Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#23 Manisnya Si kembar


__ADS_3

“Hey, yang lagi sakit~ Gimana~? Eh, ada Saga.”


Muka itu masih asam, “Kenapa kamu ke sini?” tampaknya masam itu tidak disertai sindiran usiran.


Aku melangkah lebih dekat ke ranjang dan kursi yang digunakan si kembar ini, “Karena aku kangen dengan adik-adikku yang manis~?”


“Jangan panggil aku manis,” wajah tak suka Saga tampak menggemaskan sekarang.


“Tapi kan kamu memang manis. Itu daya tarik kamu walau sifat aslinya berkebalikan~” kugoda dia lebih jauh sambil memegangi pipiku layaknya terpesona.


Sungguh. Karena itulah aku tidak begitu terpikat dengan kedua orang ini. Tampannya mereka bercampur aduk dengan manisnya mereka.


Buktinya, kerutan itu sangat lucu seperti doggy yang sedang mengambek.


Oh, iya. Aku harus mengeluarkan toples yang ada di tasku.


Rahang bawah Saga yang terbuka bersiap untuk bicara, “Berhenti⏤hmpt!”


Namun, mulut itu berhasil jadi target berhentinya cookies choco chip buatan rumah.


“Enak~?” aku tersenyum menunggu reaksinya.


Dia mengambil alih jajanan yang cukup besar itu dari mulutnya, “Beli dimana?”


“Bikin sendiri dong~”


Matanya terbuka lebar, “Kamu bisa masak?”


“Bisa dong~” aku menyombongkan diri.


Eh, kenapa dia main ambil lagi?


Langsung aku menebas tangannya, “Ini buat Vian,” kembali aku menatap sosok yang masih duduk berselimut di atas ranjang, “Vian coba juga.”


Dia tersenyum dan menggeleng pelan, “Nggak kak, makasih.”


Hmm?


“Vian gak suka yang manis. Mending aku yang makan sini,” Saga langsung merebut toples dari tanganku.


Yah, kalau tidak suka manis, apa boleh buat. Maaf papa, jatuh papa aku kasih ke Vian dulu.


“Kalau begitu, nih,” kubukakan satu toples lain dari tasku, “Ini yang tidak begitu manis. Cobain dulu deh.”


Vian tampak tak percaya. Meskipun begitu ia tetap mengambil satu dan mencobanya.


Hihihihi, aku suka reaksinya. Sama seperti papa mencobanya pertama kali.


“Enak?” kenapa Saga yang bertanya?


Kenapa juga tangannya keluyuran mengambil kue di toples ini? Apa tidak cukup satu toples penuh?!


Tanpa aba-aba anak ini mencoba versi lain dari kue buatanku. Ya kan, wajahnya jadi aneh. Dia pasti tidak suka.


“Roti tawar.”


“Itu low sugar cookie. Gulanya lebih sedikit,” kutekankan setiap kata.


“Kalau ada gulanya, masa gak enak kayak gini,” wajahnya lagi-lagi tidak enak dilihat.


Suka sekali dia mengejekku!


“Enak kok.”


Hiks, terima kasih Vian~


“Buat kamu aja nih,” diulurkan kue dengan bekas gigitan itu pada Vian.


Vian hanya tersenyum dan mengambil kue itu.


Mereka lucu. Sesaat terasa melihat diriku sendiri yang suka manja dengan Fares.


Aku bersyukur tidak ada perkelahian di antara mereka sejak salah paham kemarin.


Sejauh yang aku dengar, mereka akhirnya punya waktu berdua untuk membuka diri. Entah bagaimana jalan diskusinya, tapi dilihat dari sekarang pun, keadaannya baik.


Mungkin ini tanda juga bagiku untuk mendekatkan diri dengan mereka.


“Bisa ya, kamu bikin yang tidak enak tapi dikasih ke orang,” kamu sungguh mau melanjutkannya, Saga?


Tidak lama yang lalu aku sudah mengalah dan membiarkan ucapanmu lewat ke lubang telingaku satunya.


Oke! Jikalau memang seperti itu~!

__ADS_1


“Iya ya~ Nenek lampir gak pintar masak. Sini sisanya!” aku mengulurkan tanganku ke toples yang ia genggam.


“Eh,” dia membawa tabung itu lebih jauh, “Sudah dikasih kok diambil lagi!”


“Aku tidak kasih kamu satu toples!”


“Gak!” dia masih bersikukuh dengan camilan itu.


Aaaargh! Bikin kesal!


“Kak,” Vian memanggilku, sambil ikut mengunyah kue tadi, “Tumben tidak sama Harun.”


Eh, apa dia memanggilku kakak, tapi tidak pada Harun?


“Bertengkar?” Saga masih menahanku dari mendekatinya, “Putus?”


Pertanyaan apa itu?


“Kami tidak pacaran.”


Mata Saga melebar, “Kalian gak sama-sama suka?”


“Suka kok,” kubuang wajahku ke mana aku tidak bisa melihat mereka, membantu menahan malu, “Lebih tepat dibilang calon pacar~ Tapi ya, aku tunggu dia tembak duluan.”


Perlahan aku menatap mereka lagi.


... kenapa lagi dengan wajah itu?


Saga menatapku sampai mendongak, menyamakan tinggi wajahku yang berdiri untuk merebut toples kembali. Tatapan serius selagi ia merentangkan jauh tangan yang membawa hasil curian.


“Hahahaha,” ... yang satu lagi malah tertawa. Sekarang dia senyumin apa? “Baiklah...,” 


Mereka kenapa sih?!


Kembali aku menatap si Saga satu ini. Dia masih memandangiku....


Lalu kenapa dia melet-melet ke arahku?! 


Dia sungguh membuatku lelah!


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


“Makasih ya nak!”


Auw.


Auw!


Pertama, saya tahu. Kedua, tolong kecilkan suara anda. Ketiga, tolong berhenti memukul pundak saya! Paman Dito! Ingat umur!


“Oh iya, Gading!!”


Beliau mulai mendekati papa, dan... Eh! Papa berdirinya makin jauh saja. Ketahuan banget menghindarinya.


“Hahahahaha! Kita terlalu tua buat main kejar-kejaran!”


Saya yakin bukan itu yang dimaksud dokter Rizki, paman.


“Makasih ya kak, buat yang kemarin juga,” aku senang mendengar lembutnya Vian, tapi....


Aku tersenyum pada pasien yang ingin pulang ini, “Vian boleh panggil aku pakai nama. Rasanya jadi canggung makin ke sini.”


Dia terdiam sejenak, oh? Wah! Senyumnya manis!! Aku memang sukanya yang tampan, tapi bukan berarti aku tidak paham yang imut-imut.


Aku semakin paham, kalau seperti inilah sifat bawaan Vian. Lembut meski terkadang jahil. Jadi tidak sulit mendengarnya meminta maaf atau berterima kasih.


Tidak seperti anak satu ini.


“Apa?” hmm, entahlah. Kau yang memberitahuku, Saga, “Oh, lain kali bikinin kue lagi ya.”


Yang menghabiskan satu toples penuh kan dia! “Bayar!”


“Kenapa sih ke aku marah terus. Ke Vian aja halus,” Saga merengut kesal.


Vian menepuk pundak Saga, “Menyerah saja, kamu tidak mungkin bisa paham.”


Saga tak senang sama sekali, “Maksudnya?”


Aku tertawa kecil. Itu memang benar sih.


“Makasih.”


Hmm?

__ADS_1


Tunggu, itu benar suaranya Saga kan?


Wah! Waaah!! Lucunya~!


“Cuma itu,” dia membuang wajahnya.


Iiii, imutnya masih ada~!


“Ayo, Vin!” lah, kabur.


“Heh...,” Vian sepertinya menahan tawa, “Kami duluan, Rasyi,” senyum itu pergi. Meninggalkan aku di lobi IGD.


Di depan sana sudah ada mobil dengan paman Dito dan papa masih berdebat. Senyumku yang menjawab pergi masih bertahan walau mereka sudah masuk ke transportasi itu.


Papa melangkah mendekat bersamaan dengan mobil itu melaju pergi.


“Kita pulang,” sosok ini memegangi tengkuk lehernya.


Langkah kami menuju parkiran khusus untuk para petugas. Yang tak jauh dari jalan samping rumah sakit.


Papa memang pendiam, tapi aku selalu menyumpal bisunya dengan lebih banyak omong kosong. Bercerita berbagai macam walau tak penting.


Sampai akhirnya aku bisa menduduki kursi penumpang mobil yang nyaman.


“Oh iya,” aku melanjutkan cerita acakku pada papa yang baru memasang sabuk, “Mampir ke minimarket dulu dong. Rasyi mau buat cookies lagi.”


Kekar terdengar mesin mobil yang dimulai, “Habis?”


“Mana Rasyi tahu kalau si kembar orangnya rakus.”


“Gratis.”


Iya sih. Siapa yang tidak suka gratisan?


“Tapi bukan berarti dihabisi semua. Rasyi saja tidak kebagian,” semakin kesal saat aku mengingatnya.


Mobil masih saja belum berjalan. Namun fokusku terarah ke wajah papa.


Papa kok malah tersenyum saat aku kesal? Dia mengejekku lagi?!


Heh?


“Terima kasih.”


Ia melepaskan tangannya yang tiba-tiba diletakkan di atas kepalaku. Walau sebentar dan terpotong oleh mobil berjalan, aku tahu ia sedang senang dengan apa yang aku lakukan.


Terikut aku senang, “Rasyi tunggu jalan-jalannya~”


“Lupakan.”


“Iiih~! Kan Rasyi tidak minta sekarang. Tahun depan juga tidak apa~”


“Nanti kuliah di luar negeri.”


“Ha? Tidak mau! Rasyi mau di kampus kak Fares saja! Ribet urus tempat tinggal, mudiknya....”


Hmm? Suara ponsel?


“Punya papa?”


“Tolong cek dari siapa,” papa mulai semakin sibuk dengan kemudinya.


Kuraih ponsel yang masih ada di tas papa. Mengecek si pemanggil.


“Namanya tidak ada....”


Ia melirik sesaat, “Nomor terakhirnya?”


“... 67... Siapa?”


“Matikan.”


“Heh?”


“Decline.”


Sebanyak apapun pertanyaanku, aku tetap mengikuti perintahnya.


“Matikan HP-nya.”


“Heeh?!” apa lagi?


“Power Off.”

__ADS_1


Langsung aku tekan lama tombol menyalakan ponsel dan menekan konfirmasi shutdown.


... apa itu tadi?


__ADS_2