Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#114 Pelan-Pelan


__ADS_3

Oke. Aku pernah mendengar apa yang mereka sebut sebagai bully. Seumur kedua hidupku, tidak pernah aku melakukan atau menerima kata itu. Hidupku biasa saja dan membosankan seperti kain putih yang belum dijahit.


Indah, damai, sya la la~


Namun, sekarang, ya... aku menerimanya. Bermula dari bukuku yang hilang dan berakhir pincang-pincang. Di saat itulah, oke, aku akan menjadi korban sekarang.


Wah, bagi Sekar, ini adalah hidup. Karena hidup tidak akan menantang tanpa tantangan.


Bagi Rasyi, gila anj...!


Kamu tidak tahu, apa? Kakekku itu orang gila! Bapakku ternyata gunung es. Dan gebetanku ternyata psikopat. Sekarang kamu mau bilang kalau sekolah adalah tempat sampah penuh dengan pembuli?! Yang benar saja!


Aku, yang cantik bagaikan malaikat ini, tentu akan menyambut kalian. Dengan palu gada yang siap aku ayunkan ke tulang kering kalian!


GAAAAA!!


BRAK!


Aku, dengan seragam olahraga lengkap dengan tas masih menempel, menampar keras meja guru. Kelas akhirnya memperhatikanku. Walau pada awalnya mereka memang menggosipkan aku.


Jari telunjuk aku arahkan ke mejaku, “Si, a, pa?!”


“Gak tahu Ras.”


“Asli, waktu aku datang sudah gitu.”


“Aku piket tadi. Udah memang gitu. Lebih parah lagi tadi.”


Oh, beneran~? Emang aku percaya. Lihatlah wajahku yang tidak percaya ucapan kalian.


“Sumpah, Ras. Tidak ada yang tahu. Kami juga tanya-tanya di lain tidak ada yang tahu.”


Hela nafasku kesekian kalinya pagi ini. Sungguh, seberapa banyak waktu yang dipunya si pembuli ini?


Aku tidak mempermasalahkan mereka merobek-robek taplak mejaku. Uang papa lebih dari cukup untuk membelikan semua meja di sekolah ini taplak meja, tiga lapis. Yang aku masalahkan adalah aku yang tidak bisa menangkap maksud pelaku ini.


Selama ini aku hidup damai. Lalu kenapa ini terjadi belakangan ini? Kelakuan apa yang membuat mereka tersinggung?


“Hemp!” aku... kenapa sekarang mual sendiri?


“Ras, kenapa?” Firna ikut menemani di depan kelas, “Mual?”


“Hamil?”


Aku memandang teman lelakiku ini. Baru muncul dan dia menanyakan hal seperti itu?!


“Canda~”


“Tapi Rasyi tidak papa kan?” Firna mengusir temanku yang satu ini meski masih memandangku.


Kalau ditanya, aku rasanya lemas sekali. Rasanya sedikit pusing dan mual.


Tu, aku tidak ketularan Daffa kemarin kan? Walau aku lebih sedikit bersentuhan langsung dengan Daffa, itu tidak menutupi daya tahan tubuhku yang memang lemah. Jadi kalau ada teman sakit, aku pasti kena sakit juga.


“Izin lagi kah? OR,” temanku yang satu ini masih belum hilang.


Firna tidak mengusirnya sekarang, “Iya gih. UKS yuk.”


“Biar kami urus meja kamu. Santai.”

__ADS_1


Yah. Senang juga sih dengan teman-teman seperti ini. Mereka paham sekali kalau aku sakit-sakitan.


Pembuli. Kamu aman untuk sekarang. Bila aku tidak sakit, aku yakin kamu akan habis.


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


“Rasyi~” Firna memamerkan wajahnya dari bingkai pintu yang terbuka, “Baikan?”


Aku mengangguk pelan. Seirama dengan kaki yang bergerak-gerak di ujung ranjang UKS.


“Kalau tidak enak lagi, langsung ke sini ya?” perempuan PMR yang stand by di UKS tersenyum padaku.


Kubalas senyumannya, “Iya kak. Makasih.”


Pada akhirnya aku bisa terbebas dari sesaknya ruangan itu. Meski aku selalu diantarkan Firna ke sana sebelum semakin parah, dan memanggil papa kemari. Tetap saja, orang tidak ingin sampai hati untuk sakit.


“Beneran kamu muntaber? Tidak kayak muntaber,” Firna masih memperhatikan aku dengan jarak meski kami jalan searah ke kelas.


Aku menyipitkan mataku, “Masih dugaan~ Tidak perlu jauh-jauh begitu juga.”


“Kamu juga sih yang bilang kalau penyakitnya menular.”


“Emang muntaber menular.”


“Makanya aku jauh-jauh!”


Kelas dengan UKS tidak begitu jauh. Memang perlu melewati satu lorong panjang, tapi di banding gedung jurusan lain, IPA termasuk gedung yang paling dekat.


Sehingga kami sampai di tempat⏤


“Rasyi!”


Mataku menangkap satu perempuan sekelas, yang merupakan bendahara kelas, mendekat ke arahku. Dia cepat ada di depan mataku walau aku masih di pintu kelas dan belum membuka sepatu.


“Bener, kamu yang ambil kas kelas?!”


Heh? Gimana, gimana?


“Lah Dwi, kamu nanya siapa?” Firna menanyakan apa yang ada di pikiranku.


Dwi ini menatapku, “Duit kelas tidak ada di tasku. Kata yang lain, Rasyi yang ambil duit kelas!”


Lah, kok? Kenapa saya?


“Rasyi dari tadi di UKS,” Firna menjadi mulutku selagi aku masih kaku kebingungan.


“Kan bisa jalan ke sini.”


Oh. Baiklah. Aku paham keadaannya sekarang.


Dwi menemukan tasnya sudah kehilangan uang kas yang merupakan tanggung jawabnya. Lalu Gista menuduh aku mengambilnya, kan? Akan lebih hebat lagi kalau sebenarnya Gista yang mengambilnya dari awal.


Aku melepas sepatuku dan membiarkannya di sana. Mari kita berdebat di dalam kelas.


“Baiklah, kita harus menyelesaikan kesalahpahaman ini,” kumasuki kelas yang ternyata sudah tertuju matanya padaku, “Pertama, aku sedang izin sakit dan ke UKS. Kedua, aku tidak tahu menahu tentang uang kas.”


“Semua orang juga bisa bilang begitu,” Gista... Gista....


Akan aku ajari bagaimana rasanya jadi anak dokter Wirandi, “Semua orang juga bisa menuduh.”

__ADS_1


“Ras,” ketua kelas, “Gista nuduh kamu,” dia menunjukkan dompet sederhana satu kantong, “Gara-gara kami juga nemu ini di tas kamu.”


U wow.


“Astaga, kalian, kalian beneran percaya?” Firna mulai panas.


“Oke, gini. Siapa yang usulin buat bongkar tas orang di awal?” aku ingin tahu....


Mereka terdiam sejenak. Namun pandangan semuanya ke arah Gista.


Jadi, mereka memang menemukannya bersama di tasku. Akan tetapi semuanya berjalan sesuai keinginanmu kan, Gista?


“Ngapain Gista ambil kas kelas?!”


“Iya. Kamu asal tuduh saja!”


Teman-teman satu geng mulai bersuara. Mari kita kembalikan lagi.


“Buat apa juga aku ambil? Sama dong,” kutelengkan kepalaku.


Ketua kelas yang kebingungan mulai menggaruk-garuk kepalanya, “Kalian kenapa saling curiga gini sih?”


Dwi kembali bicara, “Gimana nih jadinya? Masalahnya setengah lebih duitnya tuh hilang. Hilang!”


Kelas jadi ribut. Mereka yang tidak semuanya berkemampuan itu tentu tidak bisa membiarkan diri sendiri harus membayar apa yang diambil orang. Jumlah kas yang kami kumpulkan tidak sedikit. Itupun dengan berat hati disepakati.


Dilihat dari manapun, mereka tidak peduli siapa yang salah. Mereka hanya ingin bentuk tanggung jawab.


Walau begitu, kalau aku mengakui, bukan masalah tentang mukaku mau ditaruh di mana. Namun masalahnya terletak di Gista ini yang akan melanjutkan rencana busuknya.


Aku tidak boleh lemah.


“Yang pasti aku bukan yang ambil. Sombong atau apa, aku memang tidak butuh uang kas. Kalau mau main alibi, tanya aja sama kak Oki di UKS. Dia temani aku terus kok,” kurasa itu cukup.


Gista melipat tangannya, “Gimana kalau Firna?”


“Apa?!”


Wah. Mereka melihat hampir kalah, dan ini yang mereka lakukan?


“Kalian masalahkan uangnya kan?” aku berjalan mendekati tasku. Mengambil dompetku yang untungnya banyak uang cast, “Berapa yang hilang?”


Aku menyerahkan beberapa lembar uang sesuai dengan kehilangan yang disebutkan. Ketua kelas menerimanya dengan kebingungan.


“Masalah selesai?” aku memandang kelas. Dan semua orang diam, “Sekarang, bisa kita sudahi ini?”


Kelas yang tadi mengarah padaku, seketika menjadi lembut. Seakan mencari muka, atau memang tidak nyaman dengan penyelesaiannya. Namun yang pasti itu menggambarkan, kelas hanya kelas. Mereka hanya mengurusi mereka.


Rasanya melelahkan.


“Kenapa kamu yang gantiin? Kasih CCTV juga beres,” Firna tidak setuju.


“Bentar dulu.”


Aku memang ingin mengungkapkannya. Namun, rasanya, aku ragu. Entah apa yang Gista siapkan. Membuatku tidak nyaman, waspada.


Dibanding itu, aku ingin mengetahui asal-usul pembuli ini dengan caraku. Setelah itu baru aku urus tanggung jawabnya.


Pastikan dengan baik, aku akan memberikan neraka pada mereka!

__ADS_1


__ADS_2