
Tunggu. Aku tahu, papa itu jenius. Jadi kalau papa mau jadi dosen pun, itu sangat memungkinkan. Ditambah lagi kalau papa jadi pengawas sidang. Wah, para mahasiswa akan menangis mendengar banyak revisi yang langsung dari mulut beliau.
Namun, tapi, akan tetapi, aku masih SMA dan kak Fares belum waktunya lulus! Kenapa jadinya seperti disidang seperti ini?!
Tidak! Ini bukan disidang! Kami hanya duduk di perpustakaan papa yang kebetulan sofanya saling berhadap seperti ini. Lihat, si Rizki saja duduknya santai sekali di satu sofa panjang itu.
“Pa... papa...?” aku hanya duduk di sofa satu orang yang berbeda dengan kak Fares.
“Saya melakukan kesalahan kah?” lihatlah Fares-ku yang malang, dia merasa bersalah akan hal yang bahkan kita tidak tahu apa!
“Cuma mau bicara.”
Bicara tidak seperti ini atmosfer-nya!
“Sebelumnya,” papa menatapku, “Rasyi pindah sini.”
Heh? “Ke, kenapa?”
“Papa mohon.”
Aku selalu tidak bisa kalau berbicara tentang papa yang sampai memohon seperti itu. Kakiku seakan menyala dengan otomatis dan menjalankan apa yang papa ini ucapkan. Walaupun aku tidak tahu untuk apa.
“Kita langsung mulai bicaranya.”
Papa memperbaiki duduknya. Tampak lebih siap. Membuatku semakin tidak tenang memikirkan apa yang akan ia katakan.
Rizki tampak lebih condong ke depan, “Setelah ini apa?”
Setelah ini?
Loh? Tidak seperti tadi, sekarang wajah kak Fares berubah lebih serius. Seakan tahu apa yang dimaksudkan papa meski hanya dengan satu kalimat tanya ambigu itu.
Rasanya seperti masuk ke kelas yang salah... ha ha ha....
“Paman,” Fares mulai bicara, “Saya masih.....”
Papa menutup bukunya, “Jadi, kapan?”
Kapan? Apanya? Apanya kapan?!
“Anu, pa, kita ngomong apa sih?” aku kan bingung!
Rizki menatap ke arahku, “Papa tanya dulu, Rasyi masih suka Fares?”
Heh?!!
“Ke, kenapa jadi ke... pa! Papa!!” tidak! Jangan salah tingkah!!
“Papa serius, Rasyi.”
Eeh?! “Me, memangnya kenapa...?”
“Gimana kalau orang yang kamu suka, tidak pernah sama sekali jawab?”
A... apa?
Rasanya aneh sekali. Rizki orang yang selalu tidak terduga. Namun papa bukan orang yang suka mengatur. Dia selalu membiarkan aku melakukan apapun, selama itu bukan hal merugikan. Termasuk siapa yang akan aku jadikan dambaan hati.
Lalu apa yang membuatnya membahas hal ini?
“Papa kan pasti tahu juga...,” aku pun tahu papa menyadari jawabannya sebelum aku mengatakannya.
Papa tersenyum? “Rasyi pasti keras kepala ya?”
Yang perlu dipertanyakan, kenapa harus membahas hal seperti ini di depan orangnya?!
“Paman.... saya....,” kak Fares bahkan sampai tidak bisa berkata-kata.
“Kamu tidak pikir aku bakal biarin kalian berdua kan?” papa?
“Saya, paham. Itu karena saya sudah melakukan banyak kesalahan. Makanya anda membenci saya.”
Pembicaraan apa ini?
“Terima kasih,” heh? Papa bilang apa tadi?
Rasyi tambah bingung!
“Kamu sudah jaga anakku sampai seperti itu. Belajar bela diri, juga buat Rasyi kan?” papa memainkan rambutku, “Operasi, terancam ditembak. Semuanya. Terima kasih sudah berusaha besar buat Rasyi.”
Papa? Papa bicara apa? Fares melakukan itu semua... untukku?
Terlihat wajah sedihnya Fares, “Tapi saya tidak pernah dimaafkan. Saya paham.”
Aku tidak begitu mengerti apa yang mereka bicarakan. Papa, berterima kasih tapi juga tidak memaafkan Fares. Untuk apa? Fares melakukan apa yang sampai-sampai papa pun tidak bisa memaafkannya?
Namun kalau diam saja seperti ini, aku tidak bisa membantu, “Papa, Rasyi ngerti ini masalah besar. Tapi apa tidak bisa, beritahu Rasyi dulu apa yang papa masalahkan?”
“Papa perjelas,” matanya sangat tajam ke arah Fares, “Kamu benar suka anakku atau tidak?”
Heh?
“Paman, tolong.”
“Tidak. Ambil keputusanmu sekarang.”
“Tapi....”
__ADS_1
“Aku tidak peduli kamu begini karena kamu punya janji ke Riza atau apa. Kamu bukan kakaknya Rasyi. Terus apa maksudnya tentang sayang dengan anakku?” mata papa menunjukkan... kemarahan? “Kamu mau main-main dengan Rasyi?”
Janji? Bukan kakak? Sayang?
Maksud semua ini apa?!
Aku tahu kak Fares menyayangiku. Itu semua, karena dia selalu menganggap aku adiknya. Begitulah hubungan kami di awal. Ia kakaknya dan aku adiknya. Jadi tentu saja jawabannya dia suka aku sebagai adiknya.
Tidak tahu menahu tentang janji apa yang dimaksud dengan kak Riza. Peduli tidak sama sekali tentang papa yang bilang kami bukan kakak-adik. Seperti itulah hubungan kami.
Memang perasaanku berubah. Namun... Kak Fares... Aku masih harus berusaha keras untuk merebut hatinya.
Dan papa ingin mendapatkan jawabannya apa?
“Kamu mau Rasyi dengan orang lain?” papa? “Dengan Harun yang begitu?”
“Paman, bukan begitu maksud saya.”
“Dengan Saga, Vian? Atau sama orang yang tidak Rasyi suka sama sekali?”
“Bukan!!” Fares berdiri dari duduknya.
Apa, apa maksud semua ini? Untuk apa?
Wajah papa tampak bergetar, “Rasyi terlalu banyak... dipermainkan orang.”
Papa... Aku tahu dia hanya khawatir, tapi⏤
“Saya tidak akan begitu pada Rasyi!” Fares menjawabnya dengan meninggikan suaranya.
“Aku tidak bisa melihat itu⏤”
“Saya cinta dengan Rasyi!”
Heh? Kak Fares tadi... bilang apa?
Apa yang membuat kalian berdua diam? Tolong katakan sesuatu. Bilang kalau itu bukan omong kosong atau semacamnya.
“Tapi masih ada alasan lain?” papa akhirnya bicara?
Tapi... tidak ada yang bilang apa-apa lagi....
Apa... tidak mungkin bisa, ya?
Papa, berdiri, “Jauhi Rasyi mulai sekarang.”
Heh?
“Pa, paman⏤”
Apa, papa bicara apa sih? Berteriak seperti itu tiba-tiba.... Ke mana papa mau membawa urusan ini sih?!
Tidak bisa! Harus aku hentikan. Berdiri! “Pa⏤”
“Rasyi, papa memang membebaskan Rasyi, mau sama siapa,” Papa..., “Tapi urusan dengan siapa seumur hidup Rasyi, itu papa yang tentukan.”
“Kenapa?” Fares, marah? “Kenapa saya harus menjauh?!”
“Bukannya kamu juga pernah pikir buat jauhi Rasyi?”
“Ini berbeda!”
“Apanya?”
Kak Fares diam lagi....
“Yang beda, apanya kali ini? Karena Rasyi yang suka kamu sekarang? Jadi kamu pikir tidak perlu ambil kesimpulan buat jawab? Jadi kamu pasti diterima? Kamu tahu kamu harus dapat izinku dulu untuk itu.”
“Saya⏤”
“Keluar sekarang.”
Pa, papa?
“Keluar, sekarang!!”
Hentikan. Hentikan....
“Keluar!!” papa mendekati Fares, dia menariknya berdiri, “Pergi!”
“Papa!”
“Tetap duduk!” ia masih saja menarik Fares ke pintu keluar, “Tidak bakal aku biarin kamu dekat lagi dengan Rasyi!”
Jangan... jangan....
Kenapa kak Fares tidak melawan? Aku mohon... jangan....
Tatapan Fares....
“Maaf, paman,” Fares? “Saya sudah cinta dengan anak anda.”
Fa, Fares....
Papa masih marah, “Aku tidak peduli.”
Fares tampaknya menahan genggaman papa. Kedua tangan itu saling adu tarik di antara keduanya yang berdiri tidak tentu. Wajah Fares yang memiring dari pandanganku memperlihatkan seberapa kerasnya ia menahan tangannya.
__ADS_1
“Aku mencintainya.....”
Ini... aku menangis. Senang, khawatir. Entah apa lagi yang aku rasakan dengan tidak bisa melihat apa yang ada di depanku.
“Rasyi, kakak cinta sama Rasyi....”
Kak... Fares....
“Maaf, paman,” pria ini kembali memandang papa, “Saya bersama Rasyi atau tidak, itu keputusan saya!!”
Fa... Fares. Dia sungguh tahu bagaimana membuat tersenyum.
Apa yang aku lakukan, diam di sini saja? Harusnya aku keras kepala seperti biasa!
Langsung aku berlari ke arah mereka. Memeluk tangan Fares, “Lepasin, pa! Rasyi maunya dengan kak Fares! Lepasin!!”
“Rasyi....”
“Rasyi benci papa! Lepasin kak Fares sekarang!!”
Jangan buat aku kehilangan siapapun lagi. Jangan⏤
“Fine.”
Heh?
Pa, papa? Kenapa, kenapa dia pergi dan meninggalkan kami seperti ini? Mau ke mana dia?
“Kalau sudah selesai, jangan lupa makan malam,” papa menutup pintu dan pergi.
...
...
...
Tu....
Tunggu tunggu! Sebentar! Baru saja kami meributkan sesuatu kan?! Papa tidak merestui aku dan Fares atau yang seperti itu kan?! Kami baru saja berdebat kan?!
Apaan tadi?!!
“Aaa...,” Fares? Lihat dia, bahkan dia terlihat sangat terkejut dibanding biasanya.
Aku langsung terduduk, “Kita dikerjain atau gimana?”
“Mu... Mungkin....”
Pa, aku benci anda~!
“Atau...,” Fares masih ada di sana, “Paman berusaha biar cepat....”
Cepat, cepat ap⏤aa... Kayaknya aku paham. Papa mau Fares cepat nembak? Begitu?!
Gaaaaa!! Wajahku panas!!
Lihat ke Fares⏤tidak aku sangka wajahnya juga merah. Namun ia sedang berpikir.
Kelakuan papa memang selalu tidak pernah dimengerti. Entah papa mau jadi malaikat cinta di antara kami, atau hal lain. Semuanya tidak pernah aku pahami. Orang yang paham, dia luar biasa.
Tunggu! Benar juga ya!
Aku berdiri lagi di depannya, “Kak Fares!”
“Y, ya?”
“Masalah kita belum selesai!”
“Masalah kita?”
“Kakak harus mengatakan sesuatu kan?”
“Aa... apa?”
Sungguh?! “Kalau kita sa, saling suka, seharusnya kan...!”
Kyaaa! Tidak! Aku terlalu malu mengatakannya! Bagaimana ini?!!
Papa! Seharusnya selesaikan dulu baru kabur! Mau jadi cupid kok setengah-setengah!! Rasyi benci papa!!
“Heheheh,” sekarang kak Fares bahkan menertawakanku..., “Maaf. Seharusnya kakak lebih peka.”
Eh? Eeeeeh?!!
“Apa Rasyi mau jadi pacar kakak?” Fares, Fares. Mencium punggung tanganku!!
Kyaaaaaaaaa!!
Langsung aku peluk leher pria ini, “Iya~!”
“Rasyi, awas jatuh.”
___________________________________
^^^Selamat untuk my baby Rasyi~ Kyaaa~~ Btw. Hari ini lebih panjang dari biasanya ya~ Tidak! Emma tidak mau potong apa-apa!!^^^
^^^Bagaimana menurut kalian? Komen atuh~ sepi amat~ Hihihi(*´・з・`*)♪^^^
__ADS_1