhi Vian, seakan mau bertingkah tidak tahu apa-apa.


Mungkinkah, Saga tidak mengatakan apapun tentang ini ke Vian? Namun, apa alasannya?


“Buat apa?” Vian langsung ke inti pertanyaannya.


Saga masih bertingkah canggung, “Apanya?”


“Kenapa sih, Sag? Seriusan.”


“Gila ya kamu?”


Kemarahan tampak di wajah Saga, “Dia kan temanku. Kamu yang tidak mau, ya aku masih mau.”


Hmmm... kenapa mereka jadi berkelahi?


Bahkan, mungkin tanpa mereka sadari, mereka sudah menaikkan suara mereka. Selagi tubuh mereka berdiri tegak.


Aduh, ini gawat kah?


“Hapus nomornya sekarang,” Vian tampak menengadahkan kepalanya.


Wajah Saga sebaliknya, ia menunduk dengan mata tajamnya lurus ke Vian, “Itu terserah aku.”


“Aku kakakmu, Sag!”


“Terus aku harus dengerin semua dari kau, heh?! Kamu aja selalu gak penting-in omongan orang!”


“Moncongmu tuh gak bisa dikunci?! Gak butuh kamu dengerin, lakuin aja!”


“Oh, sekarang kamu pikir aku jadi adik yang baik? Gak pernah tuh kepikiran punya kakak kayak gini!”


Duh, duh duh duh. Kenapa sih setiap waktu ada saja yang berkelahi di depanku?!


Parahnya lagi, aku harus menanganinya walau aku tidak tahu apa yang dimasalahkan. Tentang apa kali ini? Nomornya Riri? Itu saja?! Lalu apa yang harus didebatkan?


Aku tahu kalau mereka pernah berebut Clarissa dulu. Dan mereka juga tidak mempermasalahkannya lagi.


Jadi sekarang mereka medebarkan apa?


Langsung aku berdiri, “Aaaa, guys, udah dong. Kok gini saja berkelahi?”

__ADS_1


“Diam di situ! Jangan ikut campur!” Vian menunjuk ke arahku dengan nada yang sangat marah, “Kamu tidak paham apa-apa.”


Nih anak. Harus aku bilangin gimana? “Iya, aku memang tidak paham. Sekarang bisa jangan bertengkar di depanku? Urusin pelan-pelan, di rumah sendiri?”


“Rasyi,” Vian masih menatap tajam ke arahku, “Aku sudah menyerah tentang kamu. Jadi jangan paksa untuk urusin urusan kami. Kamu paham aku juga bisa mukul kalau marah kan?”


Apaan sih?


Dia tahu banget aku punya trauma sendiri akan kekerasan seperti itu. Namun bukan berarti dia bisa jadi superior-ku hanya dengan keras sedikit dong! Ini kan bentuk kepedulianku juga!


“Hahhahahaha!” Saga, tertawa?


Vian kembali memandang, “Apa yang lucu?!”


 “Hei, Vin Vin,” Saga masih tersenyum, “Itu kasih aku ide. Aku bakal balikin ke kamu. Aku sama Riri, bukan urusan kamu kan?”


Terdiam Vian. Namun aku bisa merasakan kemarahannya semakin kental.


Ini semakin gawat!


“Kamu bilang apa tadi?” punggung Vian tampak bergetar.


Aku harus hentikan. Melangkah aku memdekat, “Guys, udah deh. Jangan kayak gini.”


Saga masih meladeni, “Kamu sudah tidak peduli sama Riri kan? Terus, kenapa kamu ngurusin kami? Aku sama Riri⏤”


“Diam!”


“Guys! Udah!” aku langsung mengambil posisi di tengah-tengah mereka, “Apa sih dikit-dikit kelahi?!”


Namun itu tidak cukup. Aku bisa saja disingkirkan dalam hitungan detik. Hanya dengan tebasan tangan saja. Kedua orang ini terlihat siap untuk bergulat.


Aku harus gimana?


“Cukup.”


Heh? Orang di belakangku?


Fares, dia sudah berdiri di belakangku dengan kedua tangannya menahan kedua kepala Vian dan Saga. Wajahnya yang tenang setiap saat membuatku ikut tenang. Keheningan sungguh cocok dengan mata yang coklat terang itu.


Sepertinya kedua kembar itu juga memahami keadaan.


“Maaf kak, kami bikin ribut rumah,” Vian melepaskan tangan Fares yang menahan kepalanya.


Fares tidak menanggapi.


Vian seakan menangkap sesuatu. Lalu ia menghela nafas, “Maaf Sag. Aku terlalu emosian.”


“Iya....”


Su, sudah?


“Kalau kalian mau lanjut berantem, kalian mending balik. Kakak capek.”


Fares melepaskan mereka dan kembali ke sofa. Ia menghela nafas, dan kembali tertidur. Layaknya ia ingin melepas kembali kelelahan yang sejenak bertambah.


Huuuh... Kunjungan apanya? Entah kenapa, aku selalu menjadi beban untuk Fares. Setiap kali ada aku, pasti ada perkelahian.


Apa itu alasan sebenarnya Fares menghindariku?


Bukan kan? Fares kan bukan orang yang seperti itu.


Tepukan di pundakku? “Maaf, Ras.”


Vian? Dia duduk lemas di salah satu sofa.


Suasananya, masih tegang.

__ADS_1


__ADS_2